
Bunda yang melihat ku dan dafa main kejar kejaran
tersenyum sambil geleng geleng kepalaa
lalu dia pun menghampiri ku dan dafaa
"Yaa allah,, Inii ada apaa?? kenapa kejar kejaran kaya anak kecill??." Tanya bunda sembari berjalan kearah kami
Melihat ada peluang bersembunyi, dafa langsung berlindung dibelakang bunda
" Tantee..tantee tolongin dafa tante." Ujar dafa sembari bersembunyi dibelakang bunda
" Tolongin apaa nakk,inii kalian kenapa?? Kenapa kejar kejarann??" Sahut bunda
" Itu keisya tante, Keisya ngamuk gak tau kenapaa."Balas dafa yang ngeri melihat ekspresi keisya yang menakutkan
"DAFAA!!! sinii gakk, Jangan sembunyi dibelakang bundaa lo yaa, sinii cepetan!!!!." Kesal keisya yan mencoba mencubit dafa namun tak bisa karna benteng dafa ialah bunda nyaa
" Gakk mau, nanti lo cubit lagii, cubitan lo kan menyakit kan cubitan tadi ajah gak ilang ilang sakit nyaa, Tante tolongin dafaa,, Keisya marah nya nyeremin tan." Mohon dafa sambil memasang wajah melas
Bunda tersenyum melihat mimik wajah dafa yang ketakutan karna kemarahan anak bungsu nya itu
" Sayang kenapa marah sama dafa?? Kasian loh kalau dicubitin teruss." Ucap bunda sembari mencoba menenangkan anak nyaa
" Tauu tuhh tan,, Dafa aja gak tau dia marah kenapaa Gak jelass banget." Timpal dafa yang setia bersembunyi dibelakang bunda
" Gue marah karna lo ngeselinn..sini gak buruannn!!" cecar ku yang kekeh ingin mencubit dafa
" Udahh udahh yaa sayang, udahh jangan marah marah nantii cepet tuaaa lohh." sahut bunda terkekeh kecil
aku pun mulai tenang, Dan mencoba mendudukan bokong nya ke kursi dengan dada yang masih naik turun
karna jujur dia cape mengejar dafa.
__ADS_1
Bunda pun mengisyarat kan pada dafa untuk tidak bersembunyi dibelakang nya dan duduk beserta keisya
Dengan masih was was dafa pun duduk, Dan mata nya tak lepas darii keisya
karna dafa harus berjaga jaga jikalau tiba tiba keisya mengeluar kan jurus nyaa
karna jujur sajaa cubitan keisya sangat amatlah sakit
dan dia tak mau merasakan nya lagii
Bunda yang melihat wajah anak nya yang seperti masih kesal pun bertanya
" Keisya sayang, Udah shalat zuhur belum??" Tanya bunda lembut
Seketika aku tersadar, Aku kan belum salat zuhur
" Yaa ampun, keisya lupa belum shalat bun, Kalau gitu keisya shalat dulu yaa bun." Pamit keisya tak lupa dia memberi dafa tatapan tajam
Dafa yang dihadiahi tatapan tajam keisya
" Tante, Boleh gak dafa ikut shalat disinii??" Tanya dafa pada bunda
" Boleh dong, Bentar yahh tante ambilin dulu sarung beserta koko nyaa." Ujar bunda dan pergi kekamar nya untuk mengambil kan sarung untuk dafa
Dafa pun memilih untuk mengambil air wudhu dikamar mandi yang berada diidapur
tak lama bunda pun datang dan memberikan sarung
bekas almarhun suaminya namun walaupun bekas masih tetap layak pake kok.
Dafa pun pergi kemusholah yang berada disebelah kamar keisya, Dia terkagum kagum melihat musholah ini
walaupun ukuran nya tidak luas namun sangat nyaman
__ADS_1
dan membuat dafa betah berlama lama disinii
Dia pun mulai menunaikan kewajiban nya sebagai muslim
Diseberang keisya pun sama melakukan kewajiban nya sebagai muslimah.
Dilain tempat bunda sedang memasak untuk makan bersama keisya dan dafa
dia memasak makanan kesukaan putri kesayangan nya
yaitu Ayam kecap, Tumis kangkung dan tak lupa sambel dan lalapan timun sederhana namun itulah makanan kesukaan keisyaa, Bagii keisya mau apapun masakan bundanya tetap lah juaraa
Aku pun telah selesai melakukan kewajiban ku
dan aku bergegas untuk kedapur karna aku tau
bunda pasti sedang memasak, Aroma dan suara nya bisa sampai kekamar ku
aku langsung membantu bunda memasak
Setelah beberapa menit, Seluruh hidangan telah tersaji dimeja makan dan tinggal disantap saja
tak lupa buah buahan pun ikut serta
" Sayang, panggil dafa gihh, Kita makan bareng." Suruh bunda yang sedang menata piring dimeja
" Iyaa bundaa, Dimusholah bukan dafa nyaa??" Tanya ku
Bunda mengangguk sembari tersenyum
dan langsung aku menuju musholah
dan ternyata dafa baru selesai shalat dan hendak keluar daru musholah.
__ADS_1
Seketika aku termenung melihat penampilan dafa
yang memukai, Dengan memakai koko dan sarung yang tak asing bagi diriku, Dalam sekejam tak terasa air mata ku melelehh..