
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Kelak pada senja yang indah aku akan menemanimu dengan setia. Kala itu akan aku manfaatkan waktu yang sebentar itu untuk mengkolaborasikan senyummu dengan indahnya senja. Karna aku tau tak banyak waktu untuk kita berdua. Saat itu tidak ada lagi jarak yang membuat kita resah. Pun puas bercengkrama karna sudahh lama tak bersua.*
Muhammad Fathan Al Zikri
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Fathan pov :
Tiga minggu semenjak kejadian bertemu dengan caca, aku sudah tidak terlalu memikirkannnya lagi.
Aku kembali fokus pada apa yang seharusnya aku kerjakan karna aku sudah berniat akan kembali kapada caca pada waktu yang telah ditetapkan oleh allah.
Bukannya mendahului takdir, kita tidak tau bukan siapa jodoh kita.
Aku hanya tidak mau terus terusan berada didekat orang yang aku suka dan itu bukan mahramku.
Aku tak sanggup terus terusan merasakan getaran getaran didalam hatiku meskipun pembawaanku biasa saja.
Aku tidak ingin merasakan hal seperti ini sebelum waktunya. Makanya aku berusaha pergi untuk pulang kembali.
Bulan besok adalah Ujian Nasional.
Atau bisa dikatakan ujian akhir.
Dan hari ini adalah hari dimana pengumuman beasiswa ke turki diumumkan.
Awalnya aku tak berminat untuk mengikuti beasiswa ini.
Karena meskipun diturki juga penduduk muslimnya lumayan, aku lebih memilih untuk kuliah di mesir. Tapi aku juga tidak bisa menolak saat papa memintaku untuk mengikutinya.
Perlu pembaca tau, papa sangat menyuruhku untuk mengambil jurusan yang berkaitan dengan bisnis karena aku disuruh untuk mewarisi bisnisnya.
Ya siapa lagi kalau bukan aku karna aku adalah anak satu satunya.
Aku tidak akan membantah permintaan papa karna memperturutkan egoku sendiri.
Menurutku, jika dalam suatu keadaan kita dihadapkan pada pilihan ingin melanjutkan apa yang kita inginkan dengan permintaan orang tua, lebih baik memilih permintaan orang tua.
Karena pasti orang tua sudah memikirkan baik buruknya untuk anak mereka.
Orang tua mana yang ingin merugikan anaknya.
Selain itu, kita masih bisa melanjutkan mimpi kita pada jenjang selanjutnya. S2 misalnya.
Tapi itu menurutku sih.
Mungkin karna aku terlalu perasa orangnya.
Pengumumannya akan di tempelkan di mading sekolah nanti pada jam 11 siang.
Sekarang masih jam 10, lagipun jikalau tidak lulus papa tetap akan menguliahkanku diturki dengan jalur mandiri.
Hari ini memang untuk kelas 12 tidak ada proses pembelajaran.
Usbn telah berlalu dan kami hanya di berikan pembekalan menghadapi ujian nasional.
Kelasku berakhir pada pukul 10 karna guru matematika tidak datang. Karena tidak mau kecewa dengan hasil pengumuman beasiswa nanti, aku memilih untuk kembali keasrama. Aku membaringkan tubuhku diatas dipan dan mekukan pijatan pijatan halus dipelipisku. Bermohon kepada allah supaya allah memberikan yang terbaik nantinya. Sekitar 15 menit aku memijit2 pelipis, aku pun tertidur.
"Eh,buruan tengok."
"Ayo ayo."
"Weeeh,cepetan dikit doong. Ah,gimana sih." Suara gaduh diluar kamar membuatku terbangun.
"Anshar,ada apaan ribut ribut diluar?"
Aku bertanya kepada anshar, teman sekamarku.
"Ooh, pengumuman beasiswa. Lo daftar kan? Buruan tengok gih. Anak asrama nggak ada yang jebol yang udah tengok gak ada yang jebol." Anshar terkekeh.
Dia santai karena dia tidak ikut mendaftarkan diri di beasiswa.
Aku melirik kearloji ditanganku. Astaghfirullah,aku ketiduran.
Aku berjalan dengan tempo yang sedikit cepat kearah mading, disana tidak ada lagi keramaian. Aku hanya melihat dua orang perempuan yang sedang berdiri disana.
"Permisi."
__ADS_1
Ucapku sopan.
Mataku yang baru bangun tidur ini mengamati nomor yang terdapat pada kolom bagian kiri.
"Cuma dua orang."
Aku membatin karna hanya tertera nomor 1 dan nomor dua disana.
Aku tak memerhatikan namanya.
Saat aku mengalihkan fokus ke kolom disebelah tepatnya dikolom nama, aku berusaha meyakinkan diri karna pada nomor pertama ada namaku.
Aku mengucek ngucek mata karna mungkin bisa saja aku sedang berhalusinasi atau mataku tiba tiba rabun mungkin.
Aku mengingat ingat siapa lagi siswa yang bernama muhammad fathan al zikri selain aku disekolah ini.
Seingatku yang bernama fathan cuma aku saja. Aku melihat nomor duanya ternyata perempuan. Namanya huzma hanum athifa.
Eh,hanum?
Aku berbalik. Dan ternyata benar.
Gadis yang berdiri didepan mading ini adalah hanum bersama temannya.
Hanum, gadis bermata cokelat yang terkenal karna kepintarannya.
Tak jarang dialah yang selalu menjadi juara umum diangkatanku.
"Hanum?"
Aku menyapa dengan nada yang..entahlah.
"Iya fathan?"
Hanum menjawab.
"Kamu ambil kan beasiswa ini? Kamu dapat beasiswa 80 persen loh."
Ucapku. Hanum memang pendapatkan presentasi yang lebih besar dari pada aku.
Aku mendapat beasiswa 70 persen.
"Hanum tanya umi dulu fathan."
Aku juga harus bertanya dulu sama mama dan papa. Juga umi dan abi caca.
"Oh ya sudah hanum, aku pergi ya."
Aku berlalu.
Setelah shalat zuhur, aku berencana menelfon papa.
Tapi urung karna takut papa sedang rapat. Aku lebib memilih menelfon mama.
"Assalamualaikum ratuku."
Aku mengawali.
"Walaikumsalam. Kamu semakin lama semakin pandai ngerayu mama ya? Mau minta dikirimin lagi nih?"
Mama tertawa. Aku juga tertawa mendengarnya.
"Ah, tidak kok mamakuu.. tapi kalau boleh juga gapapa."
Aku terkekeh lagi.
"Ma, fathan ada kejutan buat mama."
Aku mulai memasang nada serius.
"Apa nak?'
Mama tidak sabaran.
"Mama, fathan mendapat beasiswa 70 persen diturki."
Aku semangat 45. Terdengar mama mengucap hamdalah
"abang sudah kabari papa?"
__ADS_1
Mama bertanya.
"Belum ma, abang takut nanti papa lagi rapat." Aku jujur.
"Iya,nanti aja mama kasih tau. Jangan lupa kasih tau nafisha sama mas azmi ya."
Mama berpesan.
"Siip mama."
Setelah puas berbincang bincang dengan mama, aku menutup telfon. Sekarang aku harus mengabari orang tua caca.
Aku memutuskan untuk menelfon abi azmi saja. Setelah menemukan kontak abi, aku menelfonnya.
"Assalamualaikum."
Abi mengucap salam
"Walaikumsalam abii."
Aku senang sekali.
"Bagaimana kabarmu nak? Apakah bulananmu kurang?"
Abi azmi selalu perhatian
"ah tidak abi, malahan fathan masih bisa sisain buat nabung."
Aku terkekeh. Begitupun dengan abi.
"Abi fathan mau ngasih kabar baik buat abi."
Aku masih bersemangat.
"Ada apa nak?"
Abi penasaran.
"Masalah ke turki itu abi."
Abi azmi memang sudah aku kabari sebelum sebelumnya, papa yang mengabari abi.
"Iya,bagaimana jadinya?"
Abi semakin penasaran.
"Alhamdulillah abi."
Abi juga terdengar bersyukur pertanda abi sudah mengerti.
"Kalau masalah itu mah, abi percaya sama fathan. Orang kamunya pintar banget. Sholeh lagi. Cepat deh kerumah."
Abi terkekeh. Aku menelan saliva
" ah,fathan biasa aja kok abi. Allah aja yang hebat."
Aku merendah.
"Orang tuamu sudah diberi tahu kan nak?" Lanjut abi.
"Sudah abi, tadi fathan kasih tau mama. Takutnya papa lagi rapat."
Aku menjawab.
"Ya sudah abi juga lagi kerja ini."
Aku lupa kalau abi juga sedang bekerja.
"Hehe..maafin fathan ya abi."
Aku tersengeh.
"Iya iya, nanti abi kabari umi ya. Yang rajin buat UN nya nak. Assalamualaikum."
Abi menutup telfon.
"Walaikumsalam abi."
Aku menjawab salam abi.
__ADS_1
"Caca, maaf ya. Abang nggak ngasih tau caca secara langsung. Mungkin caca taunya dari umi abi atau mama papa. Abang sengaja gak ngabarin adek, nanti adek tambah marah sama abang. Doain abang ya supaya lancar dan cepat pulang. Supaya abang bisa jemput adek atas izin allah. Abang akan tepati janji abang buat bawa adek kepantai waktu senja. Sama seperti yang adek mintak 5 tahun yang lalu. Tungguin abang ya dek."
Aku membatin.