Terjerat Cinta Kupu-kupu Malam

Terjerat Cinta Kupu-kupu Malam
Bab 22


__ADS_3

“Katakan sekali lagi!” Papih mencengkram kerah baju Reynold. Matanya melotot, bibirnya menjadi sangat tipis.


“Aku tidak akan pernah takut dengan ancaman dari Papih. Sekali lagi, kutegaskan kalau aku akan menikah dengan Elle!” Bukannya takut Reynold malah tampak menantang kepada Ayahnya.


“Dasar anak pembangkang.”


“Plak!” Papih menampar Reynold dengan sangat keras.


“Sudah, dia anakmu. Jangan sampai kau kelewat batas.” Mamih tak tega melihat Reynold yang hampir dipukul oleh Papih dengan kepalan tangannya.


“Dia bukan anakku lagi, sejak dia kabur dari rumah, dia sudah memutuskan untuk tidak menjadi anak kita!” Ujar Papih dengan emosi yang masih bergejolak.


“Jaga ucapanmu. Jika kau menganggapnya bukan anakmu lagi lalu mengapa kau marah saat mengetahui bahwa ia datang kemari untuk meminta restu pada kita? bukankah itu tandanya kau masih menganggapnya sebagai anak kita? dia sudah mengorbankan hatinya untuk datang kemari. Setidaknya kita menerima kedatangannya. Bukan malah memarahinya seperti ini!” Mamih berani memarahi suaminya karena ia wanita yang independent.


Papih kemudian menurunkan kedua lengannya dari kerah baju Reynold. Meski wajahnya masih penuh dengan emosi tetapi ia sedikit lebih tenang sekarang.


“Kau, sudah kami beri kepercayaan untuk kuliah di sini dan hidup sendiri, tetapi sekarang... kau malah datang ke hadapan kami dengan membawa gadis itu. Kau bangga sekarang? Kau sudah membuat kami kecewa! Kau khianati kepercayaan kami!” UcapPapih.


“Kepercayaan? Berkhianat? Sejak kapan Papih peduli dengan hal itu? Bukankah kalian selalu mengkhianatiku? Melanggar janji-janji kalian sejak aku kecil? Kalian berjanji akan membawaku ke Amerika dua tahun kemudian saat aku masih kecil. Tetapi nyatanya, kalian tidak pernah pulang hingga aku lulus SMA. Kalian berjanji akan datang di hari pentas ku waktu itu, tapi kalian juga melanggarnya. Kalianlah yang berkhianat. Kalian berjanji menjadi orang tua yang akan ada untukku di saat aku butuh tetapi nyatanya kalian melanggar janji itu!” Reynold mengatakan hal itu sambil menitikan air mata.


Papih yang tadinya mau membantah dan balik memarahi putranya malah urung melakukannya. Ia dibuat diam tak berkata sepatah kata pun. Apa yang sudah putranya katakan berhasil menyentuk bagian hati terdalamnya. Begitu pun dengan Mamih, ia bahkan ikut menangis saat mendengar putranya mengatakan hal barusan.


“Rey...” Mamih ingin mengatakan sesuatu.


“Tidak. Aku sudah mendapatkan apa yang aku ingin ketahui dari kalian. Tadinya, aku datang kemari, berharap akan menemukan bagian yang aku cari selama ini. ialah orang tuaku yang selalu aku rindukan. Aku berharap kedatanganku kali ini akan diterima dengan baik oleh kalian, tapi ternyata... sudahlah, mungkin salahku karena berharap lebih.” Reynold menghela napas dengan panjang kemudian bangkit berdiri.


“Tidak Rey, kami benar-benar menyayangimu sampai kapanpun...” Mamih mencoba menghentikan Reynold yang akan pergi.


“Mamih tak perlu lagi mengatakan hal itu. Ayo Elle, kau sudah mengetahui semuanya. Aku tidak bisa lagi berlama-lama di sini. jadi ayo pergi sekarang.” Ucap Reynold sambil menarik lengan Elle.


Elle pun ikut berdiri.


“Rey, jangan pergi nak. Papih cegah Rey untuk tidak pergi lagi dari rumah ini.” Ucap Mamih sambil menangis. Sementara Papih masih diam bagaikan patung.


Reynold pun pergi dari rumah kedua orang tuanya bersama Elle.

__ADS_1


Mereka berada di mobil dalam perjalanan menuju rumah Elle. sepanjang jalan, mereka saling terdiam. Mereka sama-sama memilih untuk bungkam dan menatap lurus ke depan.


Mereka pun tiba di rumah Elle. Reynold memarkir mobilnya di depan rumah Elle. ia pun membuka pintu mobil dan hendak turun dari mobil tetapi Elle tiba-tiba memegang lengannya.


“Gue...” Elle meraih lengan Reynold.


“Gue minta maaf.” Ucap Elle dengan tatapan yang tampak bersalah.


“Untuk apa kamu minta maaf Elle?” Reynold tak menegrti dengan maksud perkataan Elle.


“Karena gue udah nganggap remeh soal kehidupan lo dan maksa lo buat ngulik tentang kehiduan pribadi lo.” Jawab Elle, wanita itu tak berani menatap wajah Reynold secara langsung.


“Oh, soal itu. Aku kira soal apa. Gak papa kok Elle. aku juga mengerti, mana ada wanita yang mau dinikahi jika ia tidak tahu latar belakang keluarga calon suaminya. Maka dari itu aku mengajakmu ke sana. Lagi pula aku yang menintamu untuk pergi ke sana. Jadi sudahlah, kita lupakan hal yag sudah terjadi. Sekarang kita fokus kepada hal yang ada di depan kita.” Ucap Reynold seakan semuanya baik-baik saja.


“Lo yakin lo gak papa?”


“Engga, beneran. Aku gak papa Elle.” Reynold pura-pura tersenyum di hadapan Elle.


“Baiklah.” Elle kemudian turun dari mobil.


“Kalian sudah pulang?” Zielle tampak antusias.


“Aku tidak membawa sesuatu Zielle.” Ucap reynold.


“Bukan, aku tidak menginginkan itu. Aku cemas, kalian lama sekali. Aku kira terjadi sesuatu di sana. Syukurlah kalian sudah sampai ke sini lagi dengan selamat. Kakak gak kenapa-napa kan?” Tanya Zielle.


“Gue gak kenapa-napa.” Jawab Elle.


“Zielle Kak Rey titip kakakmu ya. kakak mau pulang sekarang, besok kakak ke sini lagi.” Ucap Reynold.


“Iya Kak.”


“Elle, istrirahatlah. Kau harus menyimpan tenagamu untuk besok karena aku akan memnawamu ke penghulu besok. Aku akan menikahimu besok Elle, sesuai janjiku.” Ucap Reynold menatap wajah Elle dengan keseriusan.


“...”Elle tak berkata sepatah pun. Matanya berkaca-kaca.

__ADS_1


“Yasudah. Aku pulang sekarang.” Reynold pun keluar.


Keesokan harinya, Elle tengah berdiri di depan cermin. Seorang wanita tengah memoles wajahnya yang rupawan. Perias itu tak usah rept-repot menambahkan banyak riasan karena Elle sudah cantik secara alami.


“Sudah beres.” Penata rias itu pun menyuruh Elle bercermin.


Elle menatap wajahnya di cermin. Ia tak mengenali wajah yang terpantul di cermin itu. Apakah itu orang yang sama dengan orang yang hampir mati beberapa bulan yang lalu? Apakah orang itu adalah oang yang sama yang dulu berlari tanpa sendal sambil dikejar oleh kedua orang tuanya saat masih kecil? Ingatan-ingatan itu terbersit di benak Elle saat memandangi wajahnya.


“Waaah. Kakak sangat cantik.” Zielle masuk ke kamar Elle.


“Lo lebay.” Ucap Elle.


“Beneran kak. Eh, btw semuanya sudah siap. Ayo kita berangkat sekarang.” Ajak Zielle.


“Ya, ayo.” Mereka pun keluar.


Di halaman rumah, Reynold sudah siap dengan jas hitamnya.


“Kau sangat cantik hari ini Elle.” Puji Reynold. Mereka pun berangkat.


Mereka tiba di sebuah mesjid. Di sana, proses akad nikah akan berlangsung. Reynold dan Elle kemudian duduk di depan meja ijab. Di depan mereka sudah ada penghulu yang sudah siap.


“Mas Reynold dan Mbak Adelle?” Tanya penghulu.


“Benar.” Jawab Reynold.


Proses akad nikah pun dimulai.


“Saya nikahkan, Ananda Adelle Sundari Prasasti binti Susanteo dengan Engkau, Ananda Reynold Purnawira bin Indra Purnawira dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai.”


“Saya terima nikah dan kawinnya Ananda Adelle Sundari Prasasti binti Susanteo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”


“Bagaimana saksi? Sah?”


“Tunggu!” Tiba-tiba, di tengah ke khidmatan akad, terdengar suara dari arah pintu masjid yang membuat semua orang terkejut.

__ADS_1


__ADS_2