
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Aisyah pov.
Setelah shalat subuh, aku memutuskan untuk tidur sebentar karena sisa sisa capek tadi malam masih kurasa.
Aku bermaksud untuk bangun jam 6.
Tapi siapa sangka aku malah bangun saat menjelang zuhur.
Aku bangun saat suhu udara kamarku meningkat karena jendela yang tidak aku buka serta AC yang sengaja aku matikan subuh tadi.
Aku terkejut saat melihat jam sudah menujukkan pukul 12:15.
Aku cepat cepat membersihkan tempat tidur kemudian mandi.
Aku menyesali keputusanku untuk melanjutkan tidur setelah subuh karena aku ketinggalah waktu dhuha.
Astaghfirullah, betapa meruginya aku.
Setelah bersih bersih, ternyata waktu zuhur sudah masuk, aku memutuskan untuk melaksanakan shalat zuhur terlebih dahulu kemudia aku turun ke lantai bawah.
Aroma bolu sankis memenuhi indra penciumanku.
Aku bisa memastikan umi sedang membuat bolu sankis yang kemudian diatasnya ditaburi bubuk kayu manis.
Hmmm.. membayangkannya saja sudah membuatku ngiler habis habisan.
Benar saja, aku melihat punggung umi yang sedang membereskan alat alat bekas adonan membuat bolu sankis.
Aku memeluk umi singkat.
Aku bisa merasakan umi terkejut kemudia aku tertawa.
"Kamu hobi banget ngagetin umi ya."
Umi ngomel.
"Hahaaha, masa caca peluk umi aja gakboleh."
umi tersenyum.
"Anak umi siang ini cantik banget deh, apalagi sejak pake gamis syar'i ini."
Aku tidak bisa membaca nada umi.
Aku menyipitkan mataku.
"Hmm, umi mau apa dari caca nih?"
Umi tertawa.
"Bubuk kayu manis umi lupa beli, terus gimana doong. Gak mungkin kan bolu sankis yang sedap ini gak pake bubuk kayu manis."
Umi berbicara sambil memutar mutar bola matanya.
"Aduuh, caca sakit peruut."
Umi cemberut seketika.
"Hahahah, iya deh mii. Mana uangnya?"
Umi bertepuk tangan.
"Ini, beli 3 bungkus ya cantik."
Umi mengeluarkan kata kata handalannya.
"Eh, caca mau pergi pake apa deng?"
Aku memutar badan.
"Ambil kunci mobil umi dikamar gih."
Aku melonjak.
"Umi izinin?"
Aku berbinar.
"Iya dong, boleh. Boleh mutar juga sebentar."
Aku semakin melonjak dan bertepuk tangan.
Aku berlari menuju kamar umi untuk memgambil kunci mobil dan berbalik kearah umi lagi.
"Caca pergi umi. Assalamualaikum."
Aku menyalami umi.
Aku sudah bisa nyetir sejak kelas 2 SMP.
Waktu itu aku liat abang lagi belajar nyetir sama papa, trus aku minta diajarin juga sama abi.
Awalnya abi tidak setuju untuk mengajariku membawa mobil.
Namun, setelah abi dibujuk dan terus di bujuk abang, akhirnya abi mengizinkan aku untuk membawa kuda besi itu.
Eh, nggak boleh ingat bang fathan deng.
Aku mengeluarkan mobil dari garasi dan meleset keluar.
"Caca keluar ya pak."
Aku minta izin kepada pak satpam digerbang rumahku.
"Kemana non?"
Aku sudah lama tidak melihat tak asep karena memang sih, aku jarang dirumah. Hehe.
__ADS_1
"Mau beli bubuk kayu manis untuk bolu umi, nanti caca kasih pak asep deh."
Aku berhenti sebentar.
Pak asep tertawa.
"Oke non, hati hati di jalan non."
Aku meninggikan jempol lalu membelah jalanan kota semarang.
Aku melihat ke sebelah kanan ketika melewati rumah abang,
"Sepi yah sejak abang pergi"
Aku membatin ketika melihat rumah bang fathan tertutup.
Aku terus melajukan mobil menuju supermarket yang aku pilih.
Memang lumayan jauh sih dari rumah, sengaja biar bisa ngerasain hawa kota semarang yang udah lama aku tinggal ini kan ya.
Dan, sampai deh.
Aku memarkirkan mobil ditempat yang sudah disediakan untuk pelanggan mart ini.
Aku tidak langsung mencari bubuk kayu manis namun tawaf dulu, haha.
Nggak deng, mengelilingi supermarket ini maksudku.
Aku mau cari bodymist spray dulu, kebetulan bodymist milikku habis dan kebetulan lagi aku membawa kartu atm.
Selama aku bersekolah di SMA dan mondok, umi dan abi selalu mengirimiku uang yang menurutku sangat sangat berlebih untuk kebutuhanku.
Aku masih bisa menyisakan 60 parsen dari uang yang dikirim buat nabung.
Entah uangnya yang lebih atau aku yang hemat aku juga gak bisa menyimpulkan sih.
Aku mengelilingi rak bagian kosmetik dan perlengkapan wanita.
Itung itung sambil cuci mata sih. Hehe.
Sementara itu,
Fathan pov.
Setelah umi pulang, satu persatu tamu di rumahku mulai meninggalkan rumahku.
Aku dan havva membantu mama membereskan gelas dan bekas makanan yang kotor.
Setelah selesai, kami duduk di gazeboh.
"Wah, capek ya."
Mama ikutan nimbrung.
Aku dan havva mengangguk.
"Masih bisa bantuin mama nggak?"
"Booolleeeeh."
Belum sempat aku menjawab, havva sudah berteriak magiyakan.
Havva benar benar mebunuhku.
Setelah lelah belum lepas, disuruh keliling rumah buat nyari mama, ngerapiin ini itu, dan sekarang. Aduuh, havvaa
"Pergi kesupermarket yang kemaren mama ajak kamu itu hav."
Aku tidak tau dimana tempat yang dibilang mama.
"Kuy. Mau beli apa mam?"
Havva paling bersemangat.
"Ini ada listnya."
Sumpah demi apa ini list panjang banget.
"Yeeey, kita beli kebutuhan bulanan."
Havva bertepuk tangan saat melihat list yang kini aku tau adalah daftar belanja bulanan itu.
"Ini uangnya havva."
"Eeh, mama nggak usah. Biar fathan yang bayarin."
Aku ikutan bersemangat.
"Heleh, abang aja kerjanya lusa. Belum ada gajinya sekarang."
Mama meledekku.
"Eh asalkan mama tau ya, uang yang papa kirim ke rekening abang tersisa buaaanyaaak banget. Kan secara fathan di turki juga dikasih uang sama yang ngelola beasiswa."
Aku menepuk dada.
"Berapa biasanya mama. Belanja kebutuhan bulanan?"
"Tuh, ada nominalnya disitu."
Aku melihat arah telunjuk mama.
"Alaah, ini uang abang nggak akan berkurang mah."
Aku melihat nominal itu.
"Yaudah, berarti nanti havva boleh beli apapun yang havva mau ya nak."
Aku membelalakkan mata.
"Oke, nanti havva mau beli jam tangan yang 67 juta kemaren mam, terus sepatu yang 50 juta habis itu sisa uang fathan havva bawa keparis buat beli baju yang bagus bagus."
Aku ngeri mendengar ucapan havva.
"Enak aja lu."
__ADS_1
Aku menampar havva pelan.
"Yuk pergi. Mam, kami berangkat ya."
Mama yang masih tertawa.
"Iya iya, baik baik ya. Jangan berantem mulu."
Aku berangkat bersama havva.
Oke, aku akan mendeskripsikan tetang seorang havva sedikit.
Masalah orangtuanya kemaren udah aku kasih tau kan, sekarang soal gaya.
Havva itu aku akui gadis cantik (tapi lebih cantikan caca menurutku sih)bermata cokelat, suka pake sepatu mahal tapi cuma sepatu aja, untuk tas sama baju pake yang standar standar aja.
Matanya bulat hidungnya mancung kulitnya putih.
Jilbab nggak panjang panjang amat, kalau jilbababnya lagi pake gaya lurus kebawah aja, jilbabnya sepanjang paha deh, tapi nggak sampai lutut.
Nah, bayangin aja yah havvanya kek mana.
Dia seusia denganku, kalau jalan denganku kek orang pacaran karna dia hanya sebahuku.
"Than, lo kenalin gua dong sama caca."
Aku baru sadar kalau aku belum memberitahu caca bahwa aku sudah pulang.
"Iya besok pas lamaran."
Aku menjawab sskenanya.
"Wah? Iya? Kapan?"
Aduh, aku nggak taulah keadaan gendang telingaku seperti apa sekarang.
"Ih, biasa aja dong. Nanti malem."
Aku asal lagi.
"Lu jangan boongin gua."
Dia menjitak kepalaku.
"Eh va, lu nggak kerja? Kok bisa ke indonesia sih?"
Havva lulusan kedokteran harvard university.
Dia baru bulan kemaren dapat pekerjaan di rumahsakit italy.
Memang havva tergolong cepat dalam menyelesaikan pendidikan kedokterannya.
Karna selain harvard juga cepat dalam menamatkan mahasiswa kedokteran, gadis menyebalkan ini jeniusnya kelewatan.
SMP dan SMA diselesaikan hanya dalam waktu 4 tahun saja.
"Nggak, gua izin. Ada yang mau diurus."
Aku ber oo ria dan tidak ingin memperpanjang lagi.
"Udah sampai ***."
Havva memberhentikan mobil di depan supermarket yang sudah berada didepanku ini.
"Ini?"
"Iya ini, turun."
Havva seolah mengusir.
Aku mendengus.
Memang havva yang aku suruh untuk nyetir karena aku lelah.
Aku mengikuti havva.
"Cuy, bawa."
Havva memberikan keranjang warna merah keapadaku.
"Kok gue sih?"
Aku protes.
"Lu laki laki dan gue gak boleh angkat berat berat."
Aku mengangguk lemas.
Havva membawaku menuju rak kosmetik cewek untuk membeli keperluan mama.
Aku duduk dilantai menunggu havva memilah milih.
"Ish, nih supermarket nggak ada karpetnya ya."
Aku berbicara pada diriku sendiri.
Aku mengamati orang orang sekitarku yang menatapku heran.
Aku tidak peduli yang jelas aku ingin duduk dan disini tidak ada tempat duduk.
Aku melihat sekelilingku
Fokusku tertuju pada seorang perempuan bergamis cokelat tua yang memakai jilbab lebar senanda.
Posisi perempuan itu sedang membelakangiku saat ini
"Indah sekali"
Aku membatin. Posisi perempuan itu membelakangiku.
Aku terus mengamatinya dari belakang.
Setelah mendapatkan apa yang ia mau, permpuan itu berbalik.
Aku bisa melihat wajahnya secara jelas.
__ADS_1
Dan,
Caca??