
Di kediaman barunya, Fredy memulai kehidupan baru nya bersama sang istri Shienna. Akan tetapi, di kehidupan badannya itu, Freddy tidak menemukan kebahagiaan sekecil apapun. Setiap hari pertengkaran demi pertengkaran terjadi bahkan karena hal-hal sepele.
Seperti baru-baru ini Sienna memarahi Freddy karena tidak membalas chatnya semalam. Padahal ready sudah menjelaskan bahwa ia tengah sibuk dengan tugas kantor dan tugas kuliahnya. Tetapi Sienna yang dibakar rasa curiga malah terus menyerca Fredy.
Pada pagi hari itu, yang diharapkan menjadi pagi yang tenang malah sebaliknya. Sienna mengomel di meja makan ketika Freddy tengah menikmati sarapan paginya.
"Kau tidak pernah mendengarkan ucapanku. Kau selalu menghindar dariku. Katakan sekarang padaku, apa salahku?" Ucap Shienna sambil memotong roti yang ada di hadapannya.
"Cukup Shienna! Gue udah muak dengan ucapan lo. Dari tadi malam gue udah cukup sabar, tapi sekarang tidak lagi. Lo akan diam sekarang atau gue bakal pergi dari rumah ini." Fredy mengancam Shienna.
"Kau tidak boleh keluar dari rumah ini." Sienna mulai ketakutan.
"Kalau begitu hentikan omong kosong ini dan bersikaplah seperti biasanya. Dan satu hal lagi, jangan pernah sekalipun lo mencoba untuk mengatur hidup gue karena lo hanya istri sah secara hukum. Lo bisa ajangikat gue di sini, tetapi lo gak bisa memiliki hati dan jiwa gue." Ucap Fredy. Ya kemudian menyelesaikan sarapannya dan bergegas pergi ke kantor.
"Tunggu dulu. Kau harus berangkat kerja bersamaku. Karena kantor kita searah. Orang-orang akan bertanya, kita suami istri tapi masing-masing. Setidaknya kau harus menjaga nama baik ayahmu." Shienna memegang lengan Fredy.
"Gue gak mau. Sudah cukup di rumah ini gue berdekatan dengan lo. Tetapi di luar rumah terserah gue." Fredy melepaskan lengannya dari genggaman Shienna.
"Kau harus mau, kau tidak bisa menolaknya. Atau aku akan telepon ayahmu. Biar dia yang menyuruhmu langsung." Shienna lalu mengeluarkan handphonenya dari tasnya.
"Lo emang bener-bener wanita licik." Gumam Fredy.
"Jadi kau mau kan? Cepatlah bersiap. Aku tidak mau menunggu." Shienna tersenyum licik.
"Aaargghh!" Freddy berteriak kesal.
Mereka pun pergi ke kantor bersama-sama.
Shienna turun lebih dulu karena kantornya berjarak lebih dekat daripada kantor Fredy.
"Dah sayang! Sampai jumpa lagi nanti di rumah. I love you so much." Ucap Shienna dibuat-buat.
Fredy tidak membalas perkataan dari Shienna barusan. Iya malah langsung menyalakan mobilnya dan pergi dari tempat itu.
"Awas aja Fredy! Akan kubuat kau menyesal dengan perbuatanmu." Gumam Shienna dengan kesal.
__ADS_1
Sienna tengah berjalan menuju kantornya hingga seseorang berlari dari belakang menghampirinya.
"Nyonya!" Kata orang itu dengan berbisik.
Mendengar suara itu Shienna langsung menoleh.
"Kau!" Melihat kedatangan orang itu wajah Shienna tiba-tiba berubah panik.
"Kenapa kau ke sini!" Ucap Shienna dengan wajah yang tampak tidak senang.
"Jangan bersikap seperti itu padaku. Apa kau lupa dengan apa yang telah kita lakukan waktu itu." Orang itu kemudian tersenyum aneh.
"Hush! Jangan pernah sekalipun kau berani menyebut hal itu di tempat ini." Ucap shina dengan panik.
"Memangnya kenapa? Apa kau takut jika mereka tahu kalau aku adalah kekasihmu?" Orang itu terlihat puas setelah mengucapkan kata itu.
"Diam! Tutup mulut busukmu itu!" Shienna kini benar-benar panik.
"Hahahaha! Sudah kuduga kau pasti takut dengan hal itu. Baiklah aku tidak akan mengatakannya lagi. Tapi dengan syarat." Orang itu kini menatap Shienna dengan penuh pertimbangan.
"Hey! Siapa yang kau sebut laki-laki bajingan hah? Bukankah kau juga menikmatinya waktu itu?"
"Cukup! Jangan lagi kau katakan hal itu! Sekarang katakan apa maumu!" Shienna sudah kehabisan kesabaran.
"Oh mudah saja, aku hanya meminta uang sebanyak 300 juta. Bagaimana apa kau punya?" Laki-laki itu tersenyum puas.
"Dasar gila! Kau benar-benar memeras ku! Kau pikir aku akan mau memberikan uang sebanyak itu padamu! Jangan harap tolol!" Ucap Shienna.
"Baiklah, jika kau tidak mau memberikan uang itu maka aku akan memberitahu seluruh orang yang ada di tempat ini bahkan kedua orang tuamu bahkan laki-laki yang baru kau nikahi beberapa hari yang lalu itu bahwa kau memiliki seorang kekasih simpanan yaitu aku. Dan janin yang ada di dalam perutmu itu adalah anakku. Hasil dari perbuatan terlarang kita." Laki-laki itu benar-benar sudah mengancam Shienna.
"Jangan pernah sekalipun kau berani lakukan itu atau aku akan…"
"Akan apa? Akan melaporkan aku ke polisi? Atau akan celakai aku? Percuma saja, semua itu tidak akan berpengaruh padaku. Justru akan balik mencelakaimu. Aku, Bima Arya tidak takut dengan ancaman semacam itu." Laki-laki itu kini mencekik leher Shienna.
"Le–leepaaskan aku!" Shienna tampak kehabisan nafas. Laki-laki itu kemudian melepaskan tangannya dari leher Shienna.
__ADS_1
"Baru segitu saja kau sudah takut." Ucap laki-laki itu.
"Jadi bagaimana, kau akan memberikannya untukku kan?" Laki-laki itu kembali bertanya.
"Bb–baiklah. Aku akan memberikannya." Jawab Shienna dengan ketakutan.
"Bagus bagus. Kalau begitu cepat siapkan uang itu malam ini juga. Akan kutunggu kau di tempat yang sering kita kunjungi. Jika kau tidak datang juga di waktu yang telah ditentukan maka akan aku beritahu semua orang tentang hal itu." Gertak laki-laki itu.
"Iya iya, aku akan memberikannya cepat pergi sekarang." Jawab Shienna dengan panik.
"Baiklah. Kutunggu kau ya! Awas saja!" Laki-laki itu kemudian mundur perlahan dan mulai menghilang dari pandangan Shienna.
"Aaaarrrgggghhh! Bedebah! Kau telah menghancurkan hidupku! Dasar laki-laki bajingan!" Shienna marah-marah.
"Awas saja! Akan ku balas semua perbuatan yang telah engkau lakukan padaku! Lihat saja, aku tidak akan tinggal diam." Shienna kemudian merapikan kembali kerah bajunya.
Sepanjang hari Shienna dihantui dengan ancaman dari laki-laki itu. Hati Shienna resah, karena ia tak bisa menyerahkan uang sebanyak itu pada laki-laki itu. Tapi jika ia tidak melakukannya, maka semua rencananya akan gagal. Termasuk tentang Fredy.
Sore hari pun tiba, Sena pulang ke rumah dengan wajah yang benar-benar tertekuk. Ia gundah gulana. Mondar-mandir tak tentu arah. Melihat Shienna begitu, Fredy merasa curiga.
"Lo kenapa?" Fredy bertanya.
"Aku…aku gak kenapa-kenapa. Urus saja urusannmu." Jawab Shienna.
"Yaudah." Fredy kembali fokus ke layar laptop.
Malam harinya, Shienna tampak tengah mengendap-ngendap berusaha untuk keluar. Iya tidak ingin Freddy atau orang lain mengetahui bahwa ia keluar rumah.
Cina sudah hampir dekat di pintu keluar tetapi tiba-tiba Fredy muncul di dekatnya.
"Kau mau ke mana malam-malam begini bawa koper!" Tanya Fredy dengan nada menginterogasi.
Hati Shienna mencelos. Ia mulai panik, bagaimana jika Fredy mengetahui rencananya.
"Aku…akuu…." Lidah Sina seakan kaku. Iya sulit sekali mengeluarkan alasan atau kata-kata guna meyakinkan Fredy. Iya benar-benar bingung.
__ADS_1