Teman Menuju Syurga

Teman Menuju Syurga
Persiapan


__ADS_3

Dalam denting doa yang mengalun,


Kutitipkan sebait nama yang raganya selalu kurindu, yang hadirnya selalu kutunggu dan perginya tak pernah aku mau.


Untuk hari ini terimakasih telah menerimaku kembali.


Terimakasih aku masih diperbolehkan melihatmu lagi.


Jujur. Pertemuan kali ini adalah pertemuan kita yang paling bermakna dibandingkan pertemuan pertemuan kita pada periode waktu sebelumnya.


Kau tau bukan?


Pergimu kemaren sangat aku benci.


Sungguh, aku sangat benci saat tau bahwa waktu sudah memaksa untuk memisahkan dan melepaskan tautan pelukan kita.


Aku benci saat yang aku lihat hanya punggungmu yang perlahan pergi menjauh.


Dan yang tertinggal hanyalah aku yang terpaku memendam rindu.


Bertahun tahun aku mencoba bersikap biasa meski hati sedang nestapa.


Tapi Siapa yang bisa menerka bahwa allah telah memepersiapkan pertemuan kita.


Untuk selanjutnya,


Saat jarak waktu sudah memutus jarak yang selama ini memisahkan kita, izinkan aku menemanimu dalam setiap suasana.


Kita akan melewati waktu berdua, aku akan menemanimu dan kamu akan selalu ada untukku.


Kita akan menua bersama. Karena tidak ada perjalanan yang paling menyenangkan selain menjadi tua bersama.


-Author-


__--__


Fathan pov.


Hari ini adalah hari pertamaku pergi ke kantor untuk mengaplikasikan ilmu yang sudah aku dapatkan selama sekolah dan kuliah di turky kemaren.


Aku memilih menggunakan kameja marun dan jas serta celana berwarna hitam.


Aku berusaha untuk tampil sebaiknya dihari pertama bekerja.


Agar rekan rekan di perusahaan papa memberikan kesan pertama yang baik untukku.


Aku duduk menyantap sarapan bersama papa dan mama.


Sementara havva,


Aduuh sepupu kecebongku itu sedang bersiap siap untuk ikut bersamaku untuk mampir dirumah istriku,


Ekhem, calon maksudnya.


"Sayaang, buruan dong. Sarapan dulu ni bareng bareng."


Mama meneriaki caca yang aku yakin sekali masih memakaikan benda benda aneh yang tidak aku tau namanya kewajahnya.


"Iya maam, bentar lagi inii."


Aisyah menyahut dari dalam.


Aku memilih menikmati sarapan tanpa berniat ribut dengan havva pagi ini.


2 menit kemudian havva keluar dari kamar dan muncul dihadapan kami.


"Ayuk than, nanti butiknya tutup."


Aku menegerenyitkan alisku.


"Heh bong, gak salah lu jam segini udah tutup tuh butik? Buka aja belom. Ngasal lu."


Aku memberikan tatapan silet kepada havva.


"Eh lu biasa aja matanya, gua colok ntar."


Havva memegang garpu.


Aku memandangnya tragis dan menutup kedua bola mataku.


"Ah sudah sudah, sarapan va. Ntar si abang telat."


Mama memberikan piring yang sudah diisi oleh dua lembar roti tawar.


"Susu ambil didekat fathan va."


Mama menambahkan.


Havva tersenyum sangat manis kepada mama sambil mengucapkan terimakasih.


Tak membutuhkan waktu lama bagi havva menghabiskan sarapannya, dia berdiri.


"Ayoklah."


Havva menarik tanganku.


"Iya iya. Yang mau nikah siapa yang nggak sabaran siapa."

__ADS_1


Aku mencibir dan melangkah kearah mama.


"Mam, abang berangkat ya. Doain abang dihari pertama bekerja ini."


Aku minta restu kepada mama sementara papa sudah diluar. Hari ini papa pergi dengan mobilnya dan aku pergi dengan mobilku sendiri.


"Iya sayang, baik baik ya. Jangan ceroboh. Minta kepada allah untuk dipermudah."


Mama menasehati.


"Iya mama. Abang berangkat.


Assalamualaikum."


Aku berbalik. Menyusul havva yang sudah duluan menyusul papa diluar.


"Bang, nanti mampir dulu lah dirumah fisya ya."


Aku tersenyum


"Baik ma."


Aku duduk dikursi kemudi.


Ternyata havva sudah duduk disebelahku.


"Ah, lamban lu."


Jika tadi tidak berniat untuk ribut dengan bocah ini, mungkin aku sudah mengacak acak jilbabnya.


Namun sayangnya, aku tidak ingin merusak moodku sendiri karena melawan sepupu kecebongku ini


Aku memilih diam,


"Fathaaan."


Aku tidak jadi melajukan mobil saat melihat mama dari spionku.


Aku menurunkan kaca mobil.


"Apa mam?"


Aku mengeluarkan kepalaku dari kaca jendela.


"Berikan ini kepada umi ya, mama emang sengaja buat lebih bubur kacang hijaunya mau dibagi sama umi. Umi suka ini."


Aku menerima kotak tupperware dari mama.


"Okedeh ma."


Jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh. Itu artinya masih ada 1 jam lagi sebelum masuk kantor.


Aku bekerja mulai dari pukul setengah delapan sampai pukul setengah enam.


Begitu sih yang dibilang papa,


Itupun diluar rapat atau acara acara lainnya.


Setelah belokkan depan, aku singgah sebentar untuk singgah ditempat umi untuk memberikan bubur titipan mama sekaligus mengantarkan sepupu kecebongku yang dari tidak mau diam ini.


Aku hanya membalas perkataannya dengan anggukkan dan senyuman.


Sekitar kurang lebih 100 meter menuju rumah caca, aku melihatnya sedang melambai lambai kearah mobil yang baru saja keluar dari rumahnya. Ia memakai kardigan panjang berwarna biru langit dan berjilbab abu abu lembut.


"Mobil abi."


Aku membatin.


Aku memberhentikan mobil di depan pagar rumah caca. Caca yang hendak kedalam berhenti dan berbalik lagi.


Aku menghirup nafas dalam dalam dan mengucap bismillah.


Aku melihat kesamping kiri ternyata havva sudah turun duluan dan kotak tupperware mama sudah dibawanya.


"Assalamualaikum dek,"


Aku mengucap salam kepada caca.


Aku tidak melihag havva.


"Havva tadi kemana sih?"


Aku muĺai kesal dengan anak yang satu ini.


"Walaikumsalam abang, ada kok. Havva udah lari manggil umi."


Ucap caca sambil tersenyum.


Ah, senyum ini tidak pernah membosankan.


"Oo gitu."


Aku sebenarnya kikuk.


"Abang mau kerja nanti jam berapa?"


Namun caca sepertinya tidak merasakan hal yang aku rasakan.

__ADS_1


"Nanti dek, setengah delapan."


Aku tersenyum melihagnya tersenyum.


"Masuk yuk bang, ada umi di dalem."


Caca mengajakku menemui umi. Aku mengangguk mengiyakan.


"Nanti adek milih gaunnya yang kek mana?"


Aku bertanya masalah pakaian yang akan kami gunakan nantinya pada akad nikah.


"Adek maunya yang sederhana bang, tapi glamour. Trus warna putih ya bang, abang pake stelan warna putih juga ya."


Aku tertawa melihat caca berbicara. Benar benar menggemaskan menurutku.


"Ya bang ya, kok abang ketawa sih."


Aisyah manyun


"Iya adek, nanti pilihan adek deh yang abang ikutin."


Aisyah menampilkan senyumnya lagi.


Kami sudah sampai didepan pintu masuk.


"Assalamualaikum umi."


Aku melihat umi sedang duduk tertawa bersama havva.


"Walaikumsalam, eh ada abang."


Aku mengangguk sambil tersenyum.


"Mau masuk jam berapa ntar bang?"


"Setengah delapan umi."


Aku menjawab.


"O iya deh, buburnya enak. Nanti pas kalian semua pergi umi mau ketemu mama abang lah."


Umi memang sudah terlalu dekat dengan mama.


"Boleh dong mi."


Tidak ada pebincangan yang berat.


Aku akhirnya pamit karena takut terlambat.


"Mi, fathan berangkat ya. Takutnya telat."


Aku pamit.


"Iya nak, hati hati ya."


Umi menjawab.


"Assalamualaikum umi."


Aku pamit.


"Caca antarin sampe depan ya mi."


Aku mendengar caca minta izin kepada umi.


"Eh, dasar kamu ya."


Aku tertawa melihat umi.


Havva?


Jangan ditanya. Dia pasti sedang mencari makanan didapur umi sekarang.


Dasar anak tak tau malu.


Aku berjalan beriringan dengan caca.


"Doain abang dihari pertama ya dek."


Aku sudah sampai pagar.


"Iya abang, minta sama allah agar dipermudah semuanya ya."


Aku tersenyum lembut.


"Iya humairahku. Doakan abang.


Assalamualaikum."


Aku melambai.


"Walaikumsalam abang."


Caca membalas dengan lambaian.


Aku berangkat dengan hati bahagia.

__ADS_1


__ADS_2