
Rencana bulan madu Ayu dan Adi yang awalnya akan pergi ke Eropa, berubah haluan pergi ke sebuah negara yang mempunyai pantai yang begitu indah. Dikarenakan di Eropa tengah musim dingin.
Cuaca hari pertama Ayu berada di sebuah resort untuk bulan madu begitu panas. Ayu masih khawatir kulitnya menghitam, meski orang luar justru menginginkan kulit Asia yang eksotis seperti kebanyakan penduduk Indonesia. Di pinggir pantai, bayangan sepasang lelaki dan perempuan yang tengah berlarian dan bercanda memercikkan air ke tubuh pasangannya, memburam kan pandangan mata Ayu. Kemesraan mereka sungguh membuat Ayu iri.
Ayu dan Adi tengah makan siang. Adi yang memilihkan menu berupa salad dengan daging ikan tuna mentah, padahal seumur-umur Ayu belum pernah makan ikan mentah. Ayu awalnya tidak mau, tetapi Adi dengan penuh paksaan yang menghipnotis, mampu membuat Ayu mencicipi ikan mentah itu.
Wajah Adi tampak begitu puas ketika lidah Ayu mau menyecap ikan mentah yang kenyal itu.
"Enak." Ucap Ayu.
Ada juga menu lainnya yang terlihat begitu menggugah selera. Ayu bahkan melupakan program dietnya yang baru saja dia jalankan demi memperoleh tubuh langsing. Semenjak berhubungan dengan Adi, berat badan Ayu memang sedikit bertambah.
Adi berkata, “bagiku, kau tetap cantik walau pipimu menggelembung.”
__ADS_1
Ayu tersenyum malu-malu, dan tak terasa sudah memasukkan dua piring nasi ke dalam perutnya. Hanya seseorang yang sangat dia cintai, yang di perbolehkan Ayu untuk mengatur pola makan nya.
Setelah makan, mereka melanjutkan perjalanan bulan madu, melintasi jalan setapak dari depan restoran menuju ke tepi pantai. Dari depan restoran tempat mereka makan siang itu, mereka dapat melihat ke arah pantai dengan pasir putih, menikmati pemandangan pantai yang romantis.
"Memang tak salah saat Mas memutuskan untuk berbulan madu kemari." Ucap Ayu.
Adi hanya tersenyum, lalu mengajak Ayu berjalan di tepi pantai, membiarkan deburan ombak yang tenang membelai jemari kaki mereka. Adi memegang tangan kiri Ayu. Lantas Ayu menautkan jemari tangan kanannya ke jemari tangan kiri Ayu. Getaran serupa setruman listrik segera menjalari tubuh Ayu.
Perkenalan mereka memang singkat saja. Dimulai dengan Adi yang tak sengaja menabrak Ayu dengan mobilnya. Tiba-tiba Adi menghubungi Ayu tiga hari kemudian setelah kejadian itu. Lalu semua berjalan begitu saja sampai Adi melamar Ayu setelah beberapa bulan perkenalan mereka. Bila Ayu mengingat kenangan itu, Ayu terpikir, barangkali mereka butuh waktu lebih lama lagi untuk penjajakan.
'Ya, barangkali...' pikir Ayu.
Malam harinya, Adi mengajak Ayu makan malam di sebuah klub pantai dan tempat makan malam eksklusif dengan tiga restoran, dua diantaranya adalah restoran Jepang. Ayu memang menjauhi makan daging, tapi bukan seafood. Ayu hanya menjauhi daging merah dan menggemari makanan laut.
__ADS_1
Restoran itu seperti surga untuk Ayu. Adi membawanya masuk ke dalam restoran yang didesain bak latar film fantasi, dominan warna putih dan cokelat. Di meja Ayu telah terhidang tempura, nama lain dari udang goreng tepung. Sedangkan Adi memesan sushi. Sebuah kolam renang besar menjadi latar pemandangan, tetapi saat itu Ayu hanya bisa memandang wajah Adi yang juga tak lepas memandang wajahnya.
Keduanya benar-benar menghabiskan waktu mereka dengan penuh kemesraan. Ayu benar-benar bahagia, begitu pun dengan Adi.
************
Sementara itu di kota, Sarah tengah merasa perubahan dari diri suaminya akhir-akhir ini. Jika Adi biasanya selalu komplain karena dirinya yang selalu jarang ada di rumah, kali ini Adi merasa biasa-biasa saja. Adi yang biasanya selalu ada di rumah setiap malam, kini lebih sering jarang pulang ke rumah.
Seperti saat ini, Adi sudah satu minggu tidak pulang ke rumah. Sarah tahu bahwa Adi mengatakan di harus terbang ke luar daerah untuk menyelesaikan pekerjaan, tapi anehnya nomor Adi tidak bisa dihubungi.
"Pekerjaan apa yang sebenarnya dia lakukan? Kenapa dia bahkan tidak bisa dihubungi selama satu minggu ini. Sialan." Umpat Sarah.
Bersambung...
__ADS_1