
"Wuuuuiiiiissssshhhhh"
Hembusan angin super kuat dengan suhu sangat dingin menghalangi penerbangan Rudy dan Inara saat ini.
Yah, yang telah menunggu mereka di atas area Pegunungan Es Super Tinggi tersebut merupakan badai energi Mana dengan atribut ber-element Es yang sangatlah dingin!
Jadi wajar saja jika tidak ada satu pun mahluk hidup yang mampu menembus tembok penghalang selama ini. Karna badai es ini bahkan mampu membekukan energi dari Mana itu sendiri.
Untung saja Rudy telah mempelajari tentang energi psikis dan dia juga memiliki kapasitas energi yang sangatlah besar, sehingga dia mampu menahan dampak dari salah satu bentuk lain perubahan Mana tersebut.
(nanti akan kita jelaskan tentang atribut-atribut element, yang merupakan perubahan bentuk dari mana diepisode selanjutnya)
"Oh, ini gila! Pantas saja semua yang terpilih diantar oleh Dewa secara langsung. jika saja saya tahu akan seperti ini jadinya? Arghhhh, sial!"(isi pikran Rudy)
"Inara?______Inara? Kamu tidak tertidur kan? hey jawab Saya Inara? hey?"(Rudy)
Rudy berteriak memanggil-manggil Inara yang saat ini sedang Rudy gendong dipunggungnya, tapi Inara tetap tidak merespon panggilan Rudy.
"Jangan bilang kalo Kamu tertidur? Inara? hey? Tolong jangan bercanda disaat seperti ini?____ Inara?"(Rudy)
Rudy terus memanggil Inara yang sedang berada dipunggungnya, tapi sepertinya Inara sudah tertidur karna suhu dingin ini.
Rudy yang panik pun mengerahkan semua energi psikis yang dia miliki untuk mempercepat kecepatan terbangnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Flashback ke sehari sebelumnya.
Rudy dan Inara yang telah menyelesaikan latihan dan penyerapan dari mancube berniat untuk menyebrang ke Sisi Lain Dunia pada siang hari ini.
Dan sekarang mereka sedang berbincang santai sambil makan siang, karna memang semua perlengkapan untuk keberangkatan mereka sudah selesai dipersiapkan sejak pagi tadi.
"Jadi berapa ManaCube yang berhasil Kamu serap dalam satu minggu ini?"(Rudy)
"Hemmmm. Itu sekitar 200, Saya tidak mampu menyerap lebih dari itu? 100 saya gunakan untuk memperkuat energi Psikis Saya, dan 100 lagi untuk energi Mana/Spiritual Saya. Emmm, kenapa Kamu menanyakan hal itu?"(Inara)
"Fufufufu. Tidak ada apa-apa. Saya kira Kamu itu jenius? Hemmmmm, Saya hanya terlalu memikirkannya ternyata? Fufufufuufufufu"(Rudy)
"Urgh . . . Dasar sombong! Huuuuuuu, memangnya berapa banyak yang berhasil Kamu serap?"(Inara)
Mendengar penghinaan dari Rudy, Inara pun sedikit cemberut dan balik bertanya berniat membandingkan antara Dia dan Rudy.
"Hemmmm, Ra-Ha-Si-A ckckckckkckck"(Rudy)
Rudy tidak memberi tahu Inara bahwa dia sebenarnya telah menyerap total 7000 ManaCube selama satu minggu ini.
3000 manacube dia gunakan untuk memperkuat energi Mana/Spiritualnya, dan 4000 untuk enegi Psikisnya.
Jadi jika ditambahkan dengan manacube yang telah dia serap sebelumnya, total kekuatan untuk energi Psikis Rudy saat ini adalah 6800 ManaCube.
Jika ManaCube itu tidak digunakan sebagai dinding penghalang untuk menutup jalan antara kedua sisi terowongan, maka Rudy akan menghisap ke 10.000 manacube yang berada disisi lainnya dari terowongan tersebut!
Selama ini Rudy berfikir bahwa Inara juga memiliki kapasitas otak yang sebanding dengan dia.
Yah, karna sudah beberapa kali inara berhasil menggagalkan skema-skema jenius yang Rudy siapkan untuk mengerjai dia.
Tapi ternyata Rudy hanya berpikir terlalu jauh karna kejadian akhir-akhir ini.
Padahal, alasan Inara mampu mengetahui skema-skema dari Rudy bukanlah disebabkan oleh kejeniusannya, tapi karena otak super milik Rudy memang tidak di fokuskan untuk bidang-bidang sekelas interaksi sosial yang sepele itu.
Lanjut...
Setelah selesai makan siang, mereka berdua berjalan seperti biasa tanpa bergandengan tangan.
__ADS_1
Saat ini Rudy masih tetap dengan trend tas ransel depan belakangnya itu.
Detail lainnya tidak perlu untuk dijelaskan, karna itu hanya buang-buang waktu.
Sedangkan untuk Inara, ehem? Dia menggunakan mantel bulu berwarna biru yang terlihat sangat cocok dengan keimutannya, lalu dia mengenakan celana panjang berbahan parasut tebal berwarna merah, dan sepasang sepatu boath hitam yang memang dibuat khusus untuk kegiatan mendaki.
Kemudian mereka berdua terus berjalan di jalanan yang berada dekat dengan penginapan yang telah mereka tinggali selama seminggu ini.
"Puk puk puk puk puk puk"
Suara langkah kaki mereka berdua yang bergerak terdengar dengan ritme teratur, terarah dan terkendali, ehem.
Mereka saat ini berniat menuju ke taman tempat biasa mereka selalu lepas landas setiap harinya.
Dan selang beberapa saat kemudian mereka telah tiba diarea pertamanan tersebut. Mereka pun melihat sekeliling untuk mengecek apakah ada orang lain yang sedang berada disekitar mereka saat ini.
Setelah telah memastikan bahwa tidak ada orang lain lagi, mereka berdua pun lepas landas dengan tidak saling bergandengan tangan?
Lalu?
"Ma? Itu kakak-kakak yang sering terbang bergandengan tangan setiap hari"(Anak Tanpa Nama)
"Oh iya Nak. Tapi kali ini mereka tidak bergandengan tangan? Hemmmm, mungkinkah mereka berdua sudah bercerai?"(Ibu Tanpa Nama)
"Kami berdua bahkan belum pacaran?"(Rudy dan Inara)
Rudy dan Inara berteriak bersamaan.
Ternyata dibalik pohon besar yang berada ditengah taman yang cukup rimbun itu, tampaklah sebuah tenda kecil usang berwarna hijau dengan banyak lubang disana-sininya.
Tenda bolong itu adalah tempat tinggal dari sepasang Ibu dan Anak tanpa nama. Mereka telah ditelantarkan oleh pria yang dulunya merupakan Suami dari Ibu tanpa nama tersebut, dan sekaligus juga Pria itu beraeti Ayah dari Anak tanpa nama dari Ibu tanpa nama ini.
Yah, sosok Ibu dari Anak tanpa nama itu telah diceraikan oleh suaminya, lalu mereka ditelantarkan begitu saja!
Sekarang Ibu tanpa nama itu hanya fokus berjuang untuk kelangsungan hidup anaknya yang masihlah kecil dan polos tersebut.
Yah, biasanya memang Ibu dan Anak tanpa nama itu hanya akan melihat Rudy dan Inara yang terbang setiap pagi dari lubang yang ada ditenda mereka.
Ibu dan Anak tanpa nama itu tidak pernah berkomentar sedikit pun meski mereka telah melihat hal aneh seperti ini setiap paginya. Malah yang mereka pedulikan adalah tentang Rudy dan Inara yang selalu terbang sambil bergandengan tangan itu.
Mungkin mereka berdua sudah lelah dan tidak lagi peduli tentang semua hal menakjubkan didunia ini.
Dan setelah melihat Ibu dan Anak tanpa nama itu, Rudy mengambil sebuah bungkusan plastik yang cukup besar dari tas ranselnya. Lalu dia menggunakan kekuatan psikisnya dan menerbangkan bungkusan tersebut ke tempat Ibu dan Anak tanpa nama itu berada sekarang.
Saat ini Ibu dan Anak tanpa nama itu berdiri didepan tenda mereka sambil bergandengan tangan melihat kearah Rudy dan Inara yang masih mengambang di udara.
Melihat bungkusan plastik yang melayang tepat didepannya, Ibu dari anak tanpa nama itu pun meraih bungkusan plastik tersebut.
Kemudian Ibu dari anak tanpa nama itu mendengar suara yang langsung masuk kedalam pikirannya?
Lalu dia langsung menangis dan memeluk anaknya yang saat ini hanya diam karna tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Setelah mentransmisikan perkataannya, sambil tersenyum Rudy memegang tangan Inara dan kembali melesat meninggalkan ibu dan anak tanpa nama tersebut.
Melihat sosok Rudy dan Inara pergi, Anak tanpa nama itu pun bertanya kembali kepada Ibunya.
"Ma? Ma? kenapa Mama menangis? Kakak-kakak itu tidak bercerai kan? Lihat itu mereka sudah bergandengan tangan lagi sekarang?"(Anak tanpa nama)
"Iya Nak, mereka tidak akan bercerai? hiks . . . hiks . . . Tidak apa-apa, Mama cuma bahagia saja saat ini. karna mulai sekarang kita bisa tinggal ditempat yang lebih baik. Hiks hiks hiks. Kita juga tidak akan kelaparan lagi Nak. Hiks hiks hiks hiks"(Ibu tanpa nama)
Dan begitulah akhirnya, Ibu dan Anak tanpa nama itu pun memulai hidup baru yang bahagia.
Lanjut...
__ADS_1
Rudy yang masih memegang tangan Inara, terbang dengan kecepatan tinggi menuju ke area Pegunungan Es yang akan segera mereka sebrangi itu.
Setelah mereka mulai mendekati area pegunungan es tersebut, Rudy pun berkata pada Inara.
"Sebentar lagi kita akan menerobos masuk ke Area Beku di atas sana? Apakah Kamu sudah siap?"(Rudy)
"Yah"(Inara)
"Ok, dengan kecepatan terbang Saya saat ini, kita akan melewati area beku ini dalam waktu satu atau 2 jam saja. Karna menurut Dewa Ildraiz, area Pegunungan Es ini memiliki lebar sekitar seribu km saja, jadi Kamu tidak perlu khawatir, ok? Cukup Saya yang mengunakan kekuatan, simpan saja kekuatan Kamu untuk berjaga-jaga agar Kamu dapat melindungi diri jika terjadi sesuatu diluar perkiraan? Ok. Saya akan mulai?"(Rudy)
Setelah berbicara, Rudy pun menarik Inara yang telah mengangguk dan memeluknya kesamping dengan 1 tangan.
Lalu Rudy pun mulai melapisi diri mereka berdua dengan perisai energi Psikis, dan terbang melesat dengan kecepatan tertingginya menerobos Area Beku tersebut?
"Wuuuuiiiiiiiijssshhhhhhh"
Tapi baru terbang beberapa puluh kilometer saja, kecepatan mereka sudah melambat karna terhalang oleh badai es didalam Area ini.
Perjalanan yang dikira akan selesai dalam waktu 1 atau 2 jam itu pun berubah menjadi perjalanan berat yang mempertaruhkan nyawa.
Melihat situasi ini, Rudy pun meningkatkan kekuatan pada perisai energi Psikis yang melindungi mereka. Sekarang mereka hanya mampu terbang dengan kecepatan maksimal sekitar 50 km/jam saja.
Tak terasa mereka berdua telah terbang selama satu hari satu malam di dalam badai es ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Lanjut ke cerita utama.
Melihat Inara yang tidak juga merespon, Rudy pun terbang dengan cara gila bermaksud segera menerobos. Setelah berjuang sekuat tenaga akhirnya mereka berhasil keluar dari Area Pegunungan Es tersebut.
Saat ini Rudy masih menggendong Inara yang sedang tak sadarkan diri dipunggungnya?
Yah, tepatnya Inara di ikat dan menempel tepat diatas tas ransel yang ada dipunggungnya Rudy.
Hal detailnya sengaja tidak digambarkan, karena itu sedikit tidak cocok dengan kesan dramatis yang sedang berlangsung saat ini.
Lanjut...
Setelah berhasil keluar dari badai es sebelumnua, yang saat ini Rudy lihat adalah hamparan bukit padang pasir yang tak berujung!
Rudy yang khawatir dengan kondisi Inara tidak peduli lagi dengan situasi yang dilihatnya sekarang. Dia langsung saja melanjutkan penerbangannya dan menyusuri area dari Gurun Pasir ini untuk mencari tempat yang aman untuk merawat Inara.
Tapi entah mengapa Rudy tetap tidak bisa terbang secepat biasanya. Rudy merasakan seolah-olah tubuhnya saat ini telah ditekan oleh sesuatu. Tapi dia tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal itu sekarang.
Saat ini, dia harus segera mencari tempat berlindung sementara untuk merawat Inara.
Setelah terus terbang selama setengah hari, Rudy pun melihat sebuah pemukiman yang berada di tengah area hutan kecil.
Rudy pun segera turun ke area pinggiran agar mereka tidak terlihat oleh penduduk yang ada disini. Dia mencari pohon yang cukup rindang untuk mendirikan tenda mini yang telah mereka persiapkan sebelumnya, dan setelah tenda berdiri Rudy langsung membentangkan alas dan membaringkan Inara.
Rudy yang cemas melepaskan semua pakaian yang sedang Inara kenakan saat ini karna pakaian itu masih lembab disebabkan oleh badai es sebelumnya. Padahal sudah setengah hari mereka terbang melewati gurun yang panas ini, tapi pakaian mereka berdua masih belum juga kering.
Yah, itu menandakan betapa berbahayanya badai es yang mereka lewati sebelumnya!
Setelah Inara sudah tidak mengenakan apa-apa lagi, Rudy pun mengelap tubuh Inara yang basah dan agak dingin itu.
Saat ini Rudy sama sekali tidak peduli jika nanti Inara akan memarahinya karna hal ini!
Lalu setelah mengelap tubuh Inara sampai kering, Rudy pun membungkus Inara dengan 3 lapis selimut tebal, setelah menyelesaikan itu semua Rudy tetap berjaga disebelah Inara.
Rudy juga tidak lupa memasang perisai psikisnya mengelilingi seluruh area dengan lingkup 500 meter dari tenda tempat mereka berada.
Waktu berlalu dan matahari saat ini mulai terbenam sehingga hal itu menyebabkan ruang didalam tenda itu menkadi sedikit gelap.
__ADS_1
Tapi Rudy sengaja tidak menyalakan api atau cahaya apa pun agar mereka tidak menarik perhatian dari area yang ada disekitarnya.
Bersambung...