
“Ayolah!” Elle mencoba meraih bel darurat itu. Tapi tangannya tak sampai. Perutny benar-benar sudah terasa kencang. Darah keluar dan menodai kasur putihnya.
Tangannya tak kunjung sampai tapi rasa sakitnya semakin menjalar. Elle perlahan mulai kehilangan kesadarannya. Tapi sebelum itu....
“Adelle! Nak! Kau kenapa?” Tiba-tiba Nyonya Aletha muncul.
“Sakit..sekali...”Elle hanya mampu mengatakan itu. Kesadarannya pun hilang.
“Adelle!” Nyonya Aletha mencoba membangunkan Elle. Elle tak kunjung sadar, saudah beberapa kali Nyonya Aletha memencet bell. Akhirnya setelah beberapa saat kemudian perawat pun datang.
“Segera panggilkan dokter, pasien mengalami pendarahan.” Ucap Nyoya Aletha.
“Baik bu.” Perawat itu pun keluar memanggil dokter. tak lama kemudian perawat kembali bersama seorang dokter.
Dokter kemudian memeriksa Elle. Nyonya Aletha menunggu di luar. Lama sekali dokter menanganinya, membuat Nyonya Aletha begitu cemas. Akhirnya Nyonya Aletha memutuskan untuk menelpon Fredy, anaknya.
“Hallo, Fredy.”
“Iya Mah, ada apa menelpon malam-malam begini?” Fredy tampaknya baru bangun tidur.
“Fredy, Mamah sedang di rumah sakit, Adelle...”
“Adelle? Ada apa dengannya?”
“Mamah sebenarnya tak ingin memberi tahu mu, tapi kondisinya begitu mengkhawatirkan. Mamah taku jika ia atau bayinya kenapa-napa. Kau harus kesini sekarang, jika terjadi sesuatu padanya kau ada di sini, kau akan menemani mereka jika terjadi sesuatu yang buruk.”
“Baiklah, aku ke sana sekarang.”
Telpon pun terputus.
Nyonya Aletha kembali menunggu. Fredy juga ternyata agak lama datangnya. Setelah beberapa jam, Fredy baru tiba.
“Mah, bagaimana kondisinya sekarang?” Tanya Fredy.
“Mengapa kau lama sekali?” Nyonya Aletha tampak sedikit kesal.
“Tadi di parkiran, aku bertemu dengan Shienna. Aku curiga, mengapa ia ada di sini. padahal dia tadi bilang padaku bahwa akan menginap di rumah orang tuanya. Makanya aku agak lama.” Jelas Fredy.
__ADS_1
“Shienna? Di sini? mengapa bisa bersamaan dengan kejadian ini. apa jangan-jangan...”
“Ya, aku juga berpikiran yang sama dengan mamah. Pasti ini ulah wanita itu. Mamah harus hati-hati dengannya, ia wanita yang sangat licik.” Ucap Fredy.
“Ya, mamah mengerti sekarang. Oh, mamah hampir lupa, dengar, Adelle dalam kondisi kritis, dokter yang menanganinya bahkan belum keluar sampai sekarang.” Ucap Nyonya Aletha dengan wajah cemas.
“Kita tunggu saja.”Ucap Fredy kemudian duduk di dekat Mamahnya.
Beberapa saat kemudian dokter keluar.
“Anda keluara Nyonya Adelle?” Tanya Dokter.
“Ya, saya suaminya. Bukan, maksud saya saya ayah dari bayi yang dikandungnya.” Jawab Fredy.
“Oh, jadi anda.” Ucap Dokter sambil mengamati Fredy.
“Jadi, bagaimana kondisi Elle sekarang dok?” Fredy kembali bertanya.
“kondisinya sangat kritis, tapi sudah kami tangani. Ia masih tak sadarkan diri. Mungkin besok pagi baru sadar, kami memang sengaja membuatnya tidak sadar karena kondisinya lemah. Ia harus memulihkan kondisinya dahulu.”
“Tapi ada satu hal yang sangat penting yang harus saya sampaikan pada kalian.”
“Ia sudah menjalani bedrest selama beberapa minggu ini tapi tidak ada kemajuan. Malah kondisinya semakin buruk. Ini dapat membahayakan ibunya. Jika kalian ingin menyelamatkan ibunya, maka bayi itu bisa kami aborsi, tapi jika keputusan kalian ingin mempertahankan bayi itu maka Nyonya Adelle harus menanggung rasa sakit ini hingga usia kandungan 7 bulan. Tapi, kami juga tidak bisa memastikan selama proses menunggu itu akan lancar dan baik-baik saja.”
“Lalu, apa lagi kemungkinannya dok?”
“Kalian harus putuskan segera. Mungkin setelah Nona adelle bangun, karena tindakan ini juga harus atas persetujuan dari pasien. Gugurkan atau pertahankan, semuanya kembali pada keputusan kalian. Tugas kami hanya berusaha semampu kami.” Jawab Dokter.
“Baiklah, saya akan memberikan keputusannya setelah Elle bangun.” Ucap Fredy.
“Baik, kalau begitu saya permisi dulu.”
“Fredy..., bagaimana sekarang? Mamah tidak mengira jika selama ini Adelle begitu tersiksa, ia menanggung semua rasa sakit itu. Mamah rela jika bayinya memang harus digugurkan, toh dokter juga sudah bilang jika ia juga tak bisa memastikan bayi itu bisa bertahan hingga usia kandungan 7 bulan.” Ucap Nyonya Aletha sambil menangis.
“Ya Mah, Fredy juga akan memilih hal yang sama dengan Mamah, tapi Fredy harus bertanya dulu pada Adelle, dia juga ibunya, dia yang mengalaminya. Dia yang juga berhak memutuskan.” Ucap Fredy.
“Ya, kau benar.”
__ADS_1
Keesokan paginya, Reynold pulang dari kerjanya. Reynold kaget saat melihat di dalam kamar Elle ada Fredy dan Nyonya Aletha.
“Elle, aku pulang.” Ucap Reynold sambil membuka pintu.
“Kau!” Reynold langsung marah saat melihat ada Fredy di hadapannya.
“Mengapa kau ke sini hah?” Ucap Reynold dengan marah.
“Tentu saja untuk menemani Elle, dia calon istriku sekarang, aku akan menikahinya segera, benar kan Mah?.” Jawab Fredy.
“Benar, Tante sudah merestui mereka.” Jawab Nyonya Aletha.
“Tidak bisa, Elle adalah calon istriku, Elle akan segera menikah denganku.” Ucap Reynold dengan geram.
“Aku adalah ayah dari anak yang dikandungnya, aku lebih berhak menikahinya daripada kau!” Fredy kini berdiri sejajar dengan Reynold.
“Jangan mimpi kau. dasar lelaki tak tahu diri! Dimana urat malu mu hah? Setelah kau melecehkan Elle malam itu, lalu kau campakkan ia, aku tinggalkan ia dengan cara menikahi wanita lain! Jangan harap jika Elle mau kembali untuk menerimamu hah!” kata Reynold dengan kesal.
“Jangan sombong ya! awas saja! Akan ku buktikan bahwa akulah yang akan menikah dengan Elle! bukan kau!” Fredy kini menjambak kerah baju Reynold.
“Kau benar-benar tidak tahu malu! Kau kemanakan wanita yang kau nikahi itu? Apa jangan-jangan kau hendak menjadikan Elle sebagai istri keduamu? Oh, dasar laki-laki tamak! Aku tidak akan membiarkan Elle kembali terluka olehmu!” Reynold tambah emosi.
“Fredy, lepaskan dia. Ini di rumah sakit, tolong jaga sikapmu.” Ucap Nyonya Aletha.
“Ya, kau seharusnya menjaga sikap anakmu Nyonya!” Tiba-tiba Mamah Reynold muncul.
“Anda seharusnya malu karena telah datang ke sini. apakah anda masih puya keberanian setelah semua yang telah anak anda lakukan pada Adelle?” Ucap Mamah reynold.
“Anak saya dan saya kesini karena ingin memperbaiki kesalahannya. Ia ingin mempertanggung jawabkan semua kesalahannya.” Jawab Nyonya Aletha.
“Dengan menikahi Adelle dan menjadikannya sebagai istri kedua? Wah, wah, wah.” Ucap Mamah Reynold.
“Fredy harus menikahi Adelle demi anak mereka. Anak itu harus memiliki sosok ayah. Dan anak itu juga yang akan mewarisi harta anak saya.” Ucap Nyonya Aletha.
“Harta? Anak saya juga bisa menggantikan sosok ayah untuk anak itu. Dan soal harta, keluarga kami juga tidak kekurangan harta. Apa kau tidak tahu bahwa Reynold anak saya adalah pewaris satu-satunya Zafir Group?” Mamah Reynold tak mau kalah.
“Saya kurang percaya, mengingat tampilan anak anda, ia bekerja di pt cabang milik keluarga kami.” Nyonya Aletha menunjukkan logo di sragam yang Fredy kenakan.
__ADS_1
“Ada keributan apa ini?” Elle tiba-tiba terbangun.