
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Jika waktu masih mengizinkan aku untuk bertemu dia sekali lagi, aku hanya ingin menyampaikan bahwa sampai saat ini aku masih belum melupakannya.
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Flashback on
"Caca jangan nyebrang!"
Fathan berteriak ketika caca sudah berdiri dipinggiran jalan untuk berlari ketempat penjual harum manis yang berada disebelah jalan.
Namun urung saat mendengan fathan melarangnya. Dengan sigap fathan memegang pergelangan tangan caca
"Kamu kalau mau nyebrang bilang dulu sama abang, jangan nyebarang sendirian aja. Bahaya.
Nanti kalau ketabrak kamu masuk rumah sakit loh."
"Tapi caca mau kesana, caca mau beli harum manis itu. Nanti kalau caca ajak abang pasti abang gak izinin. Sakit gigi lah, inilah, itulah."
Caca masih berusaha untuk membela dirinya.
"Iya caca kan kemaren udah makan harum manis, janji sama umi kan makan harum manisnya sekali seminggu. Caca ngga boleh boongin umi ya dek,dosa."
Fathan mencoba untuk terus menasehati perempuan didepannya ini.
"Iya bang, caca ngga mau boongin umi."
Akhirnya caca mengalah.
Memang, jika sudah menyangkut dengan umi caca memilih untuk mengalah karena caca tidak mau berbuat kesalahan kepada malaikat yang allah titipkan kepadanya itu.
Flashback off
"Aisyah! Loh, kok kamu lo disini sendirian? Pake bengong lagi. Iiih, nanti kesambet loh."
Lia membuyarkan lamunan aisyah yang menyeretnya kepada kejadian beberapa tahun yang lalu.
"Aduh, kok kamu ngagetin aku sih lia? Aku gak bengong kok. Aku lagi keingat sesuatu. Gangguin aja kamu ah."
Aisyah yang terperanjat langsung mengaduh ketika lia tiba tiba datang dan membuat jantungnya jatuh sampai keperut.
"Haaa, lo ingat apa hayoo. Jangan bilang lo masih mikirin kak fathan lo itu yang sampai sekarang belum ketemu ya?".
Aisyah hanya menundukkan kepala.
Aisyah tak bisa menjawab tidak karna memang fathan lah yang memenuhi isi kepalanya saat ini.
Tadi sepulang dari sekolahnya, aisyah berencana untuk jalan jalan ketaman kota yang tak jauh dari sekolahnya.
Namun saat aisyah duduk disalah satu bangku taman kota, pikirannnya malah membuatnya tambah rindu kepada sosok yang saat ini entah dimana.
"Eh,malah ngelamun lagi nih anak. Kek ngga dianggap aja gua disini."
Lia kembali mengomel.
"Lia aku ingat bang fathan lagi. Kok bang fathan ngilang gitu aja ya?"
Aisyah betah dengan wajah sendunya.
"Yaa,kalau lu udah ngomongin kak fathan mah, gua cuma bisa dengerin cerita lu doang. Nggak bisa bantu apa apa".
Lia menatap sahabatnya itu. Diam beberapa saat.
"Syah,gua balik ya. Mak gua udah nungguin nih bakso. Udah di chat chat ini. Ntar gua kena marah lagi. Balik ya. Jangan ngelamun terus."
Lia beranjak dengan melambaikan tangannya pada aisyah.
__ADS_1
"Iya,hati hati ya."
Asiyah membalas lambaian lia.
Aisyah kembali menerawang.
Tentang fathan.
Laki laki yang menjadi teman kecilnya itu.
Laki laki yang selalu menjaganya dan menasehatinya dengan lembut saat aisyah berbuat salah.
Laki laki yang diam diam meminta kepada uminya,umi nafisha untuk menjaga aisyah saat ia pergi untuk menggapai cita citanya.
Laki laki yang menyuruhnya untuk berhijab, laki laki yang marah ketika aisyah tidak memakai hijab kewarung depan rumahnya dan laki laki yang hingga kini pergi entah kemana dan tak pernah memberinya kabar lagi.
"Abang, caca rindu abang."
Aisyah bergumam sendirian.
Lalu beranjak untuk kembali ke asramanya karna hari sudah mulai mendung. Aisyah humaira.
Gadis berlesung pipi itu kini sudah beranjak dewasa. Ia memilih untuk melanjutkan jenjang pendidikannya di SMA islam dikota sebelah dan meninggalkan kampung halaman beserta keluarga yang dicintainya.
Sementara diwaktu yang bersamaan
"Halo assalamualikum umi, umi ini fathan"
"Walaikumsalam fathan, kok baru ngabarin umi sih? Katanya mau ngabarin umi sekali seminggu. Ini udah sebulan belum telfon umi."
Umi nafisha bangkit dari duduknya saat menerima telfon dari fathan-anak dari sahabat dekatnya, Sekaligus sahabat dekat anaknya itu.
"Hehe,maaf umi. Fathan lagi sibuk nih umi belajar buat persiapan USBN lusa. Makanya fathan jarang pegang hp. Umi gimana? Umi sama abi sehat kan?"
Fathan ceringai saat umi nafisha langsung mengomelinya itu.
"Alhamdulillah sehat umi. Umi, umi doain fathan ya USBN lusa. Tadi fathan udah telfon mama sama papa terus mama ngomel karna fathan udah sebulan nggak kabarin umi, hehe."
Fathan menggaruk tengkuk nya yang tak gatal
"iya,kalau fathan sibuk karna pelajaran nggak apa apa kalau jarang pegang hp.
Tapi umi abi sama mama papa jangan lupa dikasih kabar nak"
umi nafisha masih keuh dengan pendiriannya.
"Hehe,in sya allah umi. Umi abi sama mama papa nggak bakal dikalahin sama pelajaran kok. Oh ya umi, caca baik baik aja kan mi?"
Akhrinya fathan menanyakan kabar gadis Itu.
"Alhamdulillah, caca baik fathan. Kemaren baru nelfon umi."
"Hehe syukur deh umi. Umi masih jaga rahasia fathan kan mi?"
Sebenarnya fathan rada rada takut dengan jawaban umi nafisha.
"Masihlah fathan, umi akan jaga rahasia fathan sampai fathan pulang untuk menepati janji fathan."
"Alhamdulillah, makasih banyak umi. Umi,kapan kapan fathan telfon lagi ya mi, fathan dipanggil ustadz mi. Assalamualaikum umi."
Fathan menutup telfon ketika ustadz fahmi sudah memanggil untuk melaksanakan sholat ashar di mushola.
"Walaikumsalam fathan"
umi nafisha menjawab salam dari fathan.
Muhammad fathan Al-Zikri, lelaki bermata sipit dan beralis tebal itu lebih memilih untuk menjaga silaturrahmi dengan umi nafisha, ibu dari gadis yang diam diam sedang diperjuangkannya saat ini.
__ADS_1
Fathan memang sengaja menghilang dari kehidupan aisyah dengan terlebih dahulu meminta aisyah kepada abi nafisha 4 tahun silam, saat ia masih duduk di sekolah menengah,
"Abi,fathan gak tau abi. Walaupun caca udah fathan anggap sebagai adik sendiri,fathan gak bisa menahan hati untuk tidak bergetar saat fathan berada disamping caca.
Fathan harus bagaimana abi?"
Fathan memberanikan diri untuk berbicara dengan azmi, Abi dari caca alias aisyah.
"Waah,ternyata fathan suka sama anak gadis abi ya?"
Kekeh azmi.
"Fathan gak tau abi, tapi fathan gak mau pacaran abi,fathan gak mau merusak caca. fathan takut dosa. Fathan mau caca jadi teman hidup fathan sampai tua nanti abi"
Fathan masih menunduk.
"Jadi,fathan maunya abi harus gimana dong?"
Azmi mencoba merayu fathan.
"Abi,fathan mau menghilang aja dari kehidupan caca."
Akhirnya fathan menyampaikan keinginannya.
"Lah,terus kalau caca tanya fathan abi harus jawab apa dong?"
Sebenarnya azmi bingung saat ini.
"Begini abi, fathan kan udah kelas 3 smp, setelah ini fathan mau lanjutin sekolah ke kota sebelah. Disana ada SMA islam,tapi bukan yang lagi diincar caca bi,"
fathan mulai menjelaskan.
"Terus?"
Azmi sebenarnya sudah tidak sabar.
"Fathan tau abi, menikahpun bukan jalan keluar dari masalah ini, karena fathan belum cukup umur dan belum berpenghasilan apa apa. Abi,boleh tidak fathan bilang kalau fathan mau menikahi caca saat fathan sudah bekerja? Tapi abi janji jangan bilang caca."
Sebenarnya azmi terkejut saat fathan yang masih remaja itu mengungkapkan perasaan cinta terhadap anaknya kepadanya, abi dari caca.
"Ternyata fathan sudah besar ya. Abi salut deh fathan memilih untuk tidak pacaran.
Begini saja, abi nggak akan bilang sama caca kok. Tapi, kita tidak tau bukan, jodoh kita siapa.
Di lauhul mahfuz belum tentu nama fathan disandingkan dengan caca.
Minta sama allah ya nak, semoga urusan dipermudah karna niatmu sudah benar.
Abi akan jagain aisyah hingga kamu selesai"
Fathan yang awalnya menunduk karna takut, langsung menangkat kepalanya
"Serius abi?"
Mata fatahan berbinar.
"Iya nak, semoga kamu sukses dan niatkan semuanya karna allah ya".
Selamanya, fathan tak akan pernah berhenti bersyukur karna niatnya disambut baik.
"Terimakasih banyak abi,fathan akan terus menjaga janji fathan kepada abi."
Ucap fathan sambil memeluk azmi.
"Iya sama sama nak."
Azmi membalas pelukan fathan.
__ADS_1