Teman Menuju Syurga

Teman Menuju Syurga
Melamarmu


__ADS_3

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ


Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Aisyah pov.


Setelah sampai di garasi, aku memastikan tidak ada bekas bekas tanda aku baru menangis dari wajahku.


Aku berusaha mengembangkan senyum seperti biasa kemudian turun dari mobi.


"Assalamualaikum"


Aku mengucap salam.


"Walaikumsalam, mana bubuk kulit manisnya nak?"


Umi langsung menanyakan pesanannya.


"Ini umi."


Aku memberikan bungkus plastik itu kemudian mengikuti umi kedapur.


Umi menaburi bolu sankis dengan bubuk kayu manis yang baru saja aku beli.


"Dulu, setengah bolu ini akan habis olehmu dan abang ketika main di gajeboh belakang."


Sudut hatiku terasa nyeri karna nyatanya aku sudah berusaha untuk tidak mengingat bang fathan namun nyatanya umi mebicarakannya kembali.


Senyum palsu yang aku pasang kemudian memudar.


Memang benar.


Titik penyesalan terberat adalah kita memutuskan menjaga hati karena seseorang bukan karena allah.


Kita tidak tau bukan? Manusia bisa kapan saja mengecewakan hati kita.


Seperti yang aku rasakan pada sekarang.


Umi mungkin tidak menyadari perubahan raut wajahku.


Aku memilih diam dan menghela nafas.


"Kenapa say?"


"Nggak kok umi."


Aku mengadahkan wajahku. Berusaha agar air mata ini tak jattuh lagi.


"Ayo dimakan."


Aku memakan bolu sankis milik umi dan menikmati tiap potongan yang masuk kedalam mulutku.


"Enak kan, itu bolu kesukaan abang loh."


Aku sudah tidak tahan lagi.


Tangisku pecah.


"Umii."


Aku memanggil umi.


"Ada apa nak?"


Umi terlihat panik.


"Abang mii."


Oh god, aku cengeng lagi saat ini.


"Kenapa abang sayang?"


Umi mengelus jilbabku


"Abang itu, tadi caca liat abang."


Aku tidak akan mengatakannya kepada umi.


Aku takut umi malah beranggapan buruk kepada bang fathan.


"Terus kalau liat abang kenapa? Bagus dong."


Aku berusaha mencari alasan.


"Caca kangen abang mi."


Aku ngeles.


Nggak ngeles sih, tapi ya gitu lah.


"Kenapa nggak mampir dirumah abang?"


Aku menggeleng.


Umi tersenyum.


"Yaudah, waktu ashar udah masuk tuh. Sholat yah."

__ADS_1


Aku mengangguk dan mencomot bolu sepotong lagi.


Aku berlalu menuju kamar untuk shalat.


Fathan pov.


Argh.


Aku tidak boleh seperti ini terus.


Aku tidak boleh memikirkan aisyah seperti ini lagi.


Aku tidak mampu untuk dihantuinya sekali lagi.


Aku turun dari tempat tidur lalu mencari papa.


Baru saja membuka pintu kamar,


Aku dikejutkan dengan havva yang sudah berdiri siap untuk menggedor pintu kamarku.


"Ha! Ketangkep lu sama gua kan."


Aku memasang wajah garang. Eh dia malah ketawa.


"Mau apa lu kecebong?"


Aku makin membesarkan mata.


"Gua colok mata lu ntar. Mata lu itu biasa aja dong."


Dia menjawab.


Havva memang menginap dirumahku jika dia balik ke indonesia.


"Papa manggil lu. Papa nungguin lu diruang kerja."


Pas banget kan gais?


"Oke deh, gua kesana."


Aku melangkah.


"Lu nggak takut turun tangga kan?"


Aku meledek havva.


Detik selanjutnya sendal tidur havva sudah melayang dikepalaku.


"Pap."


Aku melihat papa sedang sibuk dengan laptopnya.


"Eh, masuk ajalah. Kek ruangan apa ajalah tempat kerja papa ini."


"Ada apa pap?"


Aku melihat setumpuk kertas di atas meja kerja papa.


"Ini yang akan kamu pelajari untuk jadi direktur besok ya. Papa tau pemgalaman kamu di turki pasti sudah dibekali dengan matang. Papa hanya mencoba menghubungkannya dengan perusahaan papa."


Aku yang sedang duduk didepan papa menganggu anggukkan kepala.


"Pap."


"Abang."


Aku dan papa salaing memanggil dengan bersamaan.


"Kenapa?"


Papa bertanya.


"Papa duluan deh. Nggak baik duluin orang tua ngomong."


Aku bersikap baik.


"Papa mau tanyain masalah aisyah."


Topik yang pas.


"Ada apa dengan caca pap?"


Aku bertanya.


"Kapan papa menemani kamu kerumah azmi untuk melamar putrinya? Bukannya bagaimana. Papa ini cuma punya anak satu dan itu kamu."


Aku tau kemana arah pembicaraan ini.


"Papa mau kamu ngelanjutin perusahaan papa yang ada disini saja. Kamu sudah bekerja. Kamu juga butuh seorang pendamping hidup untuk menjadi orang yang pertama kali menyambutmu pulang dengan segala kasih sayangnya. Lagipula, itu amalan baik yang alangkah baik dipercepat. Bukan begitu nak?"


Aku mengangguk.


"Masalah uang yang papa kirim secara berlebihan kerekingmu, pahamkah maksudnya?"


Aku menggeleng.


Karna memang uang itu banyak sekali yang dikirimi papa.


Dalam sebulan beliau mengirim uang 2 kali dan aku hanya menghabiskan seperempat dari satu kali pengiriman uang yang dikirim papa.


"Uang itu papa suruh buat kamu tabung karna memang papa dan mama berencana menyuruh kamu menikah diusia yang lumayan muda. Uang itu terserah kamu apakan."

__ADS_1


Aku menatap papa


"Nanti selain gaji dan tunjangan kamu saat jadi direktur, uangnya akan papa tambah.


Tapi bolehkah papa minta satu permintaan?"


Aku yang tadinya menunduk menatap papa.


"Tentu boleh papa. In sya allah dengan kesanggupan abang."


Aku ikhlas mengatakan ini semua.


"Bisakah kita pergi kerumah caca besok malam saja nak?"


Aku membulatkan mata.


Senang, ada.


Kaget, ada.


Bingung, juga ada.


"Besok malam pap?"


Aku benar benar terkejut.


"Iya. Mama sama papa memang udah merancang semuanya. Sehari setelah kamu pulang kita akan langsung ketempat caca. Makanya havva nyempatin diri buat pulang ke indonesia."


Jadi havva sudah tau semua ini, awas saja anak itu nanti ya.


"Bagaimana? Ngga mungkinkan abang tega mengacaukan rencana mama papa?"


Aku berusaha berfikir.


Perkataan havva dimobil tadi mengitari kepalaku.


Lagipun tadi kan aku memang berniat untuk mengungkapkan ini kepada papa.


Kenapa aku yang jadi gugup?


"In sya allah pa, fathan siap melamar caca."


Aku tidak percaya mengatakan ini.


Papa tersenyum kearahku.


"Sudah dewasa anak papa."


Aku melihat binar dimata papa.


Aku tersenyum canggung.


"Jadi tadi manggil papa mau ngomong apa?"


Oh ya, aku kan tadi juga mau bicara.


Tapi kan caca udah dibahas papa duluan.


"Hehe, masalah caca juga sebenarnya pap. Tapi udah papa bahas duluan. Ya gitu deh."


Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal.


"Kan, kamu juga ingin dipercepat."


Papa menjitakku.


Aku ingin menemui mama.


Aku berdiri.


"Besok malam berarti kan pap?"


"Iya, temui mama ya."


Aku mengangguk.


"Oke bigboss."


Aku membuka pintu ruang kerja papa.


Namun aku terkejut saat mendengar teriakan dari luar.


Aku melihat mama dan havva dilantai.


"Mama, va kalian kenapa?"


Aku cemas.


Mereka cengengesan.


"Hehe, nggak ada kok."


Mama berdiri sementara havva sudah lari.


"Mama sama havva nguping ya?"


Aku curiga. Dan benar saja mama cengengesan.


"Salahin havva. Havva yang ngajak mama."


Hava lagi.

__ADS_1


"HAAAAVVAAAAAAA."


__ADS_2