Tempat Tertinggi

Tempat Tertinggi
Ch 4 : Surga Dan Mantra Sihir Yang Apalah-Apalah.


__ADS_3

Rudy dan Inara saat ini sedang berada diruangan yang agak lusuh dan lumayan sempit. Bisa dikatakan ruangan ini lebih mirip gudang yang ada dirumahnya Rudy.


Mereka sekarang sedang duduk di kursi kayu dengan sebuah meja terbuat dari batu yang ada ditengah-tengah mereka.


Didalam ruangan yang seperti gudang ini, Rudy dan Inara bersama dengan Kepala Suku dan 2 Penjaga Desa sebelumnya akan segera memulai pembicaraan serius mereka.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Balik ke cerita sebelumnya.


Rudy dan Inara yang disambut dengan penuh kehormatan oleh para penduduk desa ini dibawa kesebuah rumah batu yang tampaknya adalah rumah dari kepala suku tersebut.


Setelah sampai, para penduduk desa pun membungkuk dan memberi salam kemudian mereka segera membubarkan diri. Sedangkan Rudy dan Inara dibimbing oleh Kepala Suku untuk memasuki rumah batu yang sudah agak tua itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ok, lanjut kecerita utama.


Saat ini matahari sudah tenggelam sehingga didalam ruangan itu menjadi sedikit gelap.


Kepala Suku pun meminta salah satu Penjaga untuk mengambil benda yang sepertinya adalah Lampu Teplok tersebut.


Setelah benda itu diletakan keatas meja batu, Kepala Suku pun mengangkat tangan kanannya kearah depan dengan jari telunjuknya yang dijulurkan, lalu dia mulai menggumamkan sesuatu.


"Aduh seuneu hérang ngagenclang nurut kana paréntah kuring, Fire..."(Kepala Suku)


Api kecil pun muncul dari ujung jari telunjuk Kepala Suku?


Kemudian?


Kepala Suku menerbangkan api kecil itu ke arah benda yang saat ini ada diatas meja, dan benda itu pun menyala menerangi seisi ruangan tersebut.


Maka sekarang sudah jelas, benda diatas meja itu adalah benar sebuah Lampu Teplok, ehem.


Lampu Teplok yang menyala itu juga menerangi wajah bengong dari Rudy saat ini.


Lalu.


"Woooooohhh, apakah ini yang namanya sihir? Rud, Rud, lihat? Ini adalah sihir, loh?"(Inara)


"Ehm, ya itu Lampu Teplok"(Rudy)


".......................? Hey, Rudy? lihat, lihat ini?"(Inara)


Inara sangat kagum ketika melihat keajaiban yang telah dilakukan oleh Kepala Suku itu, dia menarik lengan Rudy dan berbicara padanya seolah-olah ia ingin menunjukan kepada Rudy apa yang sedang terjadi saat ini.


Tapi Rudy memberikan jawaban berbeda. Dia tidak terlalu fokus dengan pernyataan Inara.


Rudy saat ini tengah larut didalam pikirannya.


"Oy, oy, apa itu tadi mantra? kenapa rasanya saya pernah mendengar hal yang serupa seperti ini? Hemmmmmm . . . Arghhhhh, saya benar-benar lupa"(Isi Pikiran Rudy)


Dibandingkan dengan sihir dan lampu teplok, Rudy lebih terkejut dengan apa yang telah digumamkan oleh Kepala Suku. Gumaman itu kemungkinan adalah mantra untuk mengaktifkan sihir tersebut.


Tapi masalahnya ada pada bahasa dari mantra itu sendiri?


Hal itulah yang membuat Rudy merasa agak dilema sekarang.


"Oh. Apakah nona Inara belum pernah melihat sihir?"(Kepala Suku)


Melihat Inara yang tampak gembira dan penuh rasa penasaran, Kepala Suku pun bertanya kepada Inara.


"Yah, ditempat Saya, Saya tidak pernah melihat hal yang seperti ini"(Inara)


"Mungkin di Surga yang aman itu dipenuhi dengan berbagai kemudahan, jadi hal seperti ini tidak lah diperlukan lagi. Emm, tampaknya ada hal yang mengganggu pikiran dari Tuan Rudy?"(Kepala Suku)


Karna melihat Rudy yang sedang melamun, Kepala Suku itu pun menanyakan hal tersebut kepada Rudy.

__ADS_1


"Oh, tidak apa-apa. Saya hanya sedikit memikirkan sesuatu saja. Ehem. Yah, sepertinya kalian semua selalu menyebut kami berdua adalah Utusan Surga, bisakah Anda menjelaskan hal itu kepada Saya?"(Rudy)


Mendengar perkataan dari Kepala Suku, Rudy pun menanggapi dan balik menanyakan hal lain yang ia rasa lebih penting saat ini.


Rudy mengabaikan Inara yang sepertinya masih memandangi lampu teplok itu dengan penuh kekaguman dimatanya.


Lalu Rudy memulai pembicaraan dengan Kepala Suku. Saat ini dia mengesampingkan dulu perihal mantra sihir aneh yang sangat mengganggunya itu.


Kepala Suku pun mulai menjelaskan perihal surga yang Rudy tanyakan.


"Oh . . . ternyata itu yang mengganggu pikiran Tuan Rudy, ya? Hemmmm. Ya, sudah sejak zaman dahulu orang-orang disini menyebut tanah diseberang Pegunungan Es itu adalah Surga, menurut catatan kuno dan cerita-cerita yang telah diwariskan di suku saya sejak puluhan ribu tahun yang lalu, wilayah dibalik Pegunungan Es tersebut adalah tempat yang kaya dan damai, tidak ada yang perlu khawatir oleh serangan dari ManaBeast dan juga Demon disana. Yah, seperti itulah kira-kira apa yang kami ketahui hingga saat ini. Dan tempat ini dulunya adalah sebuah kota besar yang dijadikan sebagai tempat persinggahan oleh bangsa Manusia dan Peri sebelum mereka berpindah ke wilayah Surga. Tapi sekarang seperti yang sudah Anda lihat, begitulah kondisi tempat ini. Hemmmmmm."(Kepala Suku)


Dengan nada agak sedih, Kepala Suku pun menjelaskan perihal area pusat dunia yang disebut Surga oleh orang dari sisi lain dunia ini. Dia juga perihal tentang tempat apa ini sebenarnya.


Rudy bisa mengerti kenapa orang-orang disini beranggapan demikian. Dia akhirnya tahu bahwa tempat ini dulunya adalah sebuah kota besar yang digunakan untuk persinggahan.


Wajar saja jika sebelumnya ia melihat banyak bekas reruntuhan bangunan besar disekitar area ini. Jadi begitulah fakta sebenarnya dari tempat ini.


Lalu Rudy mengajukan pertanyaan lainnya.


"Ok, terus kenapa kalian semua memanggil kami berdua sebagai Utusan Surga? Saya merasa kalian telah salah paham akan sesuatu?"(Rudy)


"Tidak mungkin kami akan salah mengira? Sebelum Tuan dan Nona datang sore ini, Sosok Dewa telah datang terlebih dahulu ketempat ini. itu selalu ditandai dengan berdentangnya Lonceng Besar yang ada di Altar Persembahan kami. Hal seperti ini juga selalu terjadi pada masa lalu. Itu sesuai dengan apa yang telah dituliskan pada catatan kuno yang ada disuku kami, jadi kami yakin tidak akan salah!"(Kepala Suku)


Kepala Suku pun menjawab dengan penuh kesungguhan karna pernyataan Rudy yang sepertinya meragukan penilaian mereka.


"Maaf maaf, Saya tidak bermaksud demikian? Jadi itulah sebab kalian berlaku demikian. Hemmmmmm . . . Oke, Saya bisa mengerti garis besarnya. Ya, Saya memang telah diberikan tugas oleh Dewa Ildraiz sebelum datang kesini. Saya kira Anda juga sudah tahu detailnya, kan?"(Rudy)


"Yaa, Tuan. Sejak 5000 tahun yang lalu suku kami memang diberikan tugas lain untuk membantu para Utusan Dari Surga yang datang ketempat ini"(Kepala Suku)


"Yah, Saya paham. Dan tolong Anda jelaskan juga kepada Saya tentang sihir dan mantra tadi. Ehem. Tapi besok saja juga tidak apa-apa, tidak perlu terburu-buru"(Rudy)


"Ya, Tuan. Tuan Rudy dan Nona Inara pasti lelah sekarang, silahkan Tuan dan Nona beristirahat terlebih dahulu dirumah ini, dan nanti akan ada juga pelayan untuk melayani Tuan dan Nona selama andan berada disini. Besok pagi kita akan melanjutkan pembicaraannya. kalau begitu Kami bertiga akan undur diri dulu sekarang"(Kepala Suku)


"Ok, terima kasih"(Rudy)


Ruangan ini ternyata adalah apa yang mereka sebut dengan ruang tamu.


Malam pun berlanjut.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Rudy dan Inara saat ini sudah berada didalam kamar.


Inara masih sangat penasaran dengan sihir. Dia terus saja mengganggu Rudy dengan pertanyaan-pertanyaan tentang sihir tadi. Dia tidak sabar untuk menunggu besok pagi karna ingin segera mendengar penjelasan lebih lanjut tentang sihir dan mantra dari Kepala Suku tersebut.


Rudy yang sedang memikirkan banyak hal pun merasa terganggu dengan rengekan Inara saat ini.


"Inara . . . ? Ini sudah malam, loh? Tunggulah besok pagi. Kakek Tua itu tidak akan kabur juga, kan?"(Rudy)


Rudy pun menegur Inara, berusaha untuk menghentikan rengekannya.


"Uhhh . . . maaf? Saya terlalu bersemangat. Emmmm, Kamu sepertinya sedang memikirkan sesuatu, ya?"(Inara)


Lalu Inara berhenti merengek, dia menyadari bahwa Rudy saat ini sedang memikirkan hal lain yang lebih penting.


Pembicaraan mereka berdua berlanjut.


"Yaa, Saya memikirkan banyak hal? Hemmmmmm?"(Rudy)


"Apa itu karena kondisi penduduk disini?"(Inara)


"Urghh, yah, itu juga salah satunya. Hemmmm. Kamu juga sudah melihat sendiri kan?"(Rudy)


"Ya, bagaimana anak-anak itu bisa tumbuh dengan baik ditempat seperti ini? Huuuuuuu, tidak bisakah Kamu membantu mereka, Rud?"(Inara)


"Hemmmmmm?"(Rudy)

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Inara itu, Rudy hanya menghela nafasnya.


Mereka berdua diam dalam lamunannya masing-masing saat ini.


Wajar saja jika mereka berdua merasa sedih setelah melihat keadaan memperihatinkan dari kehidupan penduduk didesa ini.


Para penduduk desa terlihat kurus dan lemah?


Rumah-rumah mereka juga hanya berupa reruntuhan yang sama sekali tidak layak untuk di huni! Mungkin rumah bobrok dimana Rudy dan Inara tinggali saat ini, adalah hunian terbaik yang bisa mereka sediakan diarea ini.


Belum lagi tentang makanan, pakaian, dan bayak hal menyedihkan lainnya dari kehidupan para penduduk desa ini.


Lanjut...


"Rud? . . . Rud? . . . hey?"(Inara)


Melihat Rudy yang masih melamun dan belum menjawab pertanyaannya, Inara pun kembali merengek, tapi sambil menarik lengan baju Rudy sekarang.


"Ehem, apa lagi?"(Rudy)


"Huuuu, Kamu tidak memperhatikan ya?"(Inara)


"Uhum, maaf, hehehehe"(Rudy)


"Huuuuuuufft"(Inara)


Karna sepertinya Rudy tidak menanggapinya, Inara menunjukan wajah cemberut imutnya saat ini.


Rudy terkesima melihat Inara yang sedang cemberut itu?


Akhirnya Rudy sadar bahwa rekan perempuanya saat ini adalah wanita yang sangatlah membuat dia terpesona.


Rudy ingat kembali saat pertama dia melihat Inara malam itu. Lalu Rudy dengan segera menjawab pertanyaan Inara yang saat ini masih memasang wajah cemberut super imut miliknya itu.


"Oh Tuan Putri Dari Surga . . . Hamba akan berusaha sekuat tenaga mencari cara untuk menolong para penduduk yang sedang kesusahan ini. Jadi, Tuan Putri tenang saja dan silahkan yang mulia istirahat dengan nyaman malam ini. Fufufufufufufufufu"(Rudy)


"Ruuuuuuuuudddyyyyyy . . . ?"(Inara)


"Fufufufufufufuufu . . . fufufufufufufu"(Rudy)


"Huuuffffftttt, terserah Kamu saja hemmmm. Oke, selamat malam."(Inara)


Inara naik ketempat tidur sambil menyembunyikan senyumannya saat ini, yah, dia merasa sangat senang.


Inara percaya bahwa semua pernyataan yang Rudy buat pasti akan menjadi kenyataan.


Dia percaya Rudy akan membantu kehidupan penduduk disini menjadi lebih baik.


Lalu?


Melihat Inara yang sudah naik ketempat tidur, Rudy baru ingat bahwa dikamar ini hanya ada satu buah tempat tidur saja.


Kemudian Rudy memandangi Inara yang sudah tidur dengan posisi memiringkan badan dan membelakanginya saat ini. Selimut berwarna putih yang cantik telah membalut tubuh mungilnya itu.


Yah, Rudy sedang menikmati moment bahagia versinya saat ini sedikit lebih lama lagi.


Malam pun terus berlanjut, tapi Rudy tidak tidur sekarang.


Dia masih bermeditasi untuk menyerap mana yang berlimpah disini, dia berniat memperbesar kapasitas dari Mana nya segera agar dia juga bisa memperbesar kapasitas Kekuatan Psikisnya.


Rudy juga mulai terbiasa dengan perbedaan tekanan udara disisi lain dunia ini, saat ini dia sudah bisa bergerak normal tanpa merasakan tekanan lagi, karna energi mana dan psikis yang dia miliki juga terus mengalami peningkatan semenjak dia datang kesini.


Dan malam indah ini berakhir begitu saja dengan Inara yang tertidur pulas ditempat tidurnya, sedangkan Rudy terus bermeditasi dilantai kamar sampai mentari pagi tiba.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2