Teman Menuju Syurga

Teman Menuju Syurga
Welcome Indonesia


__ADS_3

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Perihal Lentera


Lentera tak membutuhkan cahaya,


sebab menerangi adalah inginnya.


Gulita adalah pencariannya,karena disanalah pelabuhannya untuk memancarkan cahaya rasa.


Kau adalah lentera dan aku adalah gulita.


Saling membutuhkan perihal cahaya.


Sinarmu takkan berarti tanpa gulita,


Dan gulita masih saja begitu tanpa cahaya.


Singkatnya,kita saling membutuhkan bukan?


Siapapun tak akan mengerti tentang 6 dan 15 adalah bagian dari 7 frasa penyesalan.


Tapi dari penyesalan itu lentera mampu menjadi penerang yang mampu menyilaukan cahaya rasa kepada sang gulita. Tapi siapa yang bisa menyangka bahwa sujud cinta telah bersemayam dalam mihrabnya.


-Author-


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Setelah selesai melaksanakan shalat tahiyyatul masjid, aku mengambil al qur'an kecilku dan mulai membacanya.


Pengajian akan dimulai sekitar 30 menit lagi. Masih ada banyak waktu bagiku untuk memuraja'ah hafalan hafalanku.


Setiap hari memang aku luangkan waktuku untuk memuraja'ah hafalan hafalanku.


Paling tidak 30 menit akan aku luangkan untuk itu.


Aku larut dalam hafalanku.


Seketika tentram dan damai menyelimuti seluruh tubuhku.


Sudah 2 tahun aku disini,


Perubahan perubahan kian aku rasakan.


Dan perubahan terbesar yang aku rasakan adalah aku sudah sempurna melupakan bang fathan serta tak lagi mengharapkan laki laki itu akan menjadi imamku seperti waktu aku di SMA.


Aku sudah ikhlas dengan takdir allah, apapun itu pasti sudah ada hikmah hikmah baik yang sudah di rancang Nya.


Disini aku juga sering bertemu dengan kak azzam karena dia sering menjadi pemateri dalam kultum maupun pengajian di pesantren kami.


Tidak ada canggung maupun dendam.


Semua berjalan seperti sebelum adanya lamaran kak azzam.


Aku bersyukur bahwa kami tetap baik baik saja.


"Assalamualaikum kak."


Aku menyudahi murajaahku.


"Walaikumsalam dik, ada apa?"


Aku didatangi adek yang berumur sekitaran 12 tahun


"Ustadzah novi minta kakak nemuin ustadzah di ruang utama kak."


Adek itu memberitahuku satu hal.


"Ooo, sekarang?"


Ada apa ya.


"Iya kak, ustadzah sudah nungguin kakak.


Permisi kak."


Ia pamit.


"Baik dek, terimakasih ya."


Aku berdiri dan membawa alqur'anku menuju ruang utama yang biasa dipakai oleh para ustadzah jika ada acara, tamu ataupun kepentingan kepentingan lainnya.


"Assalamualaikum."


Aku melihat ustdzah sedang berbicara dengan seseorang laki laki yang duduk dengan posisi membelakangi pintu masuk .


Disana juga ada beberapa santriwati untuk menemani ustadzah agar mereka tidak berdua.

__ADS_1


"Walaikumsalam."


Laki laki tadi berbalik


"Abiii.."


Aku berhambur menemui abi kemudian menyalaminya.


Ustadzah novi menggelengkan kepalanya melihat tingkahku yang seperti anak kecil yang sudah lama sekali tidak bertemu kedua orangtuanya.


"Waah, anak abi sudah sangat cantik sekarang." Aku memang tidak memberitahu umi maupun abi bahwa aku sudah memakai pakain syar'i sekarang.


Bukan karena apa, aku hanya ingin umi dan abi melihat perubahanku secara langsung tanpa diumbar umbar meskipun mereka adalah orangtuaku sendiri.


"Hehe iya abi, caca cantikkan?"


Aku memutar mutarkan badanku.


Abi tertawa melihatnya.


"Nak, duduk disini dekat abi."


Abi menepuk sova disebelahnya.


"Ada apa abi?"


Aku menatap abi dan ustadzah novi secara bergantian.


"Aisyah, besok atau hari ini kamu boleh ikut abi kamu kerumah."


Aku terkejut bukan main.


Itu berarti abi kesini dalam rangka menjemputku? Begitu?


"Iya nak. Caca udah dua tahun kan disini? Ustadzah novi bilang caca udah berubah menjadi lebih baik lagi.


Sebenarnya abi ingin caca lebih lama lagi memperdalam ilmu agama disini.


Namun, abi merasa kasihan melihat umi kesepian ketika abi bekerja. Boleh tidak, caca temanin umi dirumah?"


Perkataan abi menyadarkanku bahwa aku sudah terlalu lama tidak di rumah menemani mereka, orang tuaku.


"Baik abi, caca mau kok."


Aku ikhlas.


"Kapan kita pulang abi?"


Aku bertanya.


"Sekarang sayang."


Aku menatap kearah ustadzah novi, beliau menganggukkan kepala.


"Sekarang aisyah boleh mengemasi barang barangnya yah."


Ustadzah novi dan abi akan mengurus beberapa surat surat dan biaya administrasi.


Aku beralih menuju asrama dan memasukkan barang barangku kedalam koper.


Barang barangku memang tidak terlalu banyak. Tidak sebanyak saat aku keluar dari Asrama SMA. Hari ini aku cuma membawa 2 koper berukuran sedang.


Setelah aku rasa semuanya sudah selesai, aku berpamitan kepada teman temanku dan juga kepada adek adek yang sudah menemaniku selama dua tahun terakhir.


Ah, terlalu sebentar rasanya aku bernanung disini.


Setelah semua urusan di asrama selesai aku menemui abi diruang utama.


"Sudah abi."


Abi berdiri dan aku menyalami ustadzah novi.  Aku juga sempat mengunjungi ruangan tempat ustadzah ustadzah biasanya berkumpul. Menyalami mereka satu satu dan pamit untuk undur diri serta tidak lupa mengucapkan terimakasih atas ilmu ilmu yang mereka berikan selama ini.


Setelah semuanya selesai, kami berangkat.


Fathan pov.


Ah,


Tak terasa sudah 4 tahun aku disini.


Aku sudah berhasil menamatkan sarjana dalam bidang bisnis.


Masalah wisuda sudah aku laksanakan bulan lalu.


Aku berhasil wisuda dengan IPK hampir sempurna yaitu 3,89.


Besok aku pulang ke indonesia.

__ADS_1


Papa dan mama sudah kuberitahu.


Termasuk abi dan juga umi.


Jadi, hari ini aku disibukkan dengan mengemas mengemasi barang barangku.


Kemaren waktu aku nelfon papa, papa bilang bahwa sudah ada sebuah jabatan yang menungguku saat aku pulang ke indonesia nantinya.


Aku bersyukur karena langsung mendapatkan perkerjaan meskipun itu adalah warisan dari papa.


Paling tidak, jabatan direktur utama sebuah perusahaan tidak membuatku nganggur setelah mendapatkan gelar sarjana.


Tok..tok..tok


Aku memberhentikan kegiatanku saat ku dengar ada yang mengetuk pintu kamarku.


"Hai."


Aku mendapati hanum sedang berdiri di balik daun pintu kamarku.


Dia lagi dia lagi.


Aku sempat berfikir kenapa dia begitu berani mengunjungi kamar laki laki yang jelas jelas bukan muhrimnya.


Aku keluar dari kamar kemudian menutup pintu kamarku.


"Ada apa?"


Aku berbicara namun tidak melihat kearahnya.


"Keluar yok, besok kan kamu udah mau ke indonesia. Terus kita bakalan jarang dong buat ketemu."


Dia ingin mengamit lenganku namun aku mengelak.


"Sudah berapa kali aku katakan padamu hanum, kita bukan muhrim."


Hanum memang tidak ke indonesia besok.


Kuliah kedokteran memang menyita waktu lebih banyak dari pada jurusanku.


Lama dia terdiam dan menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku terjemahkan.


"Zikri, tidak bisakah kau buka hatimu untuk seorang perempuan?"


Apa yang dia pikirkan? Apakah dia beranggapan aku adalah laki laki yang tidak memiliki daya tarik kepada perempuan?


"Aku sudah lama melihatmu sendiri, setelah ini kau akan kembali ke indonesia dan mengelola perusahaan papamu. Kau juga membutuhkan seorang pendamping zikri."


Kenapa wanita ini terus mengurus urusanku?


"Iya aku tau hanum."


Aku memang tidak pernah memublikasikan bahwa aku sedang berusaha untuk menepati janji melamar seorang gadis di indonesia.


Yang terlihat aku memang tidak pernah mendekati perempuan apalagi pacaran.


"Maka dari itu zikri. Aku sudah mempersiapkan diri untuk menjadi pendampingmu. Tunggu dua tahun lagi aku akan pulang ke indonesia dan kita akan segera melaksanakan akad."


Bukannya kalimat seperti ini harusnya dikatakan oleh laki laki kepada perempuan? Kenapa ini justru malah sebaliknya?


"Hanum maaf aku.."


"Nikahi aku zikri."


Aku beristighfar.


Belum selesai aku meneruskan kalimatku, dia memintaku untuk menikahinya.


Apakah itu bermakna sebuah pinangan dari pihak perempuan?


"Hanum, aku sudah.."


"Sudah lama aku menahannya zikri. Sejak SMA aku menyimpan perasaan terhadapmu. Sekarang, nikahi aku."


Aku tidak tau harus berbuat apa terhadap perempuan ini.


"Hanum."


Aku bicara. Dia menatapku lekat namun aku membuang muka.


"Aku sudah memiliki perempuan yang akan aku lamar saat pulang nanti. Jadi jangan berharap banyak kepadaku. Maaf, aku harus membereskan barang barangku."


Aku undur diri.


"Maaf hanum, caca menunggu lebih lama dibandingkan penungguanmu."


Aku menutup pintu kamar.

__ADS_1


__ADS_2