
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Hari ini,
Malam ini, saat dengan gagahnya kau memintaku pada abi, kau sungguh telah berhasil menggetarkan arsy.
Terimakasih, karenanya penungguanku tak sia sia.
Dengan ini,
Aku menerima hadirmu kembali.
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Fathan pov.
Hatiku semakin tak karuan saat sudah memasuki perkarangan rumah milik keluarga aisyah.
Beberapa kali aku menghela nafas kemudian menghembuskan dengan kasar.
Berkali kali aku mengelus dada agar dentuman jantungku tidak bertambah kencang.
Papa mengetuk pintu rumah kediaman umi dan abi termasuk caca.
"Assalamualaikum."
Papa mengucap salam dengan irama khasnya.
"Walaikumussalam."
Abi azmi langsung bangkit.
"Ayo masuk masuk."
Kami masuk namun aku memeluk abi azmi.
"Assalamualaikum abi."
Aku mengucap salam kepada laki laki hebat yang sudah menjaga wanita syurga seperti aisyah.
"Walaikumsalam nak."
Ternyata aku sudah terlalu tinggi sekarang.
Dulu saja, aku hanya sesada abi.
Namun sekarang aku melebihi tingginya abi.
"Terimakasih sudah menepati janjimu nak. Abi salut kau benar benar menepati janji sewaktu kau masih remaja."
Aku menangkap kilatan haru dimata abi.
"Alhamdulillah abi. Terimakasih sudah menjaga aisyah dengan baik."
Aku tersenyum bahagia.
"Tidak perlu berterima kasih nak. Itu memang sudah menjadi kewajiban abi."
Abi menuntunku untuk duduk disebelah mama dan papa.
Mama dan papa termasuk havva terlihat bahagia menyaksikan keharmonisan aku dan abi.
Ah, aku memang sudah terlalu dekat dengan keluarga ini.
Mama dan umi langsung menceritakan apa saja seperti saudara yang sudah lama tak berasua.
Papa dan abi membicarakan masalah aku dan caca kedepannya.
Semua seperti biasa. Relaks.
Hanya aku yang tegang dan tak karuan.
Aku terperanjat saat tangan havva menggenggam tanganku.
Dia memang disebelahku sejak tadi.
Aku melihat kerahnya.
"Tak perlu tegang. Relaks dan nikmati alunan alur yang sedang ada saat ini.
Caca bukanlah orang asing bagimu fathan. Aisyah adalah humairah kecilmu yang selalu kau peluk saat menangis dulu.
Jadi, setelah lamanya kau meninggalkan aisyah jangan buat dia canggung karena perubahan sifatmu.
Santai fathan. Buatlah aisyah seperti ditarik kemasa lalu saat melihatmu.
Paham?
Kau sekarang adalah sosok penguat bagi caca, maka jangan kau buat ia menjadi lemah. Meskipun belum resmi sah, tapi ini adalah jembatan menuju sebuah keridhoan.
__ADS_1
Aku tak mau gagal menjadi saudara aisyah karena sikapmu yang kikuk."
Seketika ada energi yang seolah mengalir dalam hatiku.
Havva.
Memang selalu seperti itu.
Kadang ia menjadi seperti sosok kakak bagiku.
Namun pada saat saat tertentu, bahkan ia seperti bocah bagiku.
Havva unik, cantik.
Semoga kelak yang menjadi imamnya akan menjaganya dan memuliakannya.
Aku bersumpah akan mengahabisi siapapun yang nantinya akan mengusik ketenangan sepupu kecebongku ini.
"Terimakasih kakak, semoga siapapun nanti yang menjadi imammu selalu memuliakanmu."
Aku terseyum kearahnya.
Aku memang memanggilnya kakak jika ia sedang berlaku bijak kepadaku.
Sama seperti saat ini.
Dia tersenyum dan melepaskan gemggaman tangannya.
Selang beberapa menit kemudian,
Aku menyaksikan caca turun dari kamarnya dilantai atas.
Tak ada perjanjian apapun, pakaian yang dikenakan caca sama persis warnanya dengan warna pakaian yang aku kenakan saat ini.
Jantungku berpacu lagi namun kali ini aku menuruti perkataan havva untuk tetap berperilaku tenang.
"Aku adalah penguatnya. Aku tidak akan melemahkannya karena sikap lemahku."
Aku berbicara dalam hati.
Pelan tapi pasti.
Aisyah masih saja menundukkan kepalanya. Sedikitpun tidak berani untuk mengangkat kepalanya.
Hal ini menggemaskan dan aku ingin sekali melihat matanya dari bawah sama seperti ketika kami masih kecil, saat dia malu karena suatu hal aku akan melihat matanya dari bawah sehingga dia semakin menyembunyikan wajahnya.
Umi dan abi mengodeku karena caca terus terusan menunduk.
Mama dan papa sudah menutup mulut karena menahan tawa.
Asumsiku saat ini mungkin caca tidak diberitahu bahwa yang datang melamarnya adalah aku.
Papa dan abi azmi berbicara hanya dengan isyarat mulut.
Aku sendiri tidak tau apa yang mereka katakan.
Setelah saling mengacungkan jempol dengan abi azmi, papa menegakkan posisi badanya.
"Baik langsung saja ya azmi, kita ini kan sudah biasa."
Papa dan abi memang sudah akrab sejak umi dan mama menikah.
Mama sering main kerumah umi membawa papa. Makanya dua sejoli ini sangat akrab.
"Aku sebagai bapak dari putraku ini ingin menyampaikan maksud dan tujuan kami kesini. Aku mewakilkan anakku untuk melamar putrimu sebagai istri dari anakku."
Papa begitu lancar mengucapkan kalimat ini.
Aku melihat kearah caca.
Aku menangkap sebuah kebingungan meskipun saat ini ia sedang menunduk.
"Bagaimana ca?"
Kali ini mama yang bicara.
Aku berharap harap cemas menunggu jawaban dari caca.
Caca mendongak.
Ekspresi terkejut menghiasi wajahnya yang semakin cantik dari tahun tahun sebelumnya.
Ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Sungguh dia terlihat amat terkejut.
Apakah ia tak menyangka aku datang melamarnya? Atau ia tidak menginginkan hadirku sebagai pelamarnya?
Dia tidak melihat kepadaku sama sekali.
Ia bergantian menatap mama, papa dan havva.
__ADS_1
Ada perasaan tidak terima ketika melihat caca menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Aku tau pasti dia sedang menangis saat ini.
Dari dulu hingga sekarang aku memang tidak bisa melihat gadis ini menitikkan air mata.
Biasanya aku akan langsung memeluknya saat menangis, namun itu dulu.
Tidak mungkin aku melakukannya sekarang mengingat dia bukan lagi gadis kecil yang dulu selalu aku manjakan.
Caca sudah dewasa sekarang.
Ada sekat diantara aku dan caca sehingga tidak boleh sembarang memeluknya.
Aku harus memecahkan sekat itu terlebih dahulu supaya aku dapat memeluknya saat menangis lagi atau kapanpun aku mau.
Aku mengambil tissue dan berjongkok didepannya.
Bilamana dia menangis karena tidak menerimaku, aku ikhlas pergi saat ini juga.
Karena aku tidak ingin menukar kebahagiaan caca dengan lamaran ini.
"Adek, adek jangan nangis."
Aku berusaha menenangkan meskipun ia tetap pada posisinya.
Setelah isakkannya tidak separah sebelumnya, ia mengambil tissue yang aku berikan.
Aku sempat berfikir kenapa aku jahat sekali meninggalkan caca selama beberapa tahun ini sementara dia masih lembut seperti ini.
Caca akan menangis karena hal hal kecil yang membuat hatinya tersentuh.
Banyak yang bilang kalau caca adalah gadis cengeng, namun menurutku caca adalah gadis yang memiliki hati lemah lembut. Bukan cengeng.
"Aku mohon humairahku, jangan menangis."
Aku panik saat ini.
Bilamana aku tidak mengingat bahwa aku dan caca sudah sama sama dewasa, aku mungkin sudah memeluk gadis ini dari tadi.
Setelah isakkannya mereda, aku kembali ke tempat duduk semula.
"Bagaimana sayang?"
Mama terlihat tidak sabar.
Havva menarik nafas dalam dalam.
"Mama, papa, havva dan abang. Sebelum kalian datang kesini, sebelum caca tau bahwa yang datang itu adalah kalian, jauh dari hari ini caca sudah mempersiapkan jawabannya."
Jantungku berpacu cepat lagi
Astaghfirullah.
Kenapa aku meragukan bahwa rencana allah adalah yang terbaik.
Aku menelan saliva.
Merasakan langit tiba tiba runtuh menimpaku saat ini.
Caca menggeleng sebagai jawaban.
"Ada apa humairah?"
Kata kata ini melontar tànpa aba aba.
"Caca nggak bisa bayangin ternyata impian caca selama ini bisa terwujud."
Aku menaikkan alis. Tak paham dengan maksud caca.
"Caca mau ma, pa. Caca bersedia."
Ada suatu kelegaan yang besar dalam hatiku saat mendengar jawaban humairahku.
"Terimakasih humairah. Terimakasih."
Aku mengucapkan terimakasih kepada caca karena sudah mengakhiri perjalanan panjangku dengan cara menikahinya.
Dia mengangguk pelan.
Oh, aku gemas sekali melihatnya.
Aku menatap havva yang sudah menangis karena terharu.
Lafadz syukur menggema diruangan ini.
Detik selanjutnya adalah penetapan tanggal akad dan walimah.
"Syukron ya allah. Aku telah diizinkan dan diberi kekuatan untuk meminang perempuan yang selama ini kita bincangkan."
__ADS_1