Terjerat Cinta Kupu-kupu Malam

Terjerat Cinta Kupu-kupu Malam
Bab 38


__ADS_3

“Cukup Danuarta! Berhenti menghabisi anakmu sendiri!” Ucap Nyonya Aletha menghentikan Tuan Danuarta yang ingin kembali memukul Fredy.


“Diam kau! jangan ikut campur! Anak ini memang harus diberi pelajaran karena telah menghamili anak orang!” Tuan Danuarta melepaskan tangannya dari Nyonya Aletha.


“Buk!” Tuan Danuarta memukul wajah Fredy.


“Kau telah mencoreng nama baik keluargamu sendiri.” Ucap Tuan Danuarta murka.


“Berhenti memukuli anakku!” Kini Nyonya Aletha berteriak. Ia tak bisa tinggal diam saja menyaksikan anaknya habis dipukuli oleh ayahnya sendiri.


“Kau menyiksa anakku karena telah berkata jujur padamu. Bagaimana ia akan jujur padamu jika ini balasan dari kejujurannya. Dan kau telah bertindak melampaui batas. Aku sudah cukup sabar dengan anak-anakku yang lain, tapi Fredy. Aku tidak bisa tinggal diam lagi!” Nyonya Aletha kini membantu Fredy untuk bangkit dan menjauh dari Tuan Danuarta.


“Beraninya kau melawan perintah suamimu!” Tuan Danuarta kini mengacungkan tangannya ke arah Nyonya Aletha.


“Tampar atau pukul saja aku semaumu. Tapi aku tidak akan tinggal diam lagi. Mulai detik ini aku tidak akan lagi bisa diinjak-injak olehmu. Asal kau tahu, setengah dari kekayaan keluarga ini sudah atas namaku. Dan setengah dari kekayaanmu adalah atas nama Fredy. Jadi kau hanya memiliki sedikit dari seluruh kekayaan keluarga ini.”


“karena kau sudah tidak berguna lagi bagiku, maka mulai hari ini aku dan Fredy akan pergi dari rumah ini. aku ingin bercerai denganmu. Hal yang dari dulu ingin aku lakukan tapi tak bisa. puluhan tahun dipaksa menikah denganmu bagaikan dibelenggu oleh besi panas, dan sekarang aku sudah bisa keluar dari belenggu itu. Aku akan pergi jauh darimu dengan membawa hampir seluruh harta kekayaan keluarga ini. dan kau tidak bisa mengganggu gugatnya lagi.” Ucap Nyonya Aletha dengan puas.


“Bicara apa kau ini hah!” Tuan Danuarta kini mencekik leher Nyonya Aletha.


“Buk!” Fredy tiba-tiba memukul Ayahnya sendiri dengan vas bunga. Seketika itu juga Tuan Danuarta jatuh tak sadarkan diri.


“Fredy.” Nyonya Aletha kaget dengan perbuatan yang baru saja anaknya lakukan.


“Maaf Mah, aku terpaksa melakukan itu karena aku tidak bisa melihat mamah disakiti oleh Ayah lagi.” Ucap Fredy dengan ragu campur takut.


“Tak apa. kau telah menyelamatkan Mamah dari tangan kejam Ayahmu yang hampir membunuh mamah dengan tangannya sendiri.” Ucap Nyonya Aletha kini meregangkan lehernya yang tadi dicekik oleh Tuan Danuarta.


“Lebih baik kita pergi sekarang Mah. Sebelum ayah kembali sadar dan berbuat yang tidak-tidak lagi.” Ucap Fredy.


“Kau benar. Ayo.” Nyonya Aletha dan Fredy pun mengemasi barang-barangnya dan segera meninggalkan tempat itu.


Mereka berdua mengendarai mobil Fredy. Nyonya Aletha yang duduk di kursi belakang kini telah meratapi rumahnya yang dulu ia tinggali dengan suaminya. Rumah itu bagaikan sangkar besar yang telah mengurungnya selama berpuluh-puluh tahun terakhir.

__ADS_1


Nyonya Aletha menikah dengan Tuan Danuarta karena dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Nyonya Aletha tak pernah mengenal Tuan Danuarta sebelumnya. Yang ia tahu hanyalah bahwa Tuan Danuarta adalah Asisten kepercayaan Ayahnya. Ayahnya menilai Tuan Danuarta sebagai laki-laki yang bertanggung jawab dan pekerja keras. Akhirnya mereka menikah. Dan setelah menikah, barulah Nyonya Aletha tahu sifat asli dari Tuan Danuarta. Dia adalah pria yang tempramental dan terlalu berambisi sehingga menghalalkan berbagai cara dalam mencapai keinginannya. Termasuk dengan membunuh kedua orang tua Nyonya Aletha agar kepemilikan saham perusahaan beralih ke tangannya.


Nyonya Aletha terus berjuang untuk membuktikan bahwa suaminyalah yang membunuh kedua orang tuanya. Dan mengklaim hak atas kepemilikan dari saham perusahaan milik keluarganya. Dan itu semua tak mudah, dengan adanya Tuan Danuarta yang terus menerus menggagalkan rencanya Nyonya Aletha kerap mengalami kegagalan. Hingga beberapa bulan terakhir ia menemukan titik terang. Diam-diam ia mengumpulkan bukti dan membalik hak kepemilikan saham keluarganya.


Dan saat ini hari yang ditunggu itu pun tiba. Nyonya Aletha tak percaya bahwa ia akhirnya bisa keluar dari neraka yang Tuan Danuarta ciptakan. Kini, Nyonya Aletha bersama kedua puteranya, Fredy dan adiknya meninggalkan rumah terkutuk itu.


“Kita ke rumahku saja ya Mah.” Ucap Fredy menawarkan.


“Ya, tapi jangan rumah yang kau tinggali dengan Shienna. Lebih baik kita ke rumahmu di dekat pantai. Mamah suka tempat itu, mungkin Mamah bisa menenangkan pikiran di sana.” Ucap Nyonya Aletha.


“Baiklah.” Fredy pun memutar arah menuju rumahnya yang ada di pinggir pantai.


Mereka tiba di rumah itu malam sekali. Dua mobil di belakang yang mengikuti mobil Fredy pun berhenti. Mobil-mobil itu adalah mobilnya lang lain yang membawa beberpa asisten pribadinya dan Gema, adik Fredy.


Gema turun dari mobil dibantu oleh perawatnya. Nyonya Aletha langsung menghampiri Gema.


“Gema.” Nyonya Aletha merangkul puteranya.


“Gema...” Fredy mengikuti Gema.


“Kau jangan kemana-mana. Dengar, ini rumah baru kita. aku tahu kau senang. Kau tidak tinggal di bawah tanah lagi. Kau sekarang bisa bermain di sini. atau sekedar jalan-jalan. Tapi kau jangan keluyuran ya.” Ucap Fredy sembari memegang lengan Gema. Hampri saja Gema kabur.


“Lebih baik kita masuk ke dalam sekarang. Hari sudah gelap.” Ucap Nyonya Aletha.


“Ya, Mamah benar. Ayo Gema, kita masuk ke rumah baru kita.” Ucap Fredy menuntun adiknya yang sudah setinggi badannya untuk masuk ke rumahnya.


Mereka pun masuk ke rumah itu. Rumah yang Fredy beli dari hasil kerjanya di perusahaan milik keluarganya sendiri. Sebenarnya Fredy membeli rumah ini untuk aset. Tapi rumah ini juga bisa menjadi villa pribadinya saat ingin berlibur di pantai. Tak sangka sekarang rumah ini menjadi tempat tinggalnya bersama ibu dan adiknya.


“Wah, ada ikan.” Gema langsung berlari menuju aquarium kecil di pojok ruang tamu. Perawatnya mengikuti dengan cemas.


“Entah kapan dia akan kembali normal.” Ucap Nyonya Aletha sembari menghela napas berat.


“Mamah tak usah khawatir. Ia pasti akan sembuh. apalagi sekarang dia sudah bebas dan bisa melihat dunia luar lagi. Pasti proses penyembuhannya jadi jauh lebih cepat.” Jawab Fredy.

__ADS_1


“Ya, semoga saja.” Ucap Nyonya Aletha sedikit pesimis.


“Kriing...” Ponsel milik Fredy berdering.


“Panggilan dari Elle? ada apa ini?” Fredy langsung panik saat melihat ponselnya.


“Lebih baik kau angkat sekarang. Mamah khawatir terjadi sesuatu dengannya.” Ucap Nyonya Aletha yang sama jadi ikut panik.


“Baiklah.” Fredy kemudian mengangkat telpon itu.


“Hallo...” Terdengar suara Elle yang pelan dan lembut. Hati Fredy mulai merasa lega karena mendengar suara Elle.


“Ya, Elle... ada apa?” Tanya Fredy.


“Fredy... aku ingin memintamu untuk datang besok pagi. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu. Kalau bisa, Nyonya Aletha juga ikut.” Ucap Elle tanpa basa basi.


“Besok? Apa terjadi sesuatu padamu Elle? kau baik-baik saja kan?” Tanya Fredy.


“Aku baik-baik saja. Pokoknya datanglah besok. Aku menunggumu.” Ucap Elle.


“Baiklah.”


“....” tak ada jawaban dari Elle. Telpon pun terputus.


“Bagaimana Fred? Apa Elle baik-baik saja?” Tanya Nyonya Aletha.


“Elle baik-baik saja kok Mah. Ia memintaku untuk datang ke rumah sakit besok. Dan kalau bisa katanya mamah juga harus ikut. Apa mamah bisa?”


“Tentu mamah bisa. memangnya ada apa?”


“Itu dia. Elle tidak memberi tahuku. Semoga saja bukan hal yang buruk.” Ucap Fredy.


“Ya, semoga saja.” Gumam Nyonya Aletha.

__ADS_1


__ADS_2