
Fredy keluar ruangan operasi dengan wajah tertekuk. Matanya begitu sembab. Ia bahkan tak mampu meneruskan langkahnya lagi. Seakan seluruh semangat hidupnya kini lenyap begitu saja.
“Fred, bagaimana operasinya? Apa ibu dan bayinya selamat?” Tanya Nyonya Aletha kini bangkit dari kursi.
“Bagaimana kondisi Elle sekarang? Apa dia baik-baik saja?” Mamah Elle ikut bertanya.
“....”Fredy pun tersungkur sambil menangis. Seakan ia sudah kehilangan tenaga bahkan untuk berdiri sekalipun.
“Kenapa Fred? Ada apa? jawab mamah!” Nyonya Aletha jadi panik melihat anaknya tiba-tiba menangis.
“Apa Elle baik-baik saja?” Mamah Elle jadi semakin panik.
“Elle...Elle...dia sudah tiada.” Ucap Frdey sambil menangis tersedu-sedu.
“Gak! Gak mungkin!” Tiba-tiba muncul Reynold dari belakang.
“Kamu jangan bercanda Fred! Jawab pertanyaan Mamah dengan jujur! Fredy!” Nyonya Aletha kini berteriak.
“Dia udah gak ada Mah.” Fredy semakin menangis.
“Gak mungkin!” Mamah Elle kini pingsan.
“Nyonya!” Nyonya Aletha kini mencoba untuk membangunkan Mamah Elle.
“Lo apain Elle hah!” Reynold kini menjambak baju Fredy. Fredy di gusurnya hingga ke tembok. Tak pernah sekalipun Reynold mengeluarkan kata kasar. Tapi kali ini, Reynold tampaknya benar-benar sudah marah.
“Pukul gue! Pukul sepuas lo! Jika dengan ini bisa negmbaliin Elle lagi, maka pukul gue sepuas lo!” Jawab Fredy sambil berlinang air mata.
“Gak mungkin! Kamu pasti bohong! Elle! Elle!” Reynold langsung menerobos ke dalam ruang operasi.
“Maaf Tuan anda tidak bisa masuk.” Salah satu perawat mencegah Reynold.
“Minggir kalian semua!” reynold menerobos mereka semua dan tetap memaksakan diri masuk ke dalam.
“Elle!” Teriak Reynold.
Ia melihat Elle yang kini sudah ditutupi kain putih. Reynold bergegas menghampirinya.
“Tidak! Tidak mungkin!” Reynold berhenti dan langsung menitikan air mata.
Ia menarik kain putih yang menutupi Elle. saat dibuka, ternyata benar, itu Elle. wanita itu kini sudah menutup matanya. Sekujur tubuhnya kini sudah sedingin es. Wajahnya pucat pasi. Padahal dulu wajah itu tampak sangat cantik dan selalu Reynold kagumi. Kini, Reynold hampir tak mengenali wajah itu. Wajah itu bagaikan tulang tengkorak yang hanya dilapisi oleh kulit manusia. Reynold kini mengusap wajah itu dengan lembut.
“Elle.” Ucap Reynold sambil menangis tersedu-sedu.
“Jangan tinggalkan aku Elle.” Ucap Reynold sambil menangis.
***
Fredy tengah melamun di depan kaca tabung inkubator milik anaknya. Ia sebenarnya tengah melihat anaknya, bayi itu begitu mungil. Lahir prematur di usia tujuh bulan kurang satu minggu.
“....” Fredy menitikan air mata.
“Ibumu menukar hidupnya untukmu.” Gumam Fredy kepada bayi itu.
“Tuan Fredy...”Seorang perawat menghampirinya.
__ADS_1
“Ya. ada apa?” Tanya Fredy dengan mata sembab.
“Dokter memanggil anda ke ruangannya.” Ucap Perawat.
“Baiklah, aku akan ke sana sekarang.” Ucap Fredy dengan putus asa.
Apa lagi yang mau dokter itu katakan? Bukankah semuanya sudah selesai? Apalagi yang ingin dokter itu sampaikan. Gumam Fredy dalam hatinya.
“Permisi.” Ucap Fredy masuk ke ruangan dokter.
“Ya, Masuklah.” Jawab Dokter.
“Ada apa dokter memanggil saya?” tanya Fredy.
“Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan pada anda. Ini terkait amanah dari mendiang Nona Adelle.”Ucap Dokter.
“Amanah?” Fredy tampak bingung.
“Ya, Mendiang Nona Adelle menitipkan beberapa amanah yang harus saya sampaikan pada anda khusunya dan beberapa orang lainnya.”
“Amanah apa?”
“Jadi begini, perlu anda ketahui, bahwa sebenarnya saya sebagai dokternya yang sudah menangani Nona Adelle dari awal sudah tahu akan resiko ini.”
“Lalu kenapa anda tidak memberitahukannya dari dulu?” Fredy kini emosi.
“Itu karena permintaan dari pasien sendiri. Saat itu saya sudah menyampaikan dua pilihan itu pada pasien. Yang pertama dengan mengugurkan bayinya dan yang kedua adalah dengan mempertahannya tapi dengan resiko yang amat besar, yakni mengancam keselamatan ibunya. Tapi pasien bersikeras untuk mempertahankan bayinya dan menyuruh saya untuk tidak memberi tahu soal resiko itu pada anda atau siapapun.”
“itulah ikatan seorang ibu dan anak, kita tidak pernah bisa memahaminya. Seorang ibu rela untuk menukar hidupnya demi hidup anaknya. Dan itu yang Nona Adelle lakukan. Kemudian, Nona Adelle juga menitipkan beberapa surat ini pada saya. Saya harus menyerahkan ini pada anda jika kemungkinan terburuk itu terjadi. Dan ternyata benar, inilah saatnya untuk saya memberikannya pada anda. Nona Adelle menulisnya saat di sini tanpa kalian semua ketahui.”
Dokter menyerahkan beberapa surat pada Fedy.
“Ya, Arkana. Nama putera anda. Nona Adelle sudah menyiapkan nama itu jauh-jauh hari.” Jawab Dokter.
Fredy langsung menangis saat mendengar hal itu. Ia pun kembali mengingat sosok Elle yang dulu selalu melamun ke atas langit-langit kamarnya ketika di rawat di rumah sakit. Sepertinya Elle memikirkan hal-hal seperti ini.
“saya rasa saya sudah menyampaikan semuanya pada anda.” Ucap Dokter.
“Ya, terima kasih dok. Akan saya jaga amanah ini dengan baik.” Ucap Fredy.
Setelah itu Fredy kemudian meninggalkan ruangan. Fredy pun mencari Reynold, untunglah orang itu masih ada di rumah sakit.
“Reynold!” Ucap Fredy.
“....”Reynold tak bergeming. Ia masih meratapi kepergian Elle. nampaknya Reynold begitu terpukul dengan hal itu.
“Elle menitipkan ini untuk kita. ini punya Lo.” Ucap Fredy menyodorkan amplop berisi surat dari Elle.
“Apa ini?” Tanya Reynold.
“Baca aja.” Jawab Fredy.
Fredy pun meninggalkan Reynold.
***
__ADS_1
Beberapa bulan setelah kepergian Elle, Fredy memutuskan untuk pindah rumah. Ia kini membeli rumah yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Karena kini Fredy tinggal bersama Mamah Elle dan Zielle juga. Fredy sudah berjanji pada Elle untuk menjaga keluarga Elle, khususnya Zielle, Fredy berjanji akan menyekolahkan Zielle sampai lulus sarjana.
Kini rumah tampak lebih ramai. Fredy saat itu tengah bersiap untuk ke pemakaman Elle. hari ini, seperti bulan-bulan sebelumnya, adalah jadwal ia untuk berkunjung ke makam Elle dan membawa serta Arkana ke sana. Fredy pun berangkat ke makamnya Elle.
Sesampainya di makam Elle, Fredy melihat seseorang yang duduk di dekat makam Elle. Fredy pun menghampirinya.
“Permisi.” Ucap Fredy pada orang itu.
“Reynold?” Fredy kaget saat melihat kemunculan Reynold kembali.
“Bukannya lo di amerika ya?” Tanya Fredy.
“Iya, gue balik karena hari ini adalah jawal gue untuk sekar ke makamnya Elle.” Jawab Reynold.
“Gue juga mau nyekar.” Ucap Fredy.
“Dia Arkana? Sudah besar kau ya. dulu kau sangat kecil hingga paman takut untuk menggendongmu.” Ucap Reynold.
“Ya, dia suah tumbuh sekarang. Nampaknya dia juga sudah menepati janjinya pada ibunya. Yakni untuk tumbuh sehat menjadi anak yang baik dan cerdas.” Jawab Fredy.
“Ngomong-ngomong soal janji, apa isi surat dari Elle waktu itu?” Tanya Reynold penasaran.
“Untuk gue dan Arka?” Tanya Fredy.
“Ya.” Jawab Reynold.
“Nih, Lo baca aja sendiri. Gue selalu bawa surat ini kemana pun.” Ucap Fredy menyodorkan amplop berisi surat.
Reynold pun membacanya
Dear Arkana....
Mungkin saat kamu membaca surat ini, aku sudah tidak di sampingmu lagi. Tapi aku harap, kamu dikelilingi oleh orang-orang yang tulus mencintai kamu seperti tulusnya cinta dan sayangku ke kamu.
Arkana, maafin aku ya, karena tidak bisa menjadi ibu yang sempurna untuk kamu. bahkan aku tidak bisa menyaksikan kamu tumbuh menjadi anak yang hebat. Tapi aku harap kamu mengerti akan hal ini. mungkin suatu saat nanti kamu akan bertanya-tanya, mengapa aku memilih untuk melahirkan kamu. kamu harus tahu Nak, bahwa kamu adalah hadiah dari Tuhan untukku. Sejak aku tahu kamu ada di dalam tubuhku, sejak saat itu juga aku berjanji untuk menjagamu dengan seluruh jiwa dan ragaku.
Kamu adalah hadiah paling istimewa dari Tuhan untukku dan Ayahmu. Hadirmu yang tak kami rencanakan ternyata adalah suatu keajaiban. Sejak kamu hadir, perlahan kehidupanku dan ayahmu membaik sedikit demi sedikit. Dan aku harap, kamu akan menjadi penyejuk bagi orang-orang yang ada di sekelilingmu. Kamu adalah alasan kebahagian kami berdua. Tumbuhlan menjadi anak yang penuh kasih sayang, lebut hatinya dan berjiwa besar.
Kutitipkan segala cinta, sayang dan rinduku padamu Arkana. Semoga kamu selalu sehat, panjang umur dan tak kekurangan satu hal apapun.
Salam penuh cinta dan kasih untuk anakku
Dari Ibumu yang memelukmu dari kejauhan
Adelle
Setelah membaca surat itu Reynold menangis sejadi-jadinya.
“Elle...”Gumam Reynold sambil menggenggam surat itu dengan erat.
“Isi surat untuk gue sama kaya permintaannya waktu itu ke gue. Kalau gue harus selalu ada untuk Arkana, menjaga, merawat dan menyayanginya dengan setulus hati. Dan gue akan penuhi permintaan itu sampai akhir hayat gue.” Ucap Fredy.
“Elle juge minta aku buat jagain Arkana, dia bilang kalo suatu saat Arkana butuh sesuatu aku harus ada untuknya. Elle juga memintaku untuk melanjutkan hidupku dan mengikhlaskan kepergiannya. Aku juga sedang memenuhi permintaan itu.” Jawab Reynold.
“Istirahat dengan tenang Elle, Arkana sekarang sudah tumbuh dengan sehat.” Ucap Fredy sambil menaruh bunga di atas makamnya.
__ADS_1
“Aku udah kembali ke keluargaku Elle, aku juga sekarang kuliah di Amerika dan mengikuti jejak bisnis keluargaku, sesuai dengan permintaanmu. Aku sudah mengikhlaskan kepergianmu Elle. istirahatlah dengan tenang.” Ucap Reynold sembari menaruh bunga di atas makam Elle.
Tamat