Terjerat Cinta Kupu-kupu Malam

Terjerat Cinta Kupu-kupu Malam
Bab 19


__ADS_3

“Elle?” Fredy berhenti tepat di depan Elle dan Reynold. Nafasnya masih terengah-engah setelah berlari dengan cepat.


Melihat Fredy yang kini sudah ada di depan matanya Elle hanya diam terpaku.


“Elle, ayo kita pulang sekarang.” Reynold membujuk Elle yang masih diam seperti patung.


“Apa...”Elle kini bersuara.


Tiba-tiba datang Shienna yang menghentikan pembicaraan Elle.


“Sayang, kau kemana saja ? aku mencarimu.” Shienna langsung menggenggam erat lengan Fredy.


Melihat itu Elle merasa sakit hati.


“Apa benar lo udah menikah dengan wanita itu?” Elle kini melanjutkan kata-katanya.


“Mana yang kau sebut ‘wanita itu’ hah? Panggil aku Nyonya Danuarta karena sekarang aku adalah istri sahnya Fredy, bukan wanita simpanan atau belian macam kau!” Ucap Shienna dengan mengangkat kepalanya.


“Cukup Shienna! Lo gak usah ikut campur sama masalah pribadi gue. Elle, Gue minta maaf.Gue...” Fredy tampak penuh penyesalan, namun kata-katanya tak sempat berlanjut hingga selesai.


“Tidak, lo gak perlu minta maaf. Mungkin ini semua salah gue. Gue yang bodoh dan tolol karena udah mengemis cinta dari lo. Gue gak berharga buat siapapun. Gue emang hina.” Elle mengatai dirinya sendiri dengan derai air mata.


“Syukur kalo kamu sadar.” Bukannya berempati, Shienna malah mengatai Elle.


“Shienna!” Fredy makin kesal kepada istrinya.


“Elle, lo gak kaya gitu. Itu semua bukan salah lo. Gue...”


“Ini semua salah gue.” Elle tak mau mendengarkan lagi penjelasan atau ucapan dari Fredy. Dia langsung berlari meninggalkan Fredy. Melihat Elle yang tiba-tiba berlari Reynold langsung menyusulnya.


“Elle, tunggu!” Ucap Reynold sambil mengejar Elle.


“Gimana? Puas lo maki-maki pacar gue! Puas, hah? Lo bener-bener licik dan gak punya hati.” Ucap Fredy kepada Shienna. Fredy langsung meninggalkan Shienna dan kembali ke pelaminan karena sudah di panggil oleh ayahnya.


“Dia bukan pacar kamu lagi Fredy! Dia bukan siapa-siapa kamu lagi!” Shienna mengejar Fredy dari belakang.

__ADS_1


Sesampainya di pelaminan Tuan Danuarta langsung menginterogasi Fredy.


“Ada keributan apa tadi?” Tanya Tuan Danuarta dengan wajah yang tampak kurang menyenangkan.


“Tidak, hanya tamu tak diundang Ayah. Aku sendiri yang harus mengusirnya.” Fredy berbohong.


“Oh, baiklah. Sekarang lanjutkan kembali acaranya. Tamu-tamu penting Ayah sudah menunggu.” Ucap Tuan Danuarta.


“Ya Ayah.” Fredy mengiyakan.


Sementara itu, di pinggir jalan, Elle tengah berjalan sempoyongan. Hatinya kini benar-benar hancur sehancur-hancurnya. Air matanya bahkan sudah habis, ia sudah terlalu banyak menanggung derita, belum lagi ia harus menerima kenyataan kali ini yang begitu mengguncang jiwanya.


Dari belakang, Reynold mengejar Elle dengan sepeda motornya.


“Elle!” Ucap Reynold kemudian menghentikan motornya saat sudah di dekat Elle.


“Elle, berhenti! Kau mau kemana? Ayo kita pulang.” Ucap Reynold dengan kahwatir.


“....” Elle tak menjawab.


“Ayolah Elle.” Bujuk Reynold.


“Elle, kau jangan berpikir yang aneh-aneh, lebih baik kita pulang sekarang dan tenangkan pikiranmu.”


“....”Elle masih tak menggubris perkataan Reynold dan malah terus melanjutkan langkahnya hingga ke pinggir jembatan.


“Elle, berhenti di situ! Jangan melakukan sesuatu yang akan membahayakan nyawamu Elle.” Reynold kini turun dari motornya dan langsung berlari menghampiri Elle.


“Elle!” Reynold langsung meringkus lengan Elle.


“Lepasin!” Elle kini memberontak.


“Gak akan! Aku gak akan lepasin kamu hingga kamu mau pulang sama aku.” Desak Reynold.


“Gue gak mau pulang, buat apa gue pulang? Gue udah gak punya harga diri, gak punya keluarga, gak punya apapun lagi, lalu ke rumah mana gue harus pulang?” Elle kini menangis histeris.

__ADS_1


“Inget Zielle Elle, dia adik kamu. Yang kamu udah janji sama dia buat selalu ada bersamanya. rumah kamu adalah tempat Zielle, dan aku berada. Kamu masih punya Zielle dan aku Elle.”


“Bullshit semua itu! Gue gak peduli. Hidup gue udah gak berarti, sekarang biarin gue mengakhiri semua ini!” Elle menggigit lengan Reynold dengan keras. Reynold pun melepaskan cengramannya dan meringis kesakitan. melihat peluang itu Elle langsung memanjat ke pinggir jembatan dan siap untuk terjun bebas.


“Elle!” Reynold langsung menariknya kembali ke bawah.


“Kamu udah bener-bener gila ya Elle! hanya karena pria itu kamu mau mengakhiri hidup kamu? bukalah matamu selebar-lebarnya Elle! Fredy bukan pria yang pantas untukmu! Jadi kamu gausah menangisi kepergiannya atau malah berti dak seperti ini. hentikan semuanya atau kamu akan meneysal!” Reynold memegang Elle dengan gemetaran dan cemas.


“Lepasin!” Elle memberontak dengan sekuat tenaga. Ia lalu mendorogReynold hingga kepala Reynold terbentur ke tiang lampu jalan. Emelihat Reynold yang tak berdaya Elle kembali melakukan percobaan mengakhiri hidupnya.


Elle naik dengan kaki yang gemetar. Ia menatap kondisi bawah jembatan yang penuh dengan mobil-mobil yang hilir mudik. Jika Elle jatuh, maka sedikit sekali peluangnya untuk selamat. Elle kini siap untuk menjatuhkan dirinya.


Reynold tak pantang menyerah. Ia mencoba untuk kembali bangun dengan sisa tenaganya. Kepalanya sudah berdarah karena terbentur ke tiang. Tetapi ia terus mencoba untuk membuat dirinya tetap tersadar. Reynold sudah benar-benar panik saat melihat Elle dengan kondisi yang siap untuk jatuh ke bawah.


Reynold kini berdiri dengan goyah. Ia berusaha menyeret kakinya untuk sampi di dekat Elle. pandangannya sudah kabur. Reynold menggoyang-goyangkan kepalanya agar ia tetap tersadar.


“Ku mohon jangan lakukan itu Elle.” Ucap Reynold dengan lirih.


Elle kini di depan matanya. Wanita itu sudah menurunkan satu kakinya. Dan dalam sepersekian detik, Reynold melihat Elle menjatuhkan dirinya ke bawah.


“Elle!!!” Reynold berteriak sekuat tenaga. Matanya terbelalak. Elle, gadis yang baru berusia dua puluh tahun itu kini terjun bebas ke bawah jembatan.


Tetap...


Tuhan berkata lain. Reynold, dengan ajaibnya langsung bisa berlari kencang menghampiri Elle. kini Reynold dalam posisi memegangi lengan Elle. kepalanya berdenyut hebat. Pandangannya makin kabur. Reynold, dengan keadaan terluka memaksakan dirinya untuk menegrahkan seluruh tenaganya guna menahan tubuh Elle.


“Bertahanlah Elle, jangan lepaskan pegangannya.” Ucap Reynold dengan napas yang sesak.


“Lepasin gue.” Ucap Elle dengan tangisan lirih.


“Gak akan. Aku gak akan pernah lepasin kamu Elle.” Ucap Reynold sambil berusaha sekuat tenaga menarik Elle ke atas.


“Gue udah gak kuat. Tolong lepasin gue sekarang.” Elle kini benar-benar menangis.


“Kamu gak boleh nyerah Elle. aku gak akan lepasin tangan kamu.” Pegangan tangan Elle semakin melorot. Reynold juga semakin kehabisan tenaga. Hanya perlu menunggu waktu hingga Elle terlepas dari pegangan Reynold.

__ADS_1


“Biarkan aku pergi.” Elle tampaknya sudah tak kuat. Wajahnya sudah benar-benar pucat. Kini lengannya sudah tidak menggenggam lengan Reynold lagi. Perlahan, lengan Elle lepas dari genggaman Reynold.


“Arrrrrgggghhh!” Reynold berteriak sekuat tenanga.


__ADS_2