
"Kenapa kami seperti itu Nak?" Tanya Bu Indah setelah Adi menceritakan semuanya.
"Aku bahagia Bu." Balas Adi singkat.
"Bagaimana dengan anak dan istri kamu? Kenapa kamu tidak memikirkan mereka?"
Adi menghela napas. Ia memang sudah memikirkan semuanya jauh-jauh hari sebelum memutuskan untuk menikah dengan Ayu.
"Ma, Mama tahu sendiri kan bagaimana hubunganku dengan Sarah sejak awal kami menikah?" Ucap Adi yang membuat Bu Indah terdiam. "Ma, Ayu itu wanita yang sangat baik. Aku mencintai dia Ma, tidak kah Mama bisa melihat bahwa aku ini bahagia?" Ucap Adi yang tampak begitu serius.
Bu Indah menghela napas panjang.
"Jadi nama istri baru kamu itu Ayu?" Tanya Bu Indah dan Adi langsung mengangguk. "Kalau dia memang wanita yang baik, dia tidak akan mungkin mau merebut suami orang lain."
"Ma...."
"Dengerin Mama dulu." Ucap Bu Indah menyela ucapan Adi. "Mama memang tahu bagaimana wataknya Sarah, tapi tetap saja Mama tidak membenarkan tindakan yang kamu lakukan dengan menikahi wanita lain secara diam-diam. Lalu kau bilang bahwa dia itu wanita yang baik. Dia jelas bukan wanita yang baik karena merusak rumah tangga mu."
"Dengerin aku dulu Ma." Ucap Adi seraya memegang kedua tangan mama nya itu. "Ayu itu seorang wanita yang sudah menjanda selama 5 tahun. Dia berusia 25 tahun, tidak mempunyai anak. Dia wanita yang bekerja sangat keras untuk menghidupi keluarganya yang tersisa Ibu dan adik laki-lakinya. Dia sama sekali tidak bersalah dalam hubungan kami karena aku lah yang menipunya." Ujar Adi panjang lebar.
"Apa maksud mu?" Tanya Bu Indah.
__ADS_1
"Aku berbohong padanya dengan mengatakan bahwa aku belum punya istri. Bahkan saat aku mengajaknya menikah, Ayu meminta ku mengajak keluarga dari pihak ku agar dia yakin bahwa aku tidak main-main dengannya."
"Terus siapa yang kamu ajak menemui keluarganya?" Tanya Bu Indah.
"Om Surya dan Tante Lina Mah."
Bu Indah tampak memijit keningnya perlahan.
"Di, apa yang kamu lakukan itu salah. Sarah bisa saja keberatan dan dia bahkan bisa saja melaporkan mu ke pihak yang berwajib." Ujar Bu Indah.
"Aku tahu Ma." Balas Adi singkat.
"Mau kemana kamu Mas?" Tanya Sarah saat Adi sudah berjalan mendekat ke arah pintu utama.
Adi tak menjawab apapun, dia terus saja berjalan sampai Sarah melemparinya dengan vas bunga kecil yang mengenai punggungnya, barulah Adi berbalik.
"Apa-apaan kamu ini?" Teriak Adi.
"Aku bilang kamu mau kemana? Apa kamu mau kembali ke tempat selingkuhan kamu itu?" Teriak Sarah.
"Aku malas berdebat sama kamu." Ucap Adi kemudian memegang gagang pintu.
__ADS_1
"Kalau kamu berani keluar dari dalam rumah ini, jangan harap kamu bisa kembali lagi." Ancam Sarah.
Adi berbalik dan menatap Sarah dengan menyeringai.
"Oke." Balas Adi dengan santai lantas berjalan keluar rumah.
"Mas Adiiiii....." Teriak Sarah dengan suara yang sangat keras.
Adi langsung masuk ke dalam mobilnya, kemudian dengan cepat melaju pergi.
"Sialan kamu Mas. Berani-beraninya kamu menduakan aku. Aku gak terima kamu giniin Maaaasss...." Sarah tampak begitu emosi.
Bu Indah sejak tadi hanya bisa duduk diam di kursi rodanya. Pemandangan seperti ini, memang sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Bu Indah. Selama ini, Bu Indah memang tak pernah ingin ikut campur apapun dalam pertengkaran rumah tangga Adi dan istrinya. Bu Indah lebih banyak menasehati Adi agar terus bersabar menghadapi sikap Sarah yang memang tempramental.
Bu Indah lantas mendekat ke arah Sarah yang terduduk dengan terisak di sofa ruang tamu. Rambutnya sudah berantakan, matanya memerah karena menangis.
"Sarah..." Panggil Bu Indah dengan lembut.
Sarah yang tengah menunduk lantas menatap Bu Indah dengan ekspresi yang penuh kemarahan.
Bersambung.....
__ADS_1