Teman Menuju Syurga

Teman Menuju Syurga
Surat untuk Caca


__ADS_3

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Disini Hujan


Disini ada rindu dan secangkir kenangan.


Dan disini ada aku bersama dengan sebait doa yang selalu mengikutsertakan namamu. Aku hanya rindu. Itu saja.*


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Hari ini adalah hari keberangkatanku menuju turki.


Aku diantar ke bandara oleh mama dan papa. Mama semenjak keluar dari hotel tadi sudah menangis namun tetap saja menyuruhku untuk pergi.


Sementara papa kulihat berusaha menegarkan diri sendiri.


Ah, aku akan merindukan mama.


Aku akan merindukan papa.


Pokoknya nanti aku akan kuliah dengan sebaik baiknya agar aku tak mengecewakan dua syurga yang allah titipkan ini.


"Mama,abang rindu umi nafisha dan abi azmi." Aku baru sadar aku tidak mengunjungi mereka sudah 3 tahun karna semenjak tamat dari sekolah menengah, aku tak pernah pulang kerumah. Mama dan papa lah yang mengunjungiku beberapa kali kesini. Alhasil aku hanya mengabari mereka lewat via telfon saja. Itu juga berarti aku sudah tidak berbicara dengan caca selama 3 tahun.


Wah, aku tak memyangka aku bisa melakukannya.


Padahal, sewaktu aku sekolah menengah,aku setiap hari pergi kerumah umi nafisha hanya sekedar melihat caca dan mengganggu gadis manja itu.


"Iya, abang kan nggak mau pulang. Kemaren abi azmi bawain cokelat kesukaan abang loh. Oleh oleh dari singapura."


Abi azmi memang selalu membawakan mama papa dan juga aku ketika pulang dari luar negri untuk melaksanakan tanggung jawabnya diperusahaan.


"Kok gak mama bawain sih buat abang."


Aku cemberut.


"Ah,diturki banyak."


Papa ikut bicara.


"Hahaha..nanti abang beli cokelat yang banyaaak banget."


Kami tertawa bersama.


Sesampainya di bandara


"Mama, papa. Abang berangkat ya. Ridhoi abang belajar di turki. Doakan abang supaya urusan abang lancar ya."


Aku pamit.


"Iya nak. Rajin rajin ya belajarnya. Jangan sama kayak SMA, nggak mau pulang."


Mama semakin terisak.


"Eh, fathan pulang kok ma. Salim dulu."


Aku menyalami keduanya.


"Assalamualaikum mama papa."


Aku mencium pipi kedua orang tuaku.


"Oh iya ma, dua hari lagi ulang tahun caca. Tolong kasih ke umi nafisha ya."


Aku menyerahkan sebuah amplop berwarna hitam. Papa menggeleng


"yang caca ini nggak mau ketinggalan ya."


Aku menyeringai.


"Fathan pergi ya. Assalamualaikum."


Aku melambai.


"Wa'alaikumsalam abang."


Aku berangkat.


Aku tak lupa membaca doa sebelum benar benar meninggalkan tanah kelahiranku ini.


Aisyah pov:


Perintah kepala sekolah untuk mengumpulkan ijazah Sekolah menengah membuatku lega. Pasalnya bagi ijazahnya yang berada dirumah boleh menjemputnya pulang.


Dan itu artinya nanti aku pulang.


Iyeeaaay.


Aku sudah memberitahu umi dan abi dan abi akan sampai disini ba'da maghrib nanti.


Sekarang baru pukul 5 sore.


Aku pikir bisalah untuk mandi dan istirahat sebentar.


Aku memutuskan untuk membaca novel kesukaanku yang baru saja diterbitkan beberapa minggu yang lalu. Tepat pukul 6, aku mempersiapkan diri untuk pergi ke mushola melaksanakan sholat berjamaah.


Setelah melaksanakan sholat maghrib berjamaah, aku mengambil al-qur'an kecilku. Lalu mulai membacanya.


Baru saja menyelesaikan 1 halaman, aku dipanggil salwa.


"Syah, abimu datang."


Aku langsung mengakhiri bacaan al qur'anku.


Aku berbalik ternyata abi sudah berdiri didepan pintu mushola.

__ADS_1


Aku berlari keluar mushola


"abiiiii."


Aku menyalami abi dan memluknya.


"Abi caca rinduu."


Abi terkekeh.


"Kamu itu udah kelas 11 masih saja sama seperti anak kecil."


Aku melepas pelukanku.


"Abi,pulang sekarang yuk."


Aku sudah tidak sabar bertemu umi.


Setelah pamit kepada ibu fatma, kami melucur membelah jalanan kota menuju rumahku tercinta.


"Caca,kemaren abi ditelfon sama fathan."


Aku merespon dengan cepat.


"Apa abi? Bang fathan? Bang fathan kok telfon abi sih bukannya telfon caca."


Aku antusias.


"Hehe, bang fathan nggak mau ngomong sama caca mungkin."


Perkataan abi membuatku terperanjat.


"Abi kok ngomong gituu, salah caca apa sih?"


Aku hampir menangis.


"Caca, ada alasan tertentu kenapa fathan menjauhimu."


Abi bernada serius


"Mau denger gak."


Aku mengangguk.


"Fathan nggak mau terus terusan berada didekat caca karena fathan nggak mau caca tumbuh menjadi gadis yang manja. Fathan mau caca mandiri. Caca kalau dekat fathan pasti bawaannya minta tolooong mulu sama dia kan? Nggak ada mandirinya. Abi akui itu. Alasan lain, fathan akan datang menjemput caca lagi. Tapi pada saat yang tepat. Caca harus ingat itu."


Aku masih mendengarkan abi.


"Abang jemput caca mau dibawa kemana emang bi."


Aku bertanya.


"Nanti caca juga bakalan tau endingnya."


Aku tak memaksa abi. Dalam hati,aku bertanya


Hujan turun bersamaan dengan aku yang mulai tertidur.


.


"Sayang,bangun sudah nyampe loh."


Suara umi sayup.


"Udah sampe mana mi?"


aku belum sadar.


"Udah sampai rumah sayang."


Aku benar benar mengantuk. Aku dibantu umi pergi kekamarku dilantai atas.


"Selamat malam sayang. Kamu terlalu letih."


Umi mencium keningku. Setelah itu,semuanya gelap.


.


Aku terbangun karena mencium aroma masakan umi.


Aku segera turun dan menyambar jilbab rabbani ku.


Aku melihat umi sedang sibuk didapur.


"Assalamualaikum ibu. Bisa pesan nasi gorengnya dua?"


Aku bercanda.


"Dua bungkus? Telurnya dadar atau mata sapi?" Umi menirukan irama penjual nasi goreng di gang sebelah.


"Mata sapi aja ya bu."


Kami berdua terbahak bahak


"Umi kok gak bangunin caca buat bantuin umi?"


aku memeluk umi dari belakang.


"Umi kasihan, semalam caca kecapekan banget kelihatannya."


Umi berbalik.


"Abi sudah pergi mi?"


Sedari tadi aku tak melihat abi.

__ADS_1


"Sudah, abi ada rapat pagi ini. "


Aku merasa kasihan karena abi pasti masih lelah karena menjemputku kemaren.


Aku melihat ada kue diatas meja.


"Waah, ada brownies kukus."


Aku memakannya. Aku melihat tulisan


'Mabruk alfa mabruk humairah'


aku baru sadar kalau seksrang adalah hari ulang tahunku.


"Umiiii...caca lupa."


Aku benar benar lupa bahwa sekarang adalah hari berkurangnya umurku.


Aku sengaja tidak menyebutnya dengan hari ulang tahun sejak bang fathan bilang sewaktu aku berusia 15 tahun yang lalu.


"Nggak ada yang namanya hari ultah ya dek. Kita itu gak boleh senang senang. Harusnya kita memuhasabah diri sudahkan kita sempurna menjalankan kewajiban sebagai hamba sementara usia kita sudah berkurang?"


Perkataan abang selalu terngiang ngiang dan aku jadikan tolak ukur sampai saat ini.


"Nanti caca mau balik jam 2 kan?"


Umi bicara.


"Iya mi. Emang kenapa?"


Aku masih memakan brownies kesukaanku ini


"Nggak, umi nanti ikut nganterin caca."


Aku senang mendengarnya.


"Umi, caca laper."


Aku ingin memakan nasi goreng buatan umi sekarang.


"Iya bentar ya."


Umi memindahkan nasi goreng kedalam piring. Aku menyantapnya pagi itu kemudian mandi untuk membersihkan diri.


"Sayang, ijazahnya sudah dibawa kan?"


Kali ini kami mau berangkat ke sekolahku.


"Sudah umi."


Aku memperlihatkan map berwarna putih.


"Oke deh. Ayo berangkat.


Mboook, pergi dulu ya."


Umi pamit.


"Iya non, hati hati."


Si mbok berpesan.


Kami meluncur dari rumah.


Kami menghabiskan waktu diperjalanan dengan bercengkrama dan sesekali tertawa.


Aku bersyukur terlahir dari keluarga yang sangat menyayangiku ini.


Saat banyak diluar sana yang menjadi korban kdrt, aku bersyukur masih bisa merasakan kasih sayang umindan abi meskipun sekarang bang fathan sudah tidak bersamaku lagi.


Ya aku sudah terbiasa kok.


Sesampainya di asrama aku menyalami umi. Kulihat abi masih sibuk di jok belakang. Aku melihat abi membawakan kotak berwarna pink. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.


"Waah, buat caca ya bi."


Abi tersenyum dan menyamakan tingginya dengan tinggiku.


"Semoga berkah diumur ini ya anak. Rajin rajinlah belajar dan tetaplah menjadi gadis kecil umi dan abi. Tetap menjadi wanita muslimah ya sayang." Aku menyalami umi dan abi.


"Oh iya, kemaren ada titipan dari fathan."


Hatiku tak karuan ketika umi menyebut nama yang legend itu.


"Apa itu umi?"


Aku melihat amplop surat.


"Nanti bukanya habis buka kado dari abi ya."


Abi terkekeh.


"Emangnya bang fathan pulang bi?"


"Enggak, kemaren mamanya baru ngantarin fathan ke bandara. Jadi fathan nitip itu."


Bandara?


"Emang bang fathan kemana bi?"


Aku penasaran.


"Keturki. Ada beasiswa 70 persen untuk kuliah disana."


Deg.

__ADS_1


Bang fathan semakin jauh


__ADS_2