
Beberapa hari berlalu...
Reynold tengah merangkai bucket bunga mawar putih untuk diberikan kepada Elle. hari ini perasaanya sewangi bunga mawar itu. Reynold begitu antusias mempersiapkan beberapa hal. Karena hari ini, ia akan melamar Elle di rumahnya.
“Aw.” Tiba-tiba jari telunjuk Reynold tertusuk duri dari salah satu tangkai mawar. Perasaan Reynold berubah tak enak. Ia kemudian melamun, menerawang sesuatu yang selama ini ia khawatirkan. Akankah Elle benar-benar menerima lamarannya?
Setelah semuanya beres, Reynold kemudian memasukkan beberapa barang yang akan dibawanya ke dalam mobil. Setelah itu ia bersiap diri.
“Ku rasa semuanya sudah oke.” Gumam Reynold sambil menutup bagasi mobil. Ia pun berangkat ke rumah Elle.
Setibanya di sana, Reynold bergegas membawa bucket bunga mawar dan memasukkan kotak cincin ke sakunya. Semuanya benar-benar berjalan normal dan sesuai rencana.
Reynold melangkah ke halaman rumah. Dari situ, ia bisa melihat Elle yang tengah duduk di ruang tamu bersama Zielle adiknya. Reynold kemudian tersenyum kepada gadis itu sambil mempercepat langkahnya.
Reynold langsung masuk ke dalam rumah. Elle yang berada di ruang tamu tidak bereaksi apapun terhadap kedatangan Reynold. Ia malah seakan menganggap Reynold tidak ada di situ.
“Mungkin ia tengah dalam kondisi hati yang buruk.” Tebak Reynold dalam hatinya.
“Kak Rey.” Zielle menyapa duluan.
“Hai, apa kabar?” Sapa Reynold.
“Baik kak, sudah tiga hari kakak tidak ke sini semenjak kakak pulang dari rumah sakit. Kakak sudah sehat sekarang?” Tanya Zielle dengan senyum ramahnya.
“Ya, kakak sekarang sehat.” Jawab Reynold.
“Elle.” Reynold mencoba menyapa Elle.
“....” Elle tak berkata sepatah pun.
“Apa kau baik-baik saja?” Reynold tampak cemas.
“Kakak baik-baik saja.” Jawab Zielle dengan santai.
“Syukurlah.” Reynold bernafas lega.
__ADS_1
“Yasudah, Zielle mau masuk kamar dulu ya, Zielle mau belajar.” Zielle sudah paham akan situasi yang sedang terjadi. Jadi, agar Zielle tidak mengganggu rencana Reynold, Zielle masuk ke kamar dan mengintip dari sana.
“Iya, Belajar yang rajin ya.” Jawab Reynold.
Usai Zielle masuk ke kamar, Reynold berjalan mendekati Elle. Ia pun duduk di dekat wanita itu.
“Elle, kedatanganku kemari...aku...aku ingin menepati janjiku padamu.” Ucap Reynold dengan kesungguhan.
“Janji apa?” Elle kini angkat bicara.
“Oh, baiklah. Mungkin kau lupa. Aku, waktu itu pernah berjanji padamu di atas jembatan itu, bahwa aku akan menikahimu.” Reynold mencoba kembali menjelaskan.
“Lupakan soal itu. Gue gak mau menikahi seorang pembohong.” Elle kini bangkit dari kursinya. Ia masih tidak menatap wajah Reynold sedikitpun.
“Apa maksudmu berkata demikian Elle?” Tanya Reynold yang kaget saat mendengar lontaran kalimat tersebut.
“Cih! Lo bener—bener pembohong yang handal. Apa gue perlu menyebut lo sebagai aktor yang baik?” Elle berucap dengan nada yang sinis.
“Aku tidak pernah membohongimu Elle.” Reynold agak bingung dengan maksud dari perkataan Elle.
“Lo yakin? Kalo lo bukan seorang pembohong, yaudah jelasin siapa diri lo yang sebenarnya? Lo dari mana dan mana keluarga lo? Gimana lo mau nikahin gue kalo gue aja gak tau kedua orang tua lo!” Elle mengatakan itu sambil marah-marah.
“Baiklah, aku akan menunjukkan kepadamu siapa aku yang sebenarnya.” Ahirnya setelah penuh pertimbangan, Reynold memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya pada Elle.
Mendegar hal itu membuat Elle langsung menoleh ke arah Reynold.
“Sungguh?” Elle kini tampak tak percaya.
“Ya. sudah waktunya kau tahu. setelah melewati berberapa tahun yang sulit bersamamu, rasanya, tidak ada salahnya jika aku memperkenalkanmu pada kedua orang tuaku.” Ucap Reynold dengan serius.
“...”Elle berkaca-kaca.
“Kalau begitu, ikut aku sekarang.” Reynold langsung menarik lengan Elle.
“Kita mau ke mana?” Tanya Elle kebingungan.
__ADS_1
“Kita akan pergi ke tempat dimana semua hal yang ingin kau tahu akan ditemukan.” Jawab Reynold.
Elle pun mau ditarik oleh Reynold untuk mengikutinya.
Elle dan Reynold naik mobil tua milik kakek Reynold. Mereka sedang menuju ke suatu tempat. Sepanjang jalan Elle benar-benar dibuat tegang dan penasaran. Sebentar lagi, ia akan mengetahui siapa Reynold yang sebenarnya.
Akhirnya, merka tiba di suatu rumah yang benar-benar begitu besar. Rasanya rumah ini sudah seperti hotel. Halaman yang terbentag luas, tempat bermain golf, peternakan kuda, tempat berpacu kuda, garasi dengan mobil mewah yang memenuhi setiap sudutnya dan gedung atau rumah yang tingginya entah berapa lantai. Elle hanya diam terkesima.
“Ini rumah lo?” Ucap Elle dengan setengah tak percaya.
“Bukan.” Jawab Reynold singkat. Elle langsung ditarik oleh Reynold untuk memasuki rumah itu.
Di depan pintu jati yang besar dengan ukiran ang khas berdiri seorang pria dengan jas hitam. Pria itu langsung setengah merunduk tatkala Reynold datang.
“Selamat datang kembali Tuan Muda.” Ucap pria itu.
“Di mana papih dan mamih?” Ucap Reynold dengan wajah dingin.
“Mereka baru saja keluar, mungkin akan kembali satu atau dua jam lagi. Tadinya mereka akan kembali pulang ke Amerika hari ini, tetapi seorang klien membuat mereka harus berada di sini lebih lama satu hari lagi.” Jawab pria itu yang ternyata adalah asisten rumah itu.
“Baiklah, akan ku tunggu. Ayo Elle.” Ucap Reynold sambil menarik Elle masuk ke dalam. Elle benar-benar dibuat diam seribu bahasa sejak saat itu juga. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Benarkah semua ini milik Reynold? Lalu selama ini? Elle benar-benar bingung.
Reynold membawa Elle ke ruang tamu. Mereka duduk di situ untuk emnunggu kedatangan kedua orang tua Reynold. Reynold khawatir jika Elle saat ini akan bertanya banyak hal padanya. Tapi nyatanya, wanita itu hanya diam dengan ekspresi yang aneh.
“Beraninya kau membawa gadis itu kemari.” Tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu masuk. Suara itu berhasil mengagetkan Elle dan Reynold.
“Papih?” Ucap Reynold.
Ternyata suara itu berasal dari ayah Reynold. Ia kemudian berjalan ke arah Reynold didampingi oleh istrinya.
“Ku kira kau akan berpegang teguh pada egomu. Ternyata tebakanku salah. Kenapa? kau sudah menyerah? Dan gadis ini? mengapa kau membawanya kemari?” Papih kembali bertanya.
Mendengar ucapan dari Papih berhasil mebuat kuping Reynold panas. Ia ingin membalas perkataan Papihnya tetapi ia ingat sedang memawa siapa. Reynold pun menahan emosinya.
“Dengar, kedatanganku kemari, ingin memperkenalkan kalian ke[ada Elle, calon istriku.” Ucap Reynold.
__ADS_1
Baik Elle, Papih maupun Mamih kaget saat mendengar ucapan dari Reynold.
“Apa?” Papih kini berdiri di dekat Reynold.