Terjerat Cinta Kupu-kupu Malam

Terjerat Cinta Kupu-kupu Malam
Bab 23


__ADS_3

"Pernikahan ini tidak sah!" Seorang pria dengan napas yang masih terengah-engah berdiri di pintu masjid.


"Papih?" Reynold benar-benar kaget saat melihat Orang tuanya tiba-tiba ada di situ.


"Dengar, Pak Penghulu jangan nikahkan mereka karena ternyata mempelai wanitanya tengah hamill"


Ucap Papih.


"Astagfirullah." Mendengar kesaksian dari Papih, Pak penghulu langsung kaget.


"Apa benar itu Mas Reynold?" Pak Penghulu memastikan.


"..."Reynold tak bisa membantah, ia kemudian mengangguk sambil menundukkan wajahnya.


"Astagfirullah, kalau begitu saya tidak bisa menikahkan kalian." Ucap penghulu dengan tegas.


"Tapi Pak dengarkan dulu, pernikahan ini harus tetap terlaksana." Reynold jadi panik.


"Sekali lagi saya minta maaf. Saya tidak bisa melakukannya." Tegas penghulu.


"Tunggu dulu Pak, jangan dulu pergi." Reynold mencoba menahan penghulu itu.


" Assalamualaikum." Pengulu itu pun pergi.


"Ini semua gara-gara Papih!" Reynold kini berhadapan dengan Papih nya.


"Apa? Kau mau menyalahkan Papih? Kau seharusnya bersyukur Rey karena kami telah menyelamatkan mu dari kehancuran. Kau mau jadi apa jika menikah dengan wanita bekas seperti dia. Papih tahu jika anak yang ada dalam kandungannya itu bukan anakmu!" Papih malah balik mengomeli Reynold.


"Sudah berapa kali Reynold tegaskan bahwa jangan pernah sekalipun Papih ikut campur dalam urusan pribadi Reynold! Lagi pula Papih sendiri yang sudah memutuskan hubungan Ayah dan anak dengan Reynold jadi kenapa sekarang Papih masih mengusik kehidupan Reynold!" Reynold marah besar. Ia benar-benar tak tahan dengan perbuatan Papih nya.


"Kau benar-benar bukan Reynold yang kami kenal dulu. Kau sudah berubah, pasti gara-gara pengaruh buruk dari wanita itu." Ucap Papih sambil menunjuk ke arah Elle.


Elle kaget saat namanya ikut terseret.


"Jangan sekali-kali Papih menyalahkan atau menyakiti hati Elle. Dia tidak bersalah! Papih lah yang tak mau menerimanya. Ini pilihan Reynold, Papih tidak bisa menghalanginya!"

__ADS_1


"Dasar anak keras kepala!"


"Buk!" Papih memukul Reynold dengan keras.


"Pukul! Pukul saja semau Papih. Itu tidak akan melukai Reynold karena hati Reynold menang sudah hancur sedari dulu!"


"Kau memang benar-benar harus diberi pelajaran..." Hampir Papih mau menghabisinya.


"Cukuup! Cukup! Jangan pernah sekalipun kau berani menghabisi anakku! Kau sma saja! Kau tidak lihat situasi dan kondisi, ingat! Ini tempat ibadah! Jika kau ingin ribut maka cari tempat lain! Bukan di sini!" Mamih akhirnya menjadi penengah diantara mereka berdua.


Papih pun menurunkan kembali kepalan tangannya. Reynold yang sudah siap menangkis pun akhirnya kembali mundur.


Sementara itu, Elle, wanita itu tiba-tiba berperilaku aneh. Ia sepertinya tengah meringis kesakitan. Tak ada orang yang menyadari gerak geriknya karena sedang fokus pada pertengkaran antara Ayah dan anak itu.


"Aaargghh.." Elle meringis pelan. Ia merasa perutnya sakit lagi.


Elle kemudian mencoba untuk berdiri. Ia berharap bisa berjalan keluar tanpa disadari oleh orang-orang. Elle kemudian memaksakan dirinya untuk berdiri.


Saat berdiri, Elle kaget dengan darah yang menetes perlahan dari kakinya. Pandangan Elle juga menjadi kabur. Dan tiba-tiba saja...


"Elle." Reynold berteriak.


Ia langsung menghampiri Elle.


"Elle! Elle!" Dengan cemas Reynold mencoba untuk menyadarkan Elle.


"Bagun Elle, bagun." Reynold menepuk-nepuk pipi Elle. Tapi Elle tak kunjung sadar.


"Menjauhlah darinya Reynold! Untuk apa kau repot-repot mencemaskan atau mengurusnya! Urus saja kehidupanmu!" Ucap Papih.


"Dasar pria tak punya hati! Apa kau tidak lihat dia sedang sekarat! Aku tak akan memperdulikan omongan mu! Minggir!" Reynold langsung menggotong Elle dan membawanya keluar.


Reynold membawa Elle ke rumah sakit. Dengan hati yang begitu cemas Reynold berlari menyusuri koridor rumah sakit sambil berteriak minta tolong. Tak lama tenaga medis pun datang. Elle langsung dibawa oleh tenaga medis.


Reynold menepuk jidatnya. Ia kemudian bersandar di dinding, rasanya ia sudah gagal dalam menjaga Elle. Belum lagi pernikahannya yang batal. Entah akan bagaimana reaksi Elle saat sadar nanti.

__ADS_1


Beberapa jam pun berlalu. Dokter keluar dari ruang IGD ditemani oleh perawat.


"Dokter, bagaimana kondisi Elle?" Ucap Reynold dengan cemas.


"Hampir saja, hampir saja kita kehilangan janinnya. Tapi... Ada hal lain lagi yang perlu dicemaskan." Dokter menghela nafas dengan panjang.


"Apa?" Hati Reynold langsung mencelos.


"Ibunya. Ia dalam kondisi kritis. Janin dalam perutnya membahayakan dirinya. Kondisi ibu dan janin terlalu lemah. Jika kehamilan ini terus dilanjutkan dengan kondisi seperti ini maka resiko kehilangan ibu dan bayi bisa saja terjadi." Jelas dokter.


"Lalu bagaimana agar Elle bisa selamat? Apa jalan keluarnya adalah dengan mengaborsi bayinya? Jika ya, lakukan saja dok. Yang penting Elle selamat." Kata Reynold.


"Itu dia masalahnya. Kami tidak bisa melakukan tindakan aborsi karena ada beberapa kondisi tubuh sang ibu yang tidak memungkinkan untuk dilakukan aborsi. Dan bisa sangat membahayakan nyawa ibunya juga. Jalan satu-satunya adalah dengan bed rest di rumah sakit dengan pengawasan dari dokter sampai kandungan berusia empat bulan. Saat itu kandungan sudah mulai kuat." Jawab dokter.


"Di rawat di rumah sakit selama 2 bulan?" Reynold mulai kebingungan. Bukan soal biaya, karena jika soal itu Reynold bisa mencarinya dengan bekerja sana sini. Tapi ini soal Elle, Reynold tak bisa menjamin bahwa ia mau bed rest di rumah sakit selama 2 bulan.


"Apa tidak ada cara yang lain dok?"


"Tidak."


Hati Reynold langsung mencelos. Ia benar-benar dihadapkan dalam kondisi yang benar-benar membingungkan.


Sementara itu di lain tempat, Papih dan Mamih tengah ribut besar. Tentu saja perkara kejadian tadi. Mamih kini berdiri sejajar dengan Papih dengan Alis yang dinaikkan.


"Bela terus anakmu! Kau memang terlalu memanjakannya." Ucap Papih dengan mata yang melotot.


"Aku hukan membelanya! Kau yang tutup telinga akan keadaan yang sedang terjadi! Kau tidak peka! Kau berharap anakmu akan menuruti apa yang kau perintahkan dan dia akan selalu ada untukmu sementara yang telah kami lakukan padanya dulu justru sebaliknya!" Mamih menentang Papih.


"Apa maksudmu berkata seperti itu!" Papih tak terima dibilang seperti itu.


"Sadarlah! Kita tak pernah ada untuknya! Dia bahkan tumbuh dibawah pengawasan orang lain. Dia dibesarkan oleh kesepian dan dipeluk oleh rasa dendam. Dendam kepada kedua orang tuanya yang telah menelantarkannya sejak kecil. Bayangkan, dia yang waktu itu masih kecil terus bertanya dan merengek tentang kedua orang tuanya yang pergi tanpa kabar. Lalu kau berharap apa lagi? Dia memang darah daging kita, tapi dia bukan anak kita. Kita bukan orang tua di matanya. Kita adalah dua orang yang asing yang terus menerus mengusik kehidupannya dan sok-sokan ingin mengatur jalan hidupnya!"


Mamih menjelaskannya dengan derai air mata.


Papih tercengang setelah mendengar ucapan dari istrinya. Ia bahkan sampai tak kuasa berdiri lagi. Ia duduk bersandar pada sofa yang ada di dekatnya sambil menutup mulutnya. Matanya seakan tengah menerawang ke jauh. Mungkin Papih tengah menerawang anaknya belasan tahun yang lalu. Anak laki-lakinya yang kesepian dan menangis sepanjang malam sambil memanggil-manggil dirinya.

__ADS_1


__ADS_2