Teman Menuju Syurga

Teman Menuju Syurga
Diterima


__ADS_3

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Kasih kau tak perlu tanya kemana cinta pergi


Ia hanya bangunan imaji yang kini telah pudar.


Tuang puing puingnya mari kita bersulang.


Ceritakan padaku tentang kisah kita, pada air mataku yang tengah mengalir.


Mengapa cinta menjelma cerita pada masa lalu dan menjadi cerita duka yang penuh pilu.


Aku tak melupakanmu, sebab rayuan lidahmu yang lembut telah memanggilku lewat liukkan dan kata kata indah.


Lewat uluran tangan, berjibaku dengan ombak yang meraihku tengah tenggelam.


Kau cumbu dengan kecupan dambaan pengembaraan malam.


Tapi dimana pendar cahaya matamu berdiam.


(Al athlal-Umi kulsum)


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Fathan pov.


Aku sudah siap dengan pakaianku.


Demikian juga dengan mama papa dan juga sepupu kecebongku.


Diantara kami semua, hanya aku yang berpakaian gelap.


Sementara semuanya berpakaian putih dengan kombinasi batik.


"Sudah siap anak papa?"


Pertanyaan papa membuatku deg degan lagi.


"In sya allah pa."


Kami masuk kedalam mobil dan mulai melakukan perjalanan kerumah aisyah humairahku.


"Semoga malam ini semesta menyaksikan buah dari kesungguhan dan kesabaran kita aisyah. Malam ini aku akan menepati janjiku pada abimu."


Mobil melaju dengan tenang.


Aisyah pov.


Aku mematut diri didepan cermin.


Dark navy adalah tema yang aku lilih saat ini. Jilbabku berwarna coklat susu.


Siapapun nanti yang datang, aku akan menerimanya dengan ikhlas.


Aku akan membaktikan cintaku dan mencari keridhoan allah padanya.


Semoga ini adalah yang terbaik untukku dan untuknya.


Cklek.


Pintu kamarku terbuka.


Aku mendapati umi sedang tersenyum kearahku.


Spontan aku berdiri.


"Sudah sampai umi tamunya?"


Pengalaman sebelumnya umi akan datang menjemputku apabila sang pelamar sudah duduk dikursi tamuku.


"Ah belum sayang, duduklah."


Aku mengikuti instruksi dari umi.


"Ada apa umi?"


Aku bertanya pada umi.


Umi mengusap lembut pipiku.

__ADS_1


"Kamu cantik."


Aku tersenyum simpul.


"Nanti kalau kamu sudah menikah, jangan durhaka pada suamimu ya nak. Selagi itu mengisyaratkan pada kebaikan, lakukanlah dengan ikhlas."


Aku mengangguk mengerti.


Memang aku akan memperlakukan suamiku dengan sebaik baiknya


عن عبد الله بن عمرو ان رسول الله صلي الله عيه وسلم قال : الدنيا متاع وخير متاعها المرأة الصالحة


­Dari Abdillah bin 'Amr, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda ; dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan adalah istri yang salehah


Aku akan mencari pahala sebanyak banyaknya.


"Umi kebawah dulu ya sayang, nanti kalau umi misscall caca berarti tamunya udah sampai ya."


Aku mengangguk mantap.


Hatiku tak lagi deg degan seperti pertama kali dilamar oleh kak azzam.


Aku berusaha tenang dan menerima semua ketentuan dari Nya.


Sekitar sepuluh menit aku menunggu, umi me-misscall ku.


"Waktunya aku kebawah."


Aku berdiri dan membuka pintu.


Sama seperti keadaan lamaran sebelumnya, aku mendengar gelak tawa dari ruang tamu.


Namun aku tidak mendengar pujian seperti yang diucapkan orangtuanya kak azzam.


Aku pun menunduk.


Sama persis seperti sebelumnya.


Aku duduk ditengan tengah umi dan abi.


Sebenarnya aku mencium parfumnya bang fathan dan itu membuatku sesak saat mengingatnya.


"Langsung saja ya azmi, kita ini kan sudah biasa."


Tunggu dulu, aku tidak asing dengan suara ini.


"Aku sebagai bapak dari putraku ini ingin menyampaikan maksud dan tujuan kami kesini. Aku mewakilkan anakku untuk meminang putrimu sebagai menantuku, istri dari anakku."


Aku menelusuri alur pikiranku.


Aku sungguh tidak asing dengan suara dan logat ini.


"Bagaimana ca.?"


Itu suara


Itu suara mama.


Aku mendongak.


Dan,


Satu detik,


Dua detik.


Aku menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku.


Allah apa ini ya allah.


Aku sungguh tidak percaya ini.


Dihadapanku telah duduk seorang laki laki yang ingin melamarku, dia.


Dia.


Dia adalah abang.


Dia adalah bang fathan. Abangku.

__ADS_1


Aku meneteskan air mata dan menutup wajahku karena tangisanku.


Perasaan bahagia dan haru bercampur menjadi satu.


Apakah ini hasil dari keikhlasan dan kesabaranku selama ini ya allah?


Aku menangis dengan tergugu.


Selalu saja aku menjadi cengeng saat bertemu dengan bang fathan meskipun sudah bertahun tahun lamanya tidak bertemu.


Dan sekarang semesta mempertemukanku dalam keadaan dia menjadi pelamarku.


Memintaku kepada abi agar menjadi pemyempurna agama bagi kami berdua.


Allah.


Sungguh saat hati ini sudah ikhlas menambatkan hati pada orang lain, ternyata dia yang selama ini aku tunggu untuk memenuhi janjinya, sama sekali tidak mengingkari.


"Adek, adek jangan nangis."


Astaghfirullah,


Perlakuannya masih sama seperti beberapa tahun silam.


Dia masih khawatir saat melihatku menangis.


Dia, abang fathan duduk dilantai telat didepanku menyerahkan sehelai tissu.


Sewaktu aku melepaskan tangan dari wajahku.


"Aku mohon humairahku, jangan menangis."


Ucapnya membuat jantungku berdebar berpuluh puluh kali lebih cepat dibanding sebelumnya.


Aku menghapus air mataku dengan tissu yang ia berikan.


"Bagaimana sayang?"


Mama menatapku. Menunggu jawaban yang akn aku berikan kepada sang pelamar.


Aku menatap umi dan abi.


Ah, ternyata mereka menertawakanku.


"Mama papa, havva, dan abang. Sebelum kalian datang kesini, sebelum aisyah tau bahwa yang bakalan datang itu adalah kalian, jauh dari hari ini caca udah mempersiapkan jawaban."


Aku berbicara dengan tersendat sendat.


Aku menggeleng.


Mereka semua yang dihadapanku terkejut.


"Ada apa humairah?"


Kali ini abang yang bicara.


"Caca nggak bisa bayangin ternyata impian caca selama ini terwujud."


Abang mengerenyitkan dahi.


"Caca mau ma, pa. Caca bersedia."


Aku akhirnya menerima lamaran laki laki yang dari dulu hingga sekarang dan akan selamanya bertahta dihatiku.


Allah terima kasih untuk semuanya.


Seketika lafadz alhamdulillah menggema diruang tamu.


"Makasih humairahku, makasih."


Aku menunduk dan menfangguk.


Tak berani menatap wajah kesatria yang berani mengambil tanggung jawabku dipundak abi.


Pembicaraan selanjutnya adalah pembahasan mengenai akad dan walimah yang akan dilaksanakan.


Allah, pada malam ini aku merasakan nikmat yang luar biasa. Pada saat hati dan arsy bergetar bersamaan ketika dia yang kudoakan telah datang untuk mengakhiri setiap penantian.


Ana uhibbu kafillah.

__ADS_1


__ADS_2