Teman Menuju Syurga

Teman Menuju Syurga
Said Asla' Muazzam


__ADS_3

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Titik penyesalan terbesarku adalah ketika memutuskan untuk menjauh, namun pada akhirnya aku akan mencarimu juga. Tapi kala itu aku sudah tidak lagi menemukanmu.*


Author


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Aku mematut diri didepan cermin.


Hari ini aku memakai baju warna baby pink dengan jilbab berwarna bridal white.


Aku hanya memoles wajahku dengan bedak tipis kemudian lipgloss agar terkesan tidak terlalu pucat.


Jangan lupa mata panda ku masih terpampang jelas.


Karena aku belum sempat istirahat.


Baru saja aku merebahkan dan manjakan diri ti atas kursi balkon, umi sudah menyuruhku untuk bersiap siap menghadapi orang yang entah siapa. Yang jelas menurutku dia benar benar tidak paham dengan situasi dan kondisi.


Caca kan baru pulang, baru aja rileks dari peraturan asrma masa jantung jaja harus kerja lebih ekstra lagi menghadapi kenyataan ini?


Aku menggerutu dalam hati.


"Cklek."


Aku melihat umi berdiri dibalik daun pintu kamarku.


"Ca, ayo turun."


Ternyata umi.


" Tamunya udah sampai mi?"


Aku mulai tidak tenang.


"Udah ca, udah 15 menit yang lalu malahan. Ngelamun ya?"


Umi menggodaku. Aku hanya tersenyum tipis.


"Umi duluan aja, nanti caca nyusul umi ke ruang tamu ya."


Aku ingin menstabilkan detak jantungku terbih dahulu.


"Baik, jangan lama lama ya nak. Kasian mereka nungguin kamu."


Aku menangguk. Umi menutup pintu kamarku.


"Aduuuuh, ini gimana ya allah. Caca harus bilang apa ya allah.."


Aku melompat lompat dan menggigit jariku.


Aku mondar mandir dan akhirnya berdiri lagi didepan cermin.


Aku menghirup nafas dalam dalam kemudian,


"Oke, mari keluar."


Aku memberanikan diri. Aku memegang gagang pintu dengan sangat pelan kemudian menekannya kebawah agar tidak menegeluarkan suara.


Aku mengarahkan telingaku keluar pintu. Terdengar gelak tawa dari arah ruang tamu.


Aku melangkahkan kaki keluar kamar


"Bissmillah."


Aku memantapkan hati.


Sempat terbesit harapan agar yang datang adalah bang fathan.


Ah, udahlah caca jangan berharap lebih.


Aku terus melangkahkan kaki dengan wajah yang aku tundukkan.


Sungguh aku tidak berani melihat situasi sekarang ini.


Seketika gelak tawa yang aku dengar tadi berubah menjadi diam saat aku sudah berada di dua tangga terakhir.


"Ma sya allah. Anakmu cantik sekali nafisha." Terdengar seorang perempuan mungkin sebaya umi sedang memujiku.


Apakah ini tidak berlebihan? Aku kan menunduk. Lalu bagaiamana coba ibu itu tau aku cantik apa bukannya.


"Duduk disini sayang."

__ADS_1


Aku mengikuti instruksi abi yang akan mendudukkanku diantara umi dan abi.


Aku masih menunduk dan belum berani melihat siapa yang datang.


Aku tidak mencium aroma bang fathan.


Aku hafal sekali aroma parfumnya.


Atau, bang fathan sudah ganti parfum?


Setelah nyaman dengan posisi duduk, umi bicara. Ibu yang memujiku tadi bicara


"Jangan nunduk terus dong sayang, tengok siapa yang datang."


Aku salah tingkah karenanya.


Aku mengangkat wajahku pelan pelan karena aku yakin posisi laki laki itu tepat dihadapanku saat ini.


Aku melihatnya pelan pelan, dan?


Satu detik


Dua detik.


Deg


Hah?


Why?


Kak azzam?


Dia tersenyum melihat kearahku.


"Kak azzam?"


Mulutku berbicara secara tiba tiba tanpa disuruh.


"Alhamdulillah caca masih ingat sama kakak." Aku menelan saliva saat mengetahui laki laki yang akan melamarku adalah kak azzam. Said asla' muazzam.


Laki laki yang pernah mengajariku irama dan bacaan arrahman.


Laki laki yang sudah menguasai separoh isi al qur'an, laki laki yang mampu membius akhwat dengan senyumnya yang meneduhkan itu dan sekarang laki laki itu ada disini.


Dirumahku. Melamarku.


Lalu heran kenapa coba kak azzam memilihku untuk menjadi calonnya? Secara dia kan taat agama banget, hafalan sudah 15 juz dan banyak lagi lah keistimewaan keistimewaan produk yang satu ini.


Harusnya kan dia pilih wanita yang sholehah, akhwat bercadar, hafizhah 30 juz.


Bukan aku yang agamanya pas pasan ini, mana nggak pake cadar lagi.


Hafalan juga belum nyampe 10 juz. Kok bisa aku sih?


"Sayang, kok bengong?"


Aku disadarkan oleh umi.


Ternyata aku melongo sejak menyadari yang didepanku ini adalah kak azzam.


"Eh nggak umi."


Aku menunduk lagi.


"Langsung saja ya pak azmi, kedatangan kami kesini bukanlah tanpa maksud.


Saya sebagai ayah darj azzam, ingin menyampaikan maksudnya.


Izinkan saya mewakili anak kami untuk melamar putri pak azmi. Bukan begitu bu?"


Bapak itu bertanya pada perempuan yang tadi memujiku.


Kemudian dibalas anggukkan eh ibu tadi sambil tersenyum.


Jantungku berpacu sangat keras.


"Begini nak, pasti aisyah bingung bukan kenapa secepat ini.


Ibu juga tidak tau kenapa azzam ingin mempercepat waktu untuk menyempurnakan agamanya. Tapi yang jelas pekerjaan yang baik tentu tidak baik untuk ditunda tunda bukan? Masalah pekerjaan, azzam sudah menjadi penerus ayahnya dalam mengelola pondok pesantren. Jadi nak aisyah tidak perlu khwatir masalah nafkah."


Ibu yang aku tidak tau namanya siapa itu melanjutkan perkataan dari bapaknya kak azzam.


Hening.

__ADS_1


Beberapa saat senuanya seolah memberiku waktu untuk menjawab.


"Bagaimana ca?"


Kak azzam membuatku salah tingkah.


Kali ini nadanya lebih bersahabat dibanding pembicara pembicara sebelumnya.


"Eee, aduh gimana ya."


Aku memilin ujung jilbabku.


"Bapak, ibu, kak azzam.


Kalau seandainya caca minta waktu, boleh tidak? Caca rasa caca belum bisa menjawabnya sekarang. Maafin caca pak, bu, kak."


Aku menunduk karena merasa bersalah


"Ma sya allah. Keputusan yang sangat bijak. Memang begitu kita seharusnya ya pak azmi ya. Berpikir dulu sebelum mengambil keputusan. Apalagi ini adalah perbuatan yang tidak main main."


Sambutan positif dari ayahnya kak azzam.


Aku melihat air wajah kak azzam berubah namun dia tetap tersenyum dan menganggukkan kepalanya pertanda tak mengapa menunggu.


"Haha.. iya pak.


Caca memang seperti itu. Apalagi ini mendesak kan."


Abi juga tertawa.


"Untuk itu, berapa lama caca nyuruh kakak buat nunggu?"


Kak azzam berbicara kepadaku. Aku melihat kearah umi daj abi namun mereka hanya terseyum kearahku.


"Hmmm, kalau caca minta waktu sebulan boleh tidak kak?"


Aku tak berani menatap manik hitam milik kak azzam.


"Oh tentu boleh ca, berarti sebulan lagi kakak kesini."


Kak azzam tersenyum ramah.


Setelah bicara dan basa basi, akhirnya keluarga kak azzam pamit.


Aku lega dan bisa bernafas lebih bebas.


"Umi, abi. Caca keatas dulu ya. Kepala caca sakit." Aku benar benar belum bisa mencerna apa yang terjadi barusan.


"Iya sayang, kamu perlu istirahat."


Abi mencium keningku.


Aku berlalu keatas dan melepas semua baju kemudian menggantinya dengan piyama tidur.


Entahlah, semua terasa membingunkan.


Aku tertidur diatas semua keadaan yang belum sempat aku selesaikan.


Fathan pov


Pikiranku sungguh tidak tenang sejak mendapat telfon dari abi.


Abi berkata bahwa hari ini ada yang datang untuk meminta caca-ku menjadi penyempurna imannya, penyeimbang langkahnya.


Aku tidak tau jawaban apa yang akan diberika oleh gadisku untuk menjawab lamaran dari laki laki yang jelas bukan aku orangnya.


Aku terus berusaha berfikir positif semoga semua yang terjadi adalah yang terbaik dimata allah.


Aku terdiam menatap keluar jendela.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


Aku terus beristighfar didalam hati.


"Belum tidur? Mikirin apaan sih?"


Perempuan ini ikut berdiri disebelahku.


Aku menunduk.


"Nggak kok."


"Aku duluan ya."

__ADS_1


Aku beringsut menuju kamar.


Cacaa, maafkan abang.


__ADS_2