Teman Menuju Syurga

Teman Menuju Syurga
Beutiful In White


__ADS_3

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Hei! Disebelah dunia bagian mana kau sedang berada?


Sudah bertahun tahun kau dan aku mencari arah,


Berkali kali jatuh cinta pada selatan


Menaruh keraguan pada barat,


Terus menunggu isyarat timur,


Hingga utarapun tak lagi kita percaya.


Sudah kujejaki banyak kisah, kutemui pula banyak luka.


Ternyata, pada kisah lalu milik kitalah harapan itu tetap ada


Masih kuatkah kau dan aku berjalan?


Atau kali ini mungkin pulang akan menjadi jawaban.


Rhapsody


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Aisyah pov.


Setelah bang fathan berangkat, aku beringsut kedalam rumah.


Aku menemukan havva yang tengah sibuk mengotak atik hpnya.


"Umi mana va?"


Havva yang tadinya sibuk dengan benda persegi panjang itu langsung beralih fokus menatapku.


"Umi kekamar ca, ada yang mau diusrusin katanya. Mungkin buat akad kamu juga."


Aku mengangguk dan memilih duduk disebelah havva.


"Ca, ini bagus bangeet."


Havva memperlihatkan foto gaun berwarna baby pink kepadaku.


Bagus. Disekitar lehernya terdapat manik manik kecil berwarna putih.


Ujung lengannya dilengkapi dengan renda bunga kecil kecil.


Anggun namun baju ini akan terlihat cantik jika dipakai dengan jilbab yang dililitkan kebelakang leher.


"Iya bagus, yang lain mana va?"


Aku jadi ikutan berantusias melihat gaun yang ada digaleri akun instagram milik butik yang nanti akan kami kinjungi


"Ini ca, ini juga bagus bangeet."


Aku melihat gaun dengan tile yang berkilau kilau. Sejauh ini belum ada yang sinkron dengan seleraku. Semuanya tampak begith berlebihan.


"Ada yang srek nggak?"


Havva menyikutku.


"Hehe belum sih neng."


Aku jujur pada havva.


"Mu maunya yang kek mana sih?"


Havva tampak mulai bingung.


"Aku mau yang ssderhana sederhana gitu va, terus hijabnya itu nutupin dada."


Aku mengutarakan keinginanku kepada havva. Aku jadi ingat salah satu firman allah.


ولا يبد ين زينتهن ا لا ما ظهر منها و ليضربن بخمرهن على جيوبهن ولا يبدين زينتهن الا لبعو لتهن او با ا هن


Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) tampak darinya, hendaklahh mereka menutupkan kain kerudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami atau ayah mereka.


Aku juga ingat firman allah untuk tidak berlebih lebihan dalam berdandan karena berdandan berlebihan merupakan salah satu ciri ciri wanita pada zaman jahiliyah dulu.


و قرن في بيوتكن ول تبر خن تبرج الجا هلية الاولى


Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang orang jahiliah yang dahulu.


"Ooh begitu. Nanti aja deh ca, pas kita udah nyampe disana ya. Ada buanyak diasana. Dari yang biasa sampai yang berniqob."


Havva menerangkan. Aku manggut manggut.


"Va, aku mau naya boleh nggak?"


Aku minta permisi.


"Yaelah ca, kita udah biasa mah kali. Udah sodaraan. Biasa ajalah ma gua. Kek sia fathan ma gua kan, lu kan bakalan jadi sodara gua."


Aku tertawa saat melihat havva yang berbicara dengan menggunakan ekspresi yang berlebihan.


Mungkin jika melihat sosok havva sekilas tidak akan pernah menyangka bahwa dia adalah seorang dokter yang mampu menamatkan SMP dan SMA hanya dalam waktu 4 tahun.


"Mo nanya paan?"


Havva melanjutkan.


"Bang fathan kapan pulang dari turki?"


Aku bertanya.


"Hmm, dua hari yang lalu.


Jadi gini ca, aku datang ke indonesia bukan karena nggak ada maksud. Aku disuruh mama pulang untuk ngehadirin acara kalian. Karna memang acara kalian itu udah disusun enam bulan yang lalu dan sengaja dirahasiain dari klen.


Nah, waktu itu fathan lihat kamu di supermarket lagi beli bodymist. Benar kan?"

__ADS_1


Aku mengangguk ceoat karena aku ingat betul waktu itu sedang cemburu buta pada sosok havva yang ternyata adalah sepupu abang.


"Nah, waktu itu fathan liatiiin kamu terus. Sampai sampai nih ya, malemnya itu langsung mau ngomong sama papa buat halalin kamu. Sebenarnya papa udah ngasih tau duluan bukan ngasih tau sih, lebih ke permintaan untk lamar kamu. Ya otomatis si kecebong mau lah. Kan searah tuh, keinginan sama permintaan kecebong."


Aku tertawa lebih keras ketika havva memanggil abang dengan sebutan 'si kecebong'


"Ooo gitu, jadi waktu itu abang liat aku ya?"


Aku masih bertanya.


"Iya liat lah, mu aja nggak nyadar."


Aku mengangguk angguk.


"Jangan bilang mu masih cemburu sama aku ca. Aku aja udah lamaaaa banget pengen kenalan sama kamu. Si kecebong aja yang always bilang belum waktunya."


Aku tertawa lagi mengingat kisah kecemburuan kemaren.


"Hahaha, nggak lah va. Kan aku udah tau siapa kamu."


Havva melayangkan pandangan siletnya kearahku dan aku benar benar tertawa.


"Ca, aku ke kamar umi ya. Kamu siap siap gih. Kita akan berangkat."


Havva bangkit.


"O iya va, aku mandi dulu ya."


Aku juga mengikuti tindakan havva.


Aku melangkah kekamar.


Sesampainya di ruanganku ini aku mengambil handphone ku di nakas.


Aku melihat ada pesan dari aplikasi line.


"Abang?"


Aku mendapati bahwa abanglah pengirimnya.


Aku membuka pesan dari bang fathan.


"Dek, nanti kalau udah jalan kasih tau abang ya. Biar nanti nggak kelamaan nungguin abang."


Aku tersenyum membaca pesan dari abang.


Jariku menari nari diatas papan keyboard handphoneku, mengetik balasan untuk pesan yang dikirimi oleh bang fathan.


"Siip abang, ini adek mau siap siap dulu."


Aku mengetiknya cepat.


O iya, just information.


Panggilang 'abang' untuk bang fathan dan 'adek' untukku memang telah terbiasa dari kecil dulu karena bang fathan sering memanggilku dengan sebutan seperti itu. Makanya terbawa sampai kami dewasa.


Aku memasuki kamar mandi dan mulai membersihkan diri.


Aku merapikan pakaian dan mematuy diri didepan cermin.


Setelah semuanya terasa beres, aku menemui havva dikamar umi.


"Waah, anak umi udah cantik aja."


Umi memujiku.


"Ah umi, baiasa aja kok. Caca berangkat ya mii."


Aku menyalami umi dan havva mengikuti perbuatanku.


"Yuk."


Aku menarik tangan havva.


"Mu yang nyetir yaa."


Aku membiasakan berbicara non formal kepada havva.


"Iya deng, kan aku yang tau tempat butiknya neng."


Aku nyengir kuda.


Havva mengambil kendali dan mobil mulai melaju dengan tenang.


Aku mengeluarkan ponselku dan mencari kontak abang.


"Abang, adek udah dijalan ya bang."


Aku mengetik pesan singkat.


Lima menit kemudian baru dibaca oleh abang.


"Iya dek, bareng havva kan? Baik baik adek."


Aku tersenyum.


"Ha, mentang mentang ya. Gua yang single fi sabilillah ini apalah daya."


Havva mengejutkanku namun aku berhasil dibuatnya tertawa.


"Cuma ngabarin kok say."


Aku memasukkan kembali benda persegi panjang ini kedalam tasku.


Perjalanan kami habiskan dengan besenda gurau dan kadang aku menggoda havva supaya cepat menyusulku menjemput halal. Aku sudah akrab dengan havva


"Yang ini va?"


Aku menunjuk butik yang megah dan mewah.


"Iya cuy. Turun yuk."

__ADS_1


Aku mengikuti langkah havva.


"Assalamualaikum."


Aku dan havva mengucap salam.


"Walaikumsalam. Eh, ada mbak havva."


Aku melihat seorang gadis dengan pakaian yang sama sepertiku.


"Eh, ada nafa. Kok ada disini sih? Dulu bukannya ini miliknya jengnuna?"


Aku tak mengenali siapa jengnuna yang havva sebut barusan.


"Udah nggak lagi mbak, dia udah nggak ngontrak lagi. Jadi nafa sama abang yang mengelola butik."


Kami manggut manggut.


"Wah, siapa yang mau nikahan nih?"


Aku langsung disoroti havva.


"Hehe, nafa kak."


Nafa menyalamiku. Aku menerima jabatan tangannya.


"Caca."


Aku memperkenalkan diri singkat


"Jadi ya nafa, saudara mbak ini mau gaun nikah yang simple dan syari. Menutupi dada dan tetap sederhana namun terkesan glamour."


Yap! Tepat sekali.


Aku mau yang seperti havva deskripsikan.


"Ooh, ada kok. Sini deh kak."


Nafa mengajakku dan menunjukkan beberapa pajangan gaun syar'i yang beraneka ragam. Mulai dari yang biasa biasa saja, sampai yang lengkap dengan niqobnya.


Sesaat pandanganku terpana pada gaun putih yang sama persis dideskripsikan havva.


Gaunnya model payung dan tangganyya dilengkapi dengan tille yang juga senada dengan warna dasar baju. Jadi tidak terlalu mencolok.


"Nafa, kakak mau coba yang itu."


Aku menunjuk dan langsung diambilkan oleh nafa.


"Ini kak?"


Nafa memastikan.


"Iya yang ini."


"Kamar gantinya disebelah sana ya kak."


Aku melihat kamar ganti dengan pintu kayu klasik. Aku mengangguk dan memasuki kamar tersebut.


Fathan pov.


Aku langsung menuju parkiran untuk mulai melajukan mobil menuju lokasi yang di share caca untuk melihat pakaian untuk akad.


Sesampainya disana aku hanya menemukan havva.


Seketika pikiran buruk memenuhi kepala ku.


"Assalamualaikum. Caca mana va?"


Aku ngos ngosan.


"Walaikumsalam. Idiih, nggak bisa ilang permaisurinya." Havva mecibir.


"Havva aku serius."


Havva memutarkan bola matanya.


"Caca lagi nyobain baju."


Ucap havva singkat.


"Kakak bisa coba pasangan baju yang dipilih kak caca."


Aku diberi setelah putih oleh wanita ini.


Aku menatapnya,


"Ini yang aku maksud."


Aku rasa aku mempunyai selera yang sama dengan caca.


Baru saja ingin melangkah, kamar ganti perempuan terbuka.


Aku melihat perempuan yang keluar dari kamar tersebut yamg melangkah dengan anggun.


Dia mengenakan gaun putih kembang. Sederhana namun bermakna.


Dia menenggerkan mahkota kecil dikepalanya.


Dia terlihat memesona.


Dia seperti terkejut melihat kedatanganku.


"Humairahku."


Aku memangilnya spontan karena saat melihatku pipinya langsung memerah.


Dia tidak berani menatapku.


"Bolehkah akad kita dipercepat?"


Aargh... kenapa aku tiba tiba blak blakan seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2