Terjerat Cinta Pria Beristri

Terjerat Cinta Pria Beristri
10. Memboyong Keluarga


__ADS_3

Adi kembali ke kota untuk mencari seseorang yang bisa diajak pergi ke rumah Ayu.


"Siapa yang harus aku ajak untuk pergi ke rumah Ayu?" Ucap Adi pada dirinya sendiri di dalam mobil saat kembali pulang ke kota.


Pada kenyataannya Adi memang pria yang sudah beristri dan bahkan memiliki seorang anak.


"Aku tidak mungkin mengajak Mama yang pasti akan menolak jika mengetahui bahwa aku mau menikah lagi."


Adi semakin pusing memikirkan siap yang akan dibawanya ke rumah Ayu, untuk meyakinkan Ayu dan keluarganya agar setuju menikah.


Sebenarnya, Adi memiliki seorang istri bernama Sarah. Hubungannya dengan Sarah memang sejak lama merenggang.


Sarah merupakan wanita yang lebih banyak menghabiskan waktunya diluar rumah dengan geng sosialitanya. Bahkan untuk urusan mengurus anak, sejak awal dia serahkan kepada baby sitter. Sejak awal menikah, dia tidak pernah mengurus keperluan sang suami. Semuanya diserahkan kepada pembantu.


Pernikahan Adi dan Sarah memang dilakukan karena suatu perjodohan yang dilakukan mendiang Papa Adi dan Papa Sarah.


Adi tidak langsung pulang ke rumah, ia malah mengajak sahabat ya, Dani, untuk bertemu dengannya di sebuah cafe.


"Kenapa? Kusut gitu mukamu." Ucap Dani.


"Dan, aku lagi pusing nih." Balas Adi.


"Kenapa lagi? Berantem lagi sama Sarah?" Tanya Dani lagi.


"Bukan itu."


"Terus apa?"


Seorang pelayan datang mendekat ke arah mereka.


"Cappucino dua ya mbak." Ucap Dani.


Pelayan itu lantas mengangguk dan berlalu pergi.


"Cerita aja, siapa tahu aku bisa bantu." Ucap Dani seraya menyalakan sebatang rokoknya.


"Masih ingat sama cewek yang di makan di mall bareng aku waktu itu gak?" Ucap Adi.


"Wah, mana mungkin bisa lupa. Tuh cewek cantik bener. Kenapa? Udah bosan? Sini bagai buat aku aja."


Plakk!!!


Adi memukul kepala Dani dengan keras.

__ADS_1


"Aaahh kenapa sih?" Dani meringis kesakitan.


"Dia itu calon bini. Jangan macam-macam."


"Calon bini? Lah terus Sarah gimana?" Dani tampak terkejut.


Adi menghela napas panjang.


"Kamu sendiri kan tahu, gimana aku sama Sarah bisa menikah. Selama ini, aku coba untuk mencintai dan menjadi suami yang baik buat dia. Tapi ya gitu, kamu tahu sendiri lah." Ucap Adi.


Dani mengangguk, lantas mematikan puntung rokoknya. Dani memang sangat tahu bagaimana hubungan Adi dengan Sarah. Dani tahu bagaimana Sarah.


"Meski begitu, itu bukan alasan yang tepat buat nikah lagi." Balas Dani. "Ya meskipun sebenarnya sah-sah saja kalau kamu mau nikah lagi. Tapi, sudah mikirin semua konsekuensinya gak? Gimana kalau sampai Sarah tau? Terus apa cewek baru kamu itu tahu tentang statusmu yang sudah beristri?" Ucap Dani lagi.


"Dia gak tahu." Adi menghela napas. "Itulah masalahku sekarang, dia setuju menikah denganku walau pun dengan status siri, tapi dengan syarat aku bawa keluarga ketemu keluarga dia biar dia yakin. Karena selama ini, dia memang mulai curiga dengan Sarah, setelah beberapa kali mendapati Sarah meneleponku." Ujar Adi panjang lebar.


"Mau nikah siri? Tumben banget ada gadis yang mau dinikahi siri." Ucap Dani tak percaya.


"Dia janda." Balas Adi.


"Oh pantes." Ucap Dani dengan nada mengejek.


"Jangan mengejek, dia itu janda cantik dan bermartabat. Usianya baru 25 tahun. Tidak punya anak, dan yang pasti dia seksi." Gelak Adi.


"Sejak pertama bertemu, gak tahu kenapa rasanya berbeda. Aku langsung terngiang wajahnya dan menemuinya lagi. Setiap kali dekat dengannya, ada rasa bahagia di hati. Entah itu bisa dibilang cinta atau tidak." Jawab Adi.


"Waahh seorang Adi akhirnya tahu apa itu cinta." Ejek Dani.


Seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka. Dua cangkir capuccino diletakkan diatas meja. Setelah itu, pelayan itu kembali lagi.


"Kamu bisa ikut datang ke rumah Ayu gak, buat yakinkan dia." Pinta Adi.


"Jadi, namanya Ayu? Wah namanya sesuai dengan orangnya, sangat cantik."


"Hei fokus dengan pertanyaan ku tadi." Ucap Adi mentoyor kepala Dani.


"Lupakah! Dia sudah melihatku di mall waktu itu." Ucap Dani seraya menyesap capuccino yang ada dihadapannya.


Adi menghela napas dan kembali memikirkan siapa orang yang akan ia bawa ke rumah Ayu.


"Kenapa gak coba minta Om Surya yang bantu." Ucap Dani memberikan saran.


"Benar juga, kenapa tidak terpikirkan sebelumnya." Balas Adi. "Baiklah, aku akan ajak Om dan Tante. Tapi kau harus tetap ikut bersamaku ke rumah Ayu. Karena semakin banyak orang yang ikut, akan semakin baik."

__ADS_1


"Tidak masalah, yang penting bayaran tutup mulutnya sesuai."


"Sialan, sama teman sendiri perhitungan." Protes Adi.


Dani hanya bisa tertawa.


***********


Pulang dari cafe, Adi lantas bergegas menuju rumah Om nya.


"Apa yang membuatmu datang kemari Di?" Tanya Pak Surya, adik dari mendiang Papa Adi.


Adi pun menjelaskan maksud dari tujuannya datang menemui Pak Surya. Awalnya Pak Surya tidak ingin membantu, tapi kemudian istrinya datang karena memang mendengar obrolan Adi dan sang suami.


"Di, Tante ikut. Tante bakal dukung kamu." Ucap Bu Lina, istri Pak Surya.


"Bu...."


"Apa ibu... Ibu...? Wajar dong Ibu setuju dengan keputusan Adi untuk menikah lagi. Mengingat istrinya yang cerewet itu." Ucap Bu Lina.


Bu Lina memang tahu benar bagaimana watak dari istri Adi itu. Sarah selalu meninggalkan rumah setiap hari hanya untuk berkumpul dengan teman sosialitanya. Dan hal itulah yang sangat dibenci oleh Adi. Apalagi karena hal itu, Sarah tidak pernah punya waktu yang cukup lama untuk mengasuh anaknya.


Adi pun akhirnya berhasil mengajak Pak Surya adik dari mendiang Papa nya berserta Bu Lina untuk dibawa ke rumah Ayu. Ada juga beberapa orang terdekat Adi yang lain, yang memang bisa dia percaya untuk merahasiakan pernikahannya dengan Ayu.


Adi begitu senang, dan langsung menghubungi Ayu untuk mengatakan kepadanya bahwa dia akan datang keesokan harinya bersama keluarganya.


"Karena Mas bisa datang besok bareng keluarga dan kerabat lainnya, jadi Mas mau paling lambat lusa kita harus sudah menikah." Ucap Adi.


"Apa tidak terlalu cepat Mas?" Balas Ayu.


"Mumpung keluarga Mas bisa kesana. Lagian kamu sendiri kan sudah setuju untuk menikah asal Mas bawa keluarga Mas. Jangan bilang kalau kamu masih ragu." Ucap Adi kecewa.


"Bukan gitu Mas." Balas Ayu.


"Ya sudah, kamu pikirkan saja semuanya. Yang intinya Mas besok akan datang ke rumah kamu. Mau kamu setuju untuk langsung menikah atau tidak." Ucap Adi kemudian menghela napas.


Ayu menjadi merasa bersalah.


"Sudah ya, Mas harus pergi dulu." Ucap Adi kemudian memutuskan sambungan telepon.


Setelah sambungan telepon terputus, Ayu hanya bisa termenung di kamarnya. Dia masih begitu bimbang dalam mengambil keputusan, dia takut keputusan yang diambilnya gegabah yang akan berujung penyesalan.


'Ya Tuhan, berikan aku petunjuk.' ucap Ayu dalam hati lalu menutup matanya untuk mencoba tidur

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2