Teman Menuju Syurga

Teman Menuju Syurga
Tentang Lamaran


__ADS_3

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


UntukMu Allah, sang pemilik cinta dan yang memiliki cinta sejati diatas segala cinta yang ada. Bersyukur aku atas hadirnya sebuah rasa untuk dia yang selalu kita gunjingkan didalam doa.


Ya rabbul izzati, maafkan aku karna hingga detik ini aku masih memiliki rasa terhadap makhluk Mu. Menyisipkan namanya ditiap sujudku dan selalu mendoakannya disepertiga malamku.


Ya rahman. Jika rasa ini melalaikanku, segenap permohonan aku ajukan pada Mu, aku mohon hilangkanlah ya allah. Ampuni aku atas kekhilafan ini.


Namun,


Jika rasa ini membuatku semakin dekat denganMu, aku mohon bantulah ia dalam berusaha menghalalkanku ya allah. Mudahkanlah urusannya dan sampaikanlah hajat baiknya ya allah.


Permudahkanlah jalannya dan sabarkanlah dirinya dan diriku dalam menunggu kesempatan yang menghalalkanku dengan nya ya allah.


-Author-


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Aisyah pov.


Setelah mendengar cerita cerita dan nasehat nasehat umi tadi pagi, nafasku terasa sedikit lapang.


Aku diberi sarapan oleh umi dan diberinya obat untuk menghilangkan pusing dari tadi malam.


Setelah aku merasa sedikit baik, aku dan umi pergi berbelanja keperluan bulanan ke supermarket terdekat.


Tentunya dengan meminta izin kepada abi terlebih dahulu.


Selama diperjalanan, kami mengahabiskan waktu dengan membicarakan membicarakan hal hal yang terjadi di rumah selama aku pergi.


Aku sesekali tertawa ketika melihat ekspresi umi bercerita.


Setelah selesai membeli semua keperluan,


"Eh, caca laper gak?"


Umi bertanya.


Semua barang barang belanjaan memang sudah umi titipkan kepada supir yang akan langsung dibawa pulang.


"Hmm, lumayan siih mi."


Aku dan umi kemudian melenggang kesebuah tempat makan yang ada di mall tersebut.


O ya, aku dan umi sering dibilangin kakak adik loh gais.


Soalnya umi masih cantik banget dan awet muda kayak anak abg-an. Hehe. Trus tinggi aku sama umi juga nggak jauh beda. Jadi kami sering di bilangin sodaraan.


"Mau pesan apa nak dis?"


Umi mebolak balikkan daftar menu.


"Mauuuu, baksoo."


Ah, aku sudah lama tidak memakan makanan olahan daging itu.


"Iih, dari dulu bakso mulu."


Umi bergumam namun aku masih bisa mendengarkannya.


"Iya doong, kan caca setia."


Ucapku sombong.


"Setia lah, fathan aja laki laki pertama yang kamu kenal sampe sekarang gak nimbrung ke yang lain. Kayak nggak ada laki laki lain aja."


Ucap umi panjang lebar.


Kami tertawa setelahnya.


Begitulah umi, bisa dijadikan sahabat ketika pingin curhat, bisa dijadikan partner makan, partner shoping meskipun umi yang bayarin hehe, bisa jadi ibu yang mengayomi.


Pokoknya paket komplit lah,


Makasih ya allah udah menghadirkan malaikat dalam hidup aisyah.


"Umi mau pesen apa emang?"


Kami memang sengaja pergi ke tempat yang ada makanan tradisionalnya.


"Umi mau, ini lah."


Umi menunjuk ayam geprek+sambal matah.


"Minumnya apa say?"


Lanjut umi.


"Teh es umi."


Umi kemudian memesankan pesanan kami.


Setelahnya kami menyantap makanan kami.


Fathan pov.


Hari ini kuliahku sudah selesai.


Tepat pukul jam 5 sore aku pulang dengan langkah yang santai.


Aku sengaja mampir untuk membeli minuman dingin dan memasukkannya kedalam tas.


Aku melangkah menuju kamarku.


Perihal insiden hanum tadi pagi sudah tidak aku pikirkan lagi.

__ADS_1


Aku tidak ingin memberatkan pikiranku dengan hal hal yang menurutku tidak penting.


"Zikri."


Langkahku terhenti. Aku berbalik dan ternyata hanum. Ah, hanum lagi.


"Ada apa?"


Aku tidak ingin membentaknya lagi.


"Nanti malam temenin aku hakikat kitabevi ya."


"Tidak bisa hanum."


Aku menolak.


"Yaah, temenin dong. Masa aku keluar sendirian." Hanum mendekatiku. Aku berusaha menjauh.


"Tidak bisa."


Ucapku tegas.


"Ih zikri nyebelin. Kok gak mau temenin aku sih?" Oh tuhan, lindungilah aku.


"Kamu bukan muhrimku dan aku hukan siapa siapa kamu."


Kepalaku memanas.


Aku berlalu.


"Maaf."


20 hari setelahnya.


"Caca, sini deh temenin abi."


Aku meletakkan buku bacaanku diatas meja tamu dan beralih menuju abi.


"Iya abi."


Aku duduk disebelah abi.


"Abi mau nanya nih, masalah kak azam."


Aku menutup mulut abi dengan telunjukku.


"Belum waktunya abi. Masih ada 10 hari lagi."


Aku tidak ingin membahas ini sebelum waktunya meski aku sudah punya jawabannya.


"Tidak baik membuat orang lain menunggu ca,


abi ingin tau jawabannya sekarang."


"Abi, caca udah ada jawabannya. Istikharah caca udah sempurna. Caca hanya ingin menjadikan kak azzam sebagai teman seiman caca dan seorganisasi dengan caca. Tidak lebih abi."


Kulihat abi tersenyum.


Aku memang tidak menemukan wajah kak azzam selama aku melaksanakan shalat istikharah.


Aku memutuskan untuk tidak menerima lamaran dari kak azzam.


"Nak, ada yang mau abi sampaikan tentang janji fathan."


Aku mendengarkan abi.


"Sebenarnya sudah lama. Dulu sebelum fathan SMA, fathan pernah bilang dia memiliki getaran khusus saat melihatmu."


Abi mulai bercerita.


"Nggak kok bi, abang biasa aja."


Aku protes.


"Dengerin dulu nak"


abi mengeluh. Aku meringis.


"Fathan pernah bilang dia tidak mau merendahkan derajatmu karena terus terusan berdekatan dengan perempuan yang bukan mahramnya. Dia ingin kamu menjadi pendamping hidupnya, penyeimbang langkahnya. Makanya selama dia pergi dia tidak pernah ngabarin kamu lagi. Dia ingin mendatangimu diwaktu yang tepat."


Aku menutup mulutku dengan telapak tangan.


"Mulia bukan? Kamu saja yang tidak


sabaran nunggu."


Aku berbinar.


"Beneran abi? Kok abang bisa segitunya banget? Abang tau kalau caca udah dilamar bi?"


Serius aku terharu.


"Tau lah, abi yang ngasih tau. Dia masih nanyain kabar caca, dia masih pegang janjinya untuk datangin caca diwaktu yang tepat."


"Uuuu abii, caca kangen."


Aku memeluk abi.


"Kangen abi atau kangen abang?"


Pertanyaan abi membuatku terkekeh.


"Dua duanya."


Aku tertawa

__ADS_1


"Caca kan udah tau jawaban atas lamaran caca. Abi mau caca sendiri yang kabarin abang. Boleh?" Perkataan abi lagi lagi membuatku terkejut.


"Caca nelfon abang?"


Aku tidak percaya abi akan mengatakan ini.


"Iya sayang, pakai hp abi dan tidak boleh lama lama. Oke?"


Abi mencari nomor bang fathan.


Jantungku berpacu cepat. Cepat sekali.


Abi memberikan hpnya padaku.


Ah secepat itukah.


"Ayo ngomong."


Aku membeku.


"Halo assalamualaikum abi"


Ya allah, suara itu. Suara yang sudah lama tidak aku dengar itu. Ya allah. Tak terasa air mataku jatuh.


"Abi?"


Aku tidak menjawab salamnya. Aku masih tidak percaya secepat inikah allah memberiku petunjuk atas penolakkan lamaran kak azzam?


"Assalamualaikum abang."


Salam pertama setelah sekian tahun tidak berbicara pada laki laki yang bertahta dalam doa


"Ehm. Walaikumsalam adek."


Mungkin si lawan bicara masih kenal dengan suaraku. Ya allah, panggilannya padaku masih saja sama. Aku terisak.


"Apa kabar adek?"


Dia bertanya seolah olah tidak terjadi apa apa. Aku masih saja menangis.


Sementara itu abi sudah pergi kebelakang dari tadi.


"Adek, adek nangis?"


Mungkin isakkanku terdengar olehnya.


"Aduuh, adek nggak boleh nangis."


Dia masih sama. Panik ketika mendengarku menangis.


"Adeek, udaah."


Seolah olah waktu mengantarkanku kembali kepada beberapa tahun yang lalu.


"Abang."


Aku memanggilnya dengan nada tersengal.


"Iya adek, ada apa? Lama tidak bersua ya."


Dia tenang sekali.


"Abang, kapan pulang?"


Pertanyaan pertama dariku.


"Eh, kenapa tanyain itu? Kan abang kuliah disini." Dia menjawab


"Adek, maafin abang ya. Maafin abang telat." Terdengar sebuah penyesalaan.


"Abang, adek udah tau semuanya."


Aku sudah tidak sabar ingin bercerita panjang dengannya.


"Soal janji?"


Dia bertanya.


"Iya abang, semuanya adek udah tau."


Aku masih tersengal. Diam setelahnya.


"Adek, jawablah lamaran itu. Tidak baik membuat orang lain menunggu"


Suaranya terdengar berat.


"Abang, adek udah istikharah bang. Adek udah shalat."


Aku cepat memberitahunya.


"Adek udah putusin kak azzam akan jadi teman seakidah adek bang."


Aku puas menjelaskannya. Diam


"Alhamdulillah. Kenapa dek?"


Nadanya seperti bangkit.


"Adek mau tungguin janji abang."


Aku jujur.


"Abang cepat pulang ya. Udah ya bang, adek janji sama abi cuma sebentar. Assalamualaikum abang."


Aku menutup telpon dengan bang fathan.

__ADS_1


__ADS_2