
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Dan untuk semua yang belum selesai,
Untuk semua yang belum sempat usai.
Untuk beberapa harapan yang belum terselesaikan.
Dan untuk rindu yang tak kunjung tertuntaskan.
Pada beberapa episode hidup yang ditarik mundur, aku menyerah.
Aku sudah tak bisa mengendalikan rasa.
Maaf, masih banyak mimpiku yang belum kucapai dan menuntut untuk selesai.
Perihalmu, aku tak lagi peduli.
Terserah! Mau kemana kemudimu dikendalikan.
Hidupku bukan hanya tentang sedih,menyerah,pasrah dan patah.
Masih banyak tuntutan tuntutan yang harus dipenuhi.
Jadi, berbahagialah dengan hidupmu tanpa harus melihat periode yang pernag kita lalui.
Aku bahagia. Harapku jalani hidup masing masing saja.
-Author-
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Aisyah pov.
Huuft..
benar benar menyesakkan.
Aku baru saja menutup telfon dari bang fathan.
Aku menghapus sisa sisa air mata yanģ masih tertinggal di pipiku.
Pokoknya abi nggak boleh tau kalau aku baru saja menangis.
"Udah nak?"
Benar saja, abi muncul dari dapur.
"Udah bi."
Aku bersikap seperti biasa.
"Abi, caca mau kekamar dulu ya, tadi jemuran caca belum caca lipat."
Aku berbohong perihal jemuran. Aku baru saja melipatnya dan membersihkannya sebelum turun ke bawah.
Namun sekarang aku ingin sendiri.
"Ya udah, jangan tidur larut ya nak."
Aku menaiki tangga
"Baik abi."
Cklek.
Menutup pintu kamar.
Aku merasakan jantungku belum berdetak secara normal.
Aku bermaksud untuk membersihkan diri dan berwudhu serta bersiap siap untuk tidur.
Jika tidur bukan hal yang aku lakukan sekarang, bisa bisa aku akan mati karena jantungku tidak karuan.
Setelah selesai, aku mematikan lampu utama dan menghidupkan lampu di nakas.
Satu menit,
dua menit,
deg.
Semuanya gelap.
Aku tidak bisa melihat apa apa lagi.
Aku berada disebuah taman sekarang.
Indaaah sekali.
Hijau adalah dominasi taman ini.
Aku sedang duduk dibawah sebuah pohon yang rindang dan sejuk.
Aku menjuntai juntaikan kakiku ke bawah sambil sesekali bersenandung shalawat.
"Aisyah."
Ada sebuah suara yang muncul dari sebelah kiri. Seorang wanita cantik berpakaian putih putih mendekat kearahku.
Dia cantik, matanya bulat dan hitam sempurna. Hidungnya mancung yang disempurnakan dengan bibir yang merah ranum.
Mirip sekali dengan umi, pikirku.
"Aku bukan umi mu sayang."
Alisku naik sebelah, bagaimana dia tau pemikiranku?
"Aku bukan ibumu sayang."
Dia salah, dia umi. Dia ibuku.
__ADS_1
"Umi, ini caca mi."
Aku tersenyum kearahnya
"Memang benar, kamu adalah aisyah humairah. Sebuah nama yang dulu pemiliknya pernah menemani rasulullah.
Sebuah nama yang menjadi insan mulia,
Sebuah nama mulia, istri baginda rasulullah yang disematkan kepadamu.
Tapi kamu bukan anakku sayang."
Aku menangis, bagaimana umi bisa tidak mengakui aku yang jelas jelas darah dagingnya ini sebagai anaknya?
"Umii." Aku berusaha merengek.
"Aisyah, aku ingin mengajakmu ke syurga."
Mataku membulat.
Siapalah yang tidak mau diajak ke syurga bersama perempuan secantik wanita ini yang mirip sekali dengan umi.
Aku menganggukkan kepala.
"Bagus, tapi saya tidak bisa membawamu aisyah."
"Kenapa?"
Aku langsung protes.
"Karna syurga tidak akan menerima wanita seperti kamu."
Dia menjauh.
"Umii umiii."
Aku memanggilnya.
"Kau adalah wanita sholehah. Namun ada satu amalan yang belum kamu laksanakan humairah."
Dia berbalik.
"Apa itu.?"
"Dia adalah.."
Tit..tiit..tiit.
Mataku terbuka. Astaghfirullah.
Aku terbangun karena suara alarm ku.
Aku memijit mijit kepala. Pusing.
Aku menangis,
"Ya allah, kenapa syurga nggak mau nerima caca? Caca jorok banget ya? Ya allah apa kesalahan yang sudah caca perbuat?"
Aku menangis.
Tersadar sudah lebih dari 5 menit aku menangis, aku menuju kamar mandi dan berwudhu.
Aku melaksanakan shalat tahajud dan disusul dengan shalat taubat setelahnya.
Aku benar benar tidak mau syurga menolakku. Siapalah manusia yang mau ditolak oleh tempat suci yang sudah dijanjikan allah untuk manusia manusia beriman itu. Aku tidak mau.
Allah menjelaskan :
وَنَزَعْنَا مَا فِيْ صُدُوْرِهِمْ مِّنْ غِلٍّ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهِمُ الْاَنْهٰرُۚ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدٰىنَا لِهٰذَاۗ وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَآ اَنْ هَدٰىنَا اللّٰهُ ۚ لَقَدْ جَاۤءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّۗ وَنُوْدُوْٓا اَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ اُوْرِثْتُمُوْهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
"Dan Kami mencabut rasa dendam dari dalam dada mereka, di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke (surga) ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjukkan kami. Sesungguhnya rasul-rasul Tuhan kami telah datang membawa kebenaran." Diserukan kepada mereka, "Itulah surga yang telah diwariskan kepadamu, karena apa yang telah kamu kerjakan"
Nabi juga memaparkan:
يا قوم اطلبوا الجنة بجهدكم واهربوا من النار بجهدكم فان الجنة لا ينام طالبها وان النار لا ينام هاربها وان الجنة محفوفة بالمكاره وان النار محفوفة باللذات والشهوات فلا تلهينكم عن الاخرة
Wahai kaumku, carilah surga dengan kesungguhanmu dan jauhilah neraka dengan kesungguhanmu. Sesungguhnya para pencari surga dan yang menjauh dari neraka tidak akan tidur nyenyak. Surga itu dipenuhi dengan hah-hal yang tidak disenangi sedangkan neraka dipenuhi dengan kenikmatan. Maka jangan kau palingkan dirimu dari akhirat.
Aku menangis.
Aku berdoa kepada allah agar semua dosa ku di ampuni Nya.
Aku sudah mulai berpaling dariNya.
Aku sudah menempatkan ciptaanNya dihatiku sementara aku mulai mengabaikan penciptanya.
"Aku tidak boleh seperti ini terus. Aku tidak boleh cinta sedemikian hebat kepada bang fathan yang bukan siapa siapaku aku harus berbuat sesuatu yang mendekatkanku denganNya."
Aku akan melaporkan ini pada umi dan abi..
iya besok aku akan membicarakannya.
10 hari telah berlalu.
Sekarang adalah telah habis waktu yang diberikan oleh kak azzam.
Tadi waktu abi pulang kerja abi bilang kalau hari ini kak azzam akan datang lagi.
Ya, hanya kak azzam.
Bukan lagi dengan orang tuanya.
Tadi ayahnya menelfon bahwa dia bersama ibunya kak azzam sedang berada diluar kota untuk mengerus masalah pekerjaan.
Jadilah hanya kak azzam sendiri yang bisa mengunjungi rumahku malam ini
Aku menghela nafas saat ada yang memarkirkan mobilnya didepan pagar rumahku.
Aku ditemani oleh umi dan abi sekarang.
"Sudah datang."
__ADS_1
Umi bersuara.
Benar saja.
"Assalamualaikum."
Muncul seorang laki laki dengan senyum teduhnya.
"Walaikumussalam."
Kami menjawab bersamaan.
"Silahkan duduk nak."
Abi mempersilahkan kak azzam untuk duduk berhadapan hadapan dengan kami.
"Jadi begini, pak bu. Azzam kesini mau memenuhi janji azzam buat nagih jawaban aisyah sebulan yang lalu."
Dia sopan sekali.
"Iya nak, bapak paham. Meskipun bapak bersikeras untuk iya, jika aisyah berucap tidak tetap saja tidak bisa. Pun sebaliknya. Dalam hal ini, bapak dan ibu sabagi umi dan abi aisyah tidak bisa berbuat apa apa. Semua keputusan tentu berada ditangan aisyah nak."
Abi menjelaskan.
"Iya bapak, saya iklhas dengan semua jawaban aisyah."
Dia masih saja senyum. Lalu beralih menatapku. Aku langsung menundukkan kepala.
"Bagaimana aisyah?"
Wow, to the point sekali ya.
Aku menghela nafas.
"Kak azzam.
Selama aisyah berguru kepada kak azzam, selama kita bergelut dalam organisasi yang sama, aisyah nyaman sekali dengan sikap baik kak azzam." Senyumnya semakin mengembang.
"Aisyah bukannya mengada ada, memang kak azzam adalah laki laki sholeh yang tentu sudah dipasangkan dengan akhwat sholehah."
Dia masih tersenyum tapi mulai terlihat bingung namun tetap tenang.
"Kak azzam."
Dia menatapku.
"Aisyah sudah istikharah."
Aku mengangkat wajah.
"Namun aisyah belum menemukan wajah kak azzam. Aisyah mau kak azzam menjadi teman seakidah aisyah. Aisyah mau kak azzàm tetap jadi guru aisyah. Boleh kak azzam?"
Aku berbicara dengan satu helaan nafas.
Dia mengangguk paham meskipun diwajahnya tersirat sebuah kekecewaan.
"Maafkan aisyah kak, aisyah lebih nyaman kak azzam jadi guru aisyah."
Aku sebenarnya kasihan melihat kak azzam.
"Iya aisyah, saya mengerti. Bukan mudah bagi aisyah untuk menerima sebuah lamaran diusia saat ini.
Mungkin, kita memang tidak disandingkan allah di lauhul mahfudz. Sayaa... ikhlas aisyah."
Hwaa, aku ingin menangis mendengar jawaban mulia dari kak azzam.
"Kak azzam jangan marah sama aisyah ya."
Aku memohon.
Dia tertawa pelan.
"Tidak aisyah, saya akan bersikap seperti biasa. Semuanya tidak bisa dipaksakan. Bukan begitu pak, bu?"
Aku lega sekali saat mendengar kak azzam ikhlas.
"Iya nak, mungkin allah sudah menyiapkan jodoh yang lebih baik untuk nak azzam."
Umi yang bicara kali ini.
"Heheh, aamiin bu. Semoga sajaa. Terimakasih banyak ibu bapak, aisyah."
Kami mengangguk.
"O iya, aisyah. Saya ingin kamu menerima ini."
Dia mengeluarkan amplop surat.
"Apa ini kak?"
Aku terheran.
"Ini adalah nazar saya apabila lamaran saya ditolak. Ini sebuah surat untuk aisyah."
Aku menerimanya.
"Assalamualaikum bu, pak, aisyah."
Salam terakhir sebelum kak azzam pergi.
"Walaikumsalam. Titip salam buat orangtuamu." Abi bicara yang dibalas dengan senyuman oleh kak azzam.
Umi menegelus pucuk kepalaku.
"Kamu udah melakukan yang terbaik. Jadi pergi besok kan?"
Umi bicara.
"Jadi umi, caca udah packing."
Umi tersenyum.
__ADS_1