Teman Menuju Syurga

Teman Menuju Syurga
Pergi(2)


__ADS_3

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


 


Sungguh jika bukan untuk kebaikan aku dan dirimu,aku tak berani memilih keputusan ini. Tapi untuk kali ini, izinkan aku meninggalkanmu*


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Aku menghempaskan tubuhku di sofa ruang tamu. Aku melirik arloji, ternyata masih jam 11.


Aku cukup lelah memikirkan semua ini.


Tapi mau tak mau aku harus jujur pada caca tentang kepergianku besok.


"Eh,anak mama sudah pulang. Gimana? Abang lulus nggak?"


Mama menjadi orang pertama yang aku temui dirumah.


"Alhamdulillah ma,semuanya lulus."


Jawabku.


"Alhamdulillah. Mukanya kusut, abang kenapa?"


"Maa,abang ngga berani bilang sama caca tentang pergi besok maa. Abang takut nanti caca ngambek sama abang."


Memang sudah menjadi kebiasaan bagiku memanggil diriku 'abang' jika sudah berbicara dengan mama.


"Tapi katanya mau lanjutin cita cita. In sya allah caca ikhlas kok. Lagipun kan besok besoknya kamu bisa ketemu lagi sama caca."


Mama berusaha menenangkan.


"Iya maa, tapi bagi abang caca itu.."


Krrrrriinggg..


Aku menghentikan ucapanku saat melihat caca menelfonku.


"Bentar ya ma, yang diomongin lagi nelfon."


Aku setengah berbisik.


"Iya,angkat gih. Mama mau lanjutin masak." Mama berlalu.


"Halo assalamualaikum abang."


Awal caca


"Walaikumsalam dek, kok tumben nelfon abang jam segini? Nggak belajar lagi?"


Ini masih jam 11 loh, caca biasanya pulang jam 12.


"Guru rapat bang, kami disuruh pulang.


Caca ngga tau mau pulang sama siapa bang.


Umi katanya masih dikantor abi tadi ada pertemuan gitu. Caca pulang sama siapa dong baang."


Caca merengek.


"Iyaa iyaa paham deh abang kalau udah kek gini. Tunggu ya, 10 menit sampai kok. Jangan kemana mana nanti umi marah."


Jawabku dengan senyum.


"Yeeeey,abang jemput caca ya? Makasih abaaang."


Caca setengah berteriak.


"Iya iya,bentar ya dek. Assalamualaikum."


Baru saja aku menutup telfon caca, mama datang lagi


"Bang,jemput caca ya. Tadi nafisha bilang dia lagi dikantor mas azmi jadi ngga bisa jemput. Tolongin ya, nanti caca nangis loh."


Mama memberitahu hal yang sama dengan caca.


"Iya ma, caca tadi nelfon bilangin itu kok


. Abang berangkat ma. Assalamualaikum mamaku yang cantiik."


Aku mencium pipi mama.


"Walaikumsalam abang. Hati hati ya nak."


Aku mengacungkan jempol tinggi tinggi.


Baru saja mau naik motor, handphone ku berbunyi lagi. Dan ternyata umi nafisha.


"Assalamualaikum umi."


"Walaikumsalam nak, fathan umi bisa minta tolong jemput caca nggak? Dia nggak bisa pulang sendirian."


Ternyata masih dengan kabar yang sama, aku terkekeh


"Iya umii, ini lagi mau jalan ke sekolah caca." Jawabku.


"Hehe,maaf ya umi jadi ngerepotin. Nih abi si caca lagi ada pertemuan dan itu harus sama umi pula. Kalau begitu hati hati ya nak,assalamualaikum."


Sambung umi nafisha.


"Walaikumsalam umi."


Sesampainya disekolah caca, aku melihat caca menunduk di halte.


Aku langsung menghampirinya.


"Assalamualaikum deeek."


Mendengar suaraku, caca langsung mendongak.


"Walaikumsalam abaaaang."


Caca hampir berteriak.


"Syuuuut, jangan kek gitu ah. Malu sama orang." Hobi caca memang seperti itu.

__ADS_1


"Hehe, caca takut bang. Caca pikir abang gak datang."


Jawab caca.


"Abang datang kok deek, tadi abis caca nelfon mama nyuruh jemput adek juga, terus pas mau naik motor eh ternyata umi nelfon nyuruh jemput adek juga. Makanya lama. Maaf ya deek."


Aku berusaha menenangkan.


"Hehe,iya abang. Yuk pulang."


Aku membatasi antara aku dan caca dengan ransel yang belum sempat aku tinggal dirumah. Bagaimanapun dekatnya aku dengan gadis ini, dia tetap bukan mahramku. Dan caca mengerti itu.


"Gimana belajarnya? Aman nggak?"


Aku memulai pembicaraaan.


"Alhamdulillah bang. Aman. Oh iya caca lupa. Abang sekarang kelulusan bukan? Waah, abang lulus nggak?"


Caca antusias.


"Maafin abang ya dek, abang udah berusaha belajar semaksimal mungkin. Dan dari semua yang lulus ada 7 orang yang harus mengulang. Hm...abang salah satunya sih dek, maafin abang yaa."


Aku beruntung karna memakai helm.


Karna kalau tidak, aku memang tidak bisa menahan tawaku melihat wajah caca yang cemberut.


Tapi nyatanya caca menjawab dengan tenang.


"Nggak masalah kok abang, kalau itu yang terbaik, berarti allah punya hikmah yang menakjubkan buat abang. Abang nggak boleh sedih yaa."


Caca berusaha menenagkan meskipun wajahnya sendiri sudah tidak tenang.


Sepanjang perjalanan, aku memilih diam karna belum puas mengerjai caca.


Sesampainya di kediaman umi nafisha, ternyata umi sama abi belum balik.


"Bang, masuk dulu ya. Kemarin caca bikin es krim. Abang harus coba ya."


Caca masih dengan wajah menunduknya.


"Iya dek."


Aku masih memasang wajah menyedihkan.


Pas di pintu rumah, caca berbalik dan ternyata matanya sudah merah.


"Abaaaaang, abang ngga boleh sedih dong. Abang kalau sedih tu bawaannya diaaam aja mulu. Caca nggak suka abang diam."


Sumpah demi apapun aku ngakak ngeliat caca yang hampir nangis. Panik sih. Lalu aku mencoba setenang mungkin.


"Adek,kalau sesuatu yang kita harapkan itu tidak sesuai dengan kenyataan, allah nyuruh kita buat sabar. Kan ada tuh ayatnya innallaha ma'ashobiriin. Allah bersama orang orang yang sabar. Kalau udah allah yang bilang, kenapa kita masih ragu? Abang baik baik aja kok ca, jangan dipikirin terus ya deek."


Aku masih menahan tawa.


"Iya caca ngga tega aja liat tampang abang yang menyedihkan itu lagi sedih. Kan makin menyedihkan abaang."


Caca merengek.


"Hahahahahahaha."


Aku menyamakan tinggiku dengan caca.


"Emangnya kamu percaya abangmu ini ngga lulus SMP huh?"


Caca yang mulanya menunduk langsung menatapku.


"Jadi abang boongin caca?"


Matanya membulat.


"Katanya mau ngasih abang es kriim, mana?"


Aku mencoba mengalihkan pembicaraan dan masuk kedalam rumah caca.


"Iiiiii... abang ngeseliiiin."


Akhirnya telingaku dipenuhi teriakan caca.


oh god,anak ini membuat gendang telingaku robek.


"Dek."


Aku mengamati caca yang sudah mengahbiskan 3 cup es kriim buatannya itu.


"Apa bang?"


Sedikitpun caca tak menoleh.


"Adek kok nggak pacaran sih?"


Kami sedang menikmati es kriim caca di ayunan taman belakang.


"Hmm, caca lagi nggak mau pacaran bang. Kalau menurut caca pacaran itu hanya buat orang orang yang membutuhkan kasih sayang over. Tapi caca udah dapatinnya dari umi,dari abi, dari mama papa abang, walaupun nih ya caca ngga punya adek ataupun kakak,caca kan udah jadi adek abang. Jadi kasih sayang ke caca paket komplit dong."


Caca masih menikmati es nya. Aku termagu ketika mendengar aku adalah salah satu alasannya untuk tidak pacaran.


"Hehe,terus gini ya ca. Ngga usah pacaran. Abang,umi,abi,mama sama papa akan terus perhatian kok sama caca. Ngelindungin caca, dan jagain caca. Janji sama abang ya dek."


Aku terharu sebenarnya.


"Janji abang."


Balas caca.


Mengingat besok aku akan pergi, aku memustuskan kembali kerumah untuk packing. Sebenarnya sudah selesai sih tadi malam. Tapi masih ada beberapa yang belum siap.


"Ca, nanti malam abang kesini lagi ya. Ada yang mau abang omongin sama abi, sama umi sama caca juga."


Aku berdiri. Caca mengimbangi.


"Kok abang cepet banget si pulangnya. Umi sama abi kan belum pulang. Caca sama mbok dong dirumah."


Caca manyun.


"Iyaa tadi umi sama abi bilang mereka pulangnya abis zuhur. Sekarang kan udah mau masuk zuhur. Izinin abang pulang ya dek."

__ADS_1


Aku berusaha pergi.


"Iya deh bang, nanti malam kesini bareng mama papa nggak? Caca kangen mama sama papa. Sampein salam kangen caca ke mama papa ya banh."


Caca menyipitkan matanya.


"Belum tau juga sih dek, ntar deh abang WA adek ya. Nanti abang sampein sama mama. Kamu tu nggak pernah ngga kangen sama mama ya. Baru juga tadi malam abang dengar baru vc."


Mama sama caca memang tak bisa dipisahkan. Apalagi tingkah mama kalau udah ketemu caca pasti pas banget mirip anak ABG.


"Hehe,masa kangen sama mama aja nggak boleh. Abang jahat."


Caca cemberut.


"Hehe. Boleh kok adek. Ih,kamu ini."


Aku sebenarnya gemas dengan gadis ini.


"Udah ya,abang pulang dulu. Assalamualaikum caa."


"Walaikumsalam abang." Balas caca.


Malamnya.


"Waah, azmi. Ngga bisa kesana aku. Aku baru pulang ini dari bogor. Kamu pahamlah kan, kalau aku baru pulang kerja letihnya seperti apa. Kusuruh fathan pergi sendiri bagaimana?"


Aku mendengar papa sedang telfonan sama abi azmi.


Yap, papaku sering keluat kota. Jadi jarang banget bisa pulang.


Kalau pulang pun, baru sampe rumah lamgsung minta dipijitin sama mama.


Jadilah aku yang pergi sendiri kerumah umi,abi dan gadis itu, caca.


"Abang pamit ya maa,paa."


Aku mencium tangan keduanya


"iya abang, baik baik kamu dijalan ya."


Ucap papa.


"Siip my bigbos."


Ucapku sambil memeluk papa.


Sebenarnya aku masih rindu papa, udah 2 minggu papa ngga pulang.


Tapi nanti lah kangen kangenannya. Sekarang mau kerumah caca dulu. Hehe


"Assalamualaikuum."


Aku mengetuk pintu rumah umi nafisha.


"Walaikumsalam"


jawaban dari dalam.


Tak lama kemudian muncul caca dengan jilbab hitamnya.


"Abaaaaang."


Oh sungguh, telingaku.


"Cacaa, udah malem. Stok suaranya buat besok lagi ya deek. Syuuuut."


Lagi lagi aku berusaha menenangkan.


"Walaikumsalam fathan. Duuh, sendirian kamu ya. Masuk masuk."


Abi azmi menyambutku.


Aku mencium tangan abi.


"Hehe ngga apa apa kok abi. Fathan kasian liat papa kecapek an."


Ucapku seraya duduk.


"Iya fathan, papa kamu tadi telfon abi. Dia katanya sangat lelah. O iya, maafkan abi ya tadi siang membuat fathan repot jemput caca." Sambung abi.


"Eh ngga kok abi,tadi siang fathan pulang cepat. Oh ya abi, fathan lulus loh."


Aku menepuk dadaku.


"Waah,alhamdulillah. Selamat ya anak abii."


Aku tersenyum merasakan kehangatan abi azmi.


"Umii, cacaa.. kesini bentar. Fathan katanya ada yang mau diomongin nih. Kayaknya penting. Soalnya fathan gak pernah kek gini sebelumnya haha."


Abi terkekeh.


"Ah abii."


Aku tersipu.


Tak lama kemudian, umi dan caca datang membawa air mineral dan bebrapa toples makanan kecil.


"Ada yang mau ngomong serius nih."


Umi ikut ikutan meledek. Caca lebih memilih duduk disebelahku ketimbang duduk didekat umi abinya.


"Seperti ini abi,umi, dan... caca.


Tadi kan fathan udah menerima tanda kelulusan. Masalah sekolah yang fathan daftar di SMA Al-Islah kemaren, alhamdulillah fathan diterima."


Umi dan abi mengucap syukur. Lain halnya dengan caca.


"Abang nggak ambil itu kan? Abang pasti ambil SMA Al-Ikhlas bareng caca kan?"


Jarak antara aku dan caca hanya berkisar 1 tahun 8 bulan.


Aku menatap caca lembut sambil tersenyum. Karna aku tak berani melihat mata itu berair karena aku.


"Abi,umi, dan untuk adekku caca. Fathan pamit pergi ya."

__ADS_1


__ADS_2