Terjerat Cinta Pria Beristri

Terjerat Cinta Pria Beristri
Jelaskan


__ADS_3

Menikah bukan hanya sekadar melegalkan hubungan antara pria dan wanita. Ketika seorang pria memutuskan untuk menikahi seorang wanita, lalu mengucapkan janji suci di depan penghulu dan disaksikan para malaikat, seorang suami seharusnya sadar ada amanah yang diembannya. Suami harus siap memberi nafkah lahir dan batin serta memberi perlindungan termasuk menjaga hati istri.


Perkara menjaga hati istri ini penting karena rumah tangga yang bahagia berasal dari istri yang bahagia. Apabila istri selalu murung, terluka dan bahkan sampai menangis, bisa dipastikan kehidupan rumah tangga tidak harmonis. Tugas suami lah untuk menghiburnya dan membantu mencari solusi dari keadaan yang membuat istri bersedih. Dan kini, untuk pertama kalinya dalam pernikahan kami, Mas Adi membuatku menjatuhkan air mata karena sakit hati akan kelakuannya.


“Ahh..beruntung sekali wanita itu,” pikirku.


Aku jadi teringat bagaimana Mas Adi mengejar ku beberapa waktu sebelum ia menikahi ku. Masih terbayang di benakku bagaimana romantisnya Mas Adi menjadi seorang pria yang berusaha meyakinkan wanita untuk ia miliki. Saat itu ia berjanji kalau aku adalah satu-satunya wanita yang ia cintai di hidupnya.


Namun pernikahan kami baru berjalan beberapa bulan ini, aku sudah menemukan bukti bahwa ia memiliki wanita lain. Aku tahu betul kalau wanita ini pasti mendapatkan perhatian dan perlakuan romantis dari Mas Adi. Terlihat jelas bagaimana wanita itu bergelayut manja pada Mas Adi.


'Ya Tuhan, sejauh mana sudah hubungan Mas Adi dengan wanita itu?'


Motor yang aku kendarai sudah kembali masuk ke garasi. Aku bergegas masuk ke dalam kamar, saat sebelumnya tadi bertemu dengan Mbak Nina dijalan. Aku membasuh wajahku dan menatap cermin.


"Apa karena aku janda, hingga Mas Adi melakukan ini padaku?" Ucapku pada diriku sendiri.


Dengan langkah gontai, aku berjalan keluar dari dalam kamar mandi. Susah payah aku berusaha berpikir positif bahwa wanita yang bergelayut manja pada Mas Adi tadi bukanlah selingkuhannya.


"Tapi, jika bukan wanitanya? Kenapa dia sampai meninggalkan aku sendirian di kamar saat kami tengah bercumbu?"

__ADS_1


Lagi-lagi aku mengutarakan pertanyaan itu pada diriku sendiri. Aku mencoba untuk membaringkan tubuhku agar bisa menenangkan pikiranku. Nyatanya mataku enggan untuk terpejam. Bayangan Mas Adi yang tengah bersama wanita lain selalu terlintas dipikiran ku. Aku tak bisa berpikir tenang hingga memutuskan untuk duduk di sofa yang tersedia di dalam kamar. Untuk sarapan pun aku enggan melakukannya. Aku berniat menunggu Mas Adi pulang.


Sepanjang hari aku duduk menunggu Mas Adi pulang. Hingga tepat pukul 10.00 malam, suara pintu kamar terbuka. Tampak sosok Mas Adi masuk ke dalam kamar dengan mengendap-endap. Aku yakin, Mas Adi tak menyadari bahwa aku tengah duduk menatapnya disini. Dari dalam kegelapan, ku lihat Mas Adi perlahan naik ke atas tempat tidur dan menyadari bahwa aku tak ada disana.


"Sayang..." Panggil Mas Adi.


Aku tak menyahutnya, meski ia sudah memanggilku sebanyak tiga kali. Hingga ia berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi. Tak lama ia keluar dan langsung menghidupkan lampu kamar. Ia terperanjat kaget saat melihatku duduk sambil menatap ke arahnya dengan tajam. Ia lalu berjalan mendekat dan mengusap rambutku.


"Apa yang terjadi? Ada apa denganmu? Kenapa rambutmu sampai berantakan seperti ini?" Ia mencecar ku dengan beberapa pertanyaan sekaligus.


Aku hanya diam dan terus menatapnya.


"Apa ada yang ingin kau jelaskan padaku?" Ucapku balik bertanya.


Mas Adi terdiam dan justru tampak bingung dengan pertanyaan ku.


"Jawab aku..." Teriakku dengan suara yang menggelegar.


"Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti." Balasnya.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, aku meluapkan segala emosiku. Aku mengatakan semua yang sudah aku lihat. Aku berteriak dan menangis sambil memukul-mukul dada Mas Adi.


"Katakan padaku. Siapa wanita itu?"


"Kenapa kau meninggalkan aku demi menemuinya?"


"Kau bahkan menggendong seorang anak kecil yang memanggilmu Papa dan kau membiarkan aku sendiri menunggumu di kamar tanpa ada penjelasan apapun."


"Apa hubunganmu dengannya?"


"Sejak kapan kau mengkhianati ku?"


"Kau jahat Mas Adi.... Kau jahat...."


Semua ucapan itu aku lontarkan dengan terisak dan sambil terus memukul dada Mas Adi. Tapi dia tak berkata apapun, ia terdiam. Dan sepertinya sengaja membiarkan aku meluapkan amarahku padanya.


'Apakah dia diam karena mengakui bahwa ia memang bersalah?'


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2