
Fredy pulang ke rumah dengan wajah tertekuk. Jika bukan karena Ibunya, ia tak akan pernah mau menginjakkan kakinya di situ lagi. Dendam, kecewa, dan amarah telah menumpuk di rumah itu. Apalagi ia sudah muak untuk berpapasan dengan Ayahnya setiap hari.
Fredy berjalan dengan enggan memasuki rumah, tiba-tiba saja sesuatu di ruang tamunya yang luas berhasil mengejutkannya.
“Elo!” Fredy terkejut.
“Hai.” Seorang wanita mengenakan gaun dengan potongan dibawah lutut sedikit menyapanya dengan anggun. Rambutnya terurai mejuntai cantik sehingga menambah kesan feminim pada dirinya.
“B---bagaimana lo bisa ke sini?” Fredy masih tak menyangka.
“Kau sudah pulang?” Nyonya Aletha masuk ke ruang tamu sambil membawa secangkir teh. Ia langsung memeluk putranya.
“Mah, bagaimana dia bisa ada di sini?” Fredy menunjuk gadis itu.
“Mama yang menyuruhnya untuk datang ke sini.” Nyonya Aletha kemudian tersenyum manis pada gadis itu.
“Tapi urusanku dengannya sudah berakhir sejak tiga tahun yang lalu. Jadi untuk apa Mama membawanya kemari?” Fredy nampaknya tak terima dengan kehadiran gadis itu di rumah ini.
“Jangan bicara seperti itu di hadapannya, walau bagaimana pun dia dulu pernah berada di hatimu bukan?” Goda Nyonya Aletha.
“Tapi sekarang sudah tidak sama sekali. Ah, sudahlah. Aku juga kan pergi lagi, aku harus menghadiri rapat konyol yang disuruh ayah itu.”Fredy hendak meninggalkan mereka.
“Rapat itu dibatalkan. Ayah memberitahunya pada Mama beberapa jam yang lalu, Mama lupa untuk memberi tahumu. Makanya Mama mengundang Shienna kemari.” Nyonya Aletha kemudian menaruh cangkir itu di meja.
“Oh, baguslah rapat itu dibatalkan, lagi pula aku sedang tidak karuan hari ini. aku harus naik ke atas sekarang.” Ucap Fredy.
“Tidak, jangan begitu. Kau berbincanglah dengan Shienna sebentar. Itung-itung reuni, bukankah kalian sudah tidak bertemu sejak lulus SMA?” Nyonya Aletha menahan Fredy.
“Ya, karena aku sudah tidang ingin bertemu dengannya lagi.” Jawab Fredy dengan angkuh.
“Ah, terserah. Pokoknya kau tidak boleh ke atas sebelum berbicara dengannya. Mama Akan tinggalkan kalian berdua selama beberapa menit. Setelah itu Mama akan kembali ke sini, baru kau boleh naik ke atas.” Ucap Nyonya Aletha dengan tegas.
__ADS_1
“Tapi Ma..” Fredy tak bisa menolak.
“Tidak ada tapi-tapian.” Nyonya Aletha kemudian bergegas pergi.
Meski Fredy adalah anak yang bandel, sombong, pembuat anarki, dan sifat negatif lainnya. Fredy tetaplah seorang anak, yang tak bisa menolak perintah dari Ibunya.
Dengan Enggan Fredy akhirnya duduk di sofa. Kakinya terus bergerak menandakan ia tak sabar dan ingin segera meninggalkan tempat itu. Sementara Shienna tampak kikuk di depan mantan kekasihnya itu.
“Jadi kau sibuk apa sekarang.” Shienna berusaha mencairkan suasana dengan membuka topik obrolan.
“Tak usah basa-basi, apa maksud lo muncul kembali di kehidupan gue? Bukankannya lo seharusnya berada di Boston untuk menyelesaikan sarjana lo?” Ucap Fredy dengan muak.
“Aku tak bermaksud apapun. Kebetulan aku tengah libur semester, dan Papah sedang sakit, jadi untuk sementara aku harus menangani beberapa bisnisnya. Makanya aku pulang, dan aku tiba-tiba saja mendapat panggilan dari Mamamu, aku tidak bisa menolaknya.” Jelas Shienna dengan nada yang lembut.
“Omong kosong, gue berharap lo gak usah bertemu dengan gue lagi untuk selama-lamanya.” Fredy membuang muka.
“Fred, aku tahu, kau masih marah tentang kejadian beberapa tahun itu. Tapi percayalah, aku tak bermaksud melakukannya. Kumohon, maafkanlah aku.” Shienna berubah sedih, ia mencoba memegang lengan Fredy.
“Fred, aku Cuma pengen kita baikan lagi. Gak lebih dari itu. Aku gak menuntut kita buat balikan lagi, aku Cuma mau kamu maafin aku, dan kamu melupakan kejadian itu. Kamu hidup bahagia dan gak terbayang-bayang lagi oleh kenangan dari kejadian itu.” Shienna kini menitikan air mata.
“Segampang itu lo ngomong buat lupain kejadian itu! Pria mana yang gak tersakiti melihat cewenya ditiduri sama pria lain di depan matanya sendiri? Lo bilang gitu seakan-akan yang udah lo lakuin itu Cuma ******* doang sama cowo! Lebih dari itu! Lo udah merampas cinta dan kebahagiaan dari hidup gue! Lo harus inget itu!” Fredy berdiri saking kesalnya.
“Ya, aku akui aku salah! Aku Udah selingkuh di depan matamu. Tapi kamu juga harus inget kalo kamu udah merampas keperawananku lebih dulu! Apa kamu lupa, akulah wanita pertama yang kamu tiduri!” Shienna kini menatap wajah Fredy dengan berapi-api. Seakan ia tengah meluapkan kekesalan terdalamnya.
“Gue gak peduli! Yang udah lo lakuin ke gue lebih dari itu.” Jawab Fredy.
“Oh, kamu mau cuci tangan? Baiklah, jangan kaget jika rekaman ini sampai ke tangan Ayahmu! Kau pasti akan habis di tangannya.” Shienna menunjukkan sebuah video dari layar handphone nya ke hadapan Fredy.
Melihat Video itu Fredy berubah panik dan kesal. Ternyata video itu adalah video rekamannya dan Shienna yang tengah melakukan hubungan intim. Fredy langsung berusaha merampas handphone milik Shienna.
“Eits, kamu gak bakal bisa hilangin video ini, karena di tempatku dan di Boston, masih banyak salinan dari video ini. dan aku bahkan bisa mengunggahnya ke email kemudian mengirimkannya ke orang tuamu kapan saja. Jadi bagaimana? Kau mau memaafkanku?” Wajah anggun nan cantik Shienna berubah menjadi wajah gadis yang licik dan kejam.
__ADS_1
“Dasar wanita ******! Kau enar-benar licik seperti ular!” Bukannya kata-kata maaf yang keluar, Fredy malah semakin memaki Shienna.
“Aku hitung sampai tiga, jika kau tetap bersikeras pada pendirianmu maka jangan sedih jika video ini tiba-tiba ada di hanphone Ayahmu.” Shienna makin mengancam.
“Arrrhhhggghhh! Fine! Gue maafin lo!” Dengan wajah yang menahan marah Fredy berusaha mengeluarkan kata-kata yang sulit untuk diucapkannya itu.
“Good for you. But, gak hanya itu, masih ada syarat lainnya.” Ucap Shienna dengan senyum licik.
“Apa lagi!!!!” Fredy semakin kesal.
“Kamu harus menikah denganku. Aku tengah hamil, ya bukan denganmu. Tapi karier dan keluargaku akan hancur jika mereka mengetahuinya. Aku mau kau bertanggung jawab dan menikahiku segera. Dengan begitu namaku akan tetap bersih.” Shienna kini menatap Fredy dengan serius.
“Lo gila ya? mana mungkin gue mau melakukan itu! Bisa habis gue sama bokap gue kalo dia tahu gue udah ngehamilin anak orang.” Kata-kata Fredy tercekat. Ia kemudian ingat pacarnya, Elle. Ia mendengar pacarnya juga tengah hamil. Fredy semakin runyam.
“Aku gak mau tahu, pokoknya kamu harus melakukannya atau kamu mau video ini berakhir di hanphone ayahmu? Lagi pula aku tidak akan memberi tahu mereka kalau aku tengah hamil, usia kandunganku baru dua minggu. Jadi hitungannya akan sama jika kita menikah segera. kau hanya perlu berpura-pura sangat mencintaiku dan tak kuat ingin segera menikahiku.” Jelas Shienna.
“Gak bisa, gue gak bisa.” Fredy tetap menolak, bukan karena ia takut akan ayahnya, melainkan ia teringat akan kekasihnya, Elle.
Tiba-tiba, di tengah perdebatan itu Nyonya Aletha muncul.
“Kalian tampaknya tengah berbincang dengans eru. Boleh mama ikutan?” Tanya Nyonya Aletha dengan riang.
“Tidak, lagi pula kami telah selesai berbicara. Tante, Mama sudah menelpon, ia menyuruhku untuk pulang sekarang, jadi sepertinya aku harus pergi.” Ucap Shienna dengan gagap.
“Begitu kah? Baiklah. Hati-hati ya. titip salam untuk Nyonya Gledis dari Tante ya.”
“Iya Tante, Fred, kita akan melanjutkan pembicaraan kita di telpon. Sampai jumpa lain waktu.” Shienna kemudian pergi dengan tergesa-gesa.
“Anak itu manis sekali kan Fred?” Tanya Mama dengan tersenyum.
“Tidak!”Fredy kemudian meninggalkan ruang tamu dan segera naik ke atas.
__ADS_1