Teman Menuju Syurga

Teman Menuju Syurga
Ingkar Janji


__ADS_3

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {أَوْحَى اللهُ تَعَالَى إِلَى مُوسَى بْنِ عِمْرَانَ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ يَا مُوْسَى مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِيْ وَلَمْ يَصْبِرْ عَلَى بَلَائِيْ وَلَمْ يَشْكُرْ نَعْمَائِيْ فَلْيَخْرُجْ مِنْ بَيْنِ أَرْضِيْ وَسَمَائِيْ وَلْيَطْلُبْ لَهُ رَبًّا سِوَائِيْ}


"Allah telah memberikan wahyu kepada Musa bin 'Imran a.s., Wahai Musa, siapa yang tidak ridha dengan keputusan-Ku, tidak sabar dengan ujian-Ku, dan tidak mensyukuri nikmat-nikmat-Ku, maka hendaklah ia keluar dari di antara bumiku dan langitku, dan hendaklah ia mencari Tuhan selain Aku untuknya."


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Aku benar benar tidak salah lihat.


Dia adalah aisyah.


Aku spontan berdiri dan ingin mengejarnya. Kenapa bisa dia supermarket sebesar ini pergi sendiri?


Dan,


Sejak kapan dia memakai pakaian seperti itu.


Allah, hatiku bergetar hebat.


"Woy! Yaelah pake bengong lagi."


Havva menepuk bahuku.


"Liat apaan sih?"


Dia juga melihat kemana arahku melihat.


"Nggak, yuk. Masih banyak kan?"


Aku tidak ingin tergesa gesa.


"Masih lah, ini baru cuma satu."


Aku benar benar ingin mengejar aisyah, namun aku tidak lupa dengan janjiku.


Tidak akan menemui aisyah sebelum aku menemui abi azmi.


Ya, aku harus menemui abi.


"Woy. Kenapa berenti?"


Aku melihat havva mematung.


"Than, yang ini harus dibeli dilantai atas."


Havva pucat.


"Ya ayok keatas."


Aku menarik tangan havva.


Di menunduk. Ada apa dengan gadis ini?


"Kenapa hm?"


Aku sebenarnya panik melihat havva yang biasanya cerewet dan selalu membuat telingaku sakit menjadi diam seperti saat ini.


"Aku takut naik eskalator. Aku phobia."


Aku tertawa melihat havva yang hampir menangis karena dia phobia eskalator.


Melihatku tertawa, dia benar benar ingin menangis.


"Aku mau pulang."


Aku menarik tangannya.


"Ah, lu ah. Cemen."


Aku berhenti tertawa ketika melihat dia sudah menangis.


"Ah udah udah va, kan lu pergi bareng gua. Kan ada gua."


Aku berusaha menenangkan.


"Jàngan tinggalin gua selama di eskalator."


Dia menghapus air matanya.


"Nggak akan gua tinggalin kok"


Aku berusaha membujuknya.


Aisyah pov.


Setelah mendapat bodymist, aku ingin mencari bubuk kayu manis pesanan umi.


Tapi dimana ya?


"Ah, barangkali saja diatas."


Aku berinisiatif pergi kelantai dua.


Pas sesampainya dilantai dua,

__ADS_1


Aku melihat petugas supermarket.


"Mas, permisi mas."


orang yang aku panggil menoleh.


"Ada yang bisa saya bantu mbak?"


Mas itu bertanya.


"Saya mau cari bubuk kayu manis mas, diamana ya?"


"Oo, disana mbak. Didekat rempah rempah."


Aku melihat kearah telunjuk mas tadi.


"Oke mas, makasih mas."


Mas itu mengangguk lalu berlalu.


Saat ingin melangkah,


Oh, tali sepatuku lepas.


Aku menepi kearah kaca pembatas dengan lantai bawah.


Setelah selesai, aku tak sengaja menangkap wajah laki laki yang sudah sangat tidak asing bagiku.


"Abang?"


Aku berdiri dan memastikan.


"Astaghfirullah. Dia beneran abang."


Aku menutup mulut tidak percaya.


Tapi, siapa perempuan didepannya itu?


Aku tak mengerti,


Kenapa dia bisa sedekat itu dengan abang.


hatiku seolah olah memanas melihat pemandangan itu.


Mereka terlihat begitu akrab dan aku melihat perempuan itu sedang cemberut seolah olah sedang dirayu bang fathan.


Mataku memanas.


Apalagi saat mereka menaiki eskalator dan tangan perempuan itu memegang tangan abang.


"Astaghfirullah. Aku tidak boleh disini."


Aku setengah berlari menjauh dari pemandangan yang menurutku tidak mengenakkan ini.


Aku berlari kearah rak yang berisi rempah rempah kemudia mengambil 3 bungkus bubuk kayu manis secara kasar.


Aku tidak tahan lagi.


"Ya allah, jangan biarkan caca cengeng lagi."


Aku mengadahkan wajahku keatas agar air mataku tidak tumpah.


Memang benar yang dikatakan sahabat nabi.


"Sungguh wanita mampu menyembunyikan cinta selama 40 tahun, namun tak sanggup menyembunyikan cemburu meski sesaat." -


Ali bin Abi Thalib


Setelah mendapatkan pesanan umi aku bergegas ke kasir dan membayarnya.


Kemudian aku berdiri di eskalator yang akan membawaku ke lantai dasar.


Aku tidak ingin melihat kebelakang lagi.


"Allah, tunjukkan caca jalan yang terbaik."


Aku terus berdoa di dalam hati.


Aku menuju parkir tempat mobil umi berada.


Aku masuk kemudian menumpahkan semuanya.


"Bang fathan bohongin abi, umi dan caca."


Aku menangis.


Sungguh tidak ada yang lebih menyakitkan daripada ini.


"Kapan coba abang pulang? Trus siapa lagi itu perempuan?".


Aku menghapus air mataku.


Aku ingin menyudahi tangisan ini dan tidak mau umi mengetahui bahwa aku baru saja menangis. Bagaimanapun bang fathan adalah sosok yang baik dikenal oleh umi dan juga abi.

__ADS_1


Aku tidak ingin merusak prasangka baik umi dan abi terhadapnya jika aku mengatakan bahwa aku baru saja melihat bang fathan berjalan dengan cewek yang aku tidak tau itu siapa.


الْخَبِيثَاتُ لَلْخَبِيثينَوَاالخَبثُونَ للخبِيثَاتِ والطيّباتُ للطيّبينَ والطيبونَ للطيباتِ اوللك مبرّءونَ مما يقولُون لهم مغفرَةٌ ورزْق كرِيم


Wanita wanita yang keji adalah untuk laki laki yang keji, dan laki laki yang keji adalah buat wanita wanita yang keji (pula), dan wanita wanita yang baik adalah untuk laki laki yang baik dan laki laki yang baik adalah untuk wanita wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)


Perlahan aku membaca ayat al qur'an yang aku hafal waktu dipesantren kemaren perkara jodoh. Aku menghela nafas.


"Sudahlah ca. Allah tau mana yang terbaik."


Aku mengeluarkan mobil dari parkir kemudian melajukan mobil kearah yang berlawanan dengan arah rumahku.


Aku berusaha melupakan kejadian bang fathan. Aku bermaksud mengelilingi kota sebentar.


Tiba tiba hp ku berdering.


"Hallo assalamualaikum umi."


Aku memakai headset


"Walaikumsalam nak, bolu umi udah setengah matang ini."


Aku langsung memutar arah saat dibelokkan depan.


"Iya umi, ini lagi jalan pulang."


Aku berusaha menormalkan suara.


"Okedeh. Umi tunggu. Assalamualaikum ."


Umi menutup telfon.


"Walaikumsalam umi."


Aku menjawab salam umi.


Fathan pov.


Aku sudah sangat kelelahan sekarang.


Jam sudah menunjukkan pukul 15:25 dan havva bilang masih ada 3 barang lagi yang harus dibeli.


"Udah cuy, yang ini dilantai bawah."


Aku bersemangat.


"Yok turun, gua capek banget ini."


Havva memegang tanganku saat di eskalator.


Aku tidak bisa memegang tangannya karna aku sudah membawa dua keranjang sekarang.


"Eh, ntar orang liat kita dibilang pacaran loh."


Aku melihat sekelilingku.


Takut nanti aisyah lihat kemudian berfikiran tang bukan bukan


"Ih, amit amit banget gua punya pacar kek lu. Lagian siapa juga yang ingin pacaran. Gua maunya langsung dihalalin?"


Kok pembahasannya diganti ya.


"Iya, sayangnya lu jomblo."


Aku tertawa sementara havva melayangkan pandangan tajam mematikan.


Oke fix,aku diam.


Setelah menyelesaikan semua belanja, kami pergi kekasir dan membayarnya.


"Udah kan va?"


Aku memastikan semua kebutuhan sudah dibeli.


"Udah, yuk balik."


Kali ini aku yang nyetir.


Di dalam mobil


"Va, menurut lo nih ya, kalau gua nikah diusia sekarang, gimana?"


Aku masih memikirkan aisyah.


"Than, menurut gua lu percepat deh. Gua lihat kok tadi lo ngeliatin perempuan berhijab syar'i itu kan? Caca? Gua gak bisa liat wajahnya."


Havva mendadak serius.


"Iya, dia aisyah."


Aku menjawab lemes.


"Lu segerain deh ngomong sama papa mama. Takutnya lu makin merasakan cinta begitu dalam pada wanita yang bukan mahram lu. Dosa buat lu dan dosa buat caca juga."

__ADS_1


Aku memikirkan ucapan havva barusan.


"Iya juga sih."


__ADS_2