Teman Menuju Syurga

Teman Menuju Syurga
Berbenah


__ADS_3

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Kamu adalah cahaya dhuha. Sedangkan aku hanyalah kegelapan yang pekat seperti malam saat tahajud. Mana mungkin aku menemuimu? Kita hanyalah sekat yang saling merindukan tanpa berniat untuk mengungkapkan.* Author-


Malam ini


Malam ini,saat semesta tak lagi bercahaya. Satu hari yang lelah sudah terlewatkan dengan itu itu saja.


Malam ini saat nestapa mulai bernyawa,kurasa rindu tindu itu sudah merekah bersama dengan hati yang gundah.


Malam ini,saat hari hari yang biasa mendadak istimewa pada akhirnya. Terimakasih sudah kembali bermain main dialam mimpi.


Pada kesetiaan sujud,beri aku maaf karna masih saja lancang menyebut namamu. Mentasbihkan butirah butiran abjad namamu ditiap sujudku. Menuruti hasratku untuk selalu mengharapmu sebagai penyeimbang langkahku. Selalu saja seperti itu,bolehkah? Bolehkah aku terus menerus mengharapmu pada rabb ku?


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Aku menutup buku berwarna hitamku.


Buku yang didalamnya penuh dengan tulisan tulisan sajakku.


Bukan buku diary karena aku tak mengisinya setiap hari.


Tapi buku yang selalu aku gunakan untuk menulis aksraku saat aku berada dalam kondisi dan situasi tertentu.


Seperti sekarang contohnya.


Aku terbangun pada pukul 2 dini hari.


Aku terbangun karna tiba tiba caca datang dalam mimpiku.


Dalam mimpiku.


Aku tidak ingat betul seperti apa mimpiku itu. Tapi yang jelas kuingat adalah caca sangat bahagia duduk disuatu kursi taman yang aku tidak tau dimana itu.


Aku langsung beristighfar. Mungkin saja mimpi itu datangnya bukan dari allah atau bisa saja allah membangunkanku untuk bermunajjat kepadaNya.


Aku berusaha untuk berfikiran baik.


Kemudian aku melaksanakan sholat malam atau biasa dikenal dengan tahjud.


Setelahnya aku lanjutkan dengan tadsrus kemudian tidur lagi untuk menunggu waktu subuh masuk.


Tak terasa, sekarang adalah hari terakhirku melaksanakan ujian nasional.


Aku bersyukur karena aku bisa melaluinya dengan baik, in sya allah.


Selain persiapan yang diberikan oleh sekolah aku juga membekali diriku dengan mengikuti bimbingan belajar di salah satu yayasan bimbel dikota ini.


Selain belajar, aku juga membekali diriku dengan ibadah ibadah kepada allah swt.


Sebenarnya kegiatan tahajud dan sholat dhuha aku laksanakan setiap hari.


Namun,entah kenapa selama aku memasuki zona zona ujian jumlah rakaat masing masing sholat sunnah aku perbanyak.


Aku tidak yakin dengan kemampuanku apabila aku hanya mengandalkan otak atau belajar saja. Karena aku keyakinanku tidak akan bulat apabila tidak melibatkan allah.


وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُوراً


"Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha (berikhtiar) ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya (ikhtiarnya) dibalasi dengan baik." (Qs. Al Isra ayat 19)


Sementara itu, allah juga menyuruh kita untuk melaksanakan sholat tahajjud


واذكراسم ربك بكرةواصيلاومنالليل فا سجدله وسبه ليلا طويلا


Dan sebutlah nama Rabb-mu pada (waktu) pagi dan petang. Dan lada sebagian dari malam,maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari. (Al Insan/76 : 25-26)

__ADS_1


Setelah selesai melaksanakan ujian pada sesi pertama, aku dipanggil oleh wakil kepala sekolah bidang kurikulum.


Beliau menyuruhku dan juga hanum untuk menandatangani beberapa berkas terkait dengan beasiswa.


Aku memenuhinya.


Hari ini adalah hari dimana aku akan berangkat dari asrama.


Karena lusa aku sudah berangkat ke turki untuk mengurus beberapa keperluanku disana.


Hari ini mama dan papa datang untuk menjemputku dan membawa pulang beberapa keperluanku.


Aku sengaja tidak pulang dulu ke semarang karena menurutku sudah tidak sempat lagi. Mengenai papa, beliau sudah aku beritahu kemaren mengenai beasiswa ini.


Saking senangnya beliau menangis saat kuberitahu bahwa aku mendapat kesempatan untuk menimba ilmu di bidang bisnis diturki. Beliau senang karena aku akhirnya memenuhi keinginan beliau untuk menjadi pewaris perusahaan papa.


Setelah semuanya kurasa cukup rapi untuk dibawa pulang,naku duduk sambil menunggu papa mama datang.


Aku merasakan kantong celana bagian kiriku bergetar.


Kulihat hp samsung lipat yang hanya bisa untuk telfon sms ini menampilkan nama hanum. Hanum??


"Halo assalamualaikum zikri."


Sapaannya membuat alis mataku naik sebelah.


"Walaikumsalam, hanum?"


Aku tak yakin ini hanum. Karena biasanya ia memanggil namaku dengan sebutan 'fathan'


"Hehe,maaf ya zikri. Aku ganggu sebentar. Aku mau tanya, zikri lusa keturki jam berapa?"


Ia bertanya.


"Afwan hanum, kok panggilnya zikri sih?"


"Tak apa, aku hanya ingin panggilanku berbeda saja. Bolehkan zikri?"


Aku...mempertimbangkan.


"ya terserah saja. Aku besok mau berangkatnya jam 9 pagi."


Aku menjawab pertanyaannya.


"Terimakasih zikri. Mmm, zikri boleh tidak kalau kita..." ucapan hanum menggantung


"hanun sudah ya, mama papa sudah datang, assalamualaikum."


Aku mematikan telfon secara sepihak karna aku sudah melihat mobil papa memasuki kawasan parkir didepan asramaku.


Benar saja,aku melihat mama keluar dari mobil. Aku berlari kedepan untuk menyalami mereka. Masalah ucapan hanum tadi,aku sudah tidak terlalu memikirkannya lagi.


"Assalamualaikum jagoan mama."


Aku menyalami mama.


"Walaikumsalam mama, papa."


Aku memeluk keduanya.


"Udah gede aja kamu ya bang, udah mau ninggalin papa keturki."


Mata papa berkaca kaca.


"Eh,kan papa yang nyuru abang. Yeee jangan salahin abang doong."

__ADS_1


Papa terkekeh.


"Mana barang barang mu?"


Papa akan membawa sebagian baju bajuku selama disini untuk dibawa kembali kerumah.


Setelah semua masuk mobil, aku pamit kepada ustadz umar, pembina asramaku.


Aku juga pamit kepada teman teman karena tidak bisa mengikuti acara perpisahan bersama mereka.


Mereka cukup antusias dan menturuhku agar jangan lupa mengabari mereka sesampainya diturki.


Aku ikut menangis bersama anshar, teman sekamarku selama tiga tahun karena kami akan berpisah.


"Lu jangan sampai lupain sahabat lu yang cakep ini."


Ucapnya sambil terisak.


"Iya iya, nanti kita vc vc an deh. Kan udah bisa pakai android lagi."


Aku berusaha menghiburnya.


Anshar adalah teman yang selalu menyemangatiku saat aku malas belajar padahal dia sendiri lebih memutuskan untuk melukis. Anshar sangat pandai dalam mengkolaborasikan warna sehingga menghasilkan suatu karya yang bermakna.


"Abang, ayo."


Mama memanggilku.


"Assalamualaikum anshar."


Salam terkhirku sebelum berjumpa dengannya dilain waktu.


"Walaikumsalam sahabat."


Dia melambai.


Hari ini aku, mama dan papa akan menginap disebuah hotel dikota ini.


Karena mama dan papa letih perjalanan, mereka langsung mengistirahatkan diri dikamar.


"Bang, nanti kalau waktu maghrib udah masuk, kalau papa ketiduran bangunin ya. Kepala papa pening ini."


Papa memijit kepalanya.


"Siip bos. Mau dipijitin tidak?"


Aku menawarkan diri.


"Ah nggak usahlah. Kamu juga letih kan?"


Papa berlalu.


Sekarang, aku sedang memikirkan tentang ulang tahun caca dua hari setelah keberangkatanku keturki.


"Tidak mungkin kan, aku vc caca."


Aku berbicara padaku sendiri.


"Aha!"


Sebuah ide terbersit.


Aku mengambil buku berwarna hitamku dan pulpen bertinta emasku.


Aku mulai menuliskan sesuatu untuk aku berikan di ulang tahun caca.

__ADS_1


Sebuah su


__ADS_2