
“Ya. Reynold bukan anak kandung Tante. Reynold sebenarnya adalah keponakan Tante.” Mamah Reynold menatap wajah Elle dengan serius.
“Tapi...” Elle masih tak percaya.
“Wajah Reynold sangat mirip dengan wajah Papihnya, tentu karena Reynold adalah anak kandungnya.” Ucap Mamah Reynold.
“Hah?” Elle makin pusing.
“Kau pasti bingung, begini... Dua puluh satu tahun yang lalu, Papih Reynold menikah dengan saudara kembar Tante. Tetapi saat melahirkan Reynold, saudara kembar Tante tak selamat. Sebelumnya, ia dan suaminya mengalami kecelakaan saat hendak ke rumah sakit. Papih Reynold hanya mengalami luka cidera, tetapi Ibu kandung Reynold mengalami luka benturan yang amat serius. Hampir saja Reynold juga tak selamat, tetapi untunglah, Tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup.”
“Saat itu Tante masih di Jepang. Tante bekerja sebagai perawat di sana. Hingga suatu hari Tante mendapat telpon dari Ibunya Tante yang memebri tahu bahwa saudara kembar Tante telah tiada. Saat itu juga Tante memutuskan untuk kembali pulang. Tante bisa melihat kesedihan yang mendalam dan penyesalan berat yang dialami oleh Papihnya Reynold. Tante tahu bahwa Papihnya Reynold sangat menyayangi ibu kandung Reynold.”
“Bahkan sampai saat ini ia masih menyalahkan dirinya atas kecelakaan dan kematian istrinya. Tante terpaksa harus menikahi Papih Reynold karena Ibu tante menyuruh Tante untuk menjadi ibu sambung Reynold. Katanya, dengan adanya tante sebagai ibunya maka Reynold tidak akan pernah merasa kehilangan sosok ibu. Dan kamu tahu, Reynold tak pernah tahu bahwa ibu kandungnya telah meninggal. Yang ia tahu hanya Tante sebagai ibu kandungnya.” Mamah Reynold mengakhiri ucapannya dengan menyeka air mata yang berjatuhan di pipinya.
“Aku gak tahu kalau Reynold...”Elle tak berani menyelesaikan kata-katanya.
“Ya, dan sebaiknya jangan tahu. kau bisa menjaga rahasia ini kan?” Tanya Mamah Reynold.
“Baik, tapi aku ingin bertanya satu hal. Apa maksud tante yang sebenarnya datang ke sini?”
“Tante hanya ingin berterima kasih kepadamu.” Mamah Reynold kini meraih tangan Elle.
“Berterima kasih? Untuk apa?” Tanya Elle dengan wajah keheranan.
“Terima kasih karena selalu ada untuk Reynold. Tante tau sekarang kenapa Reynold begitu mencintaimu. Reynold kurang kasih sayang dari kami, terlebih dari sosok Papihnya sendiri yang tak pernah bisa mencintainya seutuhnya karena trauma kaibat kejadian dua puluh satu tahun yang lalu. Tetapi di saat-saat kesepian itu kau hadir, kau ada untuk Reynold, menjadi teman dan kawan baiknya. Terima kasih banyak.” Mamah Reynold kini memeluk Elle.
Elle diam terpaku. Sekujur tubuhnya seakan dibuat kaku oleh ucapan dari ibunya Reynold barusan. Apa ia tidak salah dengar? Atau ini hanya hayalannya saja?
“Tante...”Elle kemudian melepaskan pelukannya.
“Aku tidak selalu ada untuk Reynold. Aku juga bukan teman yang baik untuknya. Tante tak perlu berterima kasih untuk itu.” Elle melepaskan tangannya dari Mamah Reynold.
__ADS_1
“Tidak nak. Tante yakin kau adalah orang yang tepat untuk menemani Reynold. Maka dari itu, tante merestui hubungan kalian.” Terlihat kedua mata Mamah Reynold yang kini berlinang.
“....”Elle hanya bisa diam terpaku. Ia berkali-kalia dibuat terkejut oleh ucapan yang keluar dari mulut Mamahnya Reynold.
“Menikahlah dengan Reynold. Tante tidak akan mencegahnya. Dan jika kau kekurangan apapun, beri tahu tante. Tante akan selalu siap membantu kalian. Tante memang sudha menganggap Reynold sebagai darah daging tante sendiri. Karena ia adalah bagian dari diri tante juga walau terlahir dari rahim yang berbeda.” Mamah Reynold kini benar-benar menitikan air mata.
“Aku...aku...”Elle tampaknya ingin mengucapkan sesuatu.
“Mamih!” Tiba-tiba muncul Papihnya Reynold dari dekat pintu.
“Papih.” Mamah Reynold terkejut melihat kedatangan Papih Reynold di hadapannya.
“Ngapain kamu di sini? ayo cepat pulang!” Papih Reynold langsung menarik lengan Mamah Reynold dengan kencang.
“Tunggu dulu Pih.” Mamah Reynold menolak.
“Tidak ada waktu lagi. Ayo pulang sekarang! Jika kau berlama-lama dengannya nanti kau akan sama dengan Reynold. Papih takut wanita itu memberi pengaruh negatifnya juga terhadapmu.” Ucap Papih sambil masih menarik lengan Mamah.
“Ayo pulang sekarang! Aku sudah kehabisan kesabaran.” Papih Reynold tampak makin kesal.
“Dasar pria egois! Elle, kapan-kapan tante akan menemuimu lagi. Ingat dengan apa yang telah tante katakan. Sampai jumpa di lain waktu.” Mamah Reynold akhirnya menyerah dan memilih pulang bersama Papih Reynold.
“Apa yang kau katakan padanya hah?” Papih tampak curiga.
“Kau tidak usah ikut campur.” Mamah Reynold kemudian berjalan keluar meninggalkan Papih.
“Hey! Tunggu.” Papih kemudian menyusul.
Malam itu, Reynold kembali ke rumah sakit. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya untuk hari ini. nampak raut wajah lelah yang tersirat dari wajahnya.
“Elle, aku pulang.” Reynold masuk kamar.
__ADS_1
Di kamar rawat Elle juga ada Zielle, katanya, malam ini Zielle ingin menemani Kakaknya.
“Kak Rey bawa apa?” Zielle tampak tertarik dengan bingkisan yang Reynold bawa.
“Oh, ini. kak Rey bawa sate madura. Kita makan sama-sama ya.” Ucap Reynold.
“Wah, asiiik.” Zielle langsung menghampiri sate itu.
“Kak Rey bersih-bersih dulu ya. sementara itu kau akan menjaga sate itu, hehe.”
“Siap kak.” Ucap Zielle dengan antusias.
Reynold pun mandi di wc rumah sakit. Selesai membersihkan dirinya ia pun kembali ke kamar rawat Elle.
“Yeay Kak Rey sudah kembali. Kita boleh memakannya sekarang?” Zielle masih berada di dekat sate itu.
“Tentu. Ayok.” Mereka pun makan malam bersama.
Saat semua orang sudah tidur, Elle masih terjaga. Ia tak bisa tidur setelah perbincangan dengan Mamahnya Reynold tadi pagi. Elle membalikkan dirinya. Ia melihat Reynold yang tertidur di lantai dengan beralaskan tikar. Pia itu, adalah pria yang sama yang Elle kenal saat duduk di bangku SMA. Elle tak menyangka jika perjalanan hidup Reynold akan seperti ini. Reynold bahkan tak tahu siapa ibu kandungnya yang sebenarnya dan alasan kenapa ayahnya selalu menelantarkannya.
Elle kemudian menitikan air mata. Ia dan Reynold sama-sama dalam kondisi rapuh, bagaimana mungkin mereka saling menguatkan. Bagaimana bisa mereka menerjang dunia ini. Elle kembali larut dalam lamunananya. Ia membayangkan dirinya di hari kemudian. Apa semuanya akan berubah? Atau masih tetap sama? Elle pun perlahan terlelap tidur.
Keesokan paginya Reynold sudah siap berangkat kerja. Ia juga kana mengantar Zielle ke sekolah terlebih dahulu. Seperti hari-hari biasanya, Elle akan ditinggal sendiri di rumah sakit.
Saat itu Reynold tengah dalam perjalanan menuju tempat kerjanya setelah mengantar Zielle ke sekolah. Di jalan, ia bertemu dengan sesorang. Orang yang sama sekali Reynold tak menduga akan bertemu di tempat seperti itu.
“Maaf bu, saya tidak sengaja.” Ucap Reynold. Ia menyenggol seorang wanita yang tengah berjalan di trotoar.
“Kau.” Ucap wanita itu.
“Nyonya Aletha.” Reynold terkejut dengan kemunculan Ibunya Fredy di depan matanya.
__ADS_1