Teman Menuju Syurga

Teman Menuju Syurga
Salah Paham


__ADS_3

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Dalam butiran butiran cinta.


Izinkan aku menangisimu tanpa suara.


Dalam setiap tetes air mata,


Aku bersaksi bahwa semua yang terjadi malam ini adalah ketentuan yang paling baik dari Nya.


Sebelum semuanya sirna, sebelum semua berubah makna. Bolehkah aku menyampaikan mutiara rindu kepadamu, wahai lelakiku?


Pada kesetiaan tahajud,


Pada pancaran cahaya dhuha.


Izinkan aku bertasbih dengan menyebut butiran butiran abjad namamu.


Agar yang menyaksikan niat suci diantara kita bukan hanya manusia,


Melainkan pencipta.


Saat kalimat cinta sudah kau lantangkan,


Selamanya akan menjadi penyesalan karena aku pernah bergelimang prasangka akan dirimu.


Aku akan mencintaimu secara utuh,


Manakala kata SAH sudah menggema,


Manakala jarak sudah tiada.


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Aisyah pov.


Setelah mendapatkan bubuk kayu manis yang dipesan umi, aku kembali dengan bersenandung shalawat badar.


Entah kenapa mood ku tiba tiba baik sekali hari ini mengingat nanti malam aku sudah memiliki seseorang yang akan menghilangkan semua kenangan kenangan pada masa laluku.


Jadi, aku tidak perlu lagi susah susah untuk melupakan abang sementara hatiku sudah diisi oleh orang yang kelak akan menjadi penyempurna agamaku.


Tak terlalu jauh dari rumah, aku melihat CRV  putih sedang berdiri didepan pagar rumahku.


"Siapa?"


Batinku


Aku tak bertanya kepada pak Asep tentang mobil itu.


Barangkali saja teman umi yang datang.


Aku mengucap salam tanpa mengetuk pintu.


"Assalamualaikum umi."


Aku terkejut bukan main melihat wanita yang duduk didekat umi.


Wanita itu,


Memori bang fatahan dengan wanita itu di supermarket beberap waktu lalu kembali terulang.


Aku beristighfar didalam hati ketika melihag perempuan itu datang kerumahku.


Mau apa dia kesini?


Ya allah, ada apa ini? Kenapa disaat aku mencoba untuk benar benar melupakan sosok manusia yang selalu mengganggu pikiranku, hadirnya wanita ini dirumahku seolah olah merobohkan benteng pertahananku?


Sadar aku tak boleh berada disini sekarang, aku meminta diri ùntuk pergi kekamar.


Mood ku mendadak hancur dan aku sangat membenci posisi ini.


Aku setengah berlari menuju kamar.


Aku tak mempedulikan bagaimana bingungnya umi saat ini.


Aku menutup pintu kamar setelah sampai dilantai atas.


Aku bisa merasakan detak jantungku tidak karuan sekarang.


"Apakah aku sudah berbuat tidak sopan?"


Aku bertanya pada diriku sendiri.


Kenapa aku malah lari dari kenyataan?


Jika nyatanya dia memang istrinya bang fathan, kenapa aku tidak ikhlas saja?

__ADS_1


Lagipula kan nanti malam aku sudah akan dilamar oleh laki laki lain.


Saat hendak memegang gagang pintu,


Ada yang mengetuk pintu kamarku.


"Assalamualaikum, aisyah humairah."


Deg.


Aku semakin tak karuan.


Aku mematung dibalik daun pintu yang aku yakin wanita itu juga sedang melakukan hal yang sama.


Aku mencoba ikhlas dan berdamai dengan keadaan dan kenyataan yang sudah digariskan untukku.


Aku menghirup nafas dalam dalam dan menghembuskannya pelan.


"Walaikumsalam."


Aku berusaha tenang.


"Bolehkah aku masuk ca?"


Nadanya bersahabat.


Aku tau ini susah. Tapi aku harus ikhlas mengahadapi perempuan yang menjadi pelabuhan bagi abang fathan untuk melabuhkan cintanya.


Sakit sebenarnya saat aku mengingat ini semua.


"Iya boleh."


Aku membuka pintu.


Aku mendapatinya tersenyum manis.


"Cantik"


Batinku.


Hal pertama yang aku serap adalah dia blasteran. Matanya cokelat dan hidungnya mancung. Bibir tipisnya seolah olah menggambarkan bahwa wanita didepanku ini bersahabat.


"Hai caca."


Dia tau namaku?


Aku gugup karenanya.


"Bisa kita berkenalan lebih dekat?"


Aku salah kaprah. Ternyata wanita ini tak seburuk yang aku bayangkan.


Aku mengangguk dan mempersilahkan wanita ini masuk.


"Kita dibalkon saja kak."


Aku tidak tau memanggil apa pada wanita ini.


"Eh, jangan panggil kak ca. Panggil saja havva ya ca."


Dia mengulurkan tangannya.


Aku menerima jabatan darinya. Sesat saja.


"Sebelumnya aku minta maaf jika selama pembicaraan kita nanti, aku blak blakan dan terlalu antusias ya ca."


Aku menilai gadis ini unik sekali. Aku mengangguk.


"Nama lengkapku havva zuhayri sellyn. Aku adalah seorang dokter di italy. Aku lulusan harvard university. Ibuku sudah meninggal dan ayahku diluar negeri. Aku adalah anak blasteran. Aku pulang karena ada urusan sangaaaat penting."


Tak aku sadari, aku tertawa ketika mendengar havva berbicara pada satu tarikan nafas.


"Kenapa tertawa?"


Alis matanya tertaut


"Kenapa havva cepat kali ngomongnya?"


Aku masih tertawa.


Seolah olah aku melupakan kejadian buruk yang aku asumsikan kepadanya.


"Aaah, aku terbiasa."


Dia benar benar cepat sekali berbicara.


"Havva tau dimana namaku?"

__ADS_1


Aku sebenarnya heran kenapa dia bisa tau namaku dan terlihat begitu akrab dengan umi.


"Oo, dari mama papanya si fathan."


Tunggu.


Kalau dia istrinya abang, mana mungkin dia memanggil suaminya dengan sebut nama saja.


"O ya, aku juga belum ngasih tau kamu kalau aku adalah sepupunya fathan sekaligus saudara sepersusuannya. Mamanya fathan adalah kakaknya mamaku."


Perkataan havva barusan seolah menamparku. Betapa aku sudah bersuudzan kepada bang fathan.


Aku beristighfar didalam hati kenapa aku begitu naif dalam mengambil keputusan bahwa abang sudah memiliki istri.


"Havva maafkan aku."


Havva terlihat bingung.


"Caca kau bahkan bahkan tidak berbicara apapun dari tadi. Kenapa minta maaf?"


Aku menunduk. Memikirkan bagaimana aku mengutarakan pemikiranku kepada havva?


"Havva, apakah kau tau soal bang fathan?"


Aisyah tersenyum lembut.


"Aku juga perempuan ca. Fathan pernah bilang bahwa dia sangat menyayangimu.


Apakah kau tau itu?"


Aku mengangguk.


"Maka dari itu va, dulu aku pernah melihatmu begitu dekat dengan abang di supermarket. Aku tak dengaja melihat kalian di eskalator begitu dekat. Hatiku sakit va. Aku menganggapmu adalah istri yang dinikahinya selama dia kuliah diturki. Aku sudah suudzan kepadamu va."


Aku menunduk sementara havva tertawa.


"Nggak apa apa kok ca. Itu tandanya kamu takut kehilangan fathan."


Ia mengelus tangan kananku.


"Dulu sebelum aku ikut papa ke italy, fathan pernah ngomong kalau nanti dia dewasa dia akan menikahi perempuan bernama aisyah humairah kepada papanya. Aku terus bertanya kepada mama siapa itu caca dan aku ingin mendekatinya."


Aku mendengarkan havva dengan seksama.


"Sampai kini pun, nama aisyah humairah tidak pernah tergantikan dihati fathan. Aku senang memiliki sepupu sekaligus saudara sepertinya. Sangat setia dan begitu menyayangi perempuan."


Havva menceritakan banyak hal tentang bang fathan kepadaku.


Ada perasaan lega saat mengetahui bahwa abang ternyata belum menikah.


Cepat cepat aku beristighfar didalam hati karena takut akan merusak usahaku untuk ikhlas menerima lamaran nanti malam.


Aku merasa senang mengenal havva.


Karena selain orangnya friendly, dia juga cepat dekat denganku yang notabenenya pendiam saat bertemu orang baru.


"Nanti malam kamu dilamar ya?"


Pertanyaannya memacu kembali jantungku.


"Iya va."


Aku menyembunyikan wajahku. Aku menunduk.


"Semoga itu adalah yang terbaik untukmu ya ca."


Aku menatapnya dengan senyuman getir.


"Oya, aku pulang dulu. Nanti malam aku punya acara. Balek dulu ya sahabatku."


Aku senang mendapat gelar itu dalam waktu yang sebentar.


"Iya. Baik baik ya."


Aku menatap punggungnya.


"Havva."


Dia berbalik.


"Sampaikan salamku pada abang. Bilang terimakasih ya."


Aku mengusap dadaku. Berusaha sekuat mungkin untuk mengikhlaskan apa yang terjadi. Havva tersenyum.


"Baik ca."


Allah, semoga ini yang terbaik.

__ADS_1


__ADS_2