
“Elle, kau sudah bangun?” Ucap Fredy dan Reynold secara bersamaan.
“Kalian....ngapain kalian semua ada di sini?” Tanya Elle dengan wajah bingung.
“Elle, gue harus jelasin sesuatu ke elo . Ini bener-bener penting.” Ucap Fredy.
“Elle, jangan dengarkan ucapannya. Apa kamu lupa dengan apa yang udah dia lakuin ke kamu Elle.” Rernold mencegah Elle untuk berbicara dengan Fredy.
“Diam! Lo semua diam! Ini rumah sakit, gue gak mau ribut lagi sama kalian. Gue mohon keluar. Semuanya, tolong keluar!” Ucap Elle.
“Tapi Elle...” Fredy bersikeras.
“Keluar sekarang juga!” Elle kini menangis.
“Fred, ayo kita keluar saja, biarkan Elle menenangkan dirinya dulu.” Ucap Nyonya Aletha menghampriri Fredy.
“Baik ma.” Fredy pun mundur.
“Rey, ayo.” Mamah Reynold mengajak Reynold untuk keluar. Reynold pun ikut keluar.
Di luar, mereka pun berdiskusi untuk memutuskan siapa yang akan berbicara dengan Elle duluan.
“Kalian ngapain di sini? kalian gak berhak ada di sini!” Ucap Reynold dengan marah.
“Heh! Gue ayah dari anak yang dikandungnya Elle, dan gue juga calon suaminya, sebentar lagi gue bakal nikah sama dia asal lo tau ya!” Ucap Fredy dengan songong.
“Ayah dari anak yang dikandung Elle? terus selama ini kamu kemana aja? Saat Elle sakit keras, saat Elle mencoba untuk bunuh diri, saat Elle sekarat, di mana kamu saat itu hah?” Ucap Reynold dengan geram.
“Asal kamu tahu ya, yang merawat Elle selama ini, dan yang membiayai pengobatan Elle dan anak yang ada dalam kandungannya itu aku! Bukan kamu! dan kamu pikir kamu berjasa karena telah menjadi ayah dari anak yang dikandung Elle! sama sekali engga!”
“Kamu justru membuatnya tersiksa dan sengsara. Jika bukan karena perbuatan bejatmu itu Elle gak akan melalui semua ini! Elle mungkin saat ini akan ada di rumahnya bersama keluarganya! Bukan di tempat ini dan kesakitan! dan kamu berniat untuk menikahinya? Wanita mana yang ingin dijadikan sebagai istri kedua dasar bajingan!” Reynold benar-benar sudah kehabisan kesabarannya.
“Lo!” fredy terpancing emosi. Ia kemudian mejambak kerah baju Reynold.
__ADS_1
“Fredy! Jaga sikpamu!” Nyonya Aletha mencoba menghentikan puteranya.
“Jadi begini sifat asli dari putera dan pewaris satu-satunya keluarga danuarta? Sungguh sangat disayangkan.” Ucap Mamah Reynold sambil melindungi puteranya.
“Dengar baik-baik, ini bukan saatnya untuk bertengkar. Kitba bisa bicarakan soal pernikahannya nanti. Yang terpenting adalah keselamat Adelle. Dokter bilang kalau kondisinya dan janinnya lemah. Elle harus memutuskan, apakah menggugurkan janinnya atau mempertahankannya dengan catatan kalau bayinya hanya bisa bertahan di dalam kandungannya sampai usia tujuh bulan. Bayi itu akan lahir prematur.” Jelas Nyonya Aletha.
“Apa?” Baik Mamah Reynold maupun Reynold sendiri begitu kaget saat mendengarnya.
“Gugurkan saja anaknya! Keselamatan Elle lebih utama. Jangan kau pikir untuk mempertahankan anakmu dasar pria bajingan!” Ucap Reynold sambil memelototi Fredy.
“Gue juga gak bakal ngambil keputusan sebodoh itu cupu! Gue juga tahu!” Fredy emosi.
“Sudah-sudah. Fredy, sudah mamah bilang untuk menjaga sikapmu. Sekarang, kau harus masuk ke dalam dan jelaskan pada Adelle soal hal itu. Dokter menyerahkan keputusannya pada kalian berdua, jadi tolong putuskanlah dengan bijak.” Ucap Nyonya Aletha.
“Dengar itu bajingan!” Ucap Reynold.
“Sudah Rey.” Mamah Reynold mengingatkan.
“TUK-TUK.” Fredy mengetuk pintu.
Tak ada jawaban, Fredy tetap masuk ke dalam.
Di dalam, Elle tengah berbaring sambil menatap langit-langit. Matanya sembab, ia baru saja menangis.
“Elle.” Ucap Fredy dengan ragu-ragu.
“....” Elle melirik ke arah Fredy.
“Boleh gue gomong sama lo sebentar.” Ucap Fredy sambil duduk di samping Elle.
“Ngapain loke sini? Apa istri lo gak akan marahin lo kalo dia tahu bahwa lo dateng ke sini? Untuk apa lo ke sini? kita sudah gak ada lagi urusan. Gue bukan siapa-siapa lo lagi. Bukannya kau udah menganggap gue wanita hina dan sampah? Ngapain lo malah ngedeketin wanita hina ini?” Elle mengucapkan itu dengan mata yang berkaca-kaca.
“Elle, gue minta maaf. Demi apapun gue gak serius waktu bilang itu ke elo. Dan asal lo tahu, gue gak pernah pengen balikan atau nikah sama Shienna. Gue dipaksa sama dia. Gue diancam Elle. lo tahu, dulu gue emang pria yang brengsek, dan waktu SMA gue pernah ngelecehin Shienna. Tapi dulu dia pacar gue, makanya dia mau. Tapi demi apapun gue nyesel Elle, gue nyesel karena udah ngelakuin hal itu.”
__ADS_1
“sama menyesalnya dengan apa yang udah gue lakuin ke elo. Gue bakal terus hidup dengan penyesalan itu. Dan asal lo tahu, gue ke sini, karena dia.” Fredy kini memegang perut Elle.
“Dd—dia...” Elle kini menatap Fredy dengan tatapan yang dalam.
“Ya, gue pengen bertanggung jawab Elle. gue bakal nikahin lo. Mamah gue udah setuju. Gue pengen, dia dapet hak dari gue, dia darah daging gue juga Elle.” Ucap Fredy kini menitikan air mata.
“Lo...udah tahu soal dia..” Ucap Elle dengan haru.
“Gue tahu Elle. dan gue nyesel karena udah datang terlambat buat dia. Gue juga nyesel, gak banget lo udah nanggung semuanya sendirian Elle. gue emang-bener-bener cowok dan bapak yang gak becus. Tapi sekarang, gue pengen memperbaiki semuanya..., gue pengen ada buat lo dan dia.” Ucap Fredy kini menggenggam erat tangan Elle.
“....”Elle kini menangis.
“Kenapa lo baru bilang itu sekarang...”Elle menangis dengan penuh penyesalan.
“Maaaf, karena gue terlambat buat bilang ke elo.” Ucap Fredy dengan menitikan air mata.
“Gue udah terlalu banyak nyakitin dia. Sekarang, gue tahu dia lagi sekarat, gue bingung harus apa. Gue nyesel.” Ucap Elle.
“Mungkin kita emang harus mengikhlaskan dia Elle.” Ucap Fredy kini menyeka iar mata yang jatuh di pipi Elle.
“Maksud lo?” Elle bingung.
“Dia terlalu lemah untuk dipertahankan Elle, dokter bilang kalo dia dan lo lagi kritis kondisinya. Gue Cuma dikasih dua pilihan, mengiklhaskannya, atau mempertahankannya. Tapi, dokter gak jamin kalo dia bisa bertahan hingga lahir, Dokter bilang, kalau dia hanya bisa bertahan hingga usia kandungan 7 bulan. Dia bakal lahir prematur.”
“Gue sebenernya udah mutusin, tapi keputusan ini bukan hanya milik gue, tapi juga milik lo. Lo ibunya, lo yang ngerasain dan ngalamin semua ini. jadi, gue akan serahin keputusan ini ke elo.” Ucap Fredy.
“Engga mungkin...ini gara-gara gue, gue udah nyakitin dia. Harusnya gue aja yang sakit bukan dia.” Elle kini menangis.
“Engga Elle, ini bukan salah lo, ini salah gue juga. Lo masih belum siap buat ngalamin semua ini. semua ini gak bakal terjadi kalo bukan karena gue.” Fredy mencoba menenangkan Elle.
“gak bisa...guee...gue...gak bisa.” Ucap Elle sambil menangis.
“Jadi apa keputusan lo?” Fredy kembali bertanya.
__ADS_1