
"Klik" Suara jendela yang terbuka.
Di Pagi ini saya memulai aktifitas seperti biasanya di hari yang juga seperti biasanya.
Dan beginilah aktivitas harian saya, pemuda tampan yang bernama lengkap Rudi Wijaya Kusuma, dan saat ini saya berumur 23 tahun.
Setiap harinya saya selalu melakukan latihan fisik selama 2 jam, dan itu biasanya dimulai dari pukul 05:00 - 07:00 pagi.
Tapi tergantung keadaan, kadang waktu mulai dan durasinya tidaklah menentu.
Yah, itu disesuaikan dengan kemauan dan kondisi saya pastinya, ehem.
Model latihannya standar-standar saja, seperti Push up, Shit up, Squat jump, Full up, latihan gerakan bela diri, dan lari sprint sejauh 1 km.
Dan kenapa saya lari nya malah sprint?
Karena menurut pengetahuan saya, memaksa berlari sprint dapat meningkatkan kinerja jantung, memperluas pembuluh darah, serta dapat menguatkan otot-otot agar bisa beroperasi jauh di atas rata-rata orang umum! Karena menurut standard saya, saya haruslah memiliki kekuatan, kecepatan, dan stamina seperti seorang pendekar di Film-Film Fantasi!
Yah, meski karena pemikiran yang seperti ini saya harus merasakan kebosanan parah dengan pola kehidupan umum orang-orang di zaman sekarang.
Karena saat ini tidak ada Monster atau Mahluk Buas yang menyerang manusia!
Tidak ada Penjahat Super yang harusnya menghancurkan Kota-Kota!
Dimana pada saat ini saya hidup di zaman yang damai tanpa adanya perang.
Hemmmmmmmmmm.
Kadang saya berharap kepada Tuhan, tolong datangkan lah bencana alam agar situasi biasa-biasa ini menjadi lebih menegangkan!
Uhum.
Yah, meski tidak serius juga sih mintanya.
Lanjut...
Setelah selesai melakukan latihan, saya mulai bersiap-siap untuk membuat sarapan.
Maklumlah saya masih belum memiliki pasangan sekarang.
Hemmmmmmmm...
Bukannya saya tidak bisa cari pasangan, yah?
Tapi lebih ke sayanya tidak mau menempatkan hati saya untuk percaya kepada yang namanya wanita!
Karena menurut saya wanita itu adalah mahluk yang dinamis dalam artian jelek.
Ehem. Ini murni karena pola pikir saya, bukan karena trauma atau apalah itu, ok?
Saya berusaha memberi pembenaran untuk diri saya sendiri.
Lalu setelah selesai memasak, saya sedikit merapikan rumah. Yah, itu hanyalah sedikit saja. Uhum.
Sangat-sangat sedikit!
".... Bruk ... Bruk ... Wuisshhhh." Ilustrasi suara bersih-bersih versi simple.
Setelah melihat jam yang sudah menunjukan pukul 08:00, saya pun bergegas untuk mandi dan bersiap untuk berangkat kekantor seperti biasanya.
Yah, saat ini saya bekerja di sebuah perusahaan besar yang berspesialisasi dibidang pertambangan.
"Padahal faktanya cuma anak cabang dari sebuah perusahaan besar. Maklumlah saat saat ini saya tinggal di kota yang agak kecil. Yah, kita sebut aja itu kota B." Barusan adalah isi pikiran saya sendiri yang sering kali menghina diri saya sendiri.
Lanjut...
__ADS_1
Saya biasa berangkat ke kantor dengan mengendarai mobil jenis SUV double cabin 4x4. Mobil ini memang sangat cocok dengan pekerjaan saya yang lebih sering berada dilapangan tersebut.
Hemmmm. Aslinya ini cuma mobil oprasional kantor, jadi intinya saya tidak bisa request mobil jenis apa yang saya inginkan.
"Bummmm.... tin ... tin ..."
Saya memacu mobil ini dijalanan yang padat seperti biasanya, dan setelah berkendara selama kurang lebih 20 menit, akhirnya saya tiba dikantor tempat dimana saya bekerja.
Setibanya di kantor, saya pun melakukan hal biasa yang juga sering dilakukan oleh orang-orang pada umumnya.
Yah, saling menyapa rekan kerja, maksudnya.
"Ehm, halo pagi Din?" Sapa saya kepada rekan wanita saya.
"Yah, pagi juga Pak Rudy? Ehm. Anda bersemangat seperti biasanya, ya?" Jawab Dina seorang Karyawati berumur 25 tahun dengan parasnya yang manis dan agak keibuan itu.
Hhhmmmmm, pokoknya si Dina ini termasuk kedalam tipe wanita saya. Artis dan Model sekalipun harus mengakui bahwa Dina adalah sosok yang perfect, dengan tinggi sekitar 170 cm, badan style'is, kulit putih bersih, pokoknya okelah. Karna jujur saja standar wanita saya lumayan tinggi!
Tapi sayangnya si Dina itu sudah menikah, dan saya pun termasuk pria yang berpikiran idealis. Ehem.
Tapi sekedar membayangkan sedikit itu wajar. Asalkan pemikiran itu tidak ditindak lanjuti sampai menjadi sebuah aksi, saya rasa itu tidaklah masalah.
Saya jamin pemikiran ini adalah kebenaran! Ehem.
Yah, itu menurut standar sikap dan prilaku patut yang selalu saya pegang teguh.
"Oh iya, Bos tadi mencari Kamu, Rud. Dia bilang kalo kamu sudah datang, Kamu disuruh menghadap Beliau ke ruangannya." Lanjut Dina.
"Oh . . . Oke Din terima kasih. Ehm, ya kayaknya Bos mau naikin gaji kita nih, hehehhe." Jawab saya sambil tertawa dan berjalan menuju ke ruangan Bos.
" tuk' tuk' tuk' tuk' tuk' "
Saya berjalan dikoridor kantor.
"Tok tok tok"
"Permisi pak, ini saya Rudy siap untuk menghadap?" Saya mengetuk pintu dan meminta izin masuk.
"Silahkan masuk saja" Jawab seorang pria paruh baya dari dalam ruangan. Suaranya yang agak berat itu lebih cocok dengan karakter bandit, pikir saya!
Lalu saya memasuki ruangan Beliau.
Disana Bos saya duduk di kursinya yang mewah layaknya seorang Raja Tua yang berkuasa. Tubuhnya besar dan kekar, tangannya berotot seperti binaraga, wajahnya yang persegi terlihat tegas dan garang, lalu kalungnya yang besar itu terlihat mirip dengan jimat dari seorang Dukun.
Yah, Dukun itu adalah kata lain dari Paranormal atau Cenayang kalau menurut bahasa yang ada di Novel kebanyakan.
Lanjut...
"Oke Rudy, silahkan duduk?" Bos saya mempersilahkan saya untuk duduk.
"Iya Pak" Saya menjawab sambil duduk dikursi yang berada didepannya, tapi sebenarnya itu agak sedikit condong kebagian kiri meja Beliau, Uhum.
"Ok, jadi Saya langsung saja ke intinya, karna Saya sudah lama mengenal Kamu dan Keluargamu, jadi basa-basinya tidaklah diperlukan, ok?"
"Siap Bos, hehehe" Saya menjawab sambil terkekeh. Kemudian Bos saya melanjutkan perkataannya.
"Sebenarnya ditambang yang baru-baru ini kita gali Para pekerja telah menemukan sebuah reruntuhan. Itu sepertinya adalah sebuah situs prasejarah. Para ahli dan Arkeolog dari perusahaan pusat juga sudah datang untuk memeriksa reruntuhan itu, tapi sampai sekarang mereka belum bisa memastikan apa dan untuk apa Situs Reruntuhan tersebut?"
Arkeolognya sih asli. Tapi yang dimaksud dengan para ahli tadi itu sebenarnya adalah Paranormal atau Dukun. Yah, Bos saya termasuk orang yang sedikit kuno.
"Ok Bos, Saya paham maksudnya" Saya pun menjawab sambil tersenyum ringan untuk menutupi gejolak dihati dan pikiran saya.
"Hhmmmmmmm, yaaaaaahhhh ini dia bau-bau dari petualangan saya yang akan segera dimulai!" Saya berkata liar didalam pikiran.
"Ok, Saya tahu kalau Kamu memang terus mempelajari tentang situs-situs bersejarah dan peradaban lain yang menyimpang dari logika kebanyakan orang, jadi Saya mau Kamu turun kelokasi dan membantu tim untuk memeriksa situs Reruntuhan tersebut. Dan tenang saja, Hal ini akan dirahasiakan. Saya tahu kamu pastinya tidak mau dipanggil Dukun atau Paranormal oleh rekan kerja yang lain, kan? Hehehe." Bos berkata sambil menunjukan senyum jahatnya yang sangat saya sukai itu.
__ADS_1
"Oke, siap Bos. Jujur ini sebenarnya adalah basic utama dari keahlian Saya, hehehe."
Kami berdua tertawa kecil dengan senyuman jahat masing-masing.
Sekarang kami berdua terlihat seperti penjahat yang sedang merencanakan sebuah penculikan.
"Akhirnya semua hal yang telah saya pelajari selama ini akan benar-benar bisa diaplikasikan.
Yah, saya benar-benar berharap dengan yang kali ini" Saya berkata didalam pikiran saya.
Lalu kami berdua melanjutkan pembahasan tentang persiapan keberangkatan kami dan bla bla bla bla...
Setelah selesai, saya langsung meninggalkan ruangan Bos dan kembali melanjutkan kegiatan kantoran saya seperti biasanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Akhirnya jam kerja telah berakhir.
Dan seperti biasa, saya mulai bersiap untuk pulang kerumah.
Setelah selesai merapikan meja kerja, saya keluar dari kantor melalui pintu depan seperti pekerja profesional pada umumnya.
Lalu?
"Tuk... Tuk... Tuk..."
Ternyata itu hanyalah suara langkah kaki saya sendiri.
Yah, Itu terdengar jelas karna memang situasi kantor pada sore hari sudah agak sunyi.
Lalu lagi?
"Pak Rudy? Pak Rudy?"
Saya pun menoleh karna kali ini saya mendengar sebuah suara wanita yang memanggil.
"Oh kamu Din. Ada apa?" Tanya saya kepada wanita itu yang ternyata adalah Dina.
Yah, sebenarnya saya memang agak akrab dengan Dina.
Itu Karna dia adalah tetangga saya dari kecil. Kita sudah kenal lama lah, pokoknya.
"Eh, Udahan lah pake pak-pak segala kayak akunya udah tua aja? Fufufufufufufu, lagian udah bukan jam kantor lagi nih, Din. Tidak perlu formalitas lagi, ok?" Sambung saya berusaha untuk protes.
Padahal itu hanya karna saya iseng. Lagian tidak perlu di ingatkan juga kalau diluar jam kantor si Dina pasti bakal balik ke perilaku biasanya. Saya bergumam lagi didalam pikiran.
"Hehe, udah kebiasaan Pak Rudy. Ups, Maaf keceplosan lagi. Ya, aku mau numpang pulang bareng nih, soalnya suami aku lagi gak bisa jemput. Sekalian makan juga ya? Kan udah lama kita gak makan bareng, Rud?" Jawab Dina sambil mengeluarkan senyum menggoda pamungkasnya.
Lalu saya pun membalas celotehan Dina itu.
"Ugh . . . please Din. Jangan pasang muka menggoda seperti itu! Ehm, Kamu tau kan Aku ini juga cowok normal, loh? Udah dari dulu juga kan Kamu tahu prinsip Aku?"
Yah, Meski rumput tetangga itu lebih hijau, itu tetaplah rumputnya tetangga, dan saya bukanlah seekor kambing yang akan sembarangan memakan rumputnya tetangga!
Saya berusaha membuat pembenaran didalam pikiran saya, bahwa semua dasar pemikiran yang saya percayai sampai detik ini adalah sebuah kebenaran!
"Ah . . . Kamu nya aja yang lebay kali, Rud? Cuma pulang bareng dan pergi makan aja kok sampai heboh gitu? Pikiran Kamu tuh yang kejauhan? Xixixixixixi" Dina pun membalas bersih perkataan saya hingga saya tidak bisa membalasnya.
"Ehm, oke oke. Lagian memang ada hal yang agak penting yang mau Aku bahas dengan Kamu, Din? Emh mungkin lusa Aku dapat tugas keluar kota dan kayaknya juga bakalan lama. Karna itu besok Aku mau pulang kerumah Orang Tua Aku. Yah, karna ada hal penting yang perlu Aku siapin." Saya pun lanjut menjelaskan kepada Dina sekalian mengganti topik pembicaraan.
Yah, itu karna saya sedikit gerogi akibat godaan Dina yang sebelumnya.
"Oh, kalo gitu kita langsung jalan aja, Rud" Dina pun menarik tangan saya, lalu kami berdua bergegas untuk pulang bersama.
Bersambung...
__ADS_1