
7 bulan kemudian.
Malam itu Elle terbangun. Ia merasakan rasa sakit di bagian perutnya. Rasa sakit yang amat sangat menyiksanya. Kebetulan juga malam itu Mamahnya Elle tidak ada, ia sedang pulang ke rumahnya karena Zielle, adik Elle tengah sakit. Elle pun sendirian di kamarnya.
“Ayolah.” Elle mencoba meraih bel di dekatnya. Tapi tak bisa. ia terus bersusah payah untuk menggapainya.
“Arrrgggghhh!” rasa sakit itu kini semakin terasa. Elle suah tidak tahan. Badannya sudah lemas, dengan sisa tenaga terakhirnya Elle mencoba untuk bagun dari kasurnya dan meraih bel itu.
“Bruk!” Elle terjatuh dari kasur.
“Ah!” Elle mencoba untuk bangun. Dengan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya Elle memaksakan diri untuk bangun dan meraih tombol bel itu.
“Tidak...” Elle melihat ke bawah. Tampak darah mulai menetes ke ujung kakinya. Ia mengalami pendarahan. Elle lihat tangannya yang sudah pucat. Ia terus berusaha meraih tombol bel itu. Akhirnya, ia pun berhasil menekan tombol bel itu. Tapi sayangnya, seluruh tenaganya sudah habis dan kesadarannya mulai hilang perlahan. Elle pun ambruk jatuh ke lantai.
“Nona Elle! astaga!” Perawat yang merawatnya tak lama kemudian datang. Ia begitu panik saat melihat Elle yang sudah tak sadarkan diri di lantai dengan darah yang bersimbah di mana-mana.
Perawat itu pun segera memanggil dokter. tak lama kemudian Elle pun dipindahkan ke ruang operasi.
***
Fredy sedang sibuk dengan bebrapa pekerjaan di kantornya. Banyak panggilan yang masuk akhir-kahir ini. ia bahkan sering melewatkan jam makannya. Di tengah ke sibukan itu tiba-tiba telpon pribadinya berdering. Fred pun mengangkat panggilan itu.
“Hallo, dengan Tuan Fredy?” Tanya suara yang berasal dari telpon itu.
“Ya, dengan saya sendiri. Ada apa ya?” jawab Fredy.
“Kami dari Rumah sakit tempat Nyonya Adelle di rawat. Kami ingin menginformasikan bahwa Nyonya Adelle kini sedang dibawa ke ruang operasi.” Ucap suara itu.
“Apa? tapi bukankah jadwal operasinya masih satu minggu lagi?” tanya Fredy dengan kaget.
“Iya Pak, tapi tertjadi sesuatu pada Nyonya Adelle. Perawat menemukannya pingsan di kamarnyad dengan kodisi pendarahan hebat. Untuk lebih jelasnya silahkan bapak ke sini.”
“Baik, saya akan segera ke sana sekarang.”
Telpon bun berhenti. Fredy langsung bergegas ke rumah sakit.
Fredy mengendari mobilnya dengan cepat. Pikirannya kini benar-benar tak karuan. Ia panik akrena ia kahwatir terjadi sesuatu yang tak diharapkan pada Elle. Fredy mengendari mobil sambil menghubungi Mamahnya.
“Hallo, Mah, apa Mamah sedang di rumah?” Tanya Fredy.
“Ya, Mamah sedang di rumah. Ada apa?” Jawab Nyonya Aletha.
“Adelle Mah. Dia di bawa ke ruang operasi. Dia mengalami pendarahand an tak sadarkan diri.” Ucap Fredy.
__ADS_1
“Apa?” Nyonya Aletha kaget.
“Iya Mah, aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit sekarang. Mamah bisa menyusul dengan taksi saja ya. aku tak bisa mampir dulu ke rumah karena buru-buru. Sudah dulu ya Mah.” Ferdy menutup telponnya. Ia kembali fokus berkendara.
Fredy pun sampai di rumah sakit. Ia melihat Mamah Elle juga sudah ada di sana. Fredy berlari menghampiri Mamah Elle.
“Tante.” Ucap Fredy dengan napas ngos-ngosan setelah berlari dari lantai satu.
“Fred, Elle...” Mamah menangis haru.
“Apa dia sudah dioperasi?” Tanya Fredy.
“Ya, dia sedang dalam proses operasi. Dokter meminta kita untuk menunggu di luar. Mungkin kau bisa masuk. Kau kan suaminya.” Jawab Mamah.
“Baiklah.” Ucap Fredy.
“Tuan Fredy.” Kebetulan sekali seorang perawat keluar dari ruang operasi dan memanggil namanya.
“Ya, dengan saya sendiri.” Fredy bergegas menghampiri perawat itu.
“Nona Elle hampir tak sadarkan diri dan ia terus menerus menggumamkan nama anda. Ia sepertinya mencari anda.” Jelas Perawat itu.
“Ya, baiklah, saya akan menemaninya di dalam.” Ucap Fredy.
Fredy mengenakan baju operasi. Ia melihat banyak dokter dan perawat yang tengah menangani Elle. Fredy berusaha fokus pada wajah Elle.
“Syukurlah anda datang, dok, tuan Fredy sudah datang.” Ucap salah satu perawat yang menangani Elle.
“Ya, kau bisa berada di samping pasien sekarang. Pasien membutuhkan kehadiranmu.” Ucap Dokter sembari mengoperasi.
Fredy berdiri di samping Elle. ia bisa melihat wajah Elle yang sudah benar-benar sepucat kertas. Keringat membasahi sekujur kepalanya. Nampak Elle tengah menahan rasa sakit yang teramat sangat. Fredy menitikan air mata, ia tak kuasa melihat Elle yang tengah sekarat dan kesakitan seperti ini sementara ia tak bisa berbuat apapun.
“Elle, bertahanlah, kau pasti bisa.” Gumam Fredy mendekatkan wajahnya ke wajah Elle.
“Fredy.” Elle kini membuka matanya sedikit.
“Ya, aku di sini Elle.” Jawab Fredy dengan menangis.
“Pasien sadar penuh dok.” Ucap perawat.
“Bagus tolong tetaplah tersadar agar kami bisa mengeluarkan bayinya.” Ucap Dokter.
“Elle, kau pasti bisa, aku di sampingmu Elle.” Fredy menggumamkan ucapan itu ke telinganya Elle.
__ADS_1
Mendengar itu Elle menitikan air mata.
“Fred...”Ucap Elle kini hampir kehabisan nafas.
“Tolong tetaplah sadar Nona.” Ucap Perawat.
“Elle, kau harus bertahan, sedikit lagi Elle.” Ucap Fredy sambil menangis tersedu-sedu.
“bayinya sudah keluar.” Ucap dokter.
Fredy menangis saat mendengar tangis anaknya untuk pertama kali.
“Fred...” Elle kini berbicara, ia tampak semakin kehabisan nafas.
“Iya Elle, aku di sini. lihatlah, dia sudah keluar. Kau hebat Elle.” Ucap Fredy.
“Tolong....jaga...dia...untukku.” Elle pun kehilangan kesadaran.
“Dokter detak jantung pasien menurun drastis.” Ucap Perawat.
“Lakukan kejut janjung segera.” Jawab dokter.
Bayi itu kini ditangani oleh dokter anak dan beberapa perawat sementara Elle ditangani oleh beberapa dokter lainnya.
“satu..suda...tiga...up!” Ucap dokter.
Tak ada kesan apapun.
Berkali-kali dokter melakukan hal itu tapi tak ada perubahan apapun.
Tiba-tiba dokter menghentikan tindakannya. Nampak semua orang yang ada di ruangan itu langsung berubah sedih.
“Ada apa dokter? kenapa berhenti? Lakukan lagi dok! Elle belum sadar.” Ucap Fredy dengan panik dan menangis.
“Maaf Tuan, Nona Elle sudah menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir.” Ucap Doketr dengan penuh rasa duka.
“Apa? tidak mungkin! Dokter pasti bercanda! Dokter pasti berbohong! Kalian semua kenapa diam! Ayo lakukan sesuatu untuk Elle! ayo! Kumohon lakukan sesuatu! Aku akan mebayarnya berapapun yang kalian minta.” Ucap Fredy dengan menangis tersedu-sedu.
“Maaf Tuan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi Tuhan lebih menyayangi Nona Elle. ikhlaskanlah.” Ucap Dokter.
“Tidak! Tidak mungkin! Elle, kau pasti bercanda kan? Bangun Elle, bangun! Lihatlah! Dia sudah lahir! Bangun Elle.” Fredy mengguncang-guncangkan tubuh Elle yang sudah kaku dan dingin. Wajahnya kini benar-benar pucat pasi. Tampak sudah tak ada aura kehidupan di wajahnya.
“Elle!” Fredy menangis kencang.
__ADS_1