Teman Menuju Syurga

Teman Menuju Syurga
Hijrah (2)


__ADS_3

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Pulang


Aku mengerti, pergimu bukanlah untuk melupakan.


Jauhmu bukanlah untuk mengisahkan perpisahan.


Kau pergi untuk mewujudkan sukses. Dan suksemu juga akan membangun ku menjadi lebih indah dan menawan. Aku mengerti itu.


Namun, bersahabatlah dengan kata pulang.


Sering sering jugalah menengok masa kecilmu, tempat dimana kamu sebelum sesukses sekarang.


Pulanglah, ada banyak kenangan yang menantimu pulang.


Ada banyak manusia yang siap menyambutmu dengan kemenangan. Karena yang kami rindukan adalah dirimu. Bukan hartamu, juga bukan suksesmu.


Pulanglah, aku teman masa kecilmu juga merindukanmu.


-Author-


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Fathan pov.


Semenjak kejadian caca menelfonku, aku menelfon papa setelahnya.


Meminta pendapat papa mengenai apa yang sudah terjadi padaku dan juga pada caca.


Papa menasehatiku bahwa tidak baik aku menikahi caca dengan niat seperti itu.


"Fathan, kamu sudah dewasa. Papa rasa, kamu pastilah mengerti arti dari sebuah pernikahan. Fathan, pernikahan adalah sebuah ibadah yang harus dilaksanakan dengan niat semata mata ingin mendapatkan ridho dari allah.


Pernikahan bukan tentang siapa yang akan mendapatkan seseorang terlebih dahulu. Percayalah fathan, jika memang caca adalah jodohmu, sejauh apapun, sebanyak apapun orang datang untuk melamarnya, jika dia memang jodohmu, tetap saja kau tempat kembalinya.


Kau pasti sudah sangat paham tentang hal itu fathan.


Hanya saja nafsu sedang menguasai otakmu saat ini. Coba kamu fikirkan, seandainya kamu sekarang menikahi caca, kamu ngasih makan apa buat caca fathan? Kamu masih kuliah.


Kan papa sudah bilang, setelah kuliah nanti in sya allah kamu langsung gabung dengan perusaan papa yang dijakarta. Papa sudah rencanakan itu buat kamu nak.


Jadi, mapan lah dulu. Pikirkan bagaimana kehidupan kamu nanti. Bukan hanya sekedar saat ini saja kamu pikirkan. Kamu juga harus memberikan kebahagiaan dan nafkah kepada istri dan anak anakmu nanti. Selesaikanlah belajarmu terlebih dahulu nak."


Nasihat itulah yang selalu aku pegang.


Aku harus sukses dulu baru menikah setelahnya.


Alibiku juga di perkuat setelah mendapat kabar dari abi azmi bahwa aisyah tidak melanjutkan kuliah tahun ini.


Aku mendengar bahwa dia akan memeperdalam ilmu agama dengan mondok di sebuah pesantren di kota semarang.


Jadi, aku bisa bernafas sedikit lega.


Aku akan melanjutkan kuliahku sampai selesai disini.


Aku berniat dengan sungguh sungguh akan hali ini.


Aisyah pov.


Assalamualaikum Aisyah Humairah.


Sebenarnya aku takut dengan diriku sendiri ketika sadar aku memiliki perasan terhadapmu.


Setiap malam kau selalu mendatangiku dimimpi mimpi yang aku tahu pastilah itu berasal dari yang terkutuk.


Aku seolah olah dituntut olehmu untuk segera menikahimu.


Maka dari itu aku memberanikan diri melamarmu sebagi penyempurna agamaku dan juga agamamu.


Aisyah,


Manakala surat ini sampai ketanganmu, berarti kau memang benar benar tidak mengizinkanku untuk menjadi imam bagimu dan bagi anak anak kita kelak.


Dan itu juga berarti aku sudah melaksanakan nazarku untuk menyampaikan surat ini ketanganmu, aisyah.


Aisyah,


Sedikitpun aku tidak akan pernah merasa benci ataupun marah terhadapmu atas penolakkan lamaranku. Berarti allah sudah menyiapkan yang terbaik untukmu, dan juga untukku.

__ADS_1


Kau perlu tau aisyah,


Pernah memiliki rasa terhadapmu adalah nikmat tuhan yang sangat aku syukuri.


Meskipun pada akhirnya kita tidak bersatu dalam sebuah pernikahan yang notabenenya adalah hubungan suci yang mana apabila aku menatapmu saja sudah dinilai pahala oleh Nya.


Kau akan mendapat lelaki yang lebih baik humairah.


Sebelum aku benar benar mengakhiri surat ini, aku ingin kau mengabulkan permintaanku.


Bolehkan kita tetap saling bersua tanpa ada dendam ataupun lain rasa?


Aku masih ingin tetap menjalani rohis dan kegiatan kegiatan yang manakala kita bisa saja bersua dngan kembali seperti sebelum adanya lamaran ini.


Anggap saja lamaran ini adalah bentuk kunjunganku kerumahmu.


Kita tidak perlu saling malu malu bukan?


Hehe, mohon ya.


Jaga dirimu baik baik humairah. Kelak jika allah sudah mempertemukanmu dengan jodohmu, berbaktilah kepada suamimu drngan sebaik baiknya. Karena jika kau durhaka pada suamimu kau sama saja durhaka kepada umi dan abimu.


Semoga apa yang ada padamu baik baik saja aisyah. Selamanya kita adalah sahabat seakidah. Doakan yang terbaik untuk kakak juga ya. Kakak ikhlas kok :)


Terimakasih humairah.


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Wanita mulia.


Begitulah isi surat yang kak azzam berikan.


Aku terharu karena keikhlasannya.


Semoga saja kak azzam mendapat wanita yang jauh lebih baik dariku.


Alhamdulillah kak azzam memintaku untuk tetap seperti biasa dan tidak harus bersikap gugup jika bersua.


" Akan aku usahakan kak." Aku membatin.


••●••


Setelah memutuskan banyak pertimbangan, aku memberanikan diri untuk berbicara kepada umi dan abi mengenai mimpiku waktu itu.


Aku bermaksud ingin mondok di pesantren.


Itu dulu, sehari sebelum aku menolak lamarannya kak azzam.


Dan dua hari setelahnya aku benar benar berangkat dengan diantar oleh umi dan abi.


Abi berpesan kepadaku agar aku dapat menimba ilmu dengan baik.


Abi bilang aku akan tinggal disini sampai abi menjemputku.


Aku tidak tau persis itu kapan yang jelas abi pasti akan mengabariku sebelum hari H nya.


Disini aku disambut dengan sangat ramah.


Ah, benar benar suasana suasana syurga.


Dimana mana santri dan santriwati mengamit al-qur'annya masing masing.


Mereka para ikhwan dan juga akhwat dipisah dan diberi batas.


Pandangan pandangan sangat terjaga disini.


Aku sungguh merasa banyak kekuarangan pada awal awal aku berada disini.


Namun, setelah satu tahun aku membiasakan diri dengan suasana islami ini, perlahan lahan hatiku mulai digerakkan untuk mengenakan baju muslimah syar'i yang dulu aku anggap sangat mengekang.


Meskipun pakaian berpotongan dengan menggunakan rok sudah terlihat islami, namun islam lebih menganjurkan para muslimahnya untuk menggunakan baju terusan atau sekarang dikenal dengan istilah gamis.


Pakaian ini memang menggambarkan wujud seorang wanita muslimah dan tidak menyerupai pakaian lawan jenis.


Rasulullah bersabda


وشرط الساتر في الصلاة وخارجها أن يشمل المستور لبسًا ونحوه مع ستر اللون، فيكفي ما يمنع إدراك لون البشرة ولو حكى الحجم كسروال ضيق لكنه للمرأة مكروه وخلاف الأولى للرجل


"Syarat penutup aurat, di dalam maupun di luar salat, baik berupa pakaian atau bukan, haruslah meliputi seluruh anggota tubuh yang hendak ditutupi serta harus menutupi warnanya. Artinya (menutup aurat) cukup dengan benda yang mencegah terlihatnya warna kulit, meskipun menampakkan lekuk tubuh, seperti celana yang ketat, namun hal ini hukumnya makruh bagi perempuan dan khilaful aula bagi laki-laki"


Perlahan lahan aku mengutarakan niatku pada ustadzah hafsah, dan ia sangat mendukungku untuk menggunakannya.

__ADS_1


Bahkan dia pernah menemaniku untuk membelinya disebuah toko busana muslim.


Jadilah aku seperti sekarang, wanita dengan menggunakan hijab yang selalu senada dengan jilbabnya.


Panjang hijabnya kira kira sampai lututku.


Aku sungguh nyaman menggunakan ini karena selain melindungi lekuk tubuhku, aku juga bisa sholat dimanapum dan kapanpun dengan menggunakan baju baju seperti ini.


Namun aku tetap saja belum siap fisik dan mental untuk menggunakan niqob ataupun cadar.


Aku butuh niat lebih kokoh lagi agar bisa istiqomah dan tidak buka pasang.


Sudah setahun lebih aku disini, semua kegiatanku diatur oleh pesantren.


Aku nyaman dengan suasana suasana seperti ini. Bahkan hafalanku alhamdulillah sudah bertambah menjadi 12 juz.


Niatku untuk mengahafal tidak lain karna ingin memberikan sebuah mahkota emas kepada dua malaikat yang allah titipkan kepadaku diakhirat kelak.


"Umi, abi. Tunggu caca hafizah 30 juz ya."


Aku selalu menanamkan itu saat imanku mulai kendor.


Masalah menghafal alqur'an nabi pernah bersabda:


قالَ رَسُوْلُ اللهِ صَىلّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلّمَ: أَشْرَفٌ أٌمّتِي حَمْلَةٌ الْقُرْأنِ وَ أَصْحَابِ اَلَليْلِ


Rasulullah bersabda:" yang paling mulia di antara ummatku adalah orang yang hafal Alquran dan ahli shalat malam".(HR. Bukhari)


Juga terdapat dalam kitab suci al qur'an


بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ


"Sebenarnya, Alquran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim".


Raghib As-Sirjani mengungkapkan bahwa tempat tersebut (hati) merupakan tempat penyimpanan yang paling aman, terjamin, serta tidak bisa dijangkau oleh musuh dan para pendengki serta penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan. Oleh karena itu, begitu mulianya mereka yang mau berjuang dan turut menjaga kemurnian ayat-ayat Tuhan.


Ma sya allah, segitu mulia dan di muliakannya para penghafal al qur'an oleh allah dan nabi muhammad SAW.


Aku ingin sekali menghafal semuanya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari hari.


Allah, permudahkanlah caca dalam menghafal dan mengaplikasikannya dalam kehidupan caca sehari hari ya allah. Aamiin.


Hari ini adalah jadwal pengajian mingguan di masjid pondok pesantren.


Setelah siap siap aku bermaksud ingin ke masjid lebih awal.


Aku ingin melaksanakan shalat tahiyyat masjid terlebih dahulu.


Baru saja aku ingin melangkahkan kaki, ustadzah novi memanggilku.


"Assalamualaikum anak ustadzah."


Aku berbalik dan menyalami ustadzah novi.


"Walaikumsalam ustadzah. Ada apa ustadzah? Ada yang bisa aisyah bantu dzah?"


Aku senang sekali berbicara dengan ustadzah novi.


"Tidak nak, ustadzah cuma mau bilang tadi abi aisyah telfon pihak pesantren."


Tangan kanan ustadzah novi bertengger di bahu sebelah kananku saat ini.


"Abi bilang apa dzah?"


Ah, aku sungguh merindukan umi dan abi. Aku jarang sekali menelfonnya karna memang peraturan pondok seperti itu.


"Abi bilang nanti beliau mau kesini."


Ah, abi kesini? Apakah abi sudah mau menjemputku setelah 2 tahun aku disini?


Aku sebenarnya tidak masalah jika abi menjemputku saat ini, pun juga kalau misalkan tetap tinggal disini aku fine.


"Abi mau ngomong tentang penyelesaian caca di pondok ini, mungkin abi mau caca balik lagi bareng abi. Terus abi juga minta tolong sama ustadzah buat nyampein ke aisyah bahwa sudah ada yang datang."


Benar saja, ustadzah novi seakan membaca pikiranku.


"Tapi pastinya nanti tanya abi ya nak, ustadzah cuma menyampaikan. Ke masjid gih. Assalamualaikum."


"Makasih dzah. Walaikumsalam."

__ADS_1


Aku beranjak menuju masjid sambil memikirkan.


Siapa yang datang?


__ADS_2