
Pukul 10.00 pagi, Arya kembali pulang ke rumahnya setelah menyelesaikan laporannya bersama temannya.
Saat tiba di rumah, ia mendapati sang Ibu dan Ayu tengah sibuk di warung mereka. Arya bergegas masuk ke warung setelah menaruh barang-barangnya di dalam kamar.
"Kaki kamu kenapa?" Tanya Ayu saat melihat Arya yang berjalan dengan sedikit pincang.
"Kena insiden kecil Kak." Balas Arya.
"Sudah sarapan?" Tanya Ayu lagi.
Arya hanya menggeleng pelan.
"Ya udah, sana duduk. Nanti kakak siapin makanan buat kamu." Ucap Ayu.
"Ibu dimana?" Tanya Arya.
"Lah, gak ketemu tadi di dalam rumah? Katanya ke kamar mandi."
"Ohh..." Balas Arya lalu duduk di sebuah kursi yang tersedia.
Beberapa pelanggan juga tengah sibuk menyantap makanan mereka. Arya berpikir untuk mengatakan semuanya dengan cepat kepada Ayu. Dia tidak ingin menunggu lebih lama lagi.
Ayu pun datang mendekati Arya dengan membawa sepiring nasi beserta berbagai macam lauknya.
"Kamu bawa oleh-oleh gak?" Tanya Ayu tersenyum.
Arya mengangguk kemudian mulai menyantap sarapannya.
Karena belum ada pelanggan baru, Ayu lantas memilih duduk bersama Arya dan menyibukkan dirinya dengan chatting bersama Adi.
Arya melihat Ayu yang terus tersenyum sembari mengetik di layar ponselnya.
'Apa aku kasih tahu sekarang saja?' pikir Arya.
"Kamu kenapa liatin Kakak terus? Makanannya gak enak ya? Atau kamu lagi gak enak badan?" Tanya Ayu seraya menaruh punggung tangannya di kening Arya.
"Ah kakak, aku baik-baik saja." Arya menepis tangan Ayu dari keningnya kemudian melanjutkan sarapannya.
Ponsel Ayu berdering, menampilkan nama Adi. Ayu kembali tersenyum.
"Iya Mas." Ucap Ayu tersenyum.
'Bagaimana kalau Kak Adi memang sudah punya istri? Terus bagaimana dengan Kak Ayu?' lagi-lagi Arya memikirkan tentang pertemuannya dengan Adi.
"Boleh dong Mas." Ucap Ayu seraya beranjak bangun saat ada pelanggan yang hendak membayar.
Arya terus saja memandang kakaknya yang tampak begitu ceria saat mengobrol bersama Adi. Arya hanya bisa berharap, semoga semuanya baik-baik saja untuk hubungan kakaknya dengan Adi.
'Bagaimanapun kenyataannya nanti, yang penting aku kasih tahu Kak Ayu dulu.' pikir Arya lagi.
Setelah selesai melayani pembeli, Ayu kembali duduk bersama Arya yang kebetulan sudah selesai makan.
Arya terus saja menatap Ayu. Ayu yang merasa bahwa Arya hendak mengatakan sesuatu lantas menaikkan alisnya dan bertanya.
"Ada apa? Sepertinya ada yang ingin kau katakan pada Kakak."
Arya menghela napas panjang.
"Gini Kak, kemarin di kota aku ketemu sama....."
__ADS_1
"Yu, nasi bungkus dua ya. Satu pakai sambel, satu gak usah." Ucap seorang wanita yang usianya sepantaran dengan Ayu.
"Bentar ya Dek." Ucap Ayu lantas berdiri meninggalkan Arya yang menggelengkan kepalanya.
'Hufftt.... Sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat untuk bicara dengan Kak Ayu.' pikir Arya.
Dia lantas berdiri dan membawa piring bekas makanannya ke arah belakang warung tempat mencuci piring. Arya mencuci sendiri piring bekas dia makan dan menaruhnya di rak yang tersedia. Lantas berjalan keluar.
"Arya...." Panggil Ayu. "Tadi mau ngomong apa?" Tanya Ayu yang sudah selesai melayani pembeli.
"Nanti aja deh Kak. Sekarang bukan waktu yang pas." Balas Arya.
"Ya udah, entar aja ya." Ucap Ayu.
Arya mengangguk lantas berbalik berjalan ke arah rumah.
Saat hendak masuk ke dalam rumah, Arya berpapasan dengan Ibunya.
"Loh, kamu sudah pulang?" Ucap Bu Ida menjulurkan tangannya saat Arya ingin menyalaminya.
"Udah dari tadi Bu. Aku malah udah sarapan di warung. Emang Ibu habis dari mana?" Tanya Arya.
"Aduh perut Ibu tadi mules banget. Jadi kelamaan di kamar mandi." Balas Bu Ida cekikikan. "Oh ya kamu jadi bawain Ibu oleh-oleh."
"Ada dong Bu. Bentar ya biar aku ambilin."
Saat Arya berjalan, Bu Ida yang memperhatikan langkah putra bungsunya itu berjalan dengan langkah yang sedikit pincang lantas menjadi kaget. Bu Ida langsung menahan tangan Arya.
"Kaki kamu kenapa Nak?" Tanya Bu Ida.
"Cuma luka kecil kok Bu. Jatuh ke lubang." Ucap Arya dengan menggaruk kepalanya.
"Aduuh Bu, aku baik-baik saja." Ucap Arya berusaha menahan tangan Bu Ida yang hendak memegang kakinya itu.
"Gak apa-apa gimana nya. Orang kamu sampai jalan pincang begitu. Sini biar Ibu lihat." Bu Ida bersikeras, ia kemudian mengangkat kaki putra kesayangannya itu dan menaruhnya di pangkuannya dan melihat luka di kakinya.
Terdapat luka gores yang tidak terlalu dalam, namun yang membuatnya terlihat parah adalah karena memar.
"Tunggu disini dan jangan kemana-mana. Ibu mau ambil air hangat dulu. Ini harus dikompres." Ucap Bu Ida beranjak menuju dapur.
"Tapi Bu... Aduh gak usaah..." Ucap Arya hendak bangun dari posisinya duduk.
"Kalau kamu sampai bangun, Ibu coret kamu dari Kartu Keluarga." Ucap Bu Ida lantas berjalan masuk ke dapur.
"Kejam sekali." Ucap Arya.
*************
Malam harinya....
Ayu, Bu Ida dan Arya tengah duduk di ruang keluarga sembari mengobrol dan menonton televisi setelah makan malam.
'Ini kesempatan yang bagus untuk bicara.' pikir Arya.
"Kak...."
Ayu dan Bu Ida kompak menatap Arya bersamaan. Hal itu lantas membuat Arya gugup.
"Kamu kenapa sih? Mau ngomong apa? Perasaan kelihatannya penting banget." Tanya Ayu tersenyum.
__ADS_1
Dahi Bu Ida mengkerut. Dia menatap Arya penuh selidik.
"Memangnya Arya mau ngomong sesuatu ya sama kamu?" Tanya Bu Ida.
"Iya Bu, dari tadi pagi. Arya mau ngomong sesuatu sama aku. Gak tahu deh ngomong apa. Sepertinya serius." Ucap Ayu.
Bu Ida tampak berpikir.
"Gini Kak...."
"Arya..." Bu Ida menyela ucapan Arya dan menatapnya dengan tajam. "Jangan bilang kamu sudah melakukan kesalahan di sekolah? Jangan bilang luka di kaki kamu itu karena kamu berantem? Jangan bilang alasan berantemnya karena rebutan cewek? Atau jangan-jangan kamu mau nikah muda. Kamu itu masih...."
"Bu...." Arya menutup mulut Bu Ida dengan telapak tangannya gemas.
Hal itu membuat Bu Ida memelototinya. Arya lantas melepaskan tangannya dari mulut Bu Ida, sementara Ayu hanya terbahak.
"Hahahaha... Ibu tuh ya, pemikirannya sidah kayak adegan di sinetron saja."
"Iya nih, aku belum ngomong apa-apa. Ibu sudah mikir yang macem-macem." Protes Arya.
"Lah terus apa coba?" Tanya Bu Ida.
"Makanya dengerin aku dulu." Jawab Arya.
Arya pun lantas menjelaskan kepada Ayu dan Bu Ida bahwa dia bertemu dengan Adi yang tengah bersama seorang wanita dan juga anak kecil saat study tour kemarin.
"Maaf nih Kak, apa jangan-jangan Kak Adi sudah punya istri?" Ucap Arya.
Ayu hendak menjawab pertanyaan Arya, tapi Bu Ida lebih dulu menyelanya.
"Nah ini nih... Kan Ibu sudah bilang sebelumnya, bahwa Adi itu pasti bukan pria baik-baik. Buktinya dia sudah punya istri." Ucap Bu Ida.
Ayu pun hanya bisa tersenyum lalu menjelaskan bahwa wanita yang bersama Adi itu bernama Sarah. Dia merupakan adik dari Adi yang sama seperti dirinya merupakan seorang janda, dan anak kecil yang bersama mereka yang dilihat Arya tadi adalah anak Sarah.
"Masa sih Kak? Tapi kenapa anak itu manggil Kak Adi dengan sebutan Papa bukannya Om atau Paman gitu?" Tanya Arya.
"Nah itu, apa coba alasannya?" Tanya Bu Ida lagi.
"Iiihh kalian berdua itu sudah kayak presenter berita gosip. Kamu juga Arya, cowok kok lemes." Gelak Ayu.
"Ya aku gini karena khawatir aja sama hubungan Kakak." Balas Arya serius.
Ayu lantas kembali tersenyum.
"Mas Adi sudah jelasin semuanya sama aku Bu. Ibu sama Arya tenang saja, kalau emang terbukti apa yang dicurigai Arya itu benar. Aku gak akan mungkin mau melanjutkan hubungan aku sama Mas Adi." Ujar Ayu.
Arya dan Bu Ida terdiam.
"Udah ah, yuk mending istirahat saja. Sudah malam. Mungkin besok Mas Adi akan datang. Besok kita interogasi Mas Adi secara langsung biar kalian berdua percaya." Ucap Ayu lantas berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Bu Ida dan Arya hanya terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Sementara Ayu di dalam kamar membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur dan mencoba memejamkan matanya. Tapi rasanya begitu sulit. Ia malah kepikiran dengan apa yang disampaikan Arya.
'Bagaimana jika kecurigaan Arya benar? Bagaimana jika Mas Adi memang sudah punya istri dan juga anak? Apa yang harus aku lakukan?' pikir Ayu.
Dihadapan Arya dan Bu Ida, Ayu memang memperlihatkan dirinya begitu mempercayai Adi. Tapi sesungguhnya jauh di dalam lubuk hatinya, Ayu masih menyimpan rasa ragu. Mengingat sudah beberapa kali ia mendapati Adi yang setiap kali menerima panggilan dari Sarah selalu saja menjauh dari dirinya.
"Baiklah, besok aku akan kembali menanyakan semuanya." Ucap Ayu.
__ADS_1
Bersambung....