
"Gue yang duluan kesini, jadi gue yang berhak untuk jagain Elle hari ini." Ucap Fredy, pagi-pagi sekali ia sudah membuat keributan dengan Reynold.
"Heh! Aku yang berhak untuk menjaga Elle hari ini karena aku yang selalu ada untuk Elle. Seperti biasanya, akulah yng menjaga Elle bukan kau!" Ucap Reynold tak mau kalah.
"Lo mungkin selalu ada buat Elle kemaren tapi bukan berarti lo berhak buat dapetin Elle. Elle cuma sayang dan cinta sama gue! Bukan lo!" Kata Fredy sambil menunjuk-nunjuk ke arah Reynold.
"Jaga bicara kamu! Cinta? Apa yang kamu harapkan dari Elle? Apa dia akan mencintaimu lagi setelah apa yang kamu lakukan! Sadar bajingan! Kamu gak pantes buat dapetin cintanya Elle!" Reynold kini menjambak kerah bajunya Fredy. Belum pernah Reynold semarah ini pada orang lain.
"Lo ngerasa hebat karena udah nolongin Elle? Atau lo nolongin Elle karena biar lo bisa dapetin cintanya? Lo yang udah berusaha jauhin Elle dari gue!" Fredy dengan kasar melepaskan tangan Reynold dari keray bajunya lalu mendorongnya dengan sangat kencang. Hampir saja Reynold terjatuh.
"Dasar bajingan!" Reynold terpancing. Ia kemudian menyerang Fredy.
"Cukup!" Tiba-tiba seseorang dari belakang menghentikan mereka.
"Tante?" Mereka semua kaget melihat kedatangan Mamah Elle di hadapan mereka.
"Jangan buat keributan di depan ruang anak saya." Ucap Mamah Elle dengan tegas.
"Kalian berdua, pulanglah! Bukan tugas kakian lagi untuk menjaga Elle. Sekarang Tante sudah ada di sini, Tante yang akan menjadi Elle. Jadi pergilah." Ucap Mamah Elle.
"Aku tidak akan pulang Tante. Aku akan tetap menunggu di sini, jaga-jaga bila Tante atau Elle butuh sesuatu."Ucap Reynold.
"Ya! Aku juga tidak akan pulang Tante." Fredy ikut-ikutan.
"Aku tidak butuh bantuan apapun dari kalian berdua. Jadi Tante mohon ada kalian untuk pergi sekarang juga. Tolong pergilah atau Tante akan panggilkan keamanan." Gertak Tante sambil merogoh tasnya untuk mengambil handphone.
"Tapi Tante..."
"Pergi sekarang!" Ucap Mamah Elle dengan emosi.
"....baik Tante...." Ucap merka berdua dengan wajah tertekuk.
Mereka pun pergi dengan kecewa.
__ADS_1
Mamah Elle kemudian masuk ke ruangan. Ia menarik napasnya perlahan. Kemudian membuka pintu perlahan. Wajahnya yang tadinya tegas dan dingin kini berubah haru.
"Elle..." Ucap Mamah dengan sendu.
Mamah melihat putrinya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Elle sudah benar-benar berubah di mata mamahnya. Tubuhnya jauh lebih kurus dari sebelumnya. Bahkan terlihat cekungan di wajahnya. Kulitnya pucat dengan raut wajah yang pias dan tak beraura. Mamah pun perlahan mendekati Elle.
"Ngapain Mamah ke sini?" Tanya Elle dengan dingin. Ia membalikkan tubuhnya ke arah lain berharap agar tidak menatap mamahnya secara langsung.
"Mamah....mamah ingin melihat puteri Mamah. Mamah, mamah...." Mamah Elle tak mampu menyelesaikan kata-katanya. Ia kemudian menangis tersedu-sedu.
Melihat ibunya menangis di hadapannya Elle juga ingin menangis. Tetapi Elle beruaha untuk menahan tangisnya.
"Mamah ingin minta maaf padamu nak." ucap Mamah sambil mengelus rambutnya Elle perlahan.
"Permintaan maaf mamah udah gak berguna sekarang. Hidup Elle udah hancur. Untuk apa Mamah minta maaf?"!Elle membalikkan badannya.
"Apa masudmu berkata demikian? Kau tetap puteri Mamah. Mamah akui mamah salah selama ini. Mamah datang terlambat. Mamah menelantarkan kamu selama berbulan-bulan ini. Maafkan Mamah." Ucap Mamah sambil menyeka air matanya.
Elle dari dulu?" Elle kini berani menatap wajah mamahnya secara langsung.
"Mamah tau Mamah salah Elle. Itu kesalahan yang sampai saat ini Mamah sesali. Kamu mau kan menerima kembali Mamah Elle?" Tanya Mamah dengan berlinang air mata.
"...." Elle tidak menjawab pertanyaan dari Mamah.
"Elle, Mamah tahu...selama ini Mamah telah begitu kejam karena memilih pria lain dan meninggalkan papahmu. Tapi kamu harus tahu Elle, semua itu Mamah lakukan demi kalian. Mamah menikahi Om Samuel karena Om Samuel berjanji akan menyekolahkan kalian. Akan memberikan kalian kehidupan yang layak. Yang tak bisa papahmu berikan untuk kalian." Ucap Mamah.
"Meski Papah tidak memiliki harta tapi Papah punya hati yang tulus dan setia untuk keluarganya." Ucap Elle dengan tegas.
"...." Mamah Elle kemudian terdiam cukup lama. Ia tengah menimbang kata yang hendak ia ucapkan.
"Untuk apa Mamah menikahi pria lain jika Mamah sendiri tak mampu menjaga anaknya? Mamah bilang Om Samuel akan menyekolahkan kami dan memberi kami hidup yang layak? Lalu hidup Elle saat ini apa? Jika hidup Elle sudah hancur apa lagi yang ingin Mamah pertahankan?" Elle kini menitikan air mata.
"Maka dari itu, Mamah memutuskan untuk bercerai dengan Om Samuel." Ucap Mamah.
__ADS_1
Elle tertegun mendengarnya.
"Mamah....merasa telah gagal dalam menjaga kalian. Untuk apa lagi mamah mempertahankan hubungan Mamah dengan Om Samuel jika anak Mamah sendiri sekarang sedang dalam kesulitan. Kesalahan terbesar mamah adalah menelantarkan kalian. Dan sebelum semuanya terlambat, Mamah ingin kembali kepada kalian."
"Meski mamah tidak bisa memperbaiki hal yang sudah terjadi setidaknya Mamah akan ada untuk kalian. Agar kalian tidak sendirian lagi. Mamah tahu betapa sulitnya semua yang saat ini kamu alami. Mamah ingin ada di sampingmu Elle. Menemanimu melewati semua ini." Ucap Mamah yang mengakhiri kalimatnya dengan air mata.
"....." Mendengar perkataan dari mamahnya Elle langsung menangis haru. Kata-kata mamahnya berhasil menyentuh hatinya yang terdalam. Ia tak mengira jika ternyata mamahnya yang selama ini ia anggap egois dan menelantarkan anak-anaknya demi pria lain ternyata begitu perduli dengan anak-anaknya.
"Maafkan Mamah Elle." Mamah kini menggenggam erat tangan Elle dan menciumnya sambil menangis.
"Mamah." Elle pun bangkit untuk memeluk ibunya. Rasanya ada rindu yang terobati. Elle seperti menemukan sesuatu yang selama ini hilang dalam hidupnya. Yakni cinta dan kasih sayang dari orang tuanya.
"Mamah mencintai kalian lebih dari apapun. Mamah berjanji tidak akan meninggalkan kalian lagi." Mamah memeluk Elle dengan erat sembari mengusap kepalanya.
"Tolong tetap berada di samping Elle." Ucap Elle lirih.
"Iya Nak. Mamah akan selalu berada di sampingmu." Ucap Mamah dengan haru.
"Mamah, ada sesuatu yang ingin Elle bicarakan dengan Mamah. Tapi….Elle takut Mamah tidak akan bisa menerimanya." Kini Elle melepaskan pelukan mamahnya.
"Soal…. keadaanmu saat ini? Mamah sudah tahu Nak. Zielle yang menjelaskannya pada Mamah." Jawab Mamah.
"Jadi, selama ini Mamah sudah tahu?" Elle kaget.
"Ya, Mamah sudah tahu. Dan mamah sudh menerimanya. Apapun yang keadaanmu sekarang mamah menerimanya. Yang terpenting adalah kebahagiaan dan kesehatanmu. Kamu harus tetap hidup Elle. Masa depanmu masih panjang."
"Meski musibah ini telah menimpamu bukan berarti itu merusak hidupmu. Mamah ingin, setelah semua ini berlalu kamu bisa melanjutkan kembali hidupmu. Kamu kembali bersekolah, atau lakukan apapun yang ingin kamu lakukan. Karena jalan hidupmu masih panjang. Jangan berhenti karena hal ini." Ucap Mamah.
"Tapi…. Elle…."
"Kau berhak bahagia nak. Jangan cemaskan soal apapun lagi. Sekarang Mamah ada di sampingmu. Mamah akan menguatkanmu. Tolong jangan menyerah dan berputus asa. Kamu harus bangkit dari keterpurukan ini."
"...." Elle ingin mengungkapan sesuatu yang sebenarnya tak pernah ia bicarakan dengan siapapun. Tetapi nampaknya saat ini bukan waktu yang tepat. Atau Elle menunggu, agar waktu yang mengungkapkan nya.
__ADS_1