
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
(Masih) Untukmu
Untuk yang (pernah) menempati posisi khusus didalam hati,
Aku, kamu. Kita sama sama mengerti bukan? Usai bukanlah ingin kita untuk menyudahi segalanya. Mengakhiri apa yang sudah kita lalui bersama, yaa.. kurang lebihnya beberapa tahun silam.
Aku pikir, kita akan lebih bahagia jika kita memilih jalan hidup masing masing. Karena pada dasarnya, perilakumu dan perilaku aku takkan pernah bertemu pada titik sesuai.
Terima kasih, hingga saat ini kamu masih menempatkan aku pada posisi dimana aku selalu menjadi prioritasmu.
Terima kasih, di setiap perjalanan dan lika liku hidupmu selalu melibatkan aku.
Dan terima kasih, hingga saat ini kamu masih memperlakukan aku sama seperti waktu aku dan kamu menjadi kita.
Sungguh, perlakuanmu terhadapku membuatku sangat terasa teristimewakan.
Bagaimana tidak?
Aku tak merasakan perbedaan saat kita sudah menjadi aku dan kamu.
Aku tak pernah melabuhkan benci, sungguh.
Kamu mengajarkan aku banyak arti kehidupan, terutama tentang sebuah kesabaran dan perjuangan.
Bagaimanapun juga,
Kita pernah bahagia bersama,mengukir tawa dan cerita indah berdua.
Meskipun itu hanyalah kepingan dari masa lampau, tapi jujur. Aku masih memiliki sekeping rindu untuk sekedar mengingat hal hal itu.
Maaf, aku masih menyimpan rasa karna pada hakikatnya melupakan itu jauh lebih sulit dibanding menghadirkan rasa.
Maaf aku masih saja sekali kali rindu terhadap hal yang kita pernah lakukan berdua.
Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih.
Kamu pernah menjadi pelangi indah dalam perjalanan episode hidupku.
Maaf, sampai saat ini aku masih agresif dalam mengekspresikan rasa.
Karna dari hari dimana kita tak lagi menjadi kita hingga hari ini, aku masih ditudung nestapa.
-Humairah-
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Fathan pov.
Malam ini bebas.
Semua tugas tugasku sudah aku kerjakan tuntas di kampus tadi.
Aku duduk di atas kasur sambil meng-scroll beranda instagramku.
Bosan juga sih, biasanya malam malamku dipenuhi oleh tugas tugas dan sekarang mereka malah nggak ada.
Tiba tiba nama papa muncul di handphoneku. Papa memanggilku.
"Assalamualaikum papa."
Aku merindukan papa
"Walaikumsalam fathan, apa kabar nak?"
"Alhamdulillah baik pa, papa gimana? Papa gak boleh sibuk terus loh. Nanti papa sakit, kasihan mama kecapek an mijitin papa."
Papa terkekeh mendengarku.
"Ah, papa baik kok bang. Kuliahnya gimana?" Papa bertanya.
"Alhamdulillah lancar terus pa, doain cepat selesai ya."
Aku tersenyum
"Iya, jangan lama lama tamatnya. 4 tahun selesai pokoknya."
Aku mengamini didalam hati.
"Udah dulu ya, papa mau makan malam, assalamualaikum."
__ADS_1
Papa menyudahi
"Walaikumsalam pa."
Papa memang seperti itu, menelfon hanya berdurasi 3 menit tapi lebih sering di bandingkan umi yang sesekali menelfon namun bisa menghabiskan waktu 3 jam.
Baru saja papa menutup telfon, nama abi azmi muncul dilayar handphone ku.
Aku tersenyum melihatnya.
"Halo assalamualaikum abi."
Aku sedikit bersemangat.
Satu detik, dua detik.
Kok abi tidak jawab salamku ya?
"Abi?" Aku tidak mendengar suara abi. Aku mulai khawatir. Abi kenapa?
"Assalamualaikum abang."
Sungguh, demi apapun sekarang hatiku bergetar.
Aku tidak tau bisa memastikan itu memang suara humairah atau bukan, namun hatiku bergetar saat mendengar suara yang sudah lama tidak aku dengar ini.
Ya allah, humairahku. Ini humairahku.
"Eh, walaikumsalam adek."
Aku berusaha menyembunyikan getaran suaraku. Ada apa ini? Apa yang mengantatkan caca untuk menelfonku malam ini ya allah?
"Apa kabar adek?"
Aku menanyakan kabar gadis yang sudah lama aku tinggalkan ini.
Gadis yang selalu membuatku menyebut namanya ditiap sujudku tanpa dia suruh.
Aku tak mendengar jawabannya.
Aku mendengar sebuah isakkan diseberang sana.
"Adek, adek nangis?"
Meski aku tau terkadang caca menangis karena hal hal yang sepele, namun tetap saja melihat matanya basah aku tidak suka.
"Aduuuh, adek nggak boleh nangis."
Aku berusaha menengkan.
Dulu sewaktu kami masih berusia 7 tahun, saat dia menangis aku langsung memeluknya.
Aku tidak mau melihatnya menangis.
Dan caca pasti akan diam setelah aku memeluknya.
"Abang."
Suaranya masih bergetar, masih tersengal.
Dia, humairahku menangis lagi dalam keadaan dan usia yang berbeda.
Ah, aku benar benar ingin kembali keusia 7 tahun saat ini.
"Iya adek, ada apa? Hehe, lama tak bersua ya." Sebisa mungkin aku mencairkan suasana agar dia tidak menangis.
Ya allah, tenangkanlah hati humairah.
"Abang, abang kapan pulang?"
Perkataan pertama berupa pertanyaan dari humairah.
Pertanyaan yang seolah menamparku dan menyadarkanku bahwa aku sudah terlalu lama membuat gadisku menunggu.
Pertanyaan yang berhasil membekukan lidahku, mengahambat otakku untuk berfikir menemukan jawaban perihal kapan aku pulang.
"Eh, kok adek tanyain itu. Kan abang disini kuliah."
Lagi lagi aku membohongi diri sendiri.
Ah, aku bingung sampai kapan aku akan tetap seperti ini kepada wanita yang aku tau pasti dia sudah terlalu lama mennggung beban akibat menungguku.
__ADS_1
Humairah. Maafkan abang.
"Adek, maafin abang ya. Abang telat."
Iya, aku telat.
Sungguh telat.
Lamaranku sudah didahului oleh orang lain.
Aku sudah terlalu lama membuatnya menunggu sehingga sudah ada yang mendahuluiku.
"Abang, adek udah tau semuanya."
Aku masih menangkap isakkan di selah selah perkataannya.
Caca tau apa? Apakah abi jadi memberitahu caca soal janji yang aku ucapkan pada abi beberapa tahun silam?
"Apakah soal janji?"
Aku tidak sabar untuk menanyakan itu.
"Iya abang, semuanya adek udah tau."
Dia masih tersengal.
Ya allah, dia sudah mengetahui perasaanku. Bagaimana jika caca membenciku karena dia tau persaanku terhadapnya?
Bagaimana jika dia tidak mau menerima lamaranku nanti jika dia sudah tau dengan cara yang tidak biasa.
Ya allah tunjukkan hamba jalan yang lurus pada kali ini.
Jangan biarkan hamba salah dalam melangkah pada kali ini ya rabb.
"Adek, jawablah lamaran itu. Tidak baik membuat orang lain menunggu."
Aku menyesal menagatakan ini.
Bagaimana nanti jika caca menjawab bahwa dia menerima lamaran itu dan bulan depan akan melaksanakan akad sementara aku belum siap mendengar semua jawabannya? Ah, allah.
"Adek udah putusin kak azzam akan jadi teman seakidah adek bang."
Apa? Tunggu sebentar.
Itu artinya caca menolak lamaran laki laki yang bernama azzam?
Alhamdulillah ya allah, masih ada peluang bagiku untuk menepati janji kepada abi.
Terimakasih ya allah.
"Alhamdulillah. Kenapa dek?"
Aku bertanya penyebabnya.
Apa lagi yang kurang dari sosok azzam?
Abi pernah mendeskripsikan bahwa azzam sudah mengelola sebuah pondok pesantren.
Itu artinya azzam sudah mapan sebelum waktunya.
Kenapa aisyah malah menolaknya?
"Adek mau tungguin janji abang."
Serasa mimpi aku sekarang.
Dia gadis yang selalu aku doakan, dia gadis yang selalu bertahta dalam setiap sujud, gadis yang hadirnya kelak akan selalu aku rindukan sebagai sosok penyempurna agamaku, menungguku. Allahu rabbi.
"Abang, cepat pulang ya. Udah ya bang, adek janji sebentar sama abi. Assalamualaikum abang."
Belum sempat aku menjawab salamnya, ia sudah mematikan sambungan telfonnya.
Apa?
Dia menyuruhku cepat pulang?
Aku termagu memikirkan perkataan caca barusan.
Haruskah aku membuatnya menunggu lagi?
Atau aku pulang pada liburan semester besok lalu membawanya?
__ADS_1
Ya, aku harus pulang dan menikahinya.