Terjerat Cinta Pria Beristri

Terjerat Cinta Pria Beristri
11. Lamaran


__ADS_3

Ayu begitu bahagia karena Adi ternyata menepati janjinya dengan membawa keluarganya, berupa Om dan Tantenya. Mereka datang dari kota secara resmi untuk melamar Ayu kepada Ibunda Ayu.


Lebih kurang 2 jam perjalanan, mereka sampai ke halaman rumah Ayu. Di situ orang-orang telah ramai menunggu. Kelihatannya mereka sudah dari tadi menunggu. Sekitar tiga puluh orang ada juga jumlah mereka. Sementara Adi, hanya datang dengan membawa Om dan Tantenya saja. Dani sahabatnya tak dapat ikut dengan alasan ada pekerjaan penting yang tak bisa ia tinggalkan.


Adi sebenarnya merasa sedikit gugup. Tapi dia terus berusaha mengendalikan dirinya. Ia coba tenang. Mereka disambut tuan rumah dipersilahkan masuk ke dalam.


Setelah disuguhi minuman, perwakilan tuan rumah mempertanyakan maksud dan tujuan kehadiran mereka. Om Adi yang pernah beberapa kali menghadiri prosesi lamaran itu, mengatakan yang sebenarnya dan sejelas-jelasnya tanpa menggunakan pantun-pantun. Dan ketika penyerahan uang itulah terjadi perdebatan yang alot. Pihak adik almarhum dari ayah Ayu, tidak menerima lamaran Adi. Alasannya keluarga Adi sudah melecehkan mereka.


“Maaf, kalian tak punya adat. Kedatangan kalian ke rumah kami ini adalah penghinaan. Mentang-mentang adik saya ini janda, karena adik saya ini miskin, lalu kalian seenaknya menghina dia. Tidak bisa!” Tolak lelaki itu dengan wajah sadis.


“Bapak yang terhormat, mohon maaf. Kami datang kemari penuh persaudaraan dan apa adanya.” Balas Pak Surya, Om Adi.


“Persaudaraan apanya, kalian telah mencoreng arang di kening kami. Kalian datang hanya ayah dengan ibu, kan ada pamannya, bibinya, dan saudara-saudara kalian yang lain dan yang kalian bawa hanya 10 juta, bukan 100 juta. Ini penghinaan. Silahkan kalian angkat kaki dari rumah ini,” amuk orang itu.


'Sekali mandi basah', pikir Adi, toh ia telah dipermalukan di depan umum.


“Maaf, pak. Ini kan sudah kesepakatan antara anak kita berdua. Saya pikir keputusan mereka berdua lah yang lebih tepat kita ambil, kita kan hanya menjembatani saja pak.” Ucap Pak Surya.


“Tidak! Ini keputusan,” balas orang itu.


Pak Surya terdiam sejenak. Ia pandang Adi yang duduk disampingnya tampak menahan malu. Lalu ia lanjutkan pembicaraan,


“Kami datang kemari dengan niat baik, tapi kalau inilah keputusan yang harus kami terima, ya lebih baik kami pulang,” kata Pak Surya.


Kepala Adi lantas mendongak, ia tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Lamaran yang ia pikir akan berjalan lancar malah menjadi kacau, bahkan pernikahan yang sudah direncanakan esok hari terancam batal.


'Siapa sebenarnya orang ini?' pikir Adi.


“Bukan begitu, tunggu dulu,” kata seseorang mengambil alih pembicaraan.


Orang itu memberikan isyarat agar orang yang omongannya keras itu dibawa ke luar. Dan setelah itu, pihak keluarga Ayu yang lain mohon maaf kepada Pak Surya dan Adi atas peristiwa yang tidak mengenakkan itu.


Dengan senang hati mereka menerima lamaran Pak Surya. Dan hari itu juga direncanakan bahwa besok hari pernikahannya, sesuai dengan keinginan Adi dan Ayu. Hati Adi baru terasa lega, karena apa yang ia hajat kan untuk telah terkabul.

__ADS_1


Setelah acara selesai, Adi pun mengetahui bahwa orang yang keras menolak lamaran itu menginginkan agar Ayu menjadi menantunya. Memang sudah pernah ini disampaikannya kepada ibunya Ayu, tapi perempuan itu mengatakan ia tak berhak menentukan jodoh anaknya, kalau memang seperti itu agar langsung saja ditanya badan yang bersangkutan. Ketika ditanya kepada Ayu tentang hal itu, Ayu tentu saja menolaknya dan mengatakan ia sudah punya pilihan, dan inilah rupanya puncak penolakan itu. Tapi cinta memang tak bisa dibeli dengan uang.


Sebenarnya untuk Bu Ida sendiri, ia merasa begitu untuk menyetujui pernikahan putrinya itu. Mengingat sangat janggal baginya apalagi harus menikahkan sang putri secara sirih.


Tapi, setelah Adi dan keluarganya menjelaskan semuanya, Bu Ida pun luluh dan merestui pernikahan mereka.


Adi sendiri bukan main bahagianya, karena akhirnya ia dapat mempersunting Ayu si janda cantik, yang merupakan kriteria yang sebenarnya ia suka sebagai pendamping hidup.


Rumah Ayu mulai lengang. Ayu merapikan jilbabnya lagi, ini sudah yang kelima kalinya. Sebenarnya Ayu malas memakai jilbab lilit-lilit seperti ini. Sangat ribet baginya. Tapi, apa daya Bu Ida memintanya untuk tampil lebih rapi dari biasanya.


“Ini kamu antar kan ini untuk Mas mu itu,” Bu Ida memberi Ayu segelas air putih beserta nampannya.


“Dia pasti capek.” Ucap Ayu.


Ayu beringsut dari tempatnya duduk. Sebenarnya ia ingin menolak, jujur, ia malu jika harus berhadapan dengan laki-laki itu setelah kejadian lamaran tadi.


Adi sedang duduk sendiri di taman samping rumah Ayu. Di atas ayunan bercat biru.


“Ratu bubur ayam datang membawa hadiah untuk Pangeran Nasi Uduk." Ucap Ayu.


“Kamu masih ingat makanan favoritku?” Tanya Adi.


“Karena ini.” Ayu mengelus kepalanya sendiri. “Terima kasih otak, sudah membantu mengingatkan makanan favorit pangeran di depanku ini.” Lanjut Ayu cekikikan.


“Haha, terimakasih Ratu Bubur Ayam, Pangeran Nasi Uduk tersanjung atas usahamu mengingat makanan favoritku.” Adi menerima gelas yang Ayu sodorkan lantas meminumnya.


“Mas mau cerita. Boleh ya?” Kata Adi.


“Boleh. Aku siap mendengarkan. Dengan penuh semangat!” Jawab Ayu.


“Dan penuh perhatian." Balas Adi.


“Tentu saja! Kalau nggak memperhatikan nanti nggak bisa jawab soal ujian.” Ucap Ayu.

__ADS_1


“Ini bukan materi anatomi fisiologi Ayu.” Adi tertawa. Manis sekali. Ayu suka melihat tawanya.


“Hari ini Mas bahagia. Sekali. Super bahagia.” Adi memandang Ayu, ucapannya tampak serius sekali.


“Mas bersyukur, karena Allah telah membimbing Mas untuk bertemu dengan kamu. Sampai tahap ini, tahap dimana dua keluarga kita bertemu. Tahap Mas bisa melamar mu."


Ayu menyimak. Sebenarnya, saat itu Ayu ingin sekali memeluk Adi lantas balas bilang bahwa ia juga bahagia.


'Mungkin sepuluh kali lipat dari bahagianya kamu, mas! Tapi nggak mungkin aku peluk Mas. Mas belum halal buatku.' ucap Ayu dalam hati.


“Sekarang Mas mau tanya. Boleh?” Tanya Adi.


“Siap menjawab." Balas Ayu.


“Dengan semangat?” Tanya Adi lagi.


“Dengan semangat!” Jawab Ayu.


“Apa yang Ayu rasakan saat ini?”


“Terbang.” Jawab Ayu.


“Karena apa?”


“Terbang karena aku bahagia Mas.”


“Karena aku?”


“Salah satunya. Tapi yang paling penting aku bahagia karena doa-doa yang selama ini aku panjatkan telah Allah kabulkan. Mas salah satu jawabannya." Ucap Ayu serius.


“Kalau aku menjadi salah satu, berarti masih ada salah dua dan salah tiga kan? Kalau boleh tau itu tentang apa?” Tanya Adi.


“Ra.ha.sia. belum bisa aku buka karena belum saatnya.” Balas Ayu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2