
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Jangankan untuk melupakanmu, bahkan hingga kini untuk menghilangkan rindu saja aku tak mampu. Kau terlalu menakutkan bagiku.
Jika tidak bisa kembali, pergilah! Dan bawa rindu kejam ini yang bahkan mampu membunuhku dikala aku sendiri.*
Author
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Aku mendengar suara mobil yang berhenti.
Aku melihat kearah suara itu berasal.
Wah, umi dan abi sudah datang ternyata.
Aku menyalami keduanya
"Assalamualaikum umi, assalamualaikum abi." Aku menyalami mereka secara bergantian.
"Walaikumsalam sayang. Teman temannya udah dijemput semua?"
Abi bertanya.
"Belum semua abi."
Karena memang masih banyak teman temanku yang belum dijemput oleh orang tuanya.
"Ya udah, umi mau ke dalem ya. Mau temui bu fatma."
Umi ikut menimpali.
Kini aku, umi , abi dan ibu fatma duduk di ruang tamu asrama
"Ibu, nggak terasa ya caca udah tamat. Baru kemaren rasanya saya nganterin caca kesini."
Umi tersenyum.
"Iya, sekarang aisyah udah manu ninggalin ibu aja."
Buk fatma mengelus kepalaku.
"Saya jemput caca ya bu, lain kali kalau ada waktu caca mampir kesini lagi. Ya kan nak?"
Umi bertanya padaku. Aku hanya tersenyum sambil menyipitkan mataku keara bu fatma.
"Iya,baik baik kuliah disemarang ya nak. Mudah mudahan caca sukses. Jangan lula hafalannya dimurajaah yaaa."
Pesan bu fatma.
"In sya allah ibu. Nanti caca minta tolong sama abi deh buat ingatin caca hehe, ya kan bi?"
Aku mnyeringai.
Abi tersenyum malas kearahku membuat kami semua yanga da di ruang tamu pun ikut tertawa.
Setelah selesai mengurus semua urusanku dan juga biaya biaya administrasiku yang masih belum terselesaikan, kami beralih ke barang barangku.
"Ini kok sedikit banget barang barangnya caa?" Aku tau abi sedang menyindirku. Karena selain salwa, hanya aku yang memiliki barang barang yang buanyak.
"Hehe, kurang banyak ya bi. Nanti ada yang mau caca beli."
Aku tersenyum manis kearah abi.
Detik selanjutnya aku terdiam karena abi membalas perkataanku dengan pelototan matanya.
Kami berangkat membelah jalan kota.
"Umi, abi. Caca tidur ya."
Aku memang sedang mengantuk berat. Entah kenapa untuk urusan tidur aku tidak pernah bosan dalam melakukannya.
"Iya deh, nanti kalau ada apa apanya umi bangunin ya."
Aku memejamkan mataku.
__ADS_1
Setelah 5 menit memejamkan mata,aku belum juga tertidur.
"Caca udah tidur mi?"
Abi berkata kepada umi. Aku tidak tau apakah umi melihatku kebelakang atau tidak, tapi umi berkata
"Sudah bi."
Aku masih bisa mendengar perkataan umi.
"Umi, fathan kemaren telfon abi loh."
Aku bertanya tanya dalam hati kenapa bang fathan menelfon abi.
"Iya bi? Fathan udah lama loh nggak telfon umi." Umi membalas.
"Fathan bilang apa sama abi?"
Suara umi kurang jelas karna kayaknya umi sedang makan sesuatu deh.
"Nggak ada, fathan cuma tanyain kabar umi sama abi. Trus tanyain kabar calonnya tuh. Hahaha." Abi dan umi tertawa bersamaan.
Hah? Calon? Calon apa? Siapa calon bang fathan?
Aku?
Kalau memang benar aku, berarti pertanyaan yang muncul waktu aku nungguin umi tadii...
Ah, aku langsung menepis fikiran bahwa aku adalah orang yang dimaksud abi.
Nggak mungkin lah kan bang fathan milih aku sebagai, ekhem. Calonnya.
Kan dari dulu bang fathan anggap aku hanya sebagia adiknya, lagipun bang fathan hanya menyayangiku sebagai seorang adik.
Aku rasa begitu.
Gak mungkinlah kan.
Aku menggelengkan kepalaku dan memutuskan untuk benar benar tidur.
Detik selanjutnya semuanya terlihat gelap dan aku sudah tidak bisa lagi mendengar apa apa.
Fathan pov :
Kemarin aku menelfon abi azmi.
Setelah sekian lama aku tidak melefon beliau. Aku bertanya kabar umi, abi dan juga caca.
Abi bilang besok caca akan keluar dari asramanya dan akan melanjutkan kuliah di semarang.
Pikiranku melayang jauh.
Mengingat semua hal yang telah aku lakukan berdua dengan caca.
Entahlah.
Aku benar benar tidak bisa melupakan caca secara utuh. Pada waktu waktu tertentu, pada kondisi kondisi yang berbeda ingatanku selalu berujung pada caca.
Sekarang adalah bulan desember.
Di turki, bulan desember adalah bulan dimana salju turun.
Aku duduk disudut sebuah caffe ditemani oleh secangkir long black.
Aku sengaja memilih tempat paling sudut karna menurutku disini eksotis saja.
Aku bisa melihat salju turun dari sebuah jendela.
Flashback on
"Abang ayo temenin caca."
Caca menarikku yang sedang membaca buku di gazebo taman belakang rumahnya.
"Kemana dek?"
__ADS_1
Aku meletakkan buku sembarang karena tanganku yang satunya sudah ditarik caca.
"Temenin caca main salju."
Aku melihat kran tempat biasa umi menyirami tanaman dan sekitarnya sudah dipenuhi oleh busa sabun.
Aku tidak tau berapa bungkus sabun yang dihabiskan caca untuk membuat busa sebanyak ini.
"Ini saljunya caca?"
Aku tertawa ketika melihat kepala kecuali matanya sudah ditutupi oleh buih buih sabun.
"Iya doong, tadi caca udah minta izin sama umi pinjam sabun cuci untuk buat salju."
Caca terus bermain main.
"Abang nggak boleh ikutan main, nanti abang hancurin salju caca. Abang duduk aja disana." Caca menunjuk kearah batu yang tidak terlalu jauh darinya.
"Iya iya deh."
Aku menemani caca dan sesekali tertawa ketika melihatnya jatuh karena terlalu bersemangat dalam memainkan salju ala ala nya.
"Adek suka salju ya."
Aku bertanya.
"Iya bang, dulu umi pernah ngajakin caca ke korea waktu musim dingin. Ada salju."
Caca kegirangan.
"Kalau pergi main salju beneran sama abang mau tidak?"
Aku mengira ngira.
"Iih, mau dong baaang. Kapan kita pergi?"
Mata caca sampai berbinar.
"Hehe, ya nggak sekarang lah dek. Sekarang kan abang nggak ada uang. Besok deh pas abang udah kerja, udah punya uang banyak, kita pergi sama sama yaa."
Caca melompat lompat saking senangnya.
Waktu itu caca baru berusia 6 tahun.
Flash back off
Aku ingat dengan jelas bagaimana caca menyukai salju.
Bagaimana dia senang sewaktu aku mengajaknya untuk menikmati salju bersama sama.
"Dek, abang sekarang lagi menikmati salju loh. Tapi maaf ya, abang belum bisa bawa adek kesini. Abang belum punya uang yang banyaak kayak abang bilang ke adek waktu itu.
Tapi dek, kalau allah udah izinin, besok abang penuhi janji janji abang dulu meskipun mungkin caca sudah tidak lagi mengingatnya."
Aku menyesap long black yang ada didepanku.
Aku mengarahkan layar androidku ke arah jendela dan mengambil beberapa gambar.
Mana tau jika allah memang mengizinkan aku bertemu dengan caca lagi yang tentu dengan situasi yang berbeda, aku akan memperlihatkan foto foto ini dan juga foto foto sunset yang aku dapati kemaren kepada caca. Mungkin dia senang.
"Eh disini kamu rupanya."
Kegiatan memotretku terhenti ketika perempuan ini datang. Aku tersenyum kearahnya.
Ternyata dia juga ada disini.
"Yuk pulang."
Ia mengajakku pulang.
"Yuk."
Aku mengiyakan.
Aku meninggalkan rindu bersamaan dengan long black yang belum aku habiskan.
__ADS_1