
“Pergi dari sini! aku tidak ingin melihat Nyonya di sini.” Ucap Elle dengan tangan yang gemetaran.
“Tante minta maaf...” Tiba-tiba kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Nyonya Aletha.
Mendengar ucapan maaf dari Nyonya Aletha, Elle langsung terdiam.
Suara isak tangis pun terdengar.
“Tante..., Tante benar-benar minta maaf atas segala kesalahan yang telah anak Tante perbuat padamu. Juga kesalahan Tante, Tante minta maaf.” Nyonya Aletha memengangi lengan Elle sambil berderai air mata.
“....”Elle diam terpaku, mulutnya tertutup rapat. Sementara pandangannya menerawang ke langit-langit. Air mata kemudian membasahi pipinya, seiring dengan rasa sakit yang timbul dari lubuk hatinya yang paling dalam.
“Seharusnya Tante tahu ini lebih awal. Tante tahu jika semuanya telah terlambat...”
“Tak seharusnya kau di sini...”
“Kau seharusnya sedang duduk mendengarkan materi dari dosen, menjadi anak kuliah di usiamu yang masih belia ini. tetapi...”
“Karena kesalahan anak Tante, hidupmu jadi seperti ini.” Nyonya Aletha menagis sesegukan.
“Kau pasti merasa sakit..., begitu sakit sehingga senyum di wajahmu ikut pudar seiring dengan derai air mata yang terus mengikis lubuk hatimu.” Dengan penuh kelembutan Nyonya Aletha mengusap rambut Elle yang kini mulai rontok.
“Pergilah...”Elle berusaha memalingkan wajahnya dari Nyonya Aletha.
“Tidak, Tante tidak akan meninggalkanmu lagi. Tante tidak akan diam dengan semua ini.”
Mendengar itu Elle langsung menatap wajah Nyonya Aletha dengan penuh tanda tanya.
“Tante tahu kondisimu saat ini. tante juga tahu apa yang telah anak Tante perbuat padamu. Tante menyesal karena selama ini Tante tutup mata akan hal itu. Tapi mulai sekarang Tante tidak akan tinggal diam. Tante akan menghukum Fredy atas kesalahannya. Dia harus bertaggung jawab. Tapi sebelum itu Tante ingin memastikan, Tante ingin mendengarnya langsung darimu.”
“Tante ingin bertanya padamu sekali lagi, apa benar kau telah dilecehkan oleh anak Tante? Dan....” Ada jeda panjang diantara pertanyaan dari Nyonya Aletha.
__ADS_1
“Apa benar... bahwa kau...tengah hamil anaknya Fredy?” Nyonya Aletha tak sanggup meneruskan perkataanya.
Derai air mata langsung tumpah di pipi Elle tatkala mendengarkan hal itu. Ia hanya bisa menangis, seperti sebelumnya. Bahkan ia tak sanggup mendengarkan kenyataan itu. Rasanya ia ingin mengakhiri hidupnya saat itu juga daripada mendengarkan ucapan itu.
“Tolong jawablah, Tante butuh kepastian langsung darimu.” Nyonya Aletha memohon dengan sangat.
“....”Elle kemudian mengangguk pelan. Diteruskan dengan isak tangis yang tak bisa lagi ia pendam.
“Tidaaakk...”Ucap Nyonya Aletha lirih. Ia pun menangis sambil masih memegangi lengan Elle.
“Tapi jangan sakiti Fredy, semua ini juga salahku. Akulah yang terus menerus mendekatinya. Mungkin sekarang aku tengah dihukum oleh Tuhan karena peruatanku.” Walau sudah menderita, Elle masih saja membela Fredy di hadapan ibunya.
“Mengapa kau malah membelanya? Sudah jelas anak Tante yang salah! Apa kau tidak membencinya setelah semua perbuatan yang ia lakukan padamu? Bahkan sebagai ibunya tante malu! Tante sudah gagal mendidiknya.” Ucap Nyonya Aletha.
“Aku tidak akan pernah bisa membencinya. Tante bisa sebut aku bodoh karena telah mencintainya terlalu dalam. Sehingga apapun yang sudah ia lakukan padaku aku tak menghiraukannya. Aku rela menerima semua sakit dan penderitaan ini. tapi satu hal yang aku tidak sanggup, adalah ketika Fredy membenciku dan meninggalkanku. Tapi sudahlah, semua itu sudah terjadi. Sekarang semua sudah tidak berarti lagi, hidupku, masa depanku. Semuanya sudah hancur bersama dengan hubungan kami.” Elle menangis penuh derai.
“Jangan katakan itu. Tante tahu cintamu tulus pada anak tante. Anak tante lah yang bodoh karena telah menyia-nyiakan hal itu. Tapi Tante tidak akan membiarkannya lagi. Meski Tante tak bisa menyelamatkan hubungan kalian, Tante akan berusaha agar anak Tante mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Dia harus diberi pelajaran sesuai dengan apa yang sudah ia lakukan.”
“Tolong, kumohon jangan sakiti dia.”Ucap Elle lirih.
“Aku tidak bisa membiarkannya lahir dan menjalani kehidupan dengan fakta bahwa ibunya adalah seorang pelacur untuk ayahnya sendiri. Aku tidak bisa.” Elle kini mengutarakan apa yang selama ini ia cemaskan.
“Tante mohon, jangan lakukan itu. Dia akan menjalani hidup yang baik. Tante berjanji padamu, dia tidak akan bersedih atau tersakiti sedikitpun.” Nyonya Aletha kini memohon pada Elle.
“Aku tidak bisa.” Elle merasa sakit di hatinya yang sangat luar biasa.
“Tolong, tante mohon. Izinkan tante, beri tante kesempatan untuk membuktikannya padamu.”
“....”
Elle tak bisa mengeluarkan kata-kata lagi. Rasa sesak di dadanya, dan sakit yang ia rasakan di relung hatinya membuatnya tak bisa mengungkapkan apa-apa lagi. Sekarang Elle paham, bukan kehidupannya lah yang ia sesali dan takutkan atau khawatirkan, melainkan kehidupan sesosok makhluk kecil yang ada di rahimnya saat ini. elle baru menyadarinya sekarang.
__ADS_1
***
Malam itu, Fredy pulang dari kantornya. Ia bergegas membersihkan dirinya lalu makan malam untuk mengisi perutnya. Di meja makan hanya ada makanan, entah kemana Shienna jam segini belum pulang. Fredy pun makan malam sendirian.
Sesaat kemudian bel rumahnya berbunyi. Asisten rumah tangganya membukakan pintu. Tak lama kemudian muncul Mamahnya di hadapannya.
“Mamah?” Fredy kaget saat melihat kedatangan mamahnya di rumah barunya. Ini pertama kalinya mamahnya menginjakan kaki di rumah barunya itu.
“Kemana Shienna?” Tanya Nyonya Aletha dengan tatapan yang serius.
“Baguslah. Ada sesuatu yang ingin mamah katakan padamu.” Nyonya Aletha kemudian duduk di dekat Fredy.
“Apa itu terkait Ayah?” Tanya Fredy sambil melahap makanannya.
“Bukan. Ini terkait dengan kau.”
“Oh.”
“Dan Adelle.”
“Uhuk!” Fredy kemudian tersedak saat mendengar nama itu.
“Mengapa Mamah tiba-tiba ingin sekali membahas wanita itu? Dia bukan siapa-siapa lagi bagi Fredy.” Ucap Fredy dengan hati yang mulai berdebar.
“Kau tak bisa lagi berbohong pada Mamah karena Mamah sudah mengetahui semuanya sekarang. Jadi tolong jawab semua pertanyaan Mamah dengan jujur.” Nyonya Aletha menatap Fredy dengan tatapan menginterogasi.
“Apa maksud Mamah berkata seperti itu? Mamah tidak sedang bercanda kan?” Fredy mulai ketakutan.
“Kau masih berpura-pura tidak tahu ya.” Nyonya Aletha mulai merasa geram terhadap anaknya sendiri.
“Aku memang tidak tahu Mah. Apa yang mau mamah ketahui? Katakan saja.” Padahal dalam hatinya Fredy sudah ketakutan bukan main.
__ADS_1
“Kau yakin kau tidak mengetahuinya? Apa perlu mamah bongkar semuanya sekarang hah? Mamah masih menunggu kejujuran darimu. Akui semuanya sekarang atau mamah yang akan bongkar?” Fredy mulai panik setelah mendengar ancaman dari Nyonya Aletha.
“Baiklah, akan ku katakan semuanya.” Fredy pun menyerah.