
Meninjau dari chapter sebelumnya.
Rudy yang telah selesai memeriksa file-file dari Bos nya, sekarang telah berjalan ke arah sofa didepan Tv lalu duduk di sana.
Dan saat ini Dina juga sedang duduk di sofa yang sama sambil menonton Serial Drama yang bahkan penulis pun tidak tahu apa judulnya itu.
Apakah malam ini kehidupan Rudy akan tetap membosankan seperti biasanya?
Atau akankah ada kejadian menyenangkan yang terjadi diantara mereka berdua malam ini?
Lanjut baca saja agar sobat pembaca tidak penasaran dan mulai berfantasi aneh hehehehe..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Saat ini saya telah duduk di samping Dina yang sedang menonton.
Yah, sebenarnya ada jarak kurang lebih satu meter diantara Kami berdua. Ehem.
Saya pun masih dengan pose cool bawaan lahir saya, menghisap rokok dengan perlahan dan pasti, sambil menikmati suasana layaknya pasangan harmonis ini.
"Ehhhhh. Asap rokok Kamu tuh Rud? Nyebar kemana-mana gangguin kenyamanan orang aja, ughhhhh"(Dina)
Gerutu Dina sambil menampilkan wajah cemberutnya yang tetap cantik itu.
Lalu saya berbalik dan menatap Dina, kemudian saya meniupkan asap rokok yang saya hisap kearahnya.
Ini adalah hal yang sering kali saya lakukan ketika saya lagi nongkrong bareng sahabat-sahabat saya di tempat yang tidak pantas untuk saya sebutkan disini! Ehem.
Sekarang saya jadi teringat zaman masih SMA dulu...
"Gak nyaman bener apa, Din? Cuma asap aja Hummmmm . . . Kalo gak nyaman, ya cari posisi dan situasi yang nyaman aja, kan? Fufufufufufufu"
Saya membalas gerutuan Dina sambil menggoda nakal layaknya penjahat-penjahat dalam drama yang tidak tahu apa judulnya.
Kemudian saya melanjutkan menghisap rokok yang sudah hampir habis ini dengan tenang.
"Ok!"(Dina)
Jawab Dina pendek, sambil beranjak dan mendekatkan posisi duduknya kearah saya.
Waduh!
Saya kaget dan refleks berdiri, terus saya berpura-pura untuk membuang puntung rokok.
Heeemm . . . Untung waktunya pas, jadi kagetnya saya diganti dengan adegan membuang puntung rokok barusan.
Lucu kalau nantinya si Dina tahu bahwa saya gerogi jika ada didekat dia, kan?
Yah, Saya harus tetap tenang seperti biasanya. Heemmmm.
Saya pun berspekulasi didalam pikiran saya seperti biasa.
__ADS_1
Yah, lagian waktu ilustrasi didalam pikiran itu ratusan kali lipat lebih cepat dari kejadian per kejadian dalam waktu normal Dunia ini!
Semua ini menurut hasil riset yang telah saya jalankan sendiri dengan banyak uji coba yang telah saya lakukan. Jadi saya sangat yakin dengan perhitungan saya ini. Ehem.
Saya masih terus melakukan ilustrasi pemikiran cepat didalam pikiran saya, sambil tetap fokus pada keadaan nyata dari waktu normal yang ada didunia ini.
Hehehe, saya sengaja menjelaskannya dengan kalimat yang demikian agar kesannya lebih keren saja.
Ehm, jujur saya memang sering gerogi dan merasa agak terancam jika sedang berduaan dengan wanita cantik!
Tapi jika itu adalah perempuan lain, saya bisa saja bersikap tegas dengan mengusir mereka atau saya sendiri yang pergi meninggalkan keadaan yang tidak nyaman seperti ini.
Sebenarnya bukannya tidak nyaman, saya kira.
Saya hanya takut terbawa oleh kenyamanan lalu melupakan prinsip-prinsip saya sebagai laki-laki sejati yang beretika dan berpendirian teguh!
Uhghhh, dan saya juga tidak bisa melakukan metode aman saya itu terhadap Dina.
Yah, Karna saya tidak bisa menyinggung perasaan dia atau membuat dia menyadari keadaan emosional saya. Karna hal itu mungkin akan membuat dia juga canggung didepan saya, dan saya tidak mau itu terjadi.
Eeemmm, sebenarnya saya juga bingung dengan situasi yang seperti ini.
Masih sambil terus berfikir, saya mencoba untuk mendapatkan kembali ketenangan saya.
"Oke Din. Ehm, sebenarnya ada hal yang agak penting yang mau Saya bicarakan dengan Kamu. Yah, sebenarnya ini tentang pekerjaan yang Bos serahkan kepada Saya siang tadi."
Saya berbicara kepada Dina dengan nada serius dan penuh formalitas.
Sebenarnya itu hanya untuk menutupi gerogi dan saya juga bertujuan untuk merubah suasana yang canggung ini.
Saya kembali duduk menghadap kearah Dina yang saat ini juga sedang menghadap kearah saya.
"Ohhhh? Silahkan saja kalo ada yang mau kamu sampaikan, Rud?"(Dina)
Dina menjawab dengan nada formal biasa, karna dia sudah tahu kepribadian saya. Dia tahu bahwa apa yang akan saya katakan padanya sekarang memanglah hal yang penting.
"Eee____Sebenarnya____ Emmmmnm____ Itu"
Saya sedikit gagap karna agak bingung bagaimana caranya saya harus menjelaskan ini ke Dina.
Karna menurut perkiraan saya, Situs Reruntuhan Kuno itu adalah sebuah objek yang berfungsi sebagai pintu penghubung atau sebuah alat teleportasi, mungkin.
Yah, itu menurut hasil riset dan literatur yang telah saya pelajari sampai saat ini, bahwa dunia yang kita tinggali ini merupakan bagian-bagian dari sub-ruang yang saling terhubung satu-sama lainnya.
Jadi menurut perkiraan saya, Situs itu merupakan media penghubung antar sub-ruang yang saling menopang dan membentuk satu-kesatuan keseluruhan dari Jagad Raya ini. Uhum.
Saya lanjut berfikir sambil tetap menatap Dina. Saya berupaya untuk merangkai kalimat yang paling masuk akal agar dia bisa memahaminya.
"Begini Din. Kamu kan sudah lama mengenal Saya. Dan Kamu pun pastinya paham kalo Kamu juga sosok yang penting bagi Saya. Sama halnya dengan Keluarga dan Sahabat Saya, Kamu juga memiliki peringkat yang sama dengan mereka menurut pertimbangan di hati Saya. Ehm, mungkin."
Saya berbicara kepada dina dengan nada serius, walaupun itu diakhiri dengan agak tersedak. Karna saya rasa pembicaraan ini agak sedikit memalukan bagi saya.
__ADS_1
Yah, karna saya memang tidak pernah membawa kata hati kepada perempuan selain ibu dan saudari-saudari saya sendiri.
Ehmm. Walaupun rasa dari hati yang dimaksudkan sedikit berbeda dari perasaan diantara keluarga, ya?
Lebih tepatnya mungkin perasaan saya terhadap Dina khusus untuk hubungan antara pria dan wanita.
Uhum, jujur saya memang menyadari dari dulu dan saya juga sedikit berharap, tapi karna keadaan dan situasinya belumlah memungkinkan untuk saya, saya merasa tidak yakin dengan perasaan saya saat itu.
Dan faktanya juga sama seperti perkiraan saya selama ini. Wanita adalah mahluk yang tidak bisa berdiri sendiri! Mereka butuh sosok pendamping yang harus selalu menjaga mereka agar tetap teguh pada tempat dimana mereka seharusnya!
Dan saya akui bahwa sampai saat ini saya masih belum siap untuk menjadi sosok pria penjaga bagi para wanita yang dinamis itu!
Yah, mereka dinamis dalam artian yang jelek.
Terus meyakinkan diri, saya melanjutkan apa yang akan saya beritahukan kepada Dina saat ini. Lalu saya juga mengeluarkan sebuah kalung yang sebenarnya itu adalah simbol dari kepemimpinan suatu Organisasi Rahasia yang sangatlah dirahasiakan!
"Intinya kemungkinan Aku bakal pergi lumayan lama. Yah, paling jeleknya mungkIn Aku gak bakal pulang lagi, Din."
Saya berbicara kepada Dina yang saat ini masih saja diam sambil terus menatap ke arah saya dengan dalam.
Kedua matanya yang jernih itu seakan menarik saya untuk bertindak lebih jauh melewati semua batasan yang selama ini telah saya tetapkan.
Tapi segera saya kembali tersadar, kemudian saya meraih tangan Dina yang halus dan mungil itu dan membuka telapak tangannya, lalu saya meletakan kalung yang merupakan lambang dari identitas asli saya.
Yah, saya merupakan pemimpin dari Organisasi Rahasia yang sangatlah sangat-sangat dirahasiakan!
kata rahasianya sengaja saya ulang-ulang agar terdengar lebih rahasia lagi. Uhum.
Sebenarnya saya jadi pemimpin karna saya sendirilah yang mendirikan Organisasi Rahasia ini.
Yah, jumlah anggotanya cuma seratus orang, dengan sembilan Dewan dan Satu Ketua yang memimpin.
Ehm, nanti akan saya jelaskan keterangan lebih rincinya.
Lanjut...
Lalu setelah kalung itu berada ditelapak tangan kanan Dina, saya kembali menatap dia dan mulai menjelaskan tentang pekerjaan yang Bos berikan kepada saya, sambil menutupi semua hal yang saya kira agak tidak masuk akal, pastinya.
Dan saya juga menjelaskan fungsi dan cara menggunakan otoritas dari kalung kepemimpinan saya tersebut.
Yah, kalung itu menjamin sang pemilik kalung akan mendapatkan pertolongan penuh dari semua anggota organisasi, sampai semua masalah yang menimpa si pemilik kalung terselesaikan sepenuhnya tanpa adanya batasan apa pun.
Ehm, jumlah kalung itu totalnya ada 10, termasuk yang saya miliki. Yang membedakannya hanyalah warna dari permata diliontinnya saja. Warna permata dikalung saya berwarna Merah, sedangkan kesembilan kalung lainnya yang dipegang oleh para Dewan Organisasi berwarna biru. Sebenarnya semua fungsi, aturan, dan kegunaannya sama saja, karna saya beserta para Dewan sendirilah yang mengatur semua hal yang ada di dalam Organisasi Rahasia ini, jadi suka-suka kitalah intinya.
Sebenarnya Organisasi Rahasia yang sangatlah dirahasiakan ini merupakan Organisasi Rahasia yang sangatlah sangat berpengaruh secara sangat-sangat rahasia!
Semua Anggotanya memiliki kemampuan diatas standar orang-orang biasa. Itu mencakup kemampuan latar belakang, kemampuan berfikir, kemampuan fisik, finansial, intelegent, dan semua jenis kemampuan lainnya. Dan hampir semua dari mereka juga merupakan sosok-sosok dengan status yang sangat berpengaruh!
Tapi sepertinya saya tidak akan menjelaskan semua itu kepada Dina.
Yah, saya memberikan kalung tersebut hanya untuk berjaga-jaga kalau nantinya Dina terlibat dalam masalah yang berbahaya.
__ADS_1
Yah, hanya itu saja...
*B**ersambung*...