Teman Menuju Syurga

Teman Menuju Syurga
Perihal Waktu


__ADS_3

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Aku ingat,


Pada satu jingga aku pernah ingin sekali menikmati senja dan mengajakmu menikmatinya tanpa suara.


Dengan halus kamu menjanjikan "Lain kali saja. Jika sudah ada waktunya kita akan menikmatinya bersama".


Salahku juga, aku lupa bahwa kamu masih berada pada aktivitas yang berbeda.


Aku lebih memilih untuk menikmati cakrawala jingga melalui lukisan saja.


Kemudian.


Pada hari hari yang lelah, aku tidak lagi ingat untuk mewujudkan inginku untuk berlama lama dibibir nuansa jingga.


Karna aku ingin menunggu kata "Lain kali saja" itu.


Makanya aku berusaha untuk lupa.


Padahal inginku sudah membara untuk menikmatinya.


Tapi aku tak mampu bersuara.


Hingga,


Pada senja yang patah. Aku pasrah menunggu saat2 "Lain kali saja" itu.


Aku minta maaf karna tak lagi menunggu.


aku pergi. Sendiri.


Sebenarnya aku berharap kamu tiba tiba datang dan berkata maafkan aku terlalu lama.


Tapi tak apa, aku masih bisa menikmatinya(sendiri).


Sebenarnya,


Yang membuatku patah bukanlah kesendirian, namun perihal waktu yang terlalu lama untuk menunggu.


Sore itu sendu, aku ragu apakah kamu memang datang atau memang hanya sekedar mengundang.


Makanya aku lebih memutuskan pergi tanpa bersamamu.


Setelah puas menikmati nyanyian alam dan aroma semesta, aku terdiam.


Berusaha mengumpulkan puing puing kenyataan bahwa hari ini aku mendapatkan satu pelajaran. Bahwa tak semua ucapan bisa dijemput kenyataan.


Dan untuk kali ini aku mohon undur diri.


Semoga apa yang ada padamu berjalan dengan baik baik saja.


Dan satu lagi.


Perihal "Lain kali saja" itu, aku sudah membingkainya.


Kuanggap itu hanyalah sebuah lukisan aksara.


-Aisyah Humairah-


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Fathan pov.


Memasuki semester ke tiga, tempat tinggalku dipindahkan oleh pengurus beasiswa.


Karena pada semester satu dan semester dua aku mendapatkan IP yang memenuhi untuk melanjutkan program beasiswa, aku dipindahkan ke tempat yang lebih mewah dibandingkan sebelumnya.


Fasilitasnya masih sama.


Kamar mandi di dalam kamar, lemari, nakas dan juga spring bed.


Hanya saja ukutan ruangan ini lebih besar dibandingkan sebelumnya.


Disini, aku tinggal bersama dengan orang orang indonesia yang juga mendapat beasiswa sama sepertiku.


Tempat ini seperti rumah yang lumayan besar. Ada dua lantai dengan 8 kamar.


Masing masing dihuni oleh 1 penghuni.


Hanya saja untuk ruang tamu dan dapur digunakan secara massal.


Untuk makan pun kami hanya tinggal mengambilnya di lemari yang sudah disediakan untuk masing masing.


Jadilah aku hanya fokus kuliah disini.


Dilantai dua dihuni oleh 3 orang perempuan. Hanum adalah salah satu diantara mereka bertiga.

__ADS_1


Selebihnya yang dibawah dihuni oleh para laki laki.


Aku salah satu diantaranya.


Mengenai hanum, gadis itu semenjak aku kuliah disini, entah kenapa aku merasa dia mendekatiku.


Mencoba masuk kedalam celah celah kehidupanku.


Padahal, seingatku aku tidak pernah sekalipun menyuruhnya mengikut campuri urusanku.


Entah kenapa dia memperhatikan makanku, ikut bersamaku ketika ke toko buku dan banyak lagi hal hal kecil yang dilakukannya kepadaku.


Aku sih nggak masalah.


Fine fine saja selama dia tidak mengganggu kehidupanku, untuk berteman kenapa tidak?


Aku terbangun ketika mendengarkan alarmku di nakas.


Kepalaku sedikit pusing karena tadi malam tidur terlalu larut akibat memikirkan jawaban caca terhadap lamarannya.


Aku melihat jam ternyata jam sudah menynjukkan puku 2.30 .


Setelah mempu menyeimbangkan badan, aku beringsut menuju kamar mandi untuk berwudhu.


Sejuk ketika air menyapa permukaan kulitku, seketika damai mengalir keseluruh tubuhku. Ingatan tentang caca tersingkirkan sementara.


Ma sya allah.


Air wudhu memang mampu menenangkan hati yang sedang gundah.


Wudhu saja sudah sedemikian hebatnya, apalagi kalau kita melaksanakan shalat.


Pastilah bagi mereka yang memiliki masalah apabila melaksanakan kedua amalan tersebut dengan sungguh sungguh akan merasakan manfaat yang luar biasa.


قال النبي صلى الله عليه وسلم: {مَنْ تَوَضَّأ لِلصَّلاَةِ فَأحْسَنَ


الْوُضُوْءَ، ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ فَإنَّهُ يَخْرُجُ مِنْ خَطِيْئَتِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أمُّهُ}.


Nabi saw. bersabda, "Siapa yang berwudhu untuk shalat, lalu ia memperbaiki wudhunya (dengan memperhatikan syarat, fardhu, dan adabnya), kemudian ia melaksanakan shalat, maka ia akan keluar dari kesalahannya seperti hari dimana ia dilahirkan ibunya." Imam Nawawi Al-Bantani di dalam kitab Tanqihul Qaul Al-Hatsits


Setelah berwudhu, aku mengambil baju koko berwarna putih telur asin didalam lemari.


Sarung dan peci tidak luput.


Aku menggelar sajadah untuk mengahadap kepada pencipta.


Menurutku, sholat wajib saja tidak cukup untuk menyeimbangkan dosa dosa yang telah kita perbuat.


يَااَيُّهَا النَّاسُ أفْشُوا السَّلَامَ، وَأطْعِمُوا الطَّعَامَ٫ وَصِلوا الارْحاَم، وصَلوْا باليْلِ والنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجنَّة بسَلَامٍ


"Wahai manusia, tebarkan salam, berilah makan, sambunglah tali silaturahmi dan shalatlah di malam hari saat manusia tertidur, niscaya kalian akan masuk ke dalam Surga dengan selamat." (HR. At-Tirmidzi). At-Tirmidzi dalam kitab Shifatil Qiyamaah mengatakan, hadits ini adalah shahih.


Setelah salam dan dilanjutkan dengan shalat sunnah witir, aku berdzikir.


Menyebut asma allah dan mengingat betapa banyaknya kesalahan yang telah aku perbuat.


Aku beristighfar karena belum bisa menjadi hamba Nya yang taat.


Aku larut dalam dzikir.


Setelah berdzikir, aku menengadahkan do'a. Meminta ampun kepada allah, mohon ampun atas semua dosa dosa yang telah aku perbuat. Pun tidak lupa mendoakan mama papa yang telah membesarkanku sampai sekarang ini. Tanpa mereka, aku tidak akan menjadi seperti apa aku saat ini.


Terakhir, perihal caca.


Gadis yang menyita waktu tidurku semalam.


"Ya allah, hamba tau. Apapun yang telah Engkau rencanakan adalah yang terbaik bagi siapapun yang terlibat.


Ya rabb jika namaku bukanlah nama yang ditakdirkan untuk menjadi imam bagi aisyah humairah, gerakkanlah hatinya untuk menerima lamaran dari laki laki yang telah berani memintanya kepada abi azmi.


Laki laki yang mempercepat amalan mulia yang akan dinilai pahala sepanjang amalan itu berlangsung. Namun ya allah, hamba tidak akan meminta aisyah di jodohkan dengan hamba. Hamba hanya mohon, berilah yang terbaik untuk hamba dan juga aisyah ya allah. Aamiin."


Aku menutup doaku.


Aku melipat sajadah dan meletakkannya ditempat dimana aku mengambilnya tadi.


Aku meraih al qur'an diatas nakas kemudia membacanya.


Aku memuraja'ah juz 28 karna aku sudah mulai lupa lupa dengan beberapa potongan ayatnya.


Baru saja aku membaca 2 halaman pertama dari juz tersebut, aku dikejutkan dengan bunyi handphone ku.


Aku menutup bacaan al qur'anku kemudia melihat nama siapa yang muncul di layar handphone ku.


Aku dapat melihat nama abi azmi disana.


Aku melihat jam ternyata sudah pukul setengah lima, itu artinya sekarang sudah pukul setengah delapan disemarang.

__ADS_1


"Assalamualaikum abi."


Aku mengucap salam kepada abi.


"Walaikumsalam fathan."


Aku menangkap raut serius dari nada bicara abi.


"Apa kabar abi?"


Aku basa basi padahal baru kemaren abi menelfonku.


"Fathan, ada yang mau abi bicarakan sama fathan."


Aku mulai takut. Ya allah, aku belum siap mendengar kalau nyatanya caca menerima lamaran itu. Aku menelan saliva.


"Iya abi, ada apa abi?"


Aku berusaha setenang mungkin.


"Perihal caca."


Aku sudah menduga abi akan membicarakan masalah ini.


"Kenapa adek bi?"


Aku masih berusaha menegarkan diri sendiri.


"Kau tau azzam fathan?"


Abi bertanya.


Aku berpikir sejenak, aku tidak asing dengan nama ini.


"Kalau fathan tidak salah bi, azzam itu satu sekolah dengan caca bukan bi? Anggota rohis kota juga kalau nggak salah bi."


Seingatku memang seperti itu.


"Itu orangnya nak."


Aku mengangguk anggukkan kepala.


"Masalah lamaran semalam, aisyah tidak menjawabnya."


Sontak entah kenapa aku merasakan lega dengan sangat.


"Fathan, caca bingung. Sampai tadi pagi kepalanya masih sakit karena memikirkan hal tadi malam."


Aku tau itu, kepala caca tidak akan sanggup untuk dibebani oleh hal hal berat apalagi mendadak seperti ini.


"Beneran bi? Trus abi udah kasih caca paracetamol bi?"


Dan aku adalah orang yang selalu panik akan hal itu.


"Sudah nak, tapi caca bingung. Abi kasian ngeliat caca seperti itu."


Aku tau abi super protektif kalau sudah menyangkut masalah anak semata wayangnya itu.


"Jadi, caca nggak nolak ataupun nggak nerima bi?"


Jujur aku masih penasaran.


"Tidak nak, caca minta waktu satu bulan untuk memikirkannya."


Suara abi melemah.


"Fathan."


Abi memanggilku.


"Iya abi?"


Aku kembali deg degan


"Tadi malam abi menangkap raut kecewa dari wajah caca ketika melihat azzamlah yang datang. Abi tau yang diharapkan datang oleh caca adalah fathan."


Aku menghela nafasku.


"Abi tidak mungkin memaksamu untuk melamar caca fathan, ada masa depan yang harus kau selesaikan terlebih dahulu bukan?"


Lanjut abi.


"Iya abi. Jadi apa yang bisa fathan bantu abi?"


Aku ingin mengambil peran.


"Perihal janji kita."

__ADS_1


Aku mendengarkan dengan baik.


"Bolehkah abi mengatakannya kepada caca?"


__ADS_2