
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Kemarin,
Selepas memutuskan
untuk menjauh,aku terlalu sering mengingatmu.
Sebentar sebebtar ingatanku selalu tertuju akan genggaman yang aku lepaskan saat hujan turun membasahi kita.
Lalu,
Sedemikian cara aku lakukan
Agar aku benar benar bisa lepas
Darimu.
Kau pasti tau
Alasanku untuk menjauh waktu itu
Bukan?
Apakah kau tau?
Setiap hujan, setiap sepersekian
Air yang turun itu ingatanku selalu
Bermuara pada penyesalan.
Aku selalu berharap agar aku bisa
Kembali kemasa itu dan tak
Melepaskan sesuatu yang harusnya aku jaga.
Hingga, penyesalanku berujung.
Pada hujan yang jatuh sore itu,
Aku membawa penyesalanku
Untuk mejelajahi tempat dimana aku
Memutuskan semuanya.
Aku mencarimu ditengah hujan.
Aku mencari disetiap tempat yang kita lewati berdua.
Kupikir kau ada disana dan aku berharap
Kamu menungguku membawakan payung untukmu.
Aku tak menemukanmu sama sekali🙂
Titik penyesalanku yang paling dalam adalah ketika memutuskan untuk menjauh namun pada akhirnya aku akan mencarimu juga, tapi aku tak menemukanmu.
Tak sampai disitu. Ternyata aku salah besar. Saat hujan yang jatuh tidak menghujam tubuhku, aku mendongak.
Aku temukan kamu berdiri dengan senyum tulusmu sedang memayungiku.
Sembari berkata "Ayo pulang".
Beritahu aku apa yang bisa aku ucapkan selain terimakasih kepadamu.
-Author-
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Aisyah pov.
Aku terbangun ketika mendengar pintu kamarku diketuk. Aku masih diatas tempat tidur.
Aku melihat jam yang tergantung di dinding kamarku.
Ah, ternyata sudah setengah enam dan aku masih bergelung dibalik selimut ini.
Aku merasakan kepala bagian belakangku sakit. Dari dulu aku memang tidak bisa dibebani oleh pikiran pikiran yang memberatkan.
Makanya aku tidak mau terlalu ekstra belajar dalam bidang akademik yang mampu membuat kepalaku terasa mau pecah.
Karena aku tidak sanggup membukaka pintu, pintu yang tidak aku kunci terbuka dengan sendirinya.
Wajah pertama yang aku lihat adalah wajah umi.
"Sayang."
Umi menyapaku.
Aku tersenyum.
"Kok kamu pucat banget hm?"
Umi meletakkan telapak tangannya diatas keningku.
"Ah, tidak panas. Masih mikirin yang tadi malam ya?"
Tebakan umi benar. Aku mengangguk.
"Sholatlah dulu nak, umi mau bercerita."
Aku tersenyum.
__ADS_1
Hal yang paling aku suka dari umi adalah membantu menyelesaikan masalahku dengan cerita cerita pengalaman hidupnya.
Aku berdiri dibantu oleh umi.
Aku mengambil wudhu juga dibantu oleh umi karna takut linglung lalu jatuh.
Setelah selesai menunaikan kewajibanku, aku kembali duduk diatas ranjang.
Berhadap hadapan dengan umi.
"Udah enakkan sayang?"
Umi membelai rambutku yang tidak ditutupi oleh jilbab.
"Sudah umi."
Aku mengangguk.
"Umi mau tanya. Dan umi percaya caca akan jujur sama umi."
Aku mengangguk mantap karena semua yang pernah umi tanyakan padaku, aku selalu menjawabnya dengan jujur berdasarkan apa yang terjadi sebenarnya.
"Anak umi, suka tidak sama kak azam? Ada getaran tidak waktu ayahnya kak azam mengucapkan kalimat sakral itu?"
Kini aku sedang meletakkan kepalaku diatas paha umi.
"Ada umi, tapi yang caca rasain itu cuma kaget aja umi."
Aku menjawab apa adanya. Kan memang seperti itu yang aku rasakan.
"Iya, memang wajar sayang. Terkadang cinta juga akan tumbuh sewaktu akad telah dilantangkan. Waktu itu kita merasa orang yang mengkhitbah kita adalah orang yang paling berani menanggung kita secara lahir dan bathin."
Aku mengangguk. Aku pernah mendengar kisah seperti itu dari ustadzahku di SMA.
"Anak umi, pasti punya orang spesial dong dihatinya. Kan udah gede nih, udah remaja. Meski ngga pacaran pasti anak umi punya orang yang bertahta dihatinya."
Umi mengelus lembut rambut rambut halusku.
"Soalnya yang umi tau dari dulu, caca hanya deket sama fathan aja. Ngga pernah tuh caca curhat sama umi tentang orang yang caca suka. Atau... caca nggak mau cerita sama umi?"
Aku menggeleng cepat.
Aku menegakkan kepala dan menatap umi.
"Apa yang caca alami caca ceritain ke umi semua kok mi."
Aku menjawab umi dengan pasti.
"Ah yang beneer? Masa nggak ada orang yang caca khususkan sih? Ah, nggak percaya umi." Perkataan umi seolah mengulitiku.
"Caca punya kok mi."
Akhirnya aku menjawab
Umi memanyunkan bibirnya.
"Hhhhmmmff... umi."
Aku menghela nafas.
"Iya sayang, beceritalah pada umi."
Tatapan umi selalu membuatku betah.
"Caca sayang sama abang mi."
Aku menutup wajah setelahnya. Sendu.
"Fathan?"
Seperti sebuah pertanyaan dari umi. Aku mengangguk.
Umi kembali menatapku sambil tersenyum.
"Kamu setia banget ya."
Umi menarik hidungku.
"Umi.."
Aku sudah tidak bisa menahan hatiku lagi.
"Ada apa sayang?"
Umi terheran.
"Umi kadang caca bingung mi. Kadang caca mikir salah caca itu apa."
Aku sudah tidak mampu menahan tangisku.
"Umi nggak ngerti sayang."
Dahi umi terlihat berekerut. Sementara aku sudah terisak.
"Dulu waktu bang fathan pergi, perasaan caca sama bang fathan baik baik aja mi. Caca kadang mikir mi, segede apa sih salah caca sama bang fathan? Kok sejak abang pergi abang nggak pernah ngabarin caca lagi mi? Caca manja banget ya mi? Caca ngerepotin abang banget ya mi? Tahun tahun pertama abang pergi dan gak ngasih caca kabar, caca mikir terus loh umi. Caca inget inget kesalahan apa yang udah caca perbuat sama abang. Tapi seingat caca, caca nggak pernah buat kesalahan yang sangat besar ke abang mi. Caca bingung mi."
Umi mengelus punggungku yang tergoncang.
"Caca udah berusaha menjadi gadis sekuat mungkin mi. Caca udah memahami pesan pesa abang yang dikasih waktu caca milad mi. Caca ngerti kok mi nggak seharusnya caca naroh harapan kepada makhluk.
Caca udah ngerti kok mi.
Sebisa mungkin caca menjadi perempuan yang kuat dan mandiri tanpa abang mi.
Tapi pada waktu waktu tertentu mi,
__ADS_1
Caca nggak bisa umi.
Caca udah berusaha 3 tahun ini umi.
Caca udah usahain."
Aku tersengal sengal.
"Syuuut... nggak boleh ngomong gitu sayang. Istighfar."
Aku beristighfar dalam hati.
"Umi tahu tidak? Saat abi dan umi datang ngasih kabar ke caca kalau ada yang mau ngelamar caca, itu harapan caca penuh loh mi. Yang bakalah datang itu abang. Tapj yang nggak caca nyangka malahan kak azzam."
Umi diam mendengarkan
"Umi, nggak ada alasan caca buat nolak kak azzam mi. Laki laki yang sudah mapan diusia muda. Tapi kenapa caca selalu ingat bang fathan mi? Tadi malam caca melakukan sholat istikharah pertama caca setelah dilamar. Seeikitpun caca nggak liat wajah kak azzam mi. Malahan caca selalu ingat sama abang mi."
Aku terisak.
"Kalau caca nggak suka, caca tinggal bilang aja. Caca nggak boleh bikin kak azzam nunggu sementara pada akhirnya caca nolak lamaran kak azzam."
Umi menjawab.
"Bukan umi, caca takut nanti kak azzam nggak enak hati sama caca."
Yang aku pikirkan adalah bagaimana mengatakan tidak kepada pelamar yang sudah sempurna dari segi apalun. Aku tidak mungkin menolak dengan alasan aku tidak mencintai kak azzam. Bukankah cinta itu akan muncul setelah akad dilantangkan?.
"Nak,"
Umi menatapku
"Dengerin umi."
Aku menatap umi penuh
"Sebuah kisah datang dari putri Rasulullah, Fatimah Az-Zahra, dan Ali Bin Abi Talib."
Umi mulai bercerita.
" Pintu hati Ali terketuk pertama kali saat Fatimah dengan sigap membasuh dan mengobati luka ayahnya, Muhammad SAW yang luka parah karena berperang.
Dari situ, dia bertekad untuk melamar putri nabi. Lantas dengan tekun dia kumpulkan uang untuk membeli mahar dan mempersunting Fatimah. Malang, belum genap uang Ali untuk membeli Mahar, sahabat nabi Abu Bakar sudah terlanjur melamar Fatimah.
Hancur hati Ali, namun dia sadar diri kalau saingan ini punya kualitas iman dan Islam yang jauh lebih tinggi dari dirinya. Walau dikenal sebagai pahlawan Islam yang gagah berani, Ali dikenal miskin. Hidupnya dihabiskan untuk berdakwah di jalan Allah.
Namun mendung seakan sirna saat Ali mendengar Fatimah menolak lamaran Abu Bakar.
Tapi keceriaan Ali kembali sirna saat orang dekat nabi lainnya, Umar Bin Khatab meminang Fatimah.
Lagi-lagi Ali hanya bisa pasrah karena dia tidak mungkin bersaing dengan Umar yang gagah perkasa.
Tapi takdir kembali berpihak kepadanya. Umar mengalami nasib serupa dengan Abu Bakar.
Tapi saat itu Ali belum berani mengambil sikap, dia sadar dia hanya pemuda miskin. Bahkan harta yang dia miliki hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Kepada Abu Bakar As Siddiq, Ali mengatakan,
"Wahai Abu Bakar, anda telah membuat hatiku goncang yang sebelumnya tenang. Anda telah mengingatkan sesuatu yang sudah kulupakan. Demi Allah, aku memang menghendaki Fatimah, tetapi yang menjadi penghalang satu-satunya bagiku ialah kerana aku tidak mempunyai apa-apa."
Abu Bakar terharu dan mengatakan,
"Wahai Ali, janganlah engkau berkata seperti itu. Bagi Allah dan Rasul-Nya, dunia dan seisinya ini hanyalah ibarat debu-debu bertaburan belaka!"
Mendengar jawaban Abu Bakar, kepercayaan diri Ali kembali muncul untuk melamar gadis pujaannya saat teman-temannya sudah mendorong agar Ali berani melamar Fatimah.
Dengan ragu-ragu dia menghadap Rasulullah. hadist riwayat Ummu Salamah-lah meceritakan bagaimana proses lamaran tersebut."
Umi mengehla nafas.
"Setelah itu mi?"
Aku sudah tidak sabar.
Kemudian umi melanjutkan.
"Ketika itu kulihat wajah Rasulullah nampak berseri-seri. Sambil tersenyum baginda berkata kepada Ali bin Abi Talib,
'Wahai Ali, apakah engkau mempunyai suatu bekal mas kawin?"
"Demi Allah," jawab Ali bin Abi Talib dengan terus terang, "Engkau sendiri mengetahui bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak engkau ketahui. Aku tidak mempunyai apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang dan seekor unta."
"Tentang pedangmu itu," kata Rasulullah menanggapi jawaban Ali bin Abi Talib, "Engkau tetap memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah. Dan untamu itu engkau juga perlu untuk keperluan mengambil air bagi keluargamu dan juga engkau memerlukannya dalam perjalanan jauh. Oleh karena itu, aku hendak menikahkan engkau hanya atas dasar mas kawin sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Wahai Ali, engkau wajib bergembira, sebab Allah sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi!".
Demikianlah riwayat yang diceritakan Ummu Salamah r.a." Umi menceritakan panjang lebar. Kemudian melanjutka
"Setelah segala-galanya siap, dengan perasaan puas dan hati gembira, dan disaksikan oleh para sahabat, Rasulullah mengucapkan kata kata ijab kabul pernikahan puterinya,
"Bahwasanya Allah SWT memerintahkan aku supaya menikahkan engkau Fatimah atas mas kawin 400 dirham (nilai sebuah baju besi). Mudah-mudahan engkau dapat menerima hal itu."
Maka menikahlah Ali dengan Fatimah. Pernikahan mereka penuh dengan hikmah walau diarungi di tengah kekurangan. Bahkan disebutkan Rasulullah sangat terharu melihat tangan Fatimah yang kasar karena harus menepung gandum untuk membantu suaminya." Umi tersenyum mengakhiri ceritanya
"Jadi sayang, jika yang manusia semulia
Umar bin khatab dan abu bakar saja ditolak tidak menimbulkan dendam, kak azzam in sya allah sudah berlapang dada
Kalau seandainya caca tolak."
Perkataan umi membuka pemikiranku.
"Umi, aisyah mau istikharah lagi nanti."
Akhirnya aku lega.
Aku tidak menyadarj ternyata abi sedang
Mendengar pembicaraan kami dibalik pintu kamar.
__ADS_1