Teman Menuju Syurga

Teman Menuju Syurga
Berjuang


__ADS_3

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Angin tidak berhembus untuk menggoyangkan pepohonan,melainkan menguji kekuatan akarnya.*


-ali bin abi thalib-


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Hari ini aku benar benar terlambat. Karna tadi mengantre dikoperasi sekolah membeli kertas milimeter untuk pelajarang matematika.


Minggu kemaren pak rudi memberitahu kami bahwa tidak boleh masuk jika tidak membawa kertas milimeter tersebut.


Sialnya aku lupa untuk membelinya.


Aku baru mengingatnya tadi pagi ketika salwa memberitahuku.


Spontan aku langsung berlari ke koperasi padahal pelajaran akan dimulai 5 men8lit lagi.


Kupikir koperasi sepi ternyata aku salah besar. Alhasil aku terlambat 10 menit dalam mata pelajaran pak rudi.


Aku berdiri didepan pintu karna tak berani masuk.


"Aduuuh,caca harus bagaimana ini."


Aku bergumam. Lama berdiri didepan pintu dan aku hampir menangis, tiba tiba aku dipanggil seseorang.


"Asalamualaikum aisyah humairah."


Suara itu berasal dari belakangku.


"Walaikumsalam."


Aku berbalik. Ternyata ada kak azzam


"Asiyah kok disini? Gak masuk kelas?"


Tanya kak azzam.


"Aisyah terlambat kak, aisyah tadi kekoperasi dulu. Trus koperasinya padat, aisyah gak bisa cepat. Gimana ini kak azzam?"


Aku hampir menangis.


"Ooo, begini saja. Sebelumnya kakak minta maaf karna nggak ngabarin aisyah lewat buk fatma kalau hari ini kita latihan di balai kota. Ini ada surat tugasnya. Biar kakak aja yang masuk ya ngasih suratnya."


Sungguh demi apapun aku bersyukur sekali kak azzam datang saat ini.


"Baiklah kak, makasih banyak kak azzam."


Kurasa mataku berbinar sekarang.


Kak azzam kembali memperlihatkan senyum teduhnya.


Setelah kak azzam minta izin kepada piket dan juga menelfon buk fatma karna membawaku keluar pekarangan sekolah, akhirnya kami berangkat menuju balai kota.


Sesampainya disana, aku melihat ustadz imam sedang melatih pembawa acara atau protokol.


"Assalamualaikum."


Salamku dan salam kak azzam hampir bersamaan.


"Walaikumsalam. Eh nak azzam sama nak aisyah sudah sampai. Silahkan duduk di sebelah kanan saya. Azzam tolong bimbing aisyah ya."


Ucap ustadz imam.


"Baik ustadz,ayo aisyah."


Aku membuntuti kak azzam.


"Aisyah, besok aisyah baca surah arrahman ya." Kak azzam mulai membuka alquran miliknya.


"Iya kak,kak azzam ajarin aisyah iramanya ya."


"In sya allah, kita akan belajar bersama." Kak azzam menjawab. Aku menghabiskan waktuku dengan belajar bersama kak azzam hingga sore hari sebelum aku dan teman teman yang ikut lomba diantarkan pulang oleh ustadz imam dengan mobil yayasan.


Begitulah kegiatanku selama minggu ini, aku dijemput oleh ustadz imam dan kadang kadang kak azzam yang menjemput.


Tentu dengan mobil yayasan juga.


Dan kemudian diantar lagi pada sore harinya. Masalah pelajaran disekolah awalnya terkendala, tapi akhirnya aku hisa menyesuaikannya karena minggu ini bukanlah minggu minggu UH.


Tak terasa, sekarang sudah hari jum'at.


Artinya besok malam aku akan tampil didepan para siswa dan siswi SMA al islah.


Kemaren kak azzam sudah memberitahuku bahwa hari ini kami akan gladi ditempat.


"Kak azzam,nanti kita berngkat ke SMA Al islahnya jam berapa?"


Sebenarnya aku sudah tak sabaran.


"Nanti sekitar jam 3 an aisyah."

__ADS_1


Kak azzam masih sibuk dengan al qur'an ditangannya. Pikiranku sudah menerawang.


Aku membayangkan akan bertemu dengan bang fathan kemudian akan kutanyakan dan kuceritakan semuanya.


"Aisyah, nanti pada ayat ketiga belas jangan lupa lebih duhayati ya."


Kak azzam menasehatiku karna memang pada ayat itu seharusnya aku lebih mendendangkannya.


"Iya kak, nanti aisyah coba lagi ya kak."


Aku mengiyakan.


"Aisyah, azzam. Ayo berangkat nak!"


Ustadz imam memanggilku dan kak azzam.


"Baik ustadz. Aisyah ayo."


Kak azzam memintaku mengikutinya.


"Iya kak."


Dan aku pun masuk kedalam mobil yang dikendalikan oleh ustadz imam menunu sekolah bang fathan.


Eh SMA Al Islah maksudku. Hehe.


Selama diperjalanan yang menghabiskan waktu kurang lebih satu setengah jam, aku terus berdoa kepada allah agar dipertemukan kembali dengan bang fathan.


Sesampainya disana,ternyata waktu ashar sudah masuk.


"Anak anak, kita sholat ashar dulu dimushola sekolah ya. Nanti 10 15 menit setelah salam temui ustadz di aula sekolah."


Ustadz imam menginstruksikan.


"Baik ustadz."


Kami beranjak menuju tempat berwudhu.


Aku bersyukur karna wudhuku belum batal.


Jadi aku langsung menuju mushola.


"Gak wudhu syah?"


Kak azam menegurku.


"Belum batal kak, tadi aisyah udah wudhu kok." Aku menjawab pertanyaan kak azam.


Kak azzam bergumam terlalu lambat.


"Bagaimana kak?"


Aku memintanya mengulangi perkataannya sekali lagi.


"Eh nggak kok aisyah,lanjut saja kemushola ya." Kak azzam berlalu.


"Baik kak azzam."


Aku memasuki mushola.


"Kak azzam tadi bilang apa ya?"


Aku bertanya sendiri.


"Ah sudahlah."


Aku tak terlalu menghiraukannya.


Setelah iqomah, imam dipersilahkan maju.


"Allahu akbar."


Aku merasa tidak asing dengan suara ini.


Saat sang imam membacakan alfatihah dan surah al fajr, hatiku bergetar.


Aku sangat mengenali suara ini, suara yang dulu selalu melantunkan juz 30 apabila aku tidak membuka alqur'an untuk muraja'ah karna sedang halangan.


Dan suara itu sudah bertahun tahun tidak ku dengar.


Kini suara itu kembali terdengar menjadi imam kami semua.


Itu adalah suara bang fathan.


Aku menikmati setiap alunan ayat al qur'an yang dibacakannya.


Setelah abi, suara imam yang paling aku senangi adalah suara bang fathan.


Meski aku akui suara kak azzam lebih lembut dubandingkan bang fathan, tapi tetap saja suara bang fathan memiliki kharisma tersendiri bagiku untuk didengarkan.


"Assalamualaikum warrahmatullah, assalamualaikum warrahmatullah."

__ADS_1


Salam mengakhiri suara bang fathan.


Aku beristighfar didalam hati.


Mohon ampun karna kekhusyukkan sholatku terganggu oleh fikiran terhadap bang fathan. Setelah dzikir dan doa, aku berniat mencari bang fathan.


Aku bergegas keluar mushola dan memakai sepatuku.


Saat hendak melangkah,


"Aisyah!"


Aku melihat kesumber suara, ternyata kak azzam


"iya kak azzam."


Aku setengah berlari menuju kak azzam.


"Ayo keaula. Bareng."


Aku melirik arloji ditanganku. Yaah, udah waktunya berkumpul.


Padahal aku kan ingin bertemu bang fathan.


"Iya deh kak."


Aku mengiyakan.


"Kak azzam, kak azzam kenal tidak sama imam tadi?"


Aku harap kak azzam menjawab itu adalah bang fathan.


"Hmm, tidak. Kenapa memangnya."


Kak azzam rada curiga.


"Tak apa, aisyah suka sama suaranya."


Ya wajarlah, itu kan suaranya bang fathan.


"Jangan bilang kamu tanya siapa orangnya karna kamu juga akan suka sama pemilik suara itu?" Kak azzam menyeringai.


Aku tertawa melihat ekspresi kak azzam waktu itu.


Kak azzam juga tertawa.


Mungkin jika sekilas kami terlihat sangat bahagia. Padahal tanpa orang lain tau, kami hanya menertawakan hal sepele.


Memang, selama satu minggu ini, waktuku dihabiskan bersama kak azzam juga ustadz imam.


Alasan persiapan seminggu adalah kami tidak ingin menjatuhkan citra sekolah karena nanti ada kesalahan kesalahan kecil saat tampil.


Aku dan kak azzam berjalan menuju aula yang diminta oleh ustadz imam tadi.Jangan berfikir kami berjalan sejajar, kak azzam berjalan beberapa langkah didepanku guna menghindari fitnah yang akan muncul nantinya.


Sesampainya di aula, aku diminta oleh ustadz imam gladi menggunakan mickrofon yang sudah duseduakan oleh panitia.


Aku memulai membaca surah arrahman ayat 1-25.


Bissmillah, aku memulainya.


Kuhayati setiap ayat demi ayat.


Merasakan pesan allah yang kasih sayangnya tercurah kepada setiap makhluk yang ada dibumi ini.


Sungguh sangat merugi apabila ada makhluk yang tidak bersyukur apalagi kufur nikmat.


Pada ayat ketiga belas,


فبا ىءالاءربكما تكذ بان


Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (Qs.Arrahman ayat 13)


Air mataku berlinang saat menghayati surat ini, sehingga suaraku bergetar.


Setelah selesai membaca surah arrahman,


aku mengahpus air mataku yang masih mengalir. Kak azzam langsung mengahampiriku.


"Ma sya allah humairah, tanpa saya ajarkan kamu sudah luar biasa. Sepertinya gladi kamu hanya beberapa kali saja."


Kak azzam memujiku.


"Hehe,maafin aisyah ya kak, aisyah cengeng."


Aku menghapus air mataku.


"Nggak cengeng kok. Kamu hanya menghayati lafadz lafadz allah dalam surah itu. Hati kamu terlalu lembut humairah."


Kak azzam lagi lagi memujiku.


Aku hanya tersenyum dan kembali mengulangi surah yang akan aku bawakan besok malam ini.

__ADS_1


Diluar aula,tepatnya didepan jendela. Aku sungguh tidak menyadari ada seorang lelaki yang menatapku dan kak azzam dengan tatapan sendu


__ADS_2