
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Setelah banyak hal yang terjadi diluar batas seharusnya,ada baiknya aku diam dan tidak bertanya. Aku juga sedang tidak ingin memperkeruh suasana. Kurasa semua yang aku niatkan dengan baik dan kujalankan dengan cara yang terbaik, in sya allah akan berujung baik pula.
Ternyata aku menemukan jawaban sebelum melontarkan pertanyaan. Adalah dia yang menjadi sebab mengapa hal yang seharusnya berjalan dijalurnya keluar dari relnya. Kurasa aku sudah selesai. Bolehkah aku pamit?*
Muhammad Fathan Al Zikri
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Fahtah pov:
Hari ini adalah hari jum'at.
Setelah selesai jum'at aku sibuk di aula mempersiapkan mickrofon dan keperluan lainnya untuk dipergunakan oleh tim rohis kota yang akan memberika materi pada sabtu malam.
Aku ditunjuk sebagai panitia karna memang anggota osis lah yang akan menyediakan kepentingan kepentingàn yang akan dibutuhkan nantinya.
Aku disuruh oleh ustad anwar mengurus masalah mickrofon dan meletakkannya satu satu di atas meja.
Mulai dari meja protokol, meja yang akan membaca alqur'an hingga meja yang akan digunakan oleh pendo'a untuk gladi.
Saat aku meletakkan mic diatas meja protokol, secara tidak sengaja aku melihat susunan acara yang memeng sengaja diminta oleh ustadz anwar. Aku menfambil kertas tersebut dan membacanya denfan santai.
Namun aku sedikit terkejut saat melihat nama yang mengisi posisi pembaca al qu'an.
Aku melihat nama Aisyah Humairah terpampang bersebelahan dengan sekolah asal yaitu SMA Al Ikhlas.
Tanpa aku suruh, jantungku berpacu sangat cepat.
Nama yang menjadi alasan bagiku untuk berjuang.
Nama yang beberapa tahun belakangan tidak pernah aku hububgi karna aku tidak mau memposisiya diposisi yang salah dihati ini.
Dan selama ini aku hampir berhasil melupakannya. Meluoakan untuk kembali mengingat selama lamanya.
Namun, hari ini di jum'at siang ini aku kembali melihat nama itu.
Nama yang pemiliknya selalu bertahta dalam setiap sujudku.
Aku tidak mau ambil pusing.
Jika aku bertemu dengannya, aku akan menyapanya.
Tapi jika aku tidak bertemu dengannya, maka aku beranggapan allah sedang menyempurnakan usahaku menuju aisyah dengan cara yang paling mulia.
Mickrofon sudah aku letakkan diposisinya masing masing.
Aku duduk untuk melihat kembali apakah itu benar aisyah, caca kecil-ku yang suka menangis itu, aku tersenyum sendiri mengingat setiap inchi kejadian yang aku habiskan disetiap waktu bersama aisyah pada beberapa waktu lalu.
"Fathan."
Ustadz anwar memanggilku.
"Iya ustadz,ada apa ustadz? Ada yang bisa fathan bantu ustadz?"
Aku bergegas menuju ustadz anwar.
"Fathan bergegaslah ke mushola, hari ini kamu yang imam untuk menggantikan hasbi. Dia sedang sakit. Bisa nak?"
Ustadz anwar memintaku menggantikan hasbi.
__ADS_1
"Oh, bisa ustadz. Fathan akan kemushola ustadz ,kan sebentar lagi mau ashar."
Aku menyanggupi.
"Alhamdulillah, terimakasih fathan. Bersegeralah ke mushola."
Bersamaan dengan aku keluar dari aula,aku melihat tim rohis sudah datang.
Inginku menyambut mereka dan memastikan ada caca-ku disana. Tapi hatiku berbesit
"Allah lebih penting."
Aku pun berlalu.
Setelah muazin selesai adzan dan iqomah,
aku dipersilahkan kedepan.
Aku mulai melaksanakan kewajibanku kepada allah sang pemilik segalanya.
Aku selalu bersyukur kepadaNya untuk nikmat khusuk dalam sholat ini, karna tidak semua orang dapat merasakan nikmat tersebut.
Setelah salam, aku berdzikir lalu berdoa. Setelahnya,aku bergegas keaula karena gladi akan dimulai.
Aku khwatir jika ada apa apa dengan mickrofon dan aku adalah penanggung jawabnya.
Saat aku duduk untuk memasang sepatu, aku melihat seorang perempuang yang juga sedang memasang sepatunya jauh didepanku.
Entah kenapa aku jadi ingat caca kalau saat melihat gadis itu. Tapi aku tak bisa melihat wajahnya secara jelas karena gadis itu sedang fokus mengikat tali sepatunya.
Entah dorongan dari mana,aku terus memperhatikan perempuan itu.
Tak lama setelahnya,aku melihat seorang laki laki datang menungguinya. Aku semakin bingung,
Aku langsung istighfar karna aku sudah suudzan kepada makhluknNya.
Aku semakin terkejut saat gadis tersebut menhangkat wajahnya, dugaanku benar. Ternyata dia adalah humairahku.
Tapi,lelaki itu siapa? Aku kembali fokus memasang sepatuku yang sempat tertunda.
"Ya allah aku memohon kepadaMu dari fikiran fikiran negatif. Ya allah jauhkanlah aku dari sifat suudzan."
Aku berusaha menenangkan diri sendiri.
Setelah selesai memasang sepatu, aku langsung bergegas menuju aula.
Aku masih melihat caca didepanku.
Berjalan dengan seseorang yang semoga saja itu bukanlah siapa siapa caca.
Inginku menemui caca namun urung karena sudah melihat laki laki tadi.
Mereka tidak berjalan berdampingan tapi dari raut wajahnya baik itu aisyah maupun laki laki itu terlihat bahagia sekali karena mereka sesekali tertawa.
Aku terus beristighfar didalam hati semoga semuanya baik baik saja.
"Fathan!"
Aku dipanggil oleh maharani.
"Iya ada apa rani?"
__ADS_1
Aku berputar kearah rani
"Bisa tidak kamu benarkan mic yang ada di ruang piket? Dari tadi gak bisa dibenerin."
Aku begegas ke ruang piket.
Karna aku takut lalai dengan tugasku yang masih berlangsung di aula.
"Nah, selesai rani. Kamu lupa menyambungkannya ke listrik."
Aku puas dengan hasil kerjaku.
"Hehe, maaf aku ceroboh fathan,terimakasih ya sudah membantu."
Rani tersenyum.
"Iya,fathan pergi ya,masih ada tugas dia aula." Aku pamit kepada rani
"iya fathan, terimakasih sekali lagi."
Aku berlalu.
Aku mendengar sayup sayup surat arrahman yang sedang dilantunkan.
"Ma sya allah"
aku bergumam karena sura itu,irama itu sangat indah.
Kudengar suara pembacanya bergetar menandakan dia sangat mengahyati kalimat demi kalimat kalam allah.
Aku baru sadar kalau yang membawakan surah itu adalah aisyah humairah.
"Alhamdulillah, ternyata caca sudah mahir membaca al-qur'an"
aku berkata dalam hati. Aku melupakan perihal aisyah yang tadi bahagia bersama laki laki yang aku tidak tahu itu siapa.
Aku berniat mendengarkannya didepan pintu aula supaya jika nanti caca keluar dari aula aku bisa langsung menemuinya.
Saat surah arrahman sudah ditutup oleh kalimat tasdiq, aku juga ikut melafadzkannya didalam hati.
Aku menunggu caca keluar dan aku berniat untuk sekedar menyapanya. Namun, 15 menit berlalu. Caca tak juga keluar dari aula. Aku memutuskan untuk melihatnya melalui jendela.
Namun,yang aku lihat adalah caca yang sedang mengusap air mata.
Didepannya sudah berdiri laki laki yang tadi menunggui caca memasang sepatu saat dimusola.
Caca tersenyum sambil menunduk dan laki laki itu juga tersenyum.
Lidahku kelu hatiku sendu.
Sedekat itukah caca denganllaki laki itu?
Secepat itukah caca lupa padaku?.
Biasanya akulah yang selalu menghibur caca kalau anak itu sudah mulai berlinang air mata. Setelah sekian lama aku dan caca berpisah, kupikir dia sudah berubah.
Tapi nyatanya caca masih suka menangis dan sekarang bukan akulah yang menenangkannya lagi.
"Allah, aku percayakan semuanya padaMu. Aku percaya manakala jika caca benar jodohku, sejauh apapun dia pergi,akulah tempat pulangnya. Tapi manakala jika aku bukan jodohnya, sedekat nadipun aku dengannya bukan akulah tempat pulangnya."
Aku beranjak dari aula.
__ADS_1
Kurasa pertemuanku dengan caca kali ini bukanlah pertemuan yang tepat.
"Dek,maaf abang tak bisa menyapamu."