
“Kau teman kuliahnya Fredy kan?” Tanya Nyonya Aletha sambil membenarkan tasnya yang melorot.
“Ya.” Jawab Reynold datar.
“Tante juga pernah melihatmu di acara pernikahan anak tante. Kau membuat sedikit keributan dengan Reynold. Eh, bukan, bukan kau. tapi gadis itu. Siapa ya namanya, tante lupa.” Ucap Nyonya Aletha.
Seketika itu juga dada Reynold terasa terbakar. Ia benar-benar kesal dengan Nyonya Aletha. Bagaimana mungkin ia bisa menuduh Elle sebagai pembuat keributan di acara pernikahannya Fredy. Justru Fredy lah yang telah merusak kehidupan Elle. rasanya Reynold ingin marah pada Nyonya Aletha saat itu juga. Tetapi ia ingat siapa Nyonya Aletha itu, maka ia pun mengontrol emosinya.
“Gadis yang tante sebut barusan itu adalah mantan pacarnya Fredy, Adelle. Jangan pernah sekalipun merendahkannya atau menuduhnya sebagai pembuat keributan.” Ucap Reynold dengan menahan emosi.
“Ya, Adelle. Tante mendengar nama itu dari Fredy. Di mana gadis itu sekarang? Tante sudah tidak melihatnya lagi di kampus. Apa dia drop out? Sayang sekali. Padahal tante sudah memurahkan biaya kuliah di situ. Tapi, ya, begitulah seleksi alam.” Ucap Nyonya Aletha meremehkan.
“Dia bukan drop out! Dan sudah kuperingatkan bahwa jangan pernah sekalipun Tante berani merendahkannya!” Reynold hampir terpancing emosi.
“Memangnya kenapa? apa Tante salah? Toh kenyataanya begitu. Dia bukan orang penting sehingga tante tidak boleh merendahkannya.”Ujar Nyonya Aletha.
“Jaga bicara Tante! Atau...”
“Atau apa? Sudahlah. Kau juga temannya Fredy kan. Tante tak mau ribut denganmu. Tante sedang buru-buru. Mobil Tante sudah menunggu di depan.” Nyonya Aletha kemudian beranjak pergi.
“Tante pikir Tante juga siapa hah? Apa karena Tante adalah istri dari Tuan Danuarta sehingga Tante bisa berbuat seperti itu? Ingat Tante, di atas langit masih ada langit. Dan asal Tante tahu, Adelle berhenti kuliah juga karena anak Tante. Anak Tante lah yang sudah menghancurkan kehidupannya!” Reynold benar-benar menyesal karena telah mengucapkan hal itu. Tak seharusnya ia memberi tahu Nyonya Aletha soal itu.
“Apa? Apa maksud perkataanmu barusan? Gara-gara anak Tante, memangnya anak Tante berbuat apa?” Nyonya Aletha mengurungkan niatnya untuk pergi. Ia kemudian menginterogasi Reynold.
“Lupakan saja. Itu tak penting.” Reynold mencoba kabur.
“Tidak. Pasti ada sesuatu yang kalian sembunyikan dari Tante. Ayo katakan sekarang! Apa yang telah anak Tante lakukan pada gadis yang bernama Adelle itu!” Wajah Nyonya Aletha berubah tegang.
“Aku tidak bisa mengatakannya. Aku telah berjanji padanya bahwa aku akan menjaga rahasia ini. maafkan aku. Selamat pagi.” Reynold kemudian pergi dengan tergesa-gesa.
“Tidak, kau jangan dulu pergi. Katakan yang sebenarnya! Apa yang sudah Fredy lakukan pada Adelle?” Tante mencoba mengejar Reynold tapi tak bisa. Reynold terlalu kencang larinya.
“Apa yang sudah anakku perbuat kali ini?” Nyonya Aletha bertanya-tanya. Ia kemudian merogoh tasnya dan menelpon seseorang.
“Nampaknya aku harus mencari tahunya sendiri.”
“Ya, Hallo. Clara, tolong dapatkan informasi terkait gadis yang bernama Adelle. Dia satu kampus dengan anak saya. Dapatkan informasinya segera. Saya benar-benar membutuhkannya sekarang.” Ucap Nyonya Aletha dengan resah.
__ADS_1
“Baik Nyonya.” Ucap wanita yang bernama Clara. Ia adalah asisten kepercayaan Nyonya Aletha.
Tak lama kemudian Clara kembali menelpon Nyonya Aletha.
“Hallo, bagaimana? Kau berhasil mendapatkannya?” Tanya Nyonya Aletha tak sabar. Ia tengah dalam perjalanan pulang ke rumahnya.
“Ya, aku mendapatkannya. Dia adalah anak dari Tuan..”
“Aku sudah tahu soal itu. Yang lainnya, terkait dimana dia sekarang dan apakah dia masih hidup? Aku takut jika putraku melakukan sesuatu padanya hingga membuatnya...ah, sudahlah.” Nyonya Aletha tak berani membayangkan kondisi terburuh dari gadis itu.
“Ya, aku memperoleh informasi terkait keberadaanya saat ini. dari riwayat telponnya, ia akhir-akhir ini berada di rumah sakit. Dia masih hidup, terlihat dari banyaknya panggilan masuk yang sudah ia terima.” Jawab Clara.
“Baguslah. Kirimkan padaku titik lokasinya saat ini. aku akan datang ke sana.”Ucap Nyonya Aletha dengan tak sabar.
“Baik Nyonya...”
“Sudah ku kirim Nyonya.” Jawab Clara.
“Bagus. Pak putar balik. Kita akan ke rumah sakit.” Ucap Nyoya Aletha. Ia pun mengakhiri telponnya dengan Clara.
Nyonya Aletha tiba di sebuah rumah sakit. Ia langsung masuk begitu saja ke dalam rumah sakit itu. Nampaknya ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan gadis itu dan melihat kondisinya.
“Apa ada pasien yang di rawat di rumah sakit in dengan nama Adelle?” Tanya Nyonya Aletha pada petugas resepsionis.
“Baik akan kami cek terlebih dahulu ya bu.” Jawab petugas itu.
“Pasien dengan nama Adelle di rawat di rumah sakit ini bu.” Ujar petugas itu.
“Kalau boleh tahu di ruang berapa ia sekarang?” Tanya Nyonya Aletha kembali.
“Sebelumnya kami akan menanyakan dulu identitas ibu. Apakah ibu keluarga dari pasien? Jika ya, boleh kami lihat dokumen yang menunjukkan hal tersebut?”
“Saya Nyonya Aletha Danuarta. Saya ibunya Fredy. Kebetulan Fredy adalah teman kuliahnya Adelle. Ini, saya punya bukti bahwa anak saya dan Adelle memang teman satu kampus.” Nyonya Aletha mengeluarkan sebuah dokumen.
“Baik akan kami periksa terlebih dahulu ya.” Petugas itu kemudian memeriksa berkas tersebut.
“Ya, sudah kami periksa. Ibu bisa mengunjungi Nona Adelle di ruangan B327 ya. ini kartu kunjungannya. Mohon dikembalikan lagi setelah kunjugan ya bu.” Ucap Petugas itu sembari memberikan kartu kunjungan ke Nyonya Aletha.
__ADS_1
“Terima kasih.”Nyonya Aletha mengambil kartu itu kemudian berjalan menuju ruangan tempat gadis itu di rawat.
Saat Nonya Aletha berada di dekat pintu ruangan itu, tiba-tiba seorang dokter dan perawat keluar. Sontak nyonya Aletha langsung menghapiri mereka.
“Dokter, tunggu sebentar.” Ucap Nyonya Aletha menghentikan dokter itu.
“Ya.” ucap Dokter.
“Dokter, saya ibu dari rekan pasien yang ada di ruangan ini. saya datang kemari untung menjenguknya. Ini kartu tanda pengenal saya. Sebelumnya saya ingin bertanya terkait kondisi pasien. Pasien sakit apa?” Tanya Nyonya Aletha.
“Untuk detailnya tidak bisa saya beri tahu karena itu merupakan privasi pasien yang harus saya jaga. Tetapi untuk gambarannya, pasien tengah mengalami lemah kandungan. Kondisi ibu dan janinnya lemah. Dan sangat beresiko keguguran. Makanya dilakukan tindakan bedrest dan perawatan total pada pasien untuk beberapa waktu ke depan.” Jelas dokter.
“Apa? Hamil?” Nyonya Aletha benar-benar kaget mendegarnya. Ia seakan tak percaya dengan apa yang abru saja ia dengar.
“Ya. hamil. Usia kandungan hampir menginjak tiga bulan.” Dokter kembali menegaskan.
“Oleh siapa? Bukankah dia belum menikah? Bagaimana bisa?” Nyonya Aletha bertanya-tanya.
“Saya juga kurang tahu soal itu. Jika tidak ada yang ingin ditanyakan lagi saya izin pamit.”
“Ya, silahkan dok.”
Dokter itu pun pergi.
Nyonya Aletha benar-benar syok. Bagaimana bisa gadis itu hamil? Padahal baru beberapa bulan yang lalu ia lihat gadis itu bersama Fredy. Tunggu, tadi kata Reynold...
Jangan-jangan...
Hati Nyonya Aletha langsung mencelos. Ia sudah tahu jawabannya. Tapi Nyonya Aletha tidak bisa langsung menyimpulkan. Ia butuh bukti yang menguatkan dugaanya. Tanpa berpikir panjang, Nyonya Aletha langsung memutuskan untuk masuk ke ruangan itu dan bertanya langsung pada gadis itu.
Nyonya Aletha masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu. Ia masuk ke dalam dan langsung melihat gadis itu tengah berbaring di atas kasur. Nampaknya gadis itu sedang beristirahat. Apa Nyonya Aletha harus keluar dan kembali lagi besok. Tapi ia tak bisa menunggu. Kebenaran harus segera terungkap. Nonya Aletha memutuskan untuk membangunkan gadis itu.
“Adelle!” Nyonya Aletha mengguncangkan tubuh gadis itu.
Gadis itu pun terbangun.
“Nyonya Aletha!” Elle kaget bukan main saat mengetahui bahwa Nyonya Aletha ada di hadapannya. Ia mulai merasa ketakutan yang selalu menghantuinya datang kembali. Elle mulai panik dan resah.
__ADS_1
“Pergi! Pergi dari sini!” Ucap Elle sambil histeris.
“Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu. Kumohon tenanglah.” Nyonya Aletha berusaha bersikap lembut pada gadis itu.